My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 16



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


"Ya terserah aku lah,"


Aku sendiri sebagai wanita,tidak menyukai sikapnya itu. Pantas saja Ezra tidak menerima atau pun merespon dia.


"Udah mending kamu pulang duluan aja sana, naik apa kek."


"Naik taksi atau ojeg online atau apa gitu. Di depan sekolah pun biasanya ada banyak ojeg yang nongkrong nunggu penumpang."


"Ah atau enggak kamu naik angkot aja," lanjutnya.


"Lah kamu punya hak apa,malah nyuruh aku pulang duluan."


"Aneh," balas ku.


"Ya kan biar aku bisa pulang bareng Ezra, harusnya kamu itu mengerti Kayla."


Aku semakin tidak menyukai dia saja, belum juga jadian sama Ezra dia sudah sok berkuasa banget.


"Ngapain masih diam saja, sana buruan. Nanti keburu ojeg nya nggak kebagian." lanjutnya.


Saat aku hendak beranjak dari kursi ku, terdengar suara meja yang di pukul cukup keras. Bukan hanya aku yang kaget, tapi Caca pun kaget dengan apa yang di lakukan Ezra barusan.


"Berisik,"


"Nggak bisa lihat apa, gue lagi istirahat."


"Bisa nggak sih, sehari aja kamu biarkan aku hidup dengan tenang." Ucap Ezra kesal.


"Iya......"


"Tapi kan aku, hanya mau......"


"Cukup, aku muak dengan kamu." Timpal Ezra.


Dia pun langsung meraih tasnya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Kay......." Panggil Ezra.


"Hah?"


"Ayo, mau pulang nggak? Kalau enggak aku tinggal nih." Ucapnya.


"Iya......"


Aku pun buru-buru menyusul Ezra yang sudah lebih dulu keluar.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Terlihat raut kekesalan dari wajahnya, sepanjang perjalanan menuju parkiran Ezra hanya diam saja tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku sendiri tidak berani untuk memulai pembicaraan duluan, karena takut malah kena semprotnya.


Namun langkah kami langsung terhenti saat melihat Rama tengah berdiri sendirian,di balik tiang sambil tertawa.


"Kenapa dia?" Ucapnya pelan.


Karena penasaran, dia pun malah belok menghampiri Rama.


"Eh kok malah belok sih, katanya mau pulang."


"Bentar, aku penasaran. Dia lagi lihatin apa,sampai tertawa sendirian seperti itu."


Tingkah usilnya pun keluar dan langsung menepuk pundaknya Rama.


"Ah......"


"Ya ampun Ezra, kamu buat aku kaget saja."


"Kami lagi lihatin apa sih? Sepertinya seru banget,"


"Itu, aku lagi lihatin si Ami......" Tunjuknya.


"Emangnya kenapa dengan dia?" Tanya ku penasaran.


"Lucu aja, lihat deh. Dia lagi menari,tapi kaku banget gerakannya."


"Ish kamu ini, nggak baik tahu malah mencela teman sendiri. Namanya juga lagi belajar," balas ku.


"Udah yuk ah, sebaiknya kita pulang. Nggak ada kerjaan banget, aku pikir lagi lihatin apa." Ucap Ezra.


"Yuk........"


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Kami pun langsung berjalan menuju parkiran, namun baru juga beberapa langkah dari tempat Rama tadi berdiri. Kami mendengar seruan Caca yang memanggil nama Ezra.


Mendengar hal itu, Ezra sama sekali tidak menggubrisnya dan fokus jalan saja.


"Berisik tahu wey," ucap Rama.


"Udah biarin aja, nanti kalau di tanggapi yang ada dia malah kepedean lagi." Balas Ezra sambil merangkul pundaknya Rama.


"Ah.........." Teriak ku kaget.


Sekujur tubuh ku basah kuyup dan pakaian yang aku pakai pun kotor di buatnya.


"Caca....." Bentak Ezra langsung.


"Kamu apa-apaan sih? Maksud kamu apa ini?" lanjutnya.


"Ih aku tidak berniat untuk menyiram dia kok,"


"Terus maksud kamu niatnya mau nyiram Ezra atau enggak aku,gitu?" Timpal Rama.


"Benar-benar yah kamu,"


"Aku jamin, kamu bakalan dapatkan hal yang setimpal karena buat sepupu ku seperti ini." Ucap Ezra sambil menunjuknya.


Kemarahan Ezra sudah memuncak, terlihat wajahnya sudah memerah dan amarahnya tengah meledak saat ini.


"Tapi emang aku nggak berniat untuk lakukan ini sama Kayla. Kamu salah paham, bukan seperti itu ceritanya."


"Ah aku nggak mau dengar penjelasan apapun dari kamu. Aky kecewa sama kamu tahu," bentak Ezra.


Melihat aku yang basah kuyup, Ezra pun melepas jaket dan langsung memasangkannya pada ku.


"Ayo kita pergi," Ezra pun memapah ku.


Baru kali ini, aku mengalami hal buruk seperti ini. Di sekolah ku yang dulu, Dea dan Hera tidak berani melakukan hal seperti ini. Meski pun mereka berdua sering mengganggu ku.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sesampainya di parkiran, Ezra langsung meminta ku untuk langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan dia berbicara dengan Rama terlebih dulu sebelum menyusul ku masuk.


Aku sendiri pun tidak tahu, apa yang tengah di bicarakan oleh mereka berdua. Tau-tau Ezra sudah masuk kedalam mobil saja.


"Ayo pulang, aku sudah tidak tahan dengan baunya." Ajak ku.


"Sebentar,"


"Akan lebih baik jika kamu ganti dulu pakaian kamu itu. Tidak mungkin kan, kamu pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup seperti ini." Jelasnya.


"Ya mau ganti pun, aku tidak bawa pakaian untuk ganti."


"Aku udah minta Rama untuk mengambil seragam olah raga ku,di loker. Jadi tunggu saja," balasnya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Rama pun kembali dengan membawa seragam olah raga milik Ezra.


"Nih......." Ucap Rama dari luar.


Ezra pun langsung meraihnya dan memberikannya pada ku.


"Udah sana, kamu ganti dulu pakaian kamu itu. Nanti keburu masuk angin lagi,"


"Itu di samping pos satpam,ada toilet yang bisa di gunakan untuk siapa saja. Kamu bisa ganti bajunya di sana," jelasnya.


"Iya......."


Aku pun buru-buru keluar untuk mengganti pakaian ku yang basah dan bau ini.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah kembali, aku mendapati Ezra dan Rama tengah mengeluarkan semua buku-buku ku dari dalam tas.


"Kalian lagi pada ngapain? Kenapa ngeluarin buku-buku ku itu?" Bentak ku.


"Ya kan takutnya buku kamu ikut basah juga," balas Ezra.


"Ya ampun,"


"Kami nggak lihat, tas aku itu anti air. Jadi nggak bakalan nembus sampai ke dalam."


"Aku tahu Key, hanya saja tas kamu ini udah bau. Aku bermaksud untuk memasukannya ke dalam tas plastik,sekalian dengan baju kamu itu. Biar langsung aku kasih ke tempat laundry," jelasnya.


"Hem........"


"Terserah lah,"


Aku sudah pusing dengan kejadian yang menimpa ku hari ini. Sekarang yang aku butuhkan adalah makan coklat atau minum coklat dingin supaya mood ku kembali membaik.


"Cepatlah, aku udah kesal nih."


"Sabar lah," balas Rama.


Aku pun memilih untuk menunggu mereka,sambil duduk di kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat parkir mobil.


"Ya ampun, mimpi apa aku semalam. Bisa ngalamin hal kayak gini hari ini," gumam ku.


"Awas aja, aku pasti bakalan balas kelakuan si Caca itu. Aku yakin tadi itu bukanlah kesengajaan, tapi emang dia niatnya ingin mencelakai aku."