
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun langsung menyadarkan diri ku, supaya tidak terbuai oleh ucapan Ezra barusan.
"Udah yuk, sebaiknya kita susul tante Vina aja."
"Aku nggak betah, kalau harus lama-lama di rumah sakit." Ucap ku mengalihkan perhatian.
"Ya sudah,"
Ezra pun beranjak dari duduknya dan membantu ku untuk berdiri. Tanpa ragu dia pun membantu untuk memapah ku,sampai ke depan ruangan dokter yang tadi mengobati ku.
"Eh kok kalian malah nyusul ke sini sih?" Tanya tante Vina menyadari kedatangan kami.
"Iya tante, biar nggak bolak-balik aja."
"Lagi pula udah selesai ini kan," lanjut ku.
"Ya sudah kalau begitu, kebetulan urusan tante juga udah selesai."
Kami pun langsung menuju tempat parkiran mobil yang berada di samping kliniknya. Aku sangat menghargai perhatian Ezra kali ini, dia begitu sigap dan telaten menjaga aku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di rumah, mba Atmi langsung menyambut ku. Beliau pun tidak kalah khawatir setelah melihat keadaan ku saat ini.
"Ya ampun non,mba tidak bisa membayangkan kejadiannya seperti apa. Andai saja tadi mba menemani non,untuk bersepeda."
"Udah gak apa-apa mba,"
"Lagi pula kalau pun aku tahu sejak awal akan terjadi seperti ini, aku pun nggak bakalan mau sepedaan tadi." Jelas ku.
"Ya udah, sebaiknya sekarang non langsung ke kamar saja untuk istirahat."
Beliau pun membantu untuk memapah ku bersama dengan Ezra.
"Semalam non nggak bilang mau sepedaan,"
"Iya mba,"
"Mba jangan ngerasa bersalah seperti itu, ini terjadi karena aku kurang hati-hati saja. Kalau saja aku menanyakannya dengan jelas,mungkin kejadian seperti ini nggak bakalan terjadi." Balas ku berusaha untuk menenangkan mba Atmi yang masih saja terlihat khawatir.
"Mba, nanti tolong ambilkan air hangat. Aku mau lap sisa darah yang sudah mengering ini." Ucap Ezra.
"Baik mas,"
Setelah mengantar ku, mba Atmi pun langsung berlalu keluar kembali untuk mengambilkan pesanan yang di minta Ezra.
"Padahal aku bisa melakukannya sendiri, dari tadi kamu yang terus mengurus ku. Aku merasa tidak enak sama kamu," ucap ku.
"Ngapain ngerasa nggak enak? Lagi pula aku ikhlas bantuin kamu ini. Bukan karena ada udang di balik batu yah......"
Aku pun di buat tertawa oleh ucapan Ezra barusan, ternyata di punya sisi humor juga selain sikapnya yang dingin dan cuek terhadap wanita.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Malamnya aku tidak bisa tidur dengan nyenyak seperti biasanya. Mungkin efek dari obat atau dari lukanya, perasaan ku gelisah dan suasana terasa sepi.
Untuk itu, aku pun memilih untuk nongkrong di balkon kamar. Baru saja beberapa saat aku menikmati angin segar saat malam, Ezra sudah mengganggu ku.
"Kamu ngapain di situ? Bukannya istirahat. Ini malah nongkrong di balkon," Ucapnya.
"Aku nggak bisa tidur, makanya aku memilih untuk nongkrong di sini."
"Kenapa?" Tanya nya kembali.
"Nggak tahu aku juga, apa ini efek samping dari obat atau dari lukanya sendiri."
"Udah kamu tidur aja, paling aku juga cuma sebentar ini di sini. Lagian aku juga kelamaan di luar dingin juga," lanjut ku.
"Tidak apa-apa, aku bisa menemani kamu saja. Takutnya kamu perlu sesuatu,"
"Terserah kamu saja,"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Paginya tante Vina datang ke kamar ku, beliau meminta ku untuk tidak masuk sekolah hari ini sampai dengan luka ku sembuh. Aku pun tidak bisa untuk membantahnya, karena aku sendiri bisa merasakan gimana sakitnya kondisi kaki ku saat ini.
Saat aku tengah berbaring di atas kasur, sehabis sarapan. Bunyi HP ku berdering, aku sudah punya firasat kalau yang menelpon itu bunda. Karena pastinya tante Vina yang cerita sama bunda, atas apa yang tengah terjadi padaku.
"Halo bunda......"
"Ibu dengar kabar dari tante Vina semalam. Niatnya semalam bunda mau langsung hubungi kami, tapi sepertinya kamu sudah istirahat."
"Gimana keadaan kamu sekarang nak?"
"Baik bunda,"
"Hanya saja, kaki ku masih terasa kaku untuk di gerakkan."
"Mungkin karena jahitan dan lukanya yang masih baru."
"Ya ampun, bunda semalaman tidak bisa tidur mikirin keadaan kamu."
"Ingin rasanya bunda pergi ke Jakarta, untuk menemui kamu."
"Ya ampun bunda, tidak perlu."
"Lagian di sini aku tidak sendirian juga, ada tante Vina, ada Ezra dan ada mba Atmi yang merawat ku."
"Paling dalam beberapa hari kedepan lukanya akan segera sembuh, bunda jangan khawatir."
"Tetap saja nak,"
"Iya aku pun paham,gimana perasaan bunda saat ini."
"Tapi bunda harus yakin dan percaya, kalau aku di sini baik-baik saja. Karena tante Vina pun merawat ku dengan baik."
"Baiklah,"
"Nanti kalau ada apa-apa, kasih tahu bunda."
"Iya........"
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah selesai ngobrol dengan bunda, Ezra pun datang ke kamar ku dan sudah berpakaian seragam lengkap.
"Ada apa?"
"Ini aku mau minta buku catatan kamu, biar nanti aku buatkan salinan untuk pelajaran hari ini." Jelasnya.
"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan kamu. Nanti saja aku bisa menyusulnya,"
"Udah jangan sungkan, aku ikhlas bantuin kamu." Timpalnya.
Karena dia terus memaksa, akhirnya aku pun pasrah dan membiarkan dia mengambil bukunya sendiri.
"Ingat, kalau ada apa-apa kamu telpon mba Atmi saja. Jangan coba-coba untuk keluar dari kamar ini sementara waktu, sampai luka kamu itu benar-benar sembuh." Tegas nya.
"Iya........"
"Makasih karena udah mengingatkan aku kembali,"
Dia pun kemudian berlalu dan sekarang tinggal lah aku sendirian.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sepanjang hari, aku hanya bisa rebahan sambil membaca buku novel. Sesekali mba Atmi pun menyempatkan waktu untuk menemani aku. Namun karena beliau pun punya tanggung jawab untuk mengerjakan pekerjaan rumah, jadinya hanya sebentar saja beliau menemani ku.
Sedangkan tante Vina, beliau memang sudah menjelaskan pada ku. Kalau pekerjaannya saat ini tidak bisa di tinggalkan begitu saja, makanya beliau meminta mba Atmi untuk selalu mengontrol keadaan ku.
Tepat jam 2 siang, aku mendengar suara gaduh menuju kamar ku. Dari suaranya aku sudah langsung bisa mengenalinya, tidak lain itu pasti teman-teman dari sekolah ku.
Dan benar saja, orang yang pertama masuk itu adalah Luna yang langsung memeluk ku. Dia pasti mengkhawatirkan keadaan ku saat ini, secara dialah orang yang paling lama ada bersama ku sejak awal.
"Aku baik-baik saja kok, kamu jangan khawatir. Sebentar lagi aku pasti bisa sekolah dan kumpul dengan kamu dan yang lainnya." Ucap ku berusaha untuk buat dia tenang.
"Tetap saja, aku khawatir Kay......."
"Aku tahu......."
"Ini pasti sakit banget,apalagi sampai di jahit seperti ini." Lanjutnya.
"Ya kalau di bilang sakit sih, iya."
"Tapi nggak separah itu juga,"
"Kay........!" Seruan Ami terdengar cukup menggelegar di ambang pintu.