My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 26



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Aku sempat merasa canggung,atas apa yang di lakukan Ezra barusan. Terlebih lagi pandangan dari teman-teman ku yang tampaj aneh.


"Aku mau ke mobil dulu, ambil charger HP. Sepertinya ketinggalan di sana," ucap Ezra memecah keheningan.


"Oh ya sudah," balas Rama.


Sepeninggal Ezra kami pun menikmati rujak buah dan jambu yang sudah siap sejak tadi.


"Um......"


"Aku tidak menyangka Ezra bakalan perhatian seperti itu sama kamu." Lanjut Ami.


"Iya," sambung Luna.


"Aku pun sama,"


"Aku bahkan lebih kaget lagi." Lanjut ku.


"Secara yang aku tahu, dia tipe cowok yang cuek gitu sama cewek." Sambung Rama.


"Ya udah, anggap saja itu bentuk perhatian dia sebagai teman saja."


"Aku tidak ingin salah paham dan kepedean dengan apa yang aku dapatkan barusan." Jelas ku.


"Tapi menurut ku, kalian cocok juga kalau jadi pasangan. Secara baik kamu atau pun Ezra kan masih sama-sama sendiri saat ini."


"Ya ampun Rama, kamu itu jangan ngaco deh."


"Masa iya aku sama Ezra terlihat cocok,hanya karena perlakuan Ezra barusan. Jangan aneh-aneh deh," balas ku.


"Iya ih, nanti Kay bakalan jadi sasaran kebencian Caca lagi." Sambung Luna.


"Yang udah-udah saja seperti itu kan, baru aja dekat udah mundur karena tidak kuat menghadapi serangan yang di berikan oleh Caca. Apalagi kalau sampai jadian,"


"Aduh, aku tidak tahu lagi deh. Apa yang bakalan Caca perbuat sama Kay," timpal Ami.


"Ya kan itu hanya pendapat ku saja, lagi pula Ezra pun mana mau. Entah dia mau pacaran atau tidak, sepertinya dia udah duluan ketakutan deh sama Caca." Jelas Rama.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Selang beberapa saat Ezra pun sudah kembali dengan membawa kabel charger nya.


Setelah itu kami pun memutuskan untuk berpencar mengelilingi perkebunan milik kakeknya Rama ini, aku sendiri memilih untuk melihat perkebunan buah Manggis yang sebagian buahnya sudah matang. Sedangkan yang lainnya aku pun tidak tahu mereka entah pergi ke arah mana.


Karena tergiur melihat buah manggis yang sudah matang, aku pun berusaha untuk meraihnya dengan menggunakan kayu yang aku dapat dari bawah pohonnya sendiri. Namun sayangnya karena pohonnya cukup tinggi, jadinya aku pun kesusahan untuk meraihnya. Sempat beberapa kali aku hampir berhasil mengenai buahnya, namun sayangnya tidak membuahkan hasil.


"Kamu sedang ngapain?" Pertanyaan Ezra mengangetkan ku.


"Ah ini, aku tengah mencoba untuk mengambil buah manggis yang sudah matang itu. Sepertinya enak gitu," balas ku.


"Udah dapat belum?"


"Belum satu pun,"


"Susah banget, soalnya terlalu tinggi juga buat aku bisa meraihnya." Lanjut ku.


"Makanya tumbuh tuh ke atas, jangan ke samping." Ucapnya.


"Ih emangnya aku kelihatan gendut apa? Segini itu langsung tau gak," balas ku tidak terima.


"Udahlah, jangan ngambek segala."


"Sini, biar aku bantu untuk mengambilnya."


Ezra pun bersiap untuk memanjat pohon manggisnya. Dengan telaten dia pun berhasil menaiki pohon manggisnya dengan mulus dan sampai di salah satu dahan yang cukup besar.


"Hati-hati, nanti tergelincir......." Teriak ku dari bawah.


"Tidak akan, ini udah aman." Balasnya.


"Tetap saja kamu harus berhati-hati, pegangan yang kuat." Lanjut ku.


Terlihat dia pun mulai memetik beberapa buah manggis yang berada di dekat dia. Aku merasa senang, karena akhirnya aku bisa menikmati buah manggis yang aku inginkan sejak tadi.


"Secukupnya saja, takutnya yang lain pun pada mau nanti."


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah berhasil mengambil buah manggisnya dan berkeliling beberapa saat, kami pun kembali ke saung untuk mengumpulkan buah hasil panen kami. Ternyata teman ku yang lain sudah lebih dulu sampai dan tidak lupa mereka pun sama-sama membawa buah hasil panen mereka masing-masing.


"Itu dia mereka," tunjuk Luna.


" Kalian udah lama sampai di sini?" Tanya ku.


"Tidak juga, mungkin ada sekitar 5 menitan kami baru sampai."


"Ini kami hanya memetik buah mangga, kelengkeng sama ini ada mangga buat di rujak." Jelas Ami.


"Oh, ini aku ambil buah manggis sama ini ada buah jambu air juga." Ucap ku sambil menunjukannya pada mereka.


"Wah lumayan juga yah, hasil panen kita kali ini."


"Baiklah,"


"Tapi sebaiknya kita nunggu mataharinya nggak terik,nunggu sore." Ucap Rama.


"Iya santai aja, lagian kita juga nggak bakalan kemana-mana ini." Timpal Ezra.


Dia pun langsung bersiap untuk tidur,melihat hal itu aku dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Bisa-bisanya, di saat seperti ini pun dia masih aja sempat untuk tidur." Ucap Ami.


"Tidur merupakan cara dia untuk mengisi energi dia kembali, seperti itulah dia." Sambung Rama.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sekitar jam 3 sore, kami pun bersiap untuk pulang kembali menuju Jakarta. Tidak lupa dengan buah-buahan yang sudah kami panen tadi siang. Pak Rahmat pun ternyata sudah mempersiapkan bingkisan di kotak yang terbuat dari kayu. Terlihat ada beberapa sayuran juga yang ada di dalam kotanya.


"Makasih pak, karena sudah memberikan kesempatan untuk kami panen buah di sini." Ucap Ami.


"Sama-sama,"


"Bapak pun senang bisa membantu dan ada kalian ke sini untuk berkunjung. Jangan sungkan-sungkan untuk kembali ke sini lagi." Lanjut beliau.


Setelah berpamitan dengan pak Rahmat, kami pun langsung bersiap untuk pulang. Tidak seperti saat tadi berangkat, pas pulang kali ini mungkin karena capek sebagian dari kami pun tertidur terkecuali Rama dan Ezra. Karena mereka harus bergantian untuk menyetir mobil.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setibanya di rumah, Aku langsung menuju dapur untuk menaruh barang bawaan yang di bawa dari kebun tadi. Tante Vina yang melihat aku membawa manggis pun,beliau langsung menghampiri aku.


"Tante boleh minta," ucapnya.


"Tentu saja tante,"


"Ya ampun bu, segitu senangnya lihat buah manggis." Sambung Ezra yang baru saja datang.


"Tentu senanglah nak, soalnya di sini itu jarang ada. Kalau pun ada pasti harganya pun mahal,"


"Ini kalian dapat dari kebunnya pak Sobari?" Tanya beliau.


"Sobari?" Tanya ku balik.


"Iya itu nama kakeknya Rama," balas Ezra.


"Oh ya ampun, aku bahkan tidak sempat untuk menanyakan nama kakeknya dia."


Ezra pun memilih untuk langsung pergi menuju kamarnya, setelah menaruh sebagian buah-buahan yang dia bawa dari mobil. Sedangkan aku memilih untuk ngobrol bareng tante Vina, sambil menikmati buah-buahan yang aku bawa tadi.


"Gimana, senang nggak kamu bisa berkunjung ke sana?" Tanya tante Vina.


"Tentu saja,"


"Ini kali pertama aku berkunjung ke tempat seperti itu. Kalau pun Rama mengajak ku kembali, aku sama sekali tidak keberatan tante."


"Baguslah,"


"Tante tidak menyangka,kamu akan dengan cepat beradaptasi dengan suasana di sini." Ucapnya sambil tersenyum.