
Jam alarm terus berbunyi sejak lima menit yang lalu, tetapi si pemilik masih terkurung di dunia mimpi yang lebih indah dibandingkan dunia nyata. Belum berhenti bunyi jam, saat ini alarm diponsel yang ikut berdering sahut-menyahut hingga membuat seseorang dikamar sebelah geram. Ketukan pintu menambah suara berisik pagi itu padahal, jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi.
Geram karena tidak ada yang membuka pintu, ia masuk secara paksa lalu mematikan jam dan ponsel yang masih saja berlomba-lomba membuktikan suara. Ditatapnya dengan ganas si pelaku yang saat ini masih memejamkan matanya, lalu ia membuka selimut secara paksa hingga erangan malas keluar.
"Ari, bangun! Bangun!" Katanya sekeras mungkin sambil menggoyangkan tubuh Ari.
"Enghh..."
"Ampun deh! Ariiiiiiii bangun dong, jangan seperti kerbau deh tidurnya! Kamu masang alarm jam segini untuk apa?"
Ari membalikkan tubuhnya memunggungi Ara yang terlihat masih sangat mengantuk. Ara yang kesal langsung memukul bokong Ari hingga mengaduh kesakitan. Ari duduk, menatap Ara dengan sengit, sedangkan yang ditatap malah menatap balik dengan berani.
"Ngapain bangunin pagi-pagi gini sih? Aku masih ngantuk, butuh istirahat."
"Iki misih ngintik, bitih istirihit!" Ucap Ara menirukan suara Ari dengan mimik wajah jengkel, "Aku juga butuh tidur, tapi alarm kamu bunyi terus. Ngapain sih masang alarm pagi-pagi gini? Aku masih ngantuk, butuh istirahat!"
Ari membelalakkan matanya, ia segera berlari mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Beberapa detik kemudian keluar lagi dengan sikat gigi yang sudah masuk ke dalam mulutnya, dengan mulut penuh busah ia mengusir Ara dari kamar.
"Sana kembali ke kamar kamu! Kamu mau lihat aku ganti baju nanti?"
"Najis!"
Ari mengangkat bahunya cuek, kemudian masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan ritual mandi pagi. Ari memandang dirinya dicermin, peristiwa haram tadi malam kembali terbayang. Perselingkuhan yang ia mulai, kecupan, dan pelukan masih sangat terasa. Ari berdiri di bawah guyuran shower, memejamkan matanya berusaha Tapi, dirinya yang sedang berperang antara mencoba dengan Jasmine atau menghentikan permainan ini sebelum terlambat.
"Kita coba dulu selama beberapa bulan, kita lihat bagaimana hasilnya nanti. Kalau kamu ingin bersamaku, stay with me. Tapi, kalau ternyata kamu pilih dia, aku gak apa-apa, setidaknya aku pernah merasakan kebahagiaan saat bersama kamu." Ujar Jasmine semalam di depan rumahnya saat Ari mengantarkan gadis itu.
Ari menyugar rambutnya kasar, kemudian menyelesaikan ritual mandinya secepat mungkin. Ia sudah cukup terlambat bertemu dengan Jasmine. Hari ini pertama kalinya mereka akan berkencan, secepat itu keduanya memutuskan untuk mencoba. Ari keluar dari kamar mandi, ia melirik ponselnya yang berdering, muncul nama Jasmine dilayar.
"Ya, Jas?"
"Kita jadi nge-date kan, Ri?" di rumah. Jasmine disebrang sana. Pertanyaan dengan nada khawatir yang tersirat mau tak mau membuat senyuman kecil dibibir Ari muncul.
"Jadi dong. Aku lagi siap-siap, sepuluh menit lagi aku jemput."
"Oke, aku tunggu di rumah."
"Hmm."
Ari tersenyum, secepat kilat ia bersiap untuk pergi bersama Jasmine. Ari ke luar kamar menuju dapur, tenggorokannya butuh air agar tidak terlalu kering. Ara yang sedang memakan sereal menatapnya bingung.
"Mau kemana? Rapi banget."
"Jalan lah, memangnya kamu liburan cuma diam di rumah!" Ucap Ari dihadiahi lemparan sendok oleh Ara. Ia bersiul sepanjang perjalanan ke rumah Jasmine, sudah lama Ari tidak merasakan debaran aneh itu. Kini debaran itu kembali muncul, semakin keras debarannya saat melihat Jasmine yang tampil cantik di depan gerbang rumah menunggunya menjemput.
Jasmine benar-benar cantik sekali, mempesona. Dress selutut dengan print flora berwarna pink, sepatu flat berwarna putih, rambut yang di kepang menyamping, dan riasan yang semakin menonjolkan kecantikan Jasmine.
"Sudah lama nunggu?" Tanya Ari seraya turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Jasmine.
"Belum lama kok. Jadi ini hari pertama kita?"
"Ya, hari pertama kita, Jas."
...*****...
Ari dan Jasmine berakhir disebuah pameran seni lukis. Ari mengajak Jasmine ke tempat itu sekaligus meminta bantuannya memilihkan lukisan untuk kado ulang tahun sepupunya.
Jasmine menggenggam tangan Ari dengan erat, jemari mereka kokoh saling terjalin seakan tidak ada hari lagi untuk berpegangan tangan. Ari tidak keberatan sama sekali dengan skinship ini karena ia juga menyukainya. Hal ini berbeda ketika bersama dengan Marsha yang tidak menyukai skinship seperti ini ditempat umum, gadis itu hanya mau melakukan hal-hal seperti ini jika keadaan tidak terlalu ramai. Lain halnya dengan Jasmine yang menyukai berpegangan tangan di depan umum atau menyadarkan kepalanya dibahu Ari.
"Lukisan mana yang menurut kamu cocok untuk aku kasih ke sepupu ku?"
Jasmine melihat beberapa lukisan yang dapat dijangkau matanya, memilih lukisan yang menurutnya paling bagus. Tak lama, Jasmine menunjuk sebuah lukisan sepasang kekasih yang sedang berpelukan di tengah kebun bunga.
"Yang ini? Kenapa?"
"Lukisannya terlihat romantis, tone nya aku suka, hangat."
Ari menganggukan kepalanya beberapa kali, "Hmm gitu ya. Kalau yang ini bagaimana?" Tunjuk Ari pada lukisan ikan yang terlihat begitu nyata dan timbul. Beberapa ikan dengan warna merah, emas, dan putih yang sedang meliukkan badannya.
"Aku rasa gambar yang aku pilih ini lebih bagus, Ri."
Ari mengangguk kemudian membeli lukisan yang dipilih oleh Jasmine. Harganya yang tidak murah membuat Jasmine terkejut, ia memprotes kepada Ari karena membeli hadiah yang begitu mahal hanya untuk kado ulang tahun.
Keduanya masih kembali mengelilingi galeri tersebut, hingga Ari berhenti di sebuah lukisan langit berbintang lalu ada seorang gadis sedang menerbangkan lampion. Ari menatap lukisan itu intens kemudian membelinya.
"Lukisan buat siapa, Ri? Ini lebih mahal dari yang tadi lho."
"Ini lukisan untuk Marsha, dia senang lukisan dan pas lihat gadis dilukisan itu aku ingat—" Ari menoleh ke Jasmine saat genggaman tangannya dilepas, ia merutuki darinya sendiri saat melihat wajah sedih Jasmine. "Jasmine, aku gak maksud untuk—"
"Ini hari pertama kita lho, Ri. Kamu masih ingat Marsha saat bersama aku? Are you kidding me?"
Jasmine menghela napasnya kasar lalu mau tidak mau menganggukan kepalanya. Mungkin Ari masih belum terbiasa, terlalu lama bersama dengan Marsha tentu saja sulit untuk benar-benar melupakan. Jasmine dan Ari pergi ke salah satu pusat perbelanjaan, mereka akan menonton film bioskop untuk pertama kalinya berdua saja.
"Horor?" Tanya Ari tak percaya saat Jasmine ingin menonton film dengan gendre horor. "Kamu gak takut, Jas?"
"Kalau takut juga ada kamu, Ri. Kenapa memangnya?"
"Biasanya perempuan suka film romantis."
Jasmine tertawa kecil lalu mencubit pipinya gemas, "Aku paling anti film romantis, jadi jangan harap kita nonton film romansa terus baper di tengah film. Aku gak tertarik, yang ada malah ketiduran nanti."
Ari tersenyum lebar karena senang dengan pernyataan Jasmine, "Sama! Aku juga suka ketiduran kalau nonton film romantis, ngebosenin, bikin ngantuk."
"Iya, alurnya juga itu-itu saja. Kita mau kemana nih sambil nunggu studio buka? Masih ada waktu satu jam lagi, Ri."
"Makan? Aku lapar banget."
"Ide bagus. Ayo!" Jasmine menyelinapkan tangannya di celah lengan dan tubuh Ari, ia mengalungkan tangannya dengan nyaman tanpa menyadari ekspresi terkejut Ari.
Keduanya berjalan santai dengan tangan Jasmine yang masih bergelayut manja pada Ari. Keduanya tampak serasi hingga menyebabkan beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan iri. Ari dan Jasmine yang mempunyai tinggi yang didambakan orang lain, wajah yang tampan dan cantik, dan keduanya yang terlihat romantis. Jasmine mengajak Ari untuk foto box sebelum menuju tempat makan cepat saji yang sudah disepakati.
"Ri, coba pakai deh. Lucu banget!" Jasmine sedikit berteriak heboh saat Ari memakai sebuah wig kribo berwarna-warni. Gadis itu juga memakai bando kelinci sebagai aksesorisnya.
Hitungan ketiga setelah tombol ditekan Jasmine tersenyum lebar ke arah kamera sedangkan Ari menampilkan senyum tipisnya. Gemas, Jasmine mencubit kedua pipi Ari tanpa sadar sudah terfoto. Pose ketiga ialah Ari dan Jasmine yang saling berpelukan dengan senyum selebar mungkin. Untuk Pose yang terakhir Jasmine mengecup pipi Ari yang terkejut dengan tindakan gadis itu.
"Woah, ternyata kamu nakal ya. Padahal aku kira kamu anggun, pemalu, dan pasif tapi ternyata ck... ck... ck... Duh ngeri nih."
Jasmine tertawa, ia memberikan foto box itu pada Ari. Ia sengaja mencetak masing-masing dua agar mereka memegang foto tersebut. "Wajah aku terlalu menipu banget ya?"
"Hmm, seperti rubah betina."
"Dih perumpamaannya apa banget deh, Ri. Kamu belum kenal aku banget kan, coba dikenali lebih dalam lagi, mungkin saat kamu kenal aku lebih dalam cinta itu akan semakin kokoh Ri."
Ari tersenyum, ia menuntun Jasmine menuju tempat makan siap saji yang sudah mereka sepakati. Ari memandang foto box yang baru saja mereka lakukan dengan pandangan gamang. "Aku takut akan semakin jatuh kepada kamu kalau mengenali seperti apa kamu sebenarnya. You're so dangerous, Jasmine, but I like it."
Jasmine mengelus jemari Ari yang sedang ia genggam, "Kalau begitu jatuh kepada ku, Ri. Kamu tahu perasaan ku bukan perasaan sekedar suka, aku sayang kamu."
Ari mengangguk. Terlalu banyak hal yang membuatnya sulit untuk berbicara. Sesampainya di tempat makan Jasmine yang mengusulkan untuk memesan makanan, sedangkan Ari duduk di meja paling pojok. Ari hendak memasukkan foto box mereka di dalam dompet, tetapi gerakannya terhenti saat melihat fotonya bersama Marsha. Fotonya dengan Marsha untuk yang pertama kalinya. Ari termangu menatap kedua foto tersebut, hingga ditengah kebingungannya sebuah panggilan masuk berdering di ponselnya.
Marsha.
Ari mengangkat telepon itu, ia menenangkan dirinya sebelum menyapa gadis yang sedang jauh di sana. Sementara itu matanya mengawasi Jasmine yang sedang mengantre di kasir.
"Kamu lagi dimana, Ri?"
"Aku... Mau makan, Sha. Kamu sudah makan?"
"Sudah dong! Aku makan lalapan tadi, rekor banget ya bisa makan sayuran mentah gitu."
"Sehat lho lalapan, Sha."
"Iya, Bunda juga bilang gitu. Ri, aku kangen banget sama kamu, mau ngobrol lama tapi gak bisa. Aku tutup dulu ya teleponnya, jaga diri baik-baik ya, tunggu aku pulang."
"Hmm, jangan lupa istirahat yang cukup Sha."
Setelah itu panggilannya terputus tepat saat Jasmine menghampiri dengan nampan makanan. Ari memasukkan foto box itu secara asal di dompet.
"Siapa yang telepon?"
"Ara," Ucap Ari kaku. Selanjutnya ia segera mengalihkan topik pembicaraan dengan Jasmine yang tampak penasaran. Membahas Marsha bukanlah waktu yang tepat saat ini.
Jasmine mengangguk, ia meletakkan makanan mereka di meja lalu membahas kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya. Setelah makan dan menonton film selesai, Ari mengantarkan Jasmine pulang karena hari sudah menjelang petang dan ia ada kegiatan lain bersama Vano dan Gerald.
"Mau masuk dulu?"
"Enggak, aku mau main futsal setelah ini. Besok kita latihan bulu tangkis kan?"
Jasmine mengangguk lalu mengecup pipi Ari, "Aku masuk dulu ya. Hati-hati di jalan, Ri. Kabarin aku kalau sudah sampai rumah."
"Okay."
###
Halooo... Terima kasih untuk yang menyempatkan waktu membaca cerita ini ya. Saran dan kritik sangat berguna untuk penulis.
See u next part!