My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 27



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Keesokan paginya, aku sengaja bangun lebih awal. Minggu pagi ini ,aku berniat untuk bersepeda di sekitaran rumah tante Vina. Dan untungnya, semalam saat aku ijin sama beliau untuk menggunakan sepedanya, tante Vina mengizinkan aku untuk menggunakannya.


Saat aku hendak mengambil sepedanya, ternyata Ezra pun hendak mengambil sepeda yang satunya lagi.


"Kay, kamu mau kemana?" Tanya nya.


"Kemana lagi, kalau bukan untuk sepedaan." Balas ku.


"Kebetulan banget, aku juga mau sepedaan. Gimana kalau kita bareng aja, kamu kan belum terlalu tahu jalan di sekitaran sini." Jelasnya.


Setelah di pikir-pikir, omongan dia memang ada benarnya juga. Soalnya persimpangan di sini itu tampak mirip satu sama lain, waktu itu aku bareng mba Atmi saja bisa tahu jalan pulang.


"Ya udah deh, hayu."


Kami pun langsung bersiap untuk mengayuh sepedanya keluar dari rumahnya dia.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Baru juga kami bersepeda beberapa saat, kami sudah di hadang dengan kehadiran Caca yang ternyata tengah bersepeda juga.


"Ah sial, kenapa harus ketemu sama dia sih?" Gerutu Ezra.


"Ya mau gimana lagi,"


"Mau kabur pun kita sudah nggak bisa, dia udah terlanjur lihat kita. Udah mending kamu hadapi saja dia, mau di hindari pun sepertinya mustahil deh." Lanjut ku.


Tampak raut wajahnya terlihat tidak nyaman sekali, melihat Caca yang tengah mengayuh sepedanya ke arah kami berdua.


"Ya ampun,"


"Aku tidak menyangka, di pagi yang cerah ini malah ketemu sama kamu di sini." Ucapnya senang.


"Hem......"


"Kamu mau sepedaan kan,"


"Aku boleh ikutkan, kebetulan aku juga ini baru aja keluar dari rumah. Lagi pula aku juga tidak ada teman untuk bersepedaan pagi ini." Jelasnya.


"Terserah kamu saja lah," balas Ezra pasrah.


Dengan terpaksa dia pun mengiyakan ucapan Caca dan kami pun langsung melanjutkan kembali laju sepeda kami yang sempat terhenti.


Sepanjang perjalanan,Ezra sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Caca. Meskipun Caca sendiri terus mepet-mepet untuk berdekatan dengan Ezra.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Di tengah perjalanan, saat kami harus melwati jalan yang menurun. Tiba-tiba saja sepeda yang aku tumpangi itu tidak bisa di rem,karena panik aku langsung teriak minta tolong pada Ezra.


"Ezra......."


"Gimana ini, sepertinya remnya blong deh....."


"Hah, kamu serius?" Balasnya.


"Aku serius, gimana ini?''


Terlihat Ezra berusaha untuk menghalangi ku di arah depan, aku pun kaget dengan apa yang di lakukannya itu. Kalau aku sampai menabraknya, bisa saja aku dan dia bakalan sama-sama terjatuh.


"Aku akan menahan kamu di sini,"


"Tidak nanti kamu terluka," balas ku.


"Sudahlah, percaya sama aku." Timpal nya.


Dengan pasrah aku pun menabrakan sepeda yang aku tumpangi ke arah Ezra. Terdengar suara teriakan Caca yang memanggil nama Ezra dengan keras.


*Bruk.......


Benturan keras pun terjadi, aku dan Ezra sama-sama terjatuh. Aku masih untung karena Ezra menghadangku, kalau tidak bisa saja aku jatuh ke dalam parit yang cukup dalam.


Namun meskipun begitu, tangan dan lutut ku terluka karena terkena pembatas jalan. Sedangkan aku lihat sikunya Ezra pun tergores karena harus menahan ku.


"Ah......." Isak ku sakit.


"Jangan gerak dulu, biar aku singkirkan dulu sepedamu ini."


"Ya ampun Kay,"


"Tapi semalam tante Vina bilang sepedanya bagus dan masih baru."


"Bukan yang ini, ada satu lagi. Tapi emang modelnya sama persis kayak ini, kalau tidak salah di simpannya pun masih di tutup sama karton."


"Ah iya, emang tadi ada sepeda yang di tutupi sama karton. Hanya saja aku malah berpikir itu yang udah nggak bisa di gunakan." Balas ku.


"Ya udah sebaiknya kakinya kamu luruskan dulu," ucapnya sambil membantu ku untuk meluruskannya.


"Sakit........" Ringis ku kembali.


Caca yang sedari tadi hanya diam memperhatikan aku dan Ezra, dia pun langsung menghampiri kami. Seolah dia tidak terima melihat Ezra memperhatikan aku dengan baik.


"Ih kamu kok pegang-pegang kaki dia sih?"


"Kamu apa-apaan sih Ca?"


"Nggak lihat apa kakinya tengah terluka seperti itu. Jangan aneh-aneh deh,"


"Kalau enggak, udah mending kamu pulang aja deh. Daripada malah buat aku pusing," lanjut Ezra.


"Kamu kok malah balik marahin aku,"


"Ya lagian kamu, udah tahu Kay baru saja jatuh. Kaki dan tangannya sama-sama terluka, udah sewajarnya aku menolong dia." Timpal Ezra.


Karena di sentak oleh Ezra, dia pun langsung terdiam sambil berdiri melihat ke arah ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun akhirnya pulang dengan aku yang di gendong oleh Ezra. Sepanjang perjalanan raut wajah Caca tampak cemberut dan terus menghentak-hentak kakinya.


"Sebaiknya kamu langsung pulang saja, lagi pula aku mau langsung bawa Kay ke rumah sakit." Ucap Ezra.


"Hah, kamu nggak salah malah minta aku untuk pulang?"


"Ca, tolong dong....."


"Kamu sendiri kan lihat, Kay tengah terluka saat ini."


"Tidak mungkin juga kan, kamu bawa itu sepeda kamu sampai ke rumah ku juga. Lagi pula aku pun mau langsung pergi,"


"Baiklah," balasnya kecewa.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku pun langsung di bawa ke salah satu klinik terdekat dengan di temani oleh tante Vina. Sepanjang perjalanan tante Vina tidak hentinya mengeluhkan keadaan ku yang tengah terluka.


Sesampainya di kliniknya, aku langsung di tangani oleh dokter. Dan akhirnya aku harus merelakan lutut ku mendapatkan dua jahitan,karena ada luka robek yang cukup dalam dan lebar.


"Ezra........"


"Kenapa?"


"Bukannya tangan kamu pun terluka, mumpung kita di sini. Sebaiknya sekalian aja luka kamu itu di obati juga,"


"Tidak perlu, ini hanya luka gores biasa saja. Aku bahkan tidak merasakan sakit sama sekali,"


"Yang terpenting sekarang ini itu, kondisi kamu." Lanjutnya.


Tante Vina pun kembali setelah menebus obat dari apotik dan mengurus administrasi.


"Aduh, kok ibu lupa tidak menemui dokternya kembali. Nak, sebentar yah......." Ucap tante Vina.


Beliau pun balik lagi keluar untuk menemui dokter yang sudah mengobati ku tadi.


"Makasih ya, karena berkat kamu aku bisa selamat."


"Coba saja kalau tidak ada kamu, mungkin saja aku bakalan mengalami hal yang jauh lebih mengerikan dari ini."


"Apa sih kamu, nggak usah ngomong kayak gitu."


"Udah jadi tanggung jawab aku, untuk jagain kamu selama di sini." Balasnya sambil menatap ku.


Entah kenapa, aku merasakan detak jantung ku berdetak cukup kencang tidak karuan. Aku bisa melihat ketulusan dari Ezra, meskipun awalnya sikap dia memang sangat menjengkelkan.


"Jangan menatap ku seperti itu, nanti aku salah paham lagi." Lanjutnya.