
"kak Lieta" ucap Aca senang melihat idolanya di depan matanya
"kamu siapanya Reza?" tanya sinin Lieta
"oh... kek eja, aku pegawainya, kokinya kak eja kak" Aca tersenyum manis
"oh... yaudah masuk" ucap Lieta
Lieta sangat cantik, menggunakan baju tidur tipis dengan rompi panjang bewarna merah.
Rambutnya terurai panjang bergelombang, make up nya tipis tapi terkesan natural.
"seneng banget bisa ketemu langsung sama kakak, aca salah satu fans kakak. Salam kenal ya kak aku.... aca" Aca menyodorkan tangannya kepada aca yang duduk di meja dapur
"Lieta" jawabnya meraih tangan aca bersalaman
"kak eja cerita tentang kakak tadi pagi, kalian balikan yah cieeee"
"oh ya? apa dia senang?"
"seneng pake banget kak, orang disini bilang kalo kak eja itu sad boy. Tapi sekarang karena udah balikan sama kak Lieta udah gak jadi sad boy lagi deh"
"oh... syukurlah, kamu udah berapa lama jadi koki Reza?"
"ini hari pertama aca kak, kakak mau makan apa? biar aca siapin" Aca menaruh kostumnya di lantai dapur
"ohh baru...tapi kaya yang udah deket banget sama Reza"
"ah.... gak kok kak, aca nya aja yang SKSD hehehe sama kaya kak Lieta sekarang ini xixixi" Lieta membuka kulkas
"kamu tinggal dimana?"
"itu didepan, unit 304" Aca mempersiapkan segala panggangan untuk dipergunakannya untuk memasak
"oh... jadi kamu tinggal disini juga?"
"baru 5 hari kak"
"oh...." Lieta meraih gelas dimeja
"kakak mau makan apa? aca mau masak nih"
"mmmm spaghetti ada gak? sama wine dong?"
"ada kak, kakak mau bumbu pedas atau enggak?" Aca mengambil wine yang ada dikulkas
"jangan dong, Reza kan gak bisa makan pedas"
"cieeee paham banget sama kak eja" Aca mengisi gelas Lieta dengan wine
"iya dong.... gua kenal sama Reza tuh udah 9 tahun jadi jelas gua paham banget semua tentang Reza" ucap Lieta sambil menyeruput wine yang dituangkan oleh Aca
Aca yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk hidangan makan malam pun sangat gesit meski dengan meladeni obrolan Lieta yang sangat welcome padanya.
"kak eja beruntung banget yah punya kakak" Aca mulai memasak spaghetti
"mmm no.... Justru gua yang beruntung punya Reza, dia itu cinta banget sama gua. gak ada orang yang tulus banget sama gua kecuali Reza"
"kalian pasangan yang cocok kak, oh iya... kakak jangan punya pikiran negatif ya sama aca, aca sama kak eja gak akan ada hubungan apapun kecuali kerjaan. Aca gak akan suka sama Kak eja, karena kak eja udah kaya kakak aca, dan kak Lieta juga sama. Kak eja juga gak mungkin suka sama aca, karena dihati kak eja cuma ada kak Lieta seorang. Jadi.... percaya ma aca ya kak"
"iya tenang aja, gua bukan type cewek cemburuan ko, dan gua tau kalau Reza gak akan berpaling dari gua"
"ffyuhhhh.... aca udah takut duluan loh kak" mengelus dadanya lega
"kamu umur berapa?"
"18 kak" Aca memotong bawang dan sayuran
"oh ya? masih sekolah?"
"kuliah kak, semester 1 di Trisakti"
"oh... pantesan kamu ambil kerja part time, mahal ya kuliah disana?"
"hehehe lumayan kak, tapi untuk mengejar cita-cita aca, mungkin emang harus bercapek-capek begini kak hehehe"
"proses ca, gua juga jadi artis kaya sekarang prosesnya panjang... bahkan sampai ninggalin Reza, tapi sekarang gua udah dapet semuanya. Gua dapet karir, ketenaran dan juga cinta"
"ahhhhh jadi iri, kakak panutan aca sekarang" aca tersenyum memberikan jempolnya pada Lieta
Aca memang gadis lucu yang membuat suasana obrolan menjadi ceria.
Cara aca mendengarkan orang bicara dan menjawab semua pertanyaan seseorang sangat apik.
Jelas terlihat bahwa Lieta sangat menyukai Aca, Aca telah berhasil membuat Lieta tak perlu khawatir tentang hubungan antara Reza dan Aca di rumah.
"kamu ngapain bawa kostum badut?"
"oh... ini? aca kerja di Ancol kak hehehe lumayan kak"
"pagi kerja disini terus kerja di ancol, malam balik kerja di sini lagi? terus kapan kamu kuliahnya?"
"hehehehe masih semester 1 kak, jadi kuliah aca belum full. tadi pagi aca punya 2 kelas. jadi badut mulai jam 1 siang sampai jam 5 itu kerjaannya enak loh kak, freelance gitu, jadi kalau aca full kuliah aca gak jadi badut juga gak apa-apa. abis itu terus kesini deh"
"astaga.... yaudah abis masak kamu pulang aja yah, istirahat"
"gak bisa kak" ucap Aca sambil mengangkat spaghetti yang sudah matang
"jam 10 nanti aca berangkat kerja, nah untuk malam hari bukan part time lagi, apa lagi freelance. Untuk malam aca jadi karyawan tetap kak jadi kalau absen bahaya hehe"
"gila lu ca... kapan tidurnya?"
"selagi masih bisa kerja kak, nanti kalau aca udah naik tingkat semester nya bakal susah buat curi-curi waktu untuk kerja" ucapnya yang sedang menghias makanannya di meja
"tapi gak seimbang antara belajar istirahat dan pekerjaan ca, lu juga harus mikirin kapan lu harus istirahat. Karena kalau lu kurang istirahat, ya lu gak bisa kuliah dan gak bisa kerja"
"seneng banget aca dengernya" mata aca berkaca-kaca
"aca seneng banget ketemu sama kak Lieta dan kak eja, kalian bener-bener kakak terbaik buat aca. makasih ya kak udah perhatian sama aca" Aca menyeka air matanya yang jatuh
"kok nangis sih... udah jangan nangis, itu hal biasa. Dah... nanti gua bantu ngomong sama Reza untuk ngeringanin kerja lu" Lieta memberikan tisu pada aca
"gak usah kak, kerja di rumah ini gak ada capeknya sama sekali ko. Aca juga dapet libur kalau sabtu minggu"
"udah... itu nanti urusan gua sama Reza, udah mateng?"
"udah kak, tinggal taruh sausnya aja. Nanti kalau kak Lieta sama kak eja mau makan Aca panasin lagi sausnya"
"gak usah ca, lu balik aja gih lumayan istirahat 3 jam. jam 10 mau berangkat lagi kan? makanan Reza biar gua yang siapin" ucap Lieta menawarkan
"serius kak? kalau kak eja marah gimana?"
"gak bakalan. Pulang gih, tapi inget... istirahat ya"
"iya kak, makasih ya kak"
"eh... lu bawa makanannya sekalian"
"iya kak siap, makasih ya kak sekali lagi udah baik sama aca" Aca menaruh makanan di dalam kotak
Lieta memanglah seorang artis terkenal, tapi dia sangat baik. Sejak kecil jiwa sosial Lieta memang tidak diragukan lagi, keluarganya pun mempunyai yayasan sosial yang berada di setiap kota di negara ini.
"kak... aca pulang dulu yah"
"iya... hati-hati yah" Lieta melambaikan tangannya
Aca meninggalkan Lieta sendirian di rumah Reza, lalu Aca menghela nafas panjangnya di hadapan pintu rumahnya.
Aca menyeka air matanya yang terjatuh kembali mengingat kebaikan Lieta padanya.
Aca terjongkok dan meletakkan semua bawaannya di lantai lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Aca menangis kencang meski suaranya tak terdengar karena mulutnya di tutup oleh tangannya.
"papah...." ucapnya memanggil
Aca menangis cukup lama, dan hal tersebut disaksikan oleh Reza yang berdiri mematung di depan pintu lift.
menyaksikan seorang gadis menangis begitu sedih dengan merintih memanggil papahnya.
Reza tidak bergerak sama sekali dan terus menyaksikan Aca yang menangis.
Ada perasaan haru dan ingin bertanya pada aca tentang alasannya menangis.
Tapi memberikan ruang untuk Aca mencurahkan isi hatinya dirasa lebih baik menurut Reza.
Aca....