
Prang....
Lalu disusul teriakan,
Sebuah pot gantung terjatuh dari lantai tiga sekolah. Pot tersebut mengenai punggung seseorang yang berusaha untuk melindungi orang lain dalam dekapannya. Noda merah tercetak pada baju seragam berwarna putih, semua orang yg sedang mendengarkan kepala sekolah memberikan sambutan menjadi kaget bukan kepalang saat mendengar suara pekikan seorang gadis. Semua mata tertuju ke arah mereka.
"Kamu ada yang sakit gak?" Tanya lelaki itu khawatir, ia tidak memikirkan darah yang sudah mengalir dri punggungnya. Ia menatap gadis dengan kilat ketakutan dalam kungkungannya, gadis itu menggeleng, menangis setelah beberapa guru memboyongnya ke uks.
Selesai upacara bendera, kepala sekolah segera menemui lelaki tadi. Ia sedang duduk di atas kasur uks bersama dengan gadis yang ia lindungi tadi. Lelaki itu sudah menggunakan baju baru, sepertinya guru yang membelikan seragam baru karena bajunya penuh dengan darah. Si gadis yang masih menangis itu segera menghapus air matanya saat melihat kepala sekolah dan beberapa guru menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?"
Lelaki itu mengangguk, "Sudah lebih baik, pak. Tapi saya bingung kenapa pot gantung itu bisa jatuh? Apa tidak ada yang mengecek kondisi pot itu sebelumnya?" Katanya spontan tanpa takut.
"Itu memang kelalaian kami, Ari. Pihak sekolah akan lebih berhati-hati lagi kedepannya. Kamu..." Kepala sekolah itu menatap gadis yang ada disebelah Ari. Beliau tidak menghafal nama gadis mungil itu. Berbeda dengan Ari Aryandhana, salah satu siswa berprestasi dan atlet karate nomor satu di sekolah ini.
"Saya Marsha, pak." Ucapnya langsung tanggap ketika kepala sekolah tidak mengenalinya.
"Kamu ada yang luka, Marsha?"
"Saya baik-baik saja, pak."
"Syukurlah. Ari kamu istirahat dulu saja, kalau masih sakit tidak usah dipaksakan hadir ke sekolah besok. Saya kembali ke kantor."
Baik Ari dan Marsha mengucapkan terima kasih karena sudah mengunjungi Ari di uks. Marsha duduk di sebelah Ari, pandangannya tertuju pada ujung sepatu yang sengaja ia mainkan. Gadis itu merasa bersalah, kalau saja Ari tidak menghalangi pot itu, mungkin yang terluka dirinya bukan lelaki itu.
"Mau sampai kapan kamu begitu? Aku gak apa-apa, Sha. Luka dipunggung ku juga akan cepat sembuh, kamu tenang saja. Lukanya tidak dalam dan lebar." Ari berusaha menenangkan Marsha, gadis itu pasti merasa bersalah meskipun dalam hal ini ia sama sekali tidak bersalah.
"Harusnya aku yang luka, bukan—"
"Lalu apa? Kepala kamu yang bocor? Kamu mau mati?" Nada bicara Ari berubah. Tidak ada suara yang menenangkan seperti sebelumnya, kini suara itu berganti dengan nada datar dan dingin. Sukses membuat bulu kuduk Marsha meremang. Gadis itu tak berani menatap mata Ari yang sudah ia pastikan menatapnya dengan tajam.
"Maaf," Marsha akhirnya berani bersuara, nada bicaranya lembut. "Kalau butuh sesuatu bilang sama aku. Seenggaknya, aku ada tanggung jawab sama kamu, Ri."
Ari terkekeh, "Kamu kira aku hamil pakai acara kamu mau tanggung jawab segala?"
Marsha mendegus sebal, lelaki itu malah mengajaknya bercanda. "Bodo ah. Kesel ih!"
———
Keesokan harinya, Ari tidak masuk ke sekolah setelah memeriksakan lukanya ke rumah sakit, lelaki itu memutuskan untuk beristirahat saja di rumah. Marsha berniat mengunjungi rumah Ari setelah pulang dari sekolah. Marsha mengetuk rumah Ari, tak ada yang membukakan. Akhirnya ia melemparkan batu ke jendela kamar Ari yang terletak di lantai 2, ia berasumsi kalau lelaki itu sendirian di rumah.
"Siapa sih yang lempar?!" Ari membuka jendela kamarnya dengan kesal, yang tadinya ingin memarahi si pelempar batu diurungkan setelah melihat Marsha sedang melambaikan tangan. Gadis itu tersenyum lebar, di tangannya ada sekotak Pizza. Ari terkekeh, baru kali ini ia melihat ada seseorang yang membawakan Pizza saat menjenguk. "Cari siapa, mbak?" Goda Ari.
Ari segera turun ke bawah menemui Marsha yang sudah berada tepat di depan pintu. Keduanya duduk di depan televisi, mereka sama-sama duduk di atas karpet berbulu yang menjadi tempat ternyaman mereka. Ari segera melahap Pizza yang telah dibawa oleh Marsha.
"Kamu sendirian di rumah?"
"Ada Ara,"
Marsha mengangguk, Ara adalah adik kembaran Ari. Ara berbeda sekolah dengan mereka, alasannya karena gadis itu malas bertemu dengan Ari setiap harinya. Ara memiliki sifat yang berbeda dari Ari, Ara pendiam dan dingin kepada orang yang belum ia kenal, ia juga lembut dan penyabar. Tapi Marsha sudah terbiasa, ia dan Ara sudah dekat. Mungkin selama kenal 4 tahun dengan Ari membuatnya juga diterima oleh Ara, dan keduanya juga selalu chat setiap hari bahkan sering jalan bersama.
"Kok tadi aku ketuk pintu gak ada yang nyahut?"
"Aku lagi tidur, gak dengar. Kalau Ara lagi sakit, kamu kan tahu kalau dia lagi sakit pasti malas keluar kamar."
"Wah ikatan batin kalian kuat ya, kamu sakit terus dia sakit juga."
Ari terkekeh, ia menjitak kepala Marsha dengan gemas. "Sok tau banget sih! Ara sudah sakit dari tiga hari yang lalu, jadi gak ada hubungannya sama ikatan batin."
"Oalah.... Gitu. Biasa aja dong gak usah pake jitak aku segala," Marsha mencubit gemas lengan Ari yang keras karena otot. "Oh iya, tadi di sekolah ada siswa baru lho. Perempuan, dia masuk ke kelas kamu. Aku juga dengar dia masuk tim karate lho, Ri."
Ari mengangguk. Ia sudah diberitahukan kalau ada siswa pindahan yang bergabung dengan tim karate. Menurut informasi yang ia dapat, perempuan itu sudah sabuk biru, dan ingin meningkatkan keahlian karatenya. Ari senang mendapatkan anggota baru, apalagi ini perempuan, sebab di dalam ekstrakurikuler karate didominasi oleh laki-laki.
"Cantik gak?"
Marsha yang ingin menggigit Pizza berhenti, ia menatap tajam Ari. Yang ditatap malah tersenyum manis, kelewat manis malahan. Marsha memakan Pizza dengan ganas membuat tawa Ari meledak. Lelaki itu sangat senang menggoda Marsha yang tampak imut saat digoda.
"Kan aku cuma tanya, Sha. Dia cantik gak?"
"Cantik! Cantik pake banget! Cantiknya ngalahin Pevita, kalau aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang di kaleng nenek."
Ari tertawa semakin keras hingga punggungnya terasa nyeri, ia menggelengkan kepala melihat kelakuan gadis itu. Gadis mungil yang mampu membuatnya tertawa dan mampu membuat mood yang semula jelek menjadi bagus.
Marsha, gadis mungil dengan tinggi 157, tubuhnya berisi, pipinya chubby, rambutnya terurai indah hingga punggung. Gadis yang sudah tiga tahun selalu menemani hari-hari berwarnanya. Seseorang yang mampu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi setiap harinya.
"Ada apaan sih berisik banget?"
Ari menggeleng pelan masih tertawa, "Ini si Marsha lucu banget Ra kayak marmut."
"Apaan sih garing! Ra, makan Pizza sini, Ari lagi gila soalnya."
Ara menjitak kepala Ari yang masih saja tertawa hingga sudut matanya mengeluarkan air. Ari sangat suka dengan Marsha saat gadis itu cemburu. Imut, lucu, menggemaskan. Jika Ari membandingkan visual antara Ara dan Marsha, mereka berbeda, tapi cantik dengan cara yang unik. Ara cantik, sangat cantik, tetapi jika kembarannya itu tersenyum akan sangat manis saat memperlihatkan lesung pipinya, tubuh Ara juga sama mungilnya dengan Marsha, lalu ia bermata coklat dengan tatapan yang tajam. Sedangkan Ara gadis itu imut, lucu, menggemaskan, wajahnya berbeda dari Ara yang terlihat cantik dan dingin, gadis itu memiliki wajah dan tatapan yang lembut. Ari selalu bersyukur dirinya mempunyai dua perempuan itu dalam hidupnya.
Ari, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?