
"hai...." sapa Lieta ceria
"hai ....kak Lieta" Aca melambaikan kedua tangannya
"kebiasaan deh suka gak ngabarin dulu" ucap Reza. Lieta mendekat lalu mencium bibir Reza.
Aca menyaksikan adegan romantis dihadapannya, tapi reaksi Aca hanya tersenyum manis melihatnya.
"hmmm lupa ya kalau ada Aca disini" ucapnya kesal
"eh... iya hehe" jawab Lieta melepaskan bibirnya lalu duduk di samping Reza memeluknya.
"kak Lieta udah makan belum? mau Aca siapin?"
"lagi diet gua ca, gak usah masak" jawab Lieta
"maaf ya sayang belum sempat telfon balik padat banget hari ini aku syuting. Mangkanya aku kesini biar kamu gak marah"
"iya gak apa-apa" jawab Reza mengelus rambut Lieta
"duhhh kalian bikin iri aja" ucap Aca meledek
"Aca punya pacar atau pernah pacaran gak?" Tanya Lieta
"ngerasain jatuh cinta aja Aca belum pernah kak" jawabnya
"wah.... keren lu ca, diusia 18 tahun biasanya udah pada pacar-pacaran tau, bahkan banyak yang terjerumus kedunia yang gak-gak" ucap Lieta yang masih bersandar pada Reza
"Aca mana sempat main-main gitu, temen Aca aja cuma satu orang di kampus" jawab Aca yang masih duduk dibawah berhadapan dengan Reza dan Lieta yang terhalang meja
"nanti kalau free kamu ikut aku aja ke lokasi syuting, biar aku kenalin sama kru-kru dan artis-artis lainnya biar kamu punya banyak teman"
"serius kak? mauuuu kak Aca mau..." rengek Aca
"iya... kabarin aja kalau kamu free"
"emang gak ngerepotin kamu?" tanya Reza yang masih memainkan rambut Lieta
"enggak... dia kan bukan anak kecil yang harus aku ikutin terus" jawab Lieta "oh iya Aca gak kerja malam ini?"
"hah..? kerja" Aca melirik Reza yang juga menunggu jawaban Aca "ya kerja dong kak, emang ini jam berapa sih" Aca melihat jam dinding "oh my god.... udah jam 8 Aca pulang dulu yah kak" Aca bangkit
"kamu kerja dimana malem-malem?" tanya Reza dingin
"bar" jawabnya polos lalu pergi mengambil tas di dapur
"bar mana?" Tanya Reza mengeraskan suaranya agar didengar Aca yang sedang di dapur
"Exotic..." jawabnya singkat kembali ke ruang tengah
"ca... kamu kerja apa disana?" Tanya Lieta khawatir
"lamarnya sih jadi waiters tapi diterimanya malah jadi tukang cuci piring" jawab Aca polos
"oh... yaudah mending begitu ko ca" ucap Lieta
"pulang jam berapa?" tanya Reza
"empat, yaudah... Aca duluan ya kak, dah kak Lieta dah kak eja" Aca melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Reza dan Lieta
"aku pernah ke exotic dan tempatnya tuh bener-bener isinya gila banget deh ja, cewe sexy semua ih... males banget, gak lagi-lagi deh aku kesana, homo banyak lesbi banyak pokoknya gila tempatnya" Aca mengambil pizza lalu memakannya
"tadi pagi aku rapat sama pengusaha batu bara asal Kalimantan untuk proyek baru kantor"
"oh.. ya.. terus gimana?"
"tinggal nunggu Feedback dari pak Andi nya aja"
Lieta menghentikan gerakan mengunyahnya sesaat, kemudian kembali mengunyah.
"oh... pak Andi" jawabnya terlihat santai
"kamu kenal?"
"kenal.... tadi pagi sempet ketemu dan sarapan bareng juga. Orangnya baik ko, kalau kamu mau nanti aku coba ngomong untuk cepat acc proposal kamu"
"sedekat itu sampe bisa minta bantuan?"
"gak juga sih, dia cuma sponsor aku aja di rumah produksi"
"kamu gak lagi bohongin aku kan?"
"ja....? kok tumben... kamu cemburu sama pak Andi?"
"aku cemburu sama semua pria yang dekat sama kamu ta, entah itu di depan kamera ataupun dibelakang kamera"
"aaaaah.... manisnya... gini yah kalau Reza lagi cemburu"
"gak ko ja, gak ada apa-apa.. aku udah tau rasanya tanpa kamu satu tahun ini dan rasanya tuh gak enak banget ja, dan sekarang aku gak akan pernah atau bahkan kepikiran untuk aku ngerusak hubungan yang udah kembali ini, aku gak mau kita pisah lagi ja"
"maaf ya kalau aku salah sangka sama kamu"
"aku tuh cinta banget ja sama kamu"
"maafin aku"
"kamu juga cinta sama aku kan?"
"bahkan aku sampai gak tau gimana perasaan aku sama kamu sekarang, karena mungkin saking seringnya aku mencintai kamu"
"ahhhh Reza" Lieta memeluk Reza
"uang transferan kamu masih aku simpan, bahkan sudah berbunga karena aku depositkan. Kalau kamu butuh kamu bisa ambil"
"No.... itu tanda terimakasih aku ke kamu ja, aku gak mau ngambil sesuatu yang udah aku kasih sama kamu"
"kalau kamu butuh sayang"
"noo... simpan aja ya, buat masa depan kita misalnya"
"kamu mau kita nikah?"
"enggak.... bukan itu, ya... itu juga sih... tapi gak dalam waktu dekat ini dong. Kita masih punya impian yang belum kita gapai"
"contohnya?"
"ya aku belum main film dan kamu belum jadi bos"
"aku gak minat jadi bos, impian aku hanya ingin berpendidikan yang lebih lanjut. Bukan untuk naik jabatan, tapi karena aku butuh ilmunya untuk pekerjaan"
"oke.. kalau gitu kamu kuliah aja dulu, habis itu baru kita bahas tentang hubungan yang lebih serius, gimana?"
"setelah aku lulus?"
"emmm... setelah kamu lulus dan aku sudah punya film"
Reza mengangguk mengerti
"ja... kayanya aku harus balik deh, cape banget aku pengen tidur"
"kenapa gak nginep sini aja sih?"
"gak bisa dong sayang... nanti besok pagi kalau manajemen datang dan tau aku gak ada, bisa abis aku diomelin"
"nanti aku antar pagi buta"
"jam tudur aku jadi kepotong dong, harus bangun dan belum tentu bisa tidur lagi... kami tau kan... istirahat yang cukup itu baik untuk stamina dan kulit aku"
Reza menghela nafas panjang "yaudah... mau aku antar?"
"gak usah sayang, aku bawa mobil ko"
"yaudah aku antar sampai parkiran ya"
"oke" Lieta mencium bibir Reza dan Reza membalasnya, berciuman sampai suasananya hampir memanas. "udah ja ayo ah.." ucap Lieta
Mereka saling tersenyum "ayo" jawab Reza bangkit. Reza Menemani Lieta hingga ia masuk kedalam mobil. Reza kembali masuk dalam lift kemudian naik menuju unitnya.
Saat Reza berjalan ke arah pintu rumahnya, entah mengapa Reza selalu menghentikan langkahnya dan menatap kedua pintu yang saling berhadapan. Pintu rumahnya dan pintu rumah Aca.
Apa aca udah pergi kerja?
Reza bertengkar dengan isi kepalanya sendiri, melawan dirinya agar tidak terlalu jauh untuk mengetahui lebih dalam tentang Aca. Reza takut kenyataan akan menjauhkan Aca darinya.
Sejauh ini hubungan mereka baik-baik saja layaknya kakak dan adik, tapi ada sedikit perasaan lain di hati Reza pada Aca.
Apa aku terlalu khawatir padanya ya, atau aku yang justru ingin menjadi pelindungnya saja. Kenapa Aca harus dilindungi? siapa dia..dan siapa aku, aku....
"kak eja...." sapaan Aca di pintu rumahnya yang tanpa Reza sadari sudah terbuka. Reza menatap Aca dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Ada rasa tidak rela jika Aca mengenakan pakaian sexy seperti pagi hari ini, apalagi sekarang adalah malam hari.
Tapi busana Aca tidak berubah seperti sebelumnya saat bersama dengan Reza dirumah, hanya saja sekarang Aca mengenakan jaket untuk melindungi tubuhnya dari angin malam.
"aca mau berangkat kerja?" tanya Reza
Aca menganggukkan kepalanya
"naik apa malam-malam"
"ojek online kak" jawabnya tersenyum
"oh... hati-hati ya ca" ucap Reza lalu beralih posisi menghadap pintu dan menekan kode pintu lalu masuk kedalam rumahnya.
"Aca kira bakal nawarin untuk diantar, hahaha dasar Acanya aja yang ke pedean" Aca melangkah pergi dan berjalan menuju Lift.