
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Apa yang kamu lakukan?" Bentak ku.
Dia hanya diam sambil menatap ku saja. Aku malah semakin kesal dengan Ezra.
"Gimana bisa kamu main nyosor begitu saja, aku tidak terima yah." Lanjut ku.
"Tidak terima, tapi kamu tadi hanya diam dan merespon ciuman yang aku lakukan." Balasnya.
"Itu........."
"Itu karena aku terkejut,"
"Aku tidak tahu apa yang bakalan kamu lakukan tadi." Jelas ku.
"Gimana kalau ada yang melihatnya?"
"Tidak ada, orang-orang di rumah ini tengah pergi semua."
Aku pun mengalihkan perhatian ku dengan melihat ke arah luar jendela, sekalian untuk menenangkan pikiran ku yang saat ini tengah kalut.
"Ya ampun, benar-benar. Dia selalu melakukan hal yang tidak pernah diduga." Bisik ku dalam hati.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Setelah di rasa tenang, aku pun memberanikan diri untuk bicara sama Ezra yang sejak tadi masih terdiam di samping ku.
"Sejak kapan?"
"Sejak kapan kamu menyukai ku?" Lanjut ku.
"Tidak tahu, aku merasakannya begitu saja."
"Aku sendiri belum yakin, apakah ini perasaan suka atau sekedar rasa peduli sama kamu saja." Jelasnya.
"Jujur ini kali pertama aku melakukan hal itu sama perempuan. Entah kenapa tadi aku seolah mendapatkan dorongan untuk melakukannya."
"Aku sendiri tak kalah terkejut, kenapa aku bisa seberani itu pada kamu." Lanjutnya.
Mendengar hal itu, aku langsung balik menatapnya kembali.
"Kenapa? Jangan menatap ku seperti itu. Seolah aku baru saja mencuri sesuatu dari kamu."
"Emang kamu sudah mencurinya,"
"Kamu udah mencuri ciuman pertama ku." Balas ku.
Dia pun hanya tersenyum dan langsung memeluk ku.
"Aku serius saat ini. Sepertinya aku memang menyukai kamu," lanjutnya.
Aku hanya bisa menghela nafasku dalam, entah kenapa aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Seolah aku pun mengiyakan dan menerima apa yang sudah di lakukannya ini.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tiga hari sudah berlalu, hari ini aku pun kembali masuk sekolah seperti biasanya. Meskipun tante Vina dan Ezra sendiri menyarankan untuk aku sekolah di hari senin depan saja. Namun karena aku merasa sudah merasa membaik dan bisa berjalan kembali meskipun masih tertatih.
Sesampainya di sekolah, Ami dan Luna sudah menunggu ku di parkiran begitu pun dengan Rama.
"Akhirnya kamu kembali lagi bersekolah," ucap Luna langsung memeluk ku.
"Iya........"
Ami pun bergantian memeluk ku,terlihat raut wajahnya tampak senang melihat aku kembali ke sekolah hari ini.
"Aku sudah tahu ceritanya," bisiknya.
Aku langsung di buat terheran dengan ucapannya barusan. Sebenarnya apa yang sudah di ketahui nya selama aku tidak masuk sekolah.
Di lihat dari raut wajah Ami dan Luna, sepertinya mereka telah mengetahui sesuatu yang menimpa ku.
"Jangan bilang......" Bisik ku pelan.
"Eh kenapa? Kok kamu malah melamun." Ucap Rama membuyarkan lamunan ku.
"Atau jangan-jangan kamu udah terlalu nyaman lagi tinggal di rumah dan enggan untuk sekolah." Lanjutnya.
"Tidak lah, mana ada. Kamu ngawur banget,"
"Udah yuk, sebaiknya kita langsung ke kelas saja." Ajak Ami.
... ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku di buat heran, karena selama perjalanan tadi menuju ke kelas. Aku tidak melihat keberadaan Caca, biasanya dia sudah berdiri di parkiran menunggu kedatangan Ezra. Atau pun dia menunggu di depan kelasnya atau bahkan pergi ke kelas kami untuk menemui Ezra.
"Kenapa?" Tanya Luna yang berdiri tepat di samping ku.
"Enggak, aku hany merasa ada yang beda saja."
"Maksud kamu,Caca?"
"Iya, biasanya dia berkeliaran di sekitaran Ezra. Tapi tadi di parkiran pun aku bahkan tidak melihatnya,"
"Nanti aku ceritakan di kelas,"
"Hah, memangnya ada apa? Apa terjadi sesuatu saat aku tidak sekolah kemarin?" Tanya ku penasaran.