
Ari bermandikan keringat, ia sedang berlari kecil di lapangan tepat di bawah terik matahari menjelang sore yang sangat menyengat. Ia berlari paling depan, memimpin anggota karate lainnya untuk pendinginan. Setelah dua putaran berlari dan tiga putaran berjalan, mereka berhenti lalu melakukan pendinginan lainnya. Ari berjalan ke bangku tempat tasnya diletakkan. Hampir empat hari ia tidak melatih karate, akhirnya hari ini untuk pertama kalinya setelah cedera punggung Ari dapat melakukan karate lagi. Ari masih duduk di pinggir lapangan sambil memainkan ponselnya sedangkan yang lainnya satu persatu meninggalkan sekolah. Ari mendongakkan kepalanya begitu ada seseorang yang berdiri tepat dihadapannya.
"Kenapa, Jas?"
Ah, si anak pindahan yang ikut bergabung di karate. Perempuan dengan tubuh tinggi semampai, kulit putih, rambut panjang, dan wajahnya yang sangat sangat cantik. Ari mengakui bahwa gadis itu mempunyai tubuh seorang atlet, bahkan kemampuannya bisa dikatakan bagus, padahal gadis bernama lengkap Jasmine Zaniya ini seorang perempuan yang kelihatan dari luarnya adalah sosok yang anggun dan lembut.
"Boleh pinjam ponsel? Aku mau telpon orang rumah minta jemput, yang lain sudah pulang semua."
Ari melihat ke sekelilingnya, tinggal mereka berdua anggota karate yang masih berada di sekolah. Ari memberikan ponselnya kepada Jasmine yang kini duduk di sebelahnya. Ari memilih untuk berganti pakaian meninggalkan gadis itu sendirian, sekaligus memanfaatkan waktu luangnya.
"Sudah?" Tanya Ari setelah selesai berganti pakaian.
"Sudah, terima kasih."
Ari mengangguk, ia memasukkan pakaian kotor dan ponselnya ke dalam tas. Bersiap untuk pulang ke rumah. "Jemputannya sudah di jalan?"
Jasmine menggaruk pangkal hidungnya yang sama sekali tidak gatal, "Mmm gue gak dijemput. Gak ada yang bisa jemput soalnya, jadi naik taksi pulangnya."
"Rumah lo ke arah mana? Kalau sama yaudah sekalian gue antar."
Jasmine terkejut, ia menyebutkan alamatnya dengan semangat. Ternyata mereka searah bahkan rumah gadis itu hanya berbeda tiga gang dari kediaman Ari. Jasmine tersenyum senang saat hujan turun membasahi bumi, ia lega sudah ada di dalam mobil, kalau ia mencari taksi pasti belum tentu akan langsung ada.
"Kita latihan karate setiap hari apa?"
"Sabtu dan kamis. Sabtu siang sampai sore, kamis sore sampai menjelang isya."
"Oke."
"Kapan ada kenaikan tingkat sabuk?" Jasmine kembali bersuara setelah hening menyelimuti mereka.
"Gue lupa sih kapan tepatnya itu, nanti sensei langsung yang ngomong. Lo belum pernah ketemu sensei kan? Dia biasanya ada pas hari kamis."
"Oh okay. Jadi setiap sabtu lo dan Vano yang ngelatih ya? Makin gak sabar ketemu pelatih utama," Jasmine menyalakan radio setelah mendapatkan izin dari Ari. "Ari, lo kenapa suka sama karate? Kenapa mau menggeluti dunia karate?"
Kedua sudut bibir Ari tertarik, kemudian cerita mengalir begitu saja. Ari seseorang yang ramah dan baik kepada siapapun, jika dipancing untuk mengobrol khususnya hal yang ia sukai langsung mengalir begitu saja ceritanya. Jasmine dan Ari saling bertukar pengalaman dan alasan mereka menyukai karate. Semuanya mengalir seperti aliran sungai hingga mobil Ari sampai di depan rumah Jasmine.
"Terima kasih tumpangan dan ceritanya, lain kali kita cerita yang lain."
———
Marsha duduk di samping Ari. Lelaki itu kini tengah membaca buku matematika sedangkan Marsha mengerjakan pekerjaan rumah matematika yang baru saja diberikan guru beberapa jam yang lalu. Marsha sangat membenci matematika, ia sengaja mengerjakan pekerjaan rumah di perpustakaan bersama Ari agar dapat diajarkan cara menyelesaikan tugas itu. Akhir semester tinggal menghitung minggu, tugas dipadatkan, dan pelajaran semakin membuatnya pusing. Sebentar lagi Ari dan Marsha akan naik ke kelas 12 lalu mereka akan segera lulus. Keduanya sudah tidak sabar melepaskan seragam sekolah mereka dan ingin memasuki dunia perkuliahan secepatnya.
"Ri,"
"Ya,"
"Liburan semester ini kamu mau ngapain?"
Ari menutup buku matematika itu, ia menatap Marsha dengan sebelah tangan yang menyangga kepala. "Aku ada olimpiade karate dan ada lomba karya tulis juga antar sekolah. Kamu mau ngapain selama liburan memangnya?"
Marsha menghentikan pergerakannya menulis, ia melakukan pose yang sama seperti Ari. "Aku akan pulang ke Bandung nemenin Bunda. Sayang banget ya kita pas liburan malah gak bisa ketemu. Tapi semoga kita satu kelas nanti, dari kelas 10 aku gak pernah satu kelas sama kamu."
Ari tersenyum lembut kepada Marsha, meskipun ia ingin menghabiskan liburan bersama tapi tidak boleh egois karena gadis itu ingin menemani ibunya. Ari mengacak rambut Marsha lalu memeriksa jawaban pacarnya. Salah empat dari sepuluh soal merupakan peningkatan yang sangat pesat untuk Marsha yang sangat membenci pelajaran matematika sejak sd. Berbanding terbalik dengan Ari yang sangat menyukai matematika sejak sd, menurutnya matematika itu tidak membingungkan karena memiliki hasil yang pasti.
"Pulang dari Bandung jangan lupa bawa oleh-oleh untuk aku ya yang banyak. Anggap aja bayaran untuk jadi guru privat matematika kamu."
Marsha mengacungkan jari jempolnya tepat di ujung hidung Ari membuat si empunya terkikik geli. Marsha membekap mulut Ari yang ingin tertawa, ia masih ingat dimana mereka sekarang. Marsha mengajak Ari pergi ke kantin mumpung jam istirahat masih dua puluh menit lagi, makan batagor dan minum jus sudah cukup untuk mereka.
Marsha menyenggol tangan Ari, matanya berfokus pada satu titik yang sangat menarik untuknya. Ari mengikuti pandangan Marsha, beberapa detik kemudian Ari bersikap tak acuh lalu memakan batagornya. Baginya tak ada yang lebih menarik dibandingkan dengan batagor yang sudah sangat menggoda perut.
"Si anak baru itu cantik banget ya, body nya ampun deh aku, body goals banget! Cantik banget lagi, Ri. Duh insecure aku jadinya." Ucap Marsha dengan nada rendah, ia memperhatikan tubuh milik Jasmine dan tubuhnya sendiri.
"Lah? Ngapain insecure sama Jasmine, Sha? Kamu manis, imut, ngegemesin, mungil, endut pipinya aku suka." Ari tidak suka jika Marsha sudah tidak percaya diri dengan tubuhnya, padahal tubuh berisi yang dimiliki gadis itu membuatnya gemas selalu ingin memeluk. Ari mencubit pipi gemas Marsha, "Ngapain ngeliatin dia mulu? Makan! Waktu kita istirahat gak banyak lho, Sha."
Marsha melepaskan tangan Ari dari pipinya, "Iya, tapi gak usah nyubit pipiku segala. Oh namanya Jasmine ya, cantik sama kayak bunga melati."
Ari terlebih, "Kok malah kamu yang ngegombalin Jasmine? Harusnya aku lho sebagai cowok yang gombalin dia. Sha, kamu masih normal kan? Masih sayang sama aku?" Goda Ari ingin membuat Marsha kesal kepadanya. Ari suka jika gadis itu memasang wajah ngambek yang menggemaskan.
"Maaf aku gak jujur sama kamu, Ri. Iya, aku kayaknya udah gak normal deh. Apa aku pacaran saja ya dengan Jasmine?" Marsha menggoda balik Ari yang kini menatapnya sebal. Giliran Marsha yang terlihat senang dengan wajah mencebik Ari, sungguh menggemaskan. "Gimana dong Ri? Pacar kamu ini gak normal lho! Sudah kepincut dengan Jasmine yang indah bak bunga melati."
"Diam, Sha, jijik aku dengarnya."
Marsha tertawa puas, gadis itu baru menghentikan tawanya saat Ari menyuapkan batagor ke dalam mulutnya. Marsha dan makanan, tak bisa dihentikan. Salah satu cara membujuk, menghentikan kecerewetannya, dan aktivitas Marsha adalah dengan makanan.