My Youth Story (Kayla Story)

My Youth Story (Kayla Story)
Episode 25



...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sepanjang perjalanan Ami, Luna dan Rama tidak hentinya terus becanda. Tidak lupa juga dengan cemilan yang di bawa oleh mereka.


Sedangkan aku hanya sesekali saja ikut becanda dengan mereka, sisanya aku memilih untuk tidur. Sedangkan Ezra dia lebih memilih untuk fokus menyetir mobil di bantu Rama yang mengarahkan jalannya.


"Ngomong-ngomong kamu sudah bilang kan,sama kakek kamu." Ucap Ami.


"Tentu saja, masa iya aku main pergi ke sana. Kalau aku belum.mendapatkan ijin dari beliau." Jelas Rama.


"Di sana lagi musim apa katanya?" Tanya Ezra.


"Kalau enggak salah ada mangga, jambu,lengkeng sama enggak tahu aku lupa lagi."


"Pokoknya kata kakek, apa yang udah siap di makan ambil aja." Lanjutnya.


"Oh gitu, wah aku udah nggak sabar banget." Sambung Luna.


"Ih tahu ada mangga sama jambu, kenapa kita nggak bawa bahan-bahan untuk buat rujak saja. Enak kan, apalagi cuaca hari ini cukup panas." Lanjutnya.


"Ah gampang,kamu tenang aja. Di sana ada rumah juga kok," timpal Ami.


"Rumah? Bukannya kakek Rama yang tadi itu bukan sih. Terus itu rumah untuk siapa?"


"Itu rumah yang biasa di gunakan atau di tempati oleh penjaga yang di percaya oleh kakek ku. Yang mengurus kebun itu, namanya pak Rahmat dan istrinya bu Nina." Jelas Rama.


"Oh........"


"Aku udah nggak sabar, ingin segera sampai di sana." Ucap ku semangat.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kami pun akhirnya sampai tepat di parkiran dekat rumah yang di ceritakan oleh Rama dan Ami tadi.


Kami pun di sambut oleh pak Rahmat yang sudah menunggu kami, di depan rumah. Rama pun langsung menghampiri beliau dan tidak lupa memberikan bingkisan yang di titipkan oleh kakeknya tadi.


"Ya ampun mas Rama, saya jadi merasa tidak enak. Udah merepotkan,karena harus bawa ini jauh-jauh untuk saya." Ucap beliau.


"Tidak apa-apa pak, lagian ini titipan yang harus saya sampaikan sama bapak."


"Oh iy, saya tidak lihat bu Nina. Kemana beliau?" Tanya Rama.


"Kebetulan ibu tengah pergi ke rumah anak kami di Bandung. Dan baru kembali 2 sampai tiga hari lagi."


"Oh gitu,"


"Ya udah mas, takutnya mas mau langsung lihat-lihat."


"Tadi saya sudah sempat panen buah kelengkeng dan sudah saya simpan di saung yang berada di dekat kebun jambu."


"Kebetulan juga, jambunya tengah berbuah. Ada jambu air, jambu kristal dan lain-lain."


"Wah kebetulan banget pak,"


"Tadi teman saya bilang mau buat rujak katanya," timpal Rama.


"Oh ya sudah kalau begitu biar saya siapkan dulu. Nanti saya antar ke sana,"


"Baik pak,"


Mendengar hal itu, Ami dan Luna sudah tampak tidak sabar ingin segera menuju ke tempat yang di maksud oleh pak Rahmat barusan. Tentu saja aku pun tidak sabar ingin lihat kebun milik kakeknya Rama ini.


Tanpa menunggu lama, kami pun langsung menuju kebunnya mengikuti Rama yang berjalan di bagian depan kami. Sepanjang perjalanan menuju saungnya, kami disuguhkan oleh perkebunan berbagai macam buah-buahan yang tengah berbunga. Ada juga sebagian yang sudah siap untuk di panen termasuk buah jambu dan kelengkeng.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Sambil menunggu pak Rahmat mengantarkan pesanan kami,aku dan Luna pun kebagian tugas untuk memetik jambu Air yang sudah siap untuk di panen. Sedangkan Luna dia ikut bersama Rama untuk mengambil mangga,yang letak pohonnya berada di bagian paling ujung dari perkebunan ini.


Ezra sendiri seperti biasa, dia tengah bersantai sambil tiduran. Di tambah di saungnya sendiri udah di sediakan kipas angin yang makin menambah kenikmatan dia untuk tidur.


"Oke,"


"Ih aku senang banget lihat buah-buah nya ini, warnanya itu bikin ngiler."


"Iya makanya,"


"Oh iya, ngomong-ngomong buah-buah yang ada di sini itu nantinya di kemana kan? Kan hampir semuanya udah siap untuk di panen."


"Kalau tidak salah, aku dengar udah ada penadah yang udah biasa mengambilnya langsung ke sini." Balas Ami.


"Oh kalau kayak gitu sih, tenang yah."


"Iya........"


Dari pohon jambu ini, aku bisa melihat Ezra tengah bersantai sambil memainkan HPnya.


"Lihatlah dia, enak banget bersantai kayak gitu." Tunjuk ku.


"Ya nggak apa-apalah, tadi kan dia habis kecapean karena habis bawa mobil." Balas Ami.


"Iya sih,"


Setelah mendapatkan jambu air dan jambu kristalnya, kami pun tidak lupa untuk mencucinya terlebih dulu. Untungnya di sana sudah di sediakan kran air yang hampir terdapat di beberapa titik.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Ternyata setibanya kami di saung, Luna dan Rama pun datang juga dengan membawa mangga dan jeruk yang sudah matang.


"Lah bukannya tadi jeruknya masih pada kecil-kecil yah?" Ucap ku.


"Ah ini, tadi pak Susanto yang punya kebun di samping itu kasih jeruknya. Kebetulan jeruk beliau udah pada matang dan siap untuk di panen." Jelas Rama.


"Ah pantas,"


"Oh iy, ini tadi pak Rahmat nganterin ini." Ucap Ezra sambil menunjuk ke arah cobek yang di simpan di bawah meja.


"Kebetulan banget, ini kita juga udah dapat bahan-bahan untuk buat rujaknya." Sambut Ami.


"Nah, sekarang siapa yang mau buat bumbu rujaknya. Aku nggak bisa soalnya," lanjutnya.


"Udah sama aku aja, aku bisa kok." Timpal Luna.


"Wah kebetulan banget,"


Aku dan Ami pun langsung menyiapkan isi dari rujaknya dengan mengiris-iris jambu dan mangga. Namun karena aku malah asik mengobrol, aku malah tidak fokus dan buat jari ku tergores oleh pisau.


Dengan sigap Ezra langsung meraih jari ku yang tergores dan langsung menghisapnya. Bukan hanya aku saja yang kaget dengan perlakuan Ezra kali ini, teman-teman ku yang lain pun ikut terkejut dan sempat terdiam dan melihat ke arah Ezra.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" Tanya ku pelan.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, dia malah fokus menatap ku dan terus menghisap jari ku.


"Wah, ternyata dia juga bisa bersikap romantis seperti itu sama cewek." Ucap Rama.


"Aku sampai terkejut lihatnya," sambung Ami.


...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...


Setelah selesai, Ezra langsung membungkus luka ku dengan menggunakan plester. Kebetulan memang di saung yang kami tempati ini, terdapat kotak obat juga.


"Harusnya kamu lebih berhati-hati, untung saja hanya jari kamu ini yang tergores." Ucapnya.


"Iya, tadi aku hanya tengah lengah saja." Balas ku kaku.


Aku masih tidak menyangka, bakalan mendapatkan perhatian dari Ezra seperti itu. Karena setahu aku, dia tipe cowok yang dingin dan cuek.


"Makasih," lanjut ku.