My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 21



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di rumah, aku langsung menuju lantai dua untuk mandi terlebih dulu. Namun baru saja aku niat untuk buka pintu kamar ku, Ezra sudah lebih dulu memanggil ku.


"Kenapa?" Tanya ku.


"Nanti malam temenin aku ke mall, ada barang yang harus aku beli." Ucapnya.


"Kenapa harus sama aku sih?"


"Udah jangan banyak tanya, sekarang kamu mendingan siap-siap aja. Pasti kamu belum mandi lagi,"


"Emang belum,'' timpal ku.


"Ya udah, aku mau mandi dulu. Kamu tunggu aja, aku nggak bakalan lama kok."


"Awas yah, kalau lama."


"Ya tinggal kamu berangkat sendirian aja,susah banget." Balas ku langsung masuk ke dalam kamar.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Tepat jam 7 malam, aku pun sudah selesai mandi dan ganti pakaian. Ternyata Ezra tengah menunggu ku di ruang tengah sambil nonton TV.


"Hayu," ajak ku.


"Bilangnya aja nggak lama, tahunya udah mau satu jam aja." Ucapnya.


"Ya namanya juga cewek, make up dikit. Emangnya kamu mau, jalan bareng dengan cewek udik." Timpal ku.


"Ya enggak lah,"


Saat kami tegah berseteru, tante Vina pun keluar dari kamarnya dan langsung menghampiri kami berdua.


"Loh, ibu kira kamu udah berangkat dari tadi."


"Belum,"


"Ini habis nunggu dulu Kay, baru aja selesai mandi dia." Balas Ezra.


"Ya namanya juga cewek, kamu harus maklum lah."


"Tuh kan,apa kata ku." Sambung ku merasa di bela oleh tante Vina.


"Hem, makin besar aja hidungnya. Di bilang kayak gitu sama ibu,"


"Udah sebaiknya kalian sekarang mending langsung berangkat aja. Dari pada malah berseteru disini," ucap Tante Vina berusaha untuk melerai aku dan Ezra.


Ezra pun akhirnya mengalah dan langsung berjalan menuju pintu depan.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepanjang perjalanan menuju mall, Ezra sendiri hanya diam dan fokus untuk menyetir saja.


Karena dia hanya diam saja, aku pun memilih untuk memainkan HP ku saja. Dari pada badmood sendirian,tidak ada yang mengajak ngobrol.


Sampai akhirnya tidak terasa kami pun sampai di salah satu mall yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya Ezra. Ini kali pertama aku di ajak ke mall di Jakarta dan bisa di bilang ini juga kali pertama untuk aku bisa main ke mall. Karena sebelumya memang saat di Desa, bahkan setahun sekali pun jarang sekali bunda mengajak ku ke kota untuk hanya sekedar jalan-jalan atau main ke mall.


Jujur aku di buat takjub dan kagum dengan kondisi mall di kota ini. Bukan hanya bangunan yang besar saja, tapi dari segi design dan penataannya pun bagus sekali.


"Ayo turun, ucap Ezra.


"Oh udah sampai yah?"


"Ya iyalah, lah terus emang di sini parkirnya." Balasnya.


"Aku kan tidak tahu,"


Ezra pun lebih dulu keluar dari dalam mobilnya dan langsung aku pun menyusulnya kemudian.


"Kalau boleh tahu, kamu sebenarnya mau beli apa sih? Sampai kamu minta tolong aku untuk temenin kamu."


"Aku mau beli sweeter sama cardigan. Sebenranya ibu yang meminta ku untuk mengajak kamu juga, supaya kamu pun bisa milih."


"Kalau aku sih,tidak perlu lah."


"Tenang aja, ibu ku yang bayarin. Ini kan salah satu pakaian yang hanya bisa di kenakan untuk nanti ke sekolah." Jelasnya.


"Lah emang iya, aku baru tahu kita di bolehkan pakai sweeter atau pun cardigan. Soalnya aku jarang sekali lihat ada siswa yang pakai saat di sekolah."


"Oh pantas........"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di salah satu toko yang hanya menjual perlengkapan seragam sekolah ku saja.


Ezra pun langsung meminta ku untuk memilih terlebih dulu, dia sendiri pun sama tengah memilah cardigan yang berada di barisan paling depan.


Aku sempat bingung harus memilih yang mana, karena jujur semuanya terlihat bagus dan bahannya pun bagus-bagus banget.


Di tegah posisi aku yang masih kebingungan, Ezra sudah lebih dulu mendapatkan beberapa cardigan dan sweeter yang sudah di bawanya.


"Kay,"


"Punya kamu mana? Masa iya dari tadi kamu masih belum juga dapat."


"Aku bingung lah,"


"Semuanya terlihat bagus untuk ku. Makanya aku bingung harus piling yang mana." Balas ku.


"Ya ampun,"


"Udah sini biar aku saja yang bantu kamu untuk memilihnya. Kalau kayak gitu caranya kelamaan aneh, bisa-bisa saja kita pulang larut malam lagi." Gerutunya.


Dia pun langsung memilih beberapa cardigan dan dua sweeter untuk ku.


"Nih, kamu coba dulu di kamar ganti. Mana yang cukup dan cocok buat kamu ambil aja." Ucapnya.


"Iya.........."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah selesai belanja, Ezra pun mengajak ku untuk makan malam terlebih dulu.


"Kamu mau makan apa?" Tanyanya.


"Um apa aja deh, aku terserah kamu aja. Soalnya aku tidak tahu sih, yang enak apa di sini." Balas ku.


"Ya udah kita makan di Sol**a saja. Nggak apa-apa kan?" tanyanya.


"Terserah kamu saja," balas ku kembali.


"Baiklah......."


Kami pun langsung berjalan menuju resto yang di rekomendasikan oleh Ezra barusan. Tapi secara tidak sengaja, kami malah melihat Caca dan kedua temannya tengah berjalan menuju ke arah kami berdua. Melihat hal itu, Ezra pun buru-buru menarik ku untuk bersembunyi terlebih dulu. Sampai Caca dan kedua temannya itu pergi.


"Ya ampun, Rasanya dunia ini sempit banget. Perasaan tiap pergi kemana aja gitu, pasti aja ada momen dimana aku harus ketemu sama Caca." Gerutu Ezra.


"Mungkin saja kalian berdua emang di takdirkan untuk bersama kali."


"Sembarangan, tidak mau aku." Timpalnya.


Aku pun perlahan mengintip keberadaan Caca saat ini, kesalnya dia malah tengah duduk di salah satu kursi yang letaknya berjarak hanya sekitar 50 meter saja dari tempat persembunyian aku dan Ezra.


" Aduh gimana ini,"


"Dia malah tengah duduk lagi, di kursi yang ada di depan itu." Bisik ku.


"Serius,"


"Tentu saja."


"Setelah berpikir beberapa saat, Ezra pun memutuskan untuk keluar dari mall nya dengan melewati tangga darurat.


"Kamu yakin, kita keluar lewat tangga darurat? Kita kan ini ada di lantai 4, yanga benar aja kamu."


"Habisnya mau gimana lagi, sudah tidak ada jalan lagi. Aku malas kalau harus ketemu sama Caca," balasnya.


Dengan pasrah aku pun menyetujui usulannya itu, meskipun aku harus capek karena menuruni tangga sebanyak 4 lantai.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya sampai di mobil Ezra dengan selamat, dengan nafas yang tersendat-sendat.


"Ya ampun,kenapa sih aku harus terjebak di antara hubungan kalian berdua ini." Gerutu ku.


"Emangnya siapa yang mau?" Timpalnya.