My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 8



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Ya udah sini," ucap ku sambil menjulurkan tangan ku.


"Ya masuk dulu lah, masa iya mau sambil berdiri."


Karena malas untuk berdebat dengannya, aku pun langsung masuk lebih dulu dan menabraknya karena posisi dia berada di ambang pintu.


Aku langsung tertegun melihat kondisi kamarnya yang sangat berantakan. Aku tidak habis pikir, kenapa bisa kamarnya ini kondisinya sangat lembab dan gelap.


"Ya ampun,kok kamu bisa sih tidur di kamar yang seperti ini."


"Udah nggak usah mengomentari kondisi kamar ku,"


"Aku minta kamu ke sini itu, bukan untuk menilai kamar ku. Tapi untuk mengeluarkan duri di tangan ku ini," jelasnya.


"Ya gimana aku bisa lihat, kondisi kamar kamu ini gelap begini."


Aku pun langsung membuka tirai di kamarnya,supaya cahaya bisa masuk.


"Kamu apa-apaan sih? Tutup nggak," bentaknya.


"Iya nanti aku tutup lagi, tapi setelah duri di tangan kamu itu keluar."


"Udah sini,cepat."


Ezra tampak shock dengan sikap ku kali ini, di bahkan hanya berdiri terpaku sambil menatap ku.


"Kok malah diam, sini. Mau aku bantu keluarin nggak?"


Dengan memasang wajah yang pasrah, dia pun duduk tepat di depan ku dan menyodorkan tangannya pada ku.


"Ini kamu kena duri dari kapan sih? Kok bisa sampai bengkak kayak gini. Emangnya nggak sakit apa?"


"Udah nggak usah banyak tanya. Tugas kamu sekarang itu gimana caranya supaya ini durinya keluar." Balasnya.


"Iya bawel......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Dengan teliti dan perlahan aku berusaha untuk mengeluarkan duri yang menancap cukup dalam di jarinya itu. Ada cukup banyak nanah yang keluar, mungkin karena dia sudah membiarkan durinya berhari-hari menancap di sana.


Namun anehnya dia tampak tenang dan tidak bereaksi apa-apa. Kalau ini menimpa aku, pasti aku sudah nangis kejer sambil teriak kesakitan.


"Sakit nggak?" Tanya ku khawatir.


"Tidak, biasa saja."


"Gimana, kamu bisa nggak keluarin durinya?"


"Iya ini tinggal sedikit lagi, sepertinya ini udah cukup lama yah? Soalnya udah bernanah sama durinya pun udah patah."


"Ada mungkin semingguan," balasnya dengan santai.


"Seminggu?"


"Kok bisa kamu menahan sakit nya selama ini, kalau aku mana bisa."


"Ada yang lebih sakit dari ini. Luka seperti ini belum ada apa-apanya di bandingkan rasa sakit yang aku alami selama ini." Jelasnya.


Mendengar dia berbicara seperti itu, aku pun tersadar kisah kami nampaknya tidak berbeda jauh. Kami sama-sama tersakiti oleh perpisahan kedua orang tua kami.


Bedanya aku di tinggalkan ayah tanpa kabar, sedangkan Ezra korban dari perceraian orang tuanya.


"Sesakit apa pun itu, setidaknya kamu harus cerita jangan memendamnya sendirian.Luka itu nggak akan sembuh dengan kamu pendam." Balas ku.


"Aku tidak tahu, hal apa yang buat kamu sakit. Tapi ingat, bukan hanya kamu saja yang mengalami hal sulit di dunia ini. Hanya masalahnya yang membedakan,"


"Apa kamu akan kuat atau tidak, itu balik lagi ke diri kamu sendiri. Yang bisa menyembuhkan luka di hati kamu itu,ya kamu. Bukan orang lain,"


" Kamu bisa saja berpura-pura kuat dan sekuat apapun kamu berusaha untuk menyembunyikannya tetap saja luka itu nggak akan sembuh." Lanjut ku.


Kami pun saling berpandangan satu sama lain, aku bisa lihat ada begitu banyak rasa sakit yang dia pendam selama ini.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah berusaha sekitar 15 menitan, akhirnya aku pun berhasil mengeluarkan durinya. Tidak lupa aku pun langsung menutup kembali tirai kamarnya.


"Aku mungkin terlalu jauh bicara seperti itu tadi, hanya saja apa yang kamu alami itu tidak beda jauh dengan apa yang aku alami juga."


Ezra terdiam dan hanya tertunduk sambil memegang tangannya yang terluka.


"Mba......" Panggil ku.


"Iya non," sahut mba Atmi dari dalam dapur.


"Mba udah makan?"


"Belum, mba mau selesaikan dulu pekerjaan mba tanggung."


"Udah sebaiknya kita makan aja dulu,mba bisa meneruskannya nanti."


"Aku tidak bisa makan sendirian soalnya," lanjut ku.


"Tapi non,"


"Tenang aja, kita makan di belakang saja."


"Baiklah......" Balasnya pasrah.


Setelah mengambil makanannya, aku dan Atmi langsung menuju ruangan yang berada di bagian belakang. Di sana ada tempat yang cukup luas untuk kami makan sambil duduk lesehan.


"Aku tidak melihat tante Vina sejak tadi, kemana beliau?"


"Ibu masih tidur non, biasanya nanti siang baru bangun."


"Terus nggak sarapan dong,"


"Tadi saya udah siapkan sereal dan susu protein untuk ibu dan menaruhnya di kamar."


"Oh......."


"Ngomong-ngomong, tadi aku sempat masuk ke kamarnya Ezra mba....."


"Hah, apa non?" Mba Atmi tampak kaget mendengar ucapanku barusan.


"Mba saja tidak pernah berani masuk ke dalam kamar mas Ezra. Yang ada mba kena omelnya lagi,"


"Oh gitu mba, berarti aku termasuk orang yang cukup berani dong bisa masuk ke sana." Timpal ku.


"Ya iya......."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sorenya saat aku tengah bersantai di gajebo yang barada di belakang rumah, aku mendengar suara teriakan dari depan rumah tante Vina. Karena setahu aku tadi siang tante Vina pergi sama mba Atmi untuk belanja, aku pun langsung beranjak dari duduk ku.


"Siapa yah, perasaan tadi tante Vina tidak pesan apa-apa sama aku."


Sesampainya di depan pintu, aku dengan jelas bisa mendengar suara laki-laki yang tengah menggedor-gedor pintu sambil memanggil nama tante Vina dan Ezra.


"Aduh gimana ini, buka nggak yah." Ucap ku ragu.


Baru saja aku hendak memegang gagang pintu, Ezra udah lebih dulu menahan ku untuk tidak membukanya.


Melihat dia menggelengkan kepalanya, aku langsung paham kalau dia tidak ingin bertemu dengan orang yanga ada di luar sana.


Ezra pun menarik ku dan meminta ku untuk naik ke lantai atas.


"Ezra, memangnya siapa laki-laki yang ada di luar itu?" Tanya ku karena penasaran.


"Itu ayah ku, laki-laki yang meninggalkan aku dan ibu."


Pantas matanya tampak sayu dan memerah, dia sepertinya terluka dengan kedatangan ayahnya itu.


"Ah......"


"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi dalam keluarga kamu ini. Maaf yah, kalau aku lancang malah berani menanyakannya."


"Ini pasti sulit untuk kamu," lanjut ku.


"Sebaiknya kamu masuk ke kamar saja dan kunci pintunya."


"Baik,"


"Bentar, tapi kamu akan kemana? Apa sebaiknya kamu pun sembunyi saja di kamar ku?"


"Jangan salah paham, aku hanya ingin bantu kamu saja. Aku tidak berniat apa-apa kok,"


Dia sempat terdiam dan mungkin merasa ragu juga harus masuk ke dalam kamar ku.