
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sesampainya di kelas, aku langsung menarik Luna dan Ami. Aku sudah penasaran dengan apa yang sudah terjadi selama aku tidak sekolah beberapa hari kemarin.
Bahkan Ezra sendiri yang tiap hari ketemu pun dia sama sekali tidak menceritakan apa-apa pada ku.
"Ayo ceritakan sama aku,"
"Jangan sekarang lah, sebentar lagi pelajaran pertama akan segera di mulai."
"Aku sudah penasaran banget,"
"Iya kita ngerti kok, bersabar sebentar aja." Ucap Ami.
"Lagian tidak enak juga kalau harus cerita di sini. Ada banyak orang, terlebih lagi ada Ezra. Aku merasa tidak bebas saja untuk menceritakannya." Lanjutnya.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai nanti pas waktu istirahat tiba."
Aku pun kembali ke bangku ku dengan perasaan penuh tanya.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba, Ami sudah lebih dulu berdiri dan mengajak Luna juga.
"Sebenarnya kalian pada mau kemana sih?" Tanya Ezra.
"Mau tau aja, ini urusan cewek. Sebaiknya kamu udah ke kantin aja bareng sama Rama." Balas ku.
"Ya biasa aja kali, aku kan cuma nanya saja."
Dia pun langsung pergi, terlihat kekecewaan dari raut wajahnya saat barusan dia hendak pergi.
Ami dan Luna yang tengah menunggu aku di ambang pintu pun,hanya bisa tertawa melihat sikap Ezra barusan.
"Kenapa dia?" Tanya Ami.
"Udah biarin aja, tidak usah pedulikan dia."
"Nah, sekarang enaknya kita ngobrol di mana? Kalian berdua udah janji loh, akan menceritakannya sekarang."
"Gimana kalau di ujung lorong kelas kita aja, di sana kan jarang ada siswa yang nongkrong dan tidak banyak di lewati oleh siswa lain juga." Ucap Luna.
"Benar juga, aku setuju."
"Sebenarnya apa sih, sampai kita harus bicara sejauh ini. Aku semakin penasaran saja,"
Aku pun mengikuti mereka menyusuri lorong kelas kami dan benar saja yang di katakan Luna tadi. Di sana terlihat sepi dan tidak banyak siswa yang lewat ke arah sana.
Di sana juga ada kursi yang ukurannya cukup panjang,mungkin sengaja di simpan di situ untuk di gunakan siswa buat nongkrong.
"Nah sekarang kan udah aman, cerita lah."
"Jadi begini, tepatnya hari rabu kemarin. Aku dan Luna kan baru balik dari kantin, kami emang hari itu nggak makan siang bareng Rama sama Ezra. Karena memang sebelumnya kita pergi ke perpustakaan lebih dulu."
"Singkat cerita, sesampainya di kelas kami melihat ada pertengkaran antara Ezra dan Caca. Sepertinya hari itu Ezra udah benar-benar muak dengan Caca, sehingga dia meluapkan semuanya hari itu."
"Apa itu?'' Tanya ku penasaran.
"Asal kamu tahu, aku sudah pacaran dan tengah menjalin hubungan dengan seseorang. Jadi aku harap kamu tidak mengganggu ku lagi, baik aku atau pun pasangan ku."
"Apa?"
"Aku tidak percaya, kamu pasti bohong. Kamu sengaja kan bicara seperti ini, supaya buat aku menjauhi kamu."
"Tidak aku serius, aku tidak becanda."
"Katakan pada ku, siapa cewek itu? Siapa cewek yang udah berhasil merebut kamu dari aku,"
"Merebut kamu bilang? Ingat yah Ca, antara aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa."
"Yang ada, cewek yang pantas di sebut perebut itu kamu. Karena kamu jadi orang ketiga dalam hubungan kami."
"Ezra......." Teriak Caca.
"Apa?" Bentak Ezra.
"Oke, sekarang kamu ngomong sama aku. Siapa cewek itu?"
"Kayla......"
"Kayla? Jangan becanda, bukanya kalian berdua itu saudaraan. Gimana bisa kalian malah pacaran,"
"Aku sengaja mengarang semua itu, supaya kamu tidak bisa mengganggu dia atau membully dia." Balas Ezra.
"Hah........"
"Bisa-bisanya kamu membohongi aku selama ini. Awas aja,"
"Kamu harusnya yang waspada, aku tidak akan tinggal diam kalau kamu berbuat hal buruk terhadap Kayla. Aku yang akan lebih duluan maju untuk menghadapi kamu." Lanjut Ezra.
Caca yang mendengar itu pun hanya bisa menangis dan temannya yang sedari tadi hanya bisa diam saja pun langsung menarik Caca dan membawanya keluar dari dalam kelas.
"Bukan hanya Caca saja yang kaget, aku dan yang lainnya pun tidak kalah kaget."
"Nah sekarang giliran kamu yang cerita, sejak kapan kamu sama Ezra pacaran?" Tanya Ami.
"Pacaran apa sih? Aku bahkan nggak merasa tengah pacaran sama dia saat ini.
"Lah, terus kenapa Ezra bisa ngomong kayak gitu." Sambung Luna.
"Iya,"
"Aku bahkan dengar dari Rama, kalian berdua bahkan pernah ciuman." Timpal Ami.
"Hah? Gimana bisa,"
"Ups aku seharusnya nggak mengatakan ini. Aku udah janji sama Rama untuk tidak mengatakannya."
"Bisa-bisanya dia menceritakan kejadian itu sama yang lain. Bahkan aku saja, selama ini berusaha untuk melupakan kejadian itu." Bisik ku dalam hati.