My Sweet Home

My Sweet Home
bab 14



Reza mengikuti laju mobil sedan hitam yang membawa Aca.


Hiruk pikuk ramainya jalanan ibu kota tidak menghalangi tujuan Reza mengikuti Aca meski terjebak kemacetan.


Reza sangat handal memainkan gigi mobil untuk mengatasi kemacetan jalan raya, pandangan Reza sangat fokus kepada mobil sedan hitam di depannya.


Rasa penasaran kemana Aca pergi dan dengan siapa dia di dalam mobil sangatlah besar.


Mobil sedan hitam tersebut melaju cepat guna menghindari lampu merah.


Sedangkan mobil lexus putih Reza yang dibelakang terpaksa terhenti karena lampu sudah berganti menjadi hijau.


"owwww sittttt!!!" Reza menginjak rem dan memukul setir kemudinya "aggghhhh...!" Reza meremas tengkuk bahu belakangnya kasar


drrrttt....drtttt..... ponsel Reza bergetar dan menunjukan sebuah panggilan dari Aris


-ya ris?


-pak gua udah di Aston, lu dimana pak?


-oh...iya ini gua lagi otw, bentar lagi sampe


-oke pak gua di lobby ya


-oke


Reza bersandar di jok mobilnya dan memejamkan matanya, menghembuskan nafas panjangnya lalu melihat ponselnya mencari kontak atas nama Cinderella.


"no...!" Reza menggelengkan kepalanya lalu meletakan ponselnya di jok mobil di sebelahnya dan menyalakan lampu sen ke kiri untuk menuju tempat dimana Aris menunggunya untuk meeting bersama pengusaha batu bara asal Kalimantan.


Reza memutuskan untuk tidak mengikuti Aca dan fokus pada pekerjaannya.


...****************...


(lobby hotel)


"ris..." sapa Reza menepuk bahu Aris lalu duduk berhadapan


"hei pak... selow aja pak kliennya masih di kamar belum turun dia"


"udah konfirmasi sekertarisnya?"


"udah pak, tadi sempet ngobrol dikit. Katanya kita tunggu aja disini nanti juga turun"


"oh... oke"


"lu aman kan pak? muka lu tegang banget?"


"ah masa sih" Reza memegang kedua pipinya lalu mengendurkannya


"mau gua ambilin kopi pak?"


"boleh ris" jawab singkat Reza


Aris bangkit lalu mengambil kopi dimeja sudut lobby dan Reza sedang merapihkan bajunya dan mengendurkan wajahnya.


"nih pak"


"makasih ya ris" Reza langsung menyeruput kopi pemberian Aris


"ris.. lu pernah liat cewe sexy gak?"


"hahaha abis liat siapa lu pak?"


"bisa langsung jawab aja gak sih?"


"wihhh selowww pak... canda... mmm cewe sexy apa cewe pake baju sexy?"


"dua-duanya"


"ya pernah lah pak, sering malah"


"terus apa yang lu pikirin tentang cewe pake baju sexy pagi-pagi di pinggir jalan terus di jemput sama mobil mewah"


"waduh... berat juga pertanyaannya. ya kalau gua liat cewe sexy plus cantik ya gua seneng pak terus gua deketin, tapi kalau tuh cewe di jemput sama mobil mewah ya gua gak jadi deketin, soalnya udah pasti kalo tuh cewek jablay kelas atas"


"masa sampai sejauh itu pemikirannya"


"ya bisa juga bukan sih pak, kan ada yang namanya style. beberapa cewe memang suka pakai baju sexy, karena mereka terbiasa pakai baju sexy ya mereka jadi biasa aja, tapiiii ya gak biasa buat cowo model gua"


"oh... style ya" Reza tampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti


"tapi btw yang jemput cewek apa cowok pak?"


"cowo..!" jawab cepat Reza


"yaaaaaa udah jelas kalau tuh cewek dandan effort gitu buat menarik atau menggoda orang yang jemputnya"


"nggoda?"


"iya lah pak, duduknya pasti di depan kan?"


"yaudah... bener, kalo duduknya di belakang ya berarti itu namanya grab"


Reza berfikir keras perkataan Aris tentang Aca.


Reza tak habis pikir jika memang Aca memilih profesi sebagai wanita penghibur.


Sosok Aca yang riang dan lugu sangat bertolak belakang dengan profesi tersebut.


"maaf pak, mau kasih tau kalau pak Andi sedang turun dan menuju kesini" ucap sekertaris pak Andi mendekati mereka


"ohhh oke" Aris mengedipkan matanya pada sekertaris cantik pak Andi dan sekertarisnya hanya tersenyum tersipu.


"itu pak Andi" menunjuk ke arah Lift yang terbuka "sebentar ya pak" ucap sekertaris tersebut dan berlalu meninggalkan meja menuju pak Andi berada


Tampak seorang lelaki paruh baya yang kurang lebih usianya 50 tahunan keluar dari lift dengan seorang wanita yang merangkul mesra lengan pak Andi.


Aris dan Reza yang sudah berdiri untuk bersiap menyambut kedatangan pak Andi terdiam dan mematung melihat wanita yang merangkul mesra tangan pak Andi adalah Lieta.


Aris sontak langsung menatap Reza, Reza tampak berekspresi sangat menakutkan untuk Aris yang khawatir akan suasana yang terjadi.


"aku syuting dulu ya pak" ucap Lieta manja


"iya... makasih ya" ucap pak Andi mencubit pipi Lieta


"ah.... sakit...." ucap Lieta


"nanti kalau ke Jakarta calling Lieta lagi ya pak"


"iya, kamu adalah orang pertama yang saya kabari jika saya ke Jakarta"


mmmuuachhh.... Lieta mencium pipi pak Andi "bye pak" ucapnya melambaikan tangan tanda berpisah


"silahkan pak" ucap Sekertaris pak Andi mengarahkannya untuk menuju ke arah meja Aris dan Reza


"are you oke pak?" tanya Aris pada Reza, tapi tak ada jawaban apapun dari Reza


"selamat pagi" sapa pak Andi menyodorkan tangannya lalu bersalaman dengan Aris dan Reza


"pagi pak, wah... senang sekali kami dapat bertemu bapak" ucap Aris ramah.


Aris sadar bahwa tatapan Reza pada pak Andi sangat tajam dan mengerikan


"iya dong, ini pertama kalinya saya ke Jakarta. Biasanya perusahaan yang datang ke Kalimantan, tapi untuk PT.Pertamina saya khusus meluangkan waktu untuk terbang kesini" jawabnya


"wah... luar biasa sekali saya sangat terkesan pak terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk kami pak" ucap Aris memuji dan diiringi oleh tertawaan khas lelaki


"tadi istrinya pak?" tanya Reza dengan tatapan dingin


Pak Andi sontak mengalihkan pandangannya dari Aris ke sosok Reza


"oh....yang tadi, bukan.... ya biasa lah, laki-laki sukses itu karena ada wanita dibelakangnya. ya gak? bisnis kita itu terlalu kaku dan menegangkan kan, jadi.... ya kita butuh hiburan lah hahaha" ucapnya tertawa bangga


"oh... wahhhh iya pak hehehe benar" jawab Aris tertawa datar sambil memelototi Reza.


Tak menyangka bahwa Reza akan melontarkan pertanyaan yang jauh dari konteks pekerjaan


"dia kan artis terkenal pak? bukannya akan menyusahkan bapak jika terlihat media?" Reza menatap pak Andi dengan ekspresi dingin menunggu jawaban dari pak Andi


Aris menendang kaki Reza dan berhasil membuat Reza menatap dirinya lalu memelototinya.


"aaaahhh... kayanya kita langsung mulai aja ya pak? udah siang soalnya, saya yakin bapak pasti punya jadwal yang padat untuk hari pertamanya datang di ibu kota ini" ucap Aris mencairkan susana canggung antara Reza dan pak Andi.


"oh... iya kamu benar, jadwal saya padat sekali untuk hari ini.... ngomong-ngomong pak Dito gak ikut?"


"mmmm pak Dito... oh.. itu dia" ucap Aris mengarah pada Dito yang baru tiba


"selamat pagi pak Andi...." sapa Dito menjabat tangan pak Andi


"oh... pagi pak Dito"


"maaf saya terlambat, tadi ada keperluan sedikit untuk menemani istri pak"


"ohhh gitu... tidak apa pak Dito, istri memang harus selalu di prioritaskan dan kebetulan meeting kita juga belum dimulai sama sekali ko"


"oh ya?"


Dito menatap Aris kemudian Aris melirik Reza. Dito sadar bahwa sahabatnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja dengan ekspresi wajah yang tampak kesal.


"baik.. kalau gitu biar saya saja yang jelaskan mengenai proyek batu bara kita pak"


"oh.. oke silahkan pak" ucap pak Andi


Aris bergeser pindah tempat duduk, dan Dito duduk disebelah pak Andi tapi Reza kemudian tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.


"maaf, saya ke toilet dulu" ucap Reza.


Tanpa jawaban Reza langsung pergi meninggalkan meja pertemuannya dengan pak Andi.