
Marsha berjalan mengendap-ngendap kemudian segera berkata 'dor' sambil menepuk bahu Ari. Ari yang sedang mengobrol dengan beberapa teman karatenya sedikit terkejut, ia memiting leher Marsha sampai gadis itu meminta ampun. Marsha memang suka menjahili Ari dimanapun dan kapanpun cowok itu berada.
"Jahil banget sih, Sha!"
"Bodo," Timpal Marsha lalu memeletkan lidahnya kepada Ari. "Halo Vino, Gerald, dan.... Jasmine kan ya?"
Jasmine tersenyum kemudian mengulurkan tangannya yang langsung disambut Marsha, "Jasmine."
"Marsha. Salam kenal ya," Marsha tersenyum lebar, gadis itu selalu ramah kepada orang lain.
"Mau ngajakin Ari makan siang, Sha?"
"Iya, Vin. Makan bareng-bareng saja yuk, biar ramai dan seru." Usul Marsha dengan semangat menggebu-gebu.
"Boleh tuh, udah lama kita gak makan bareng sama Marsha ya Ger?" Vino merangkul Gerald yang sama bersemangatnya, "Ajak Jasmine juga sekalian, biar tambah seru."
"Ini cuma mau makan siang, bukan mau seru-seruan!" Ketus Ari, ia menatap tajam Vino dan Gerald yang cekikikan. Ari memang tidak terlalu suka jika dua sahabatnya itu terlalu dekat dengan Marsha, kekasihnya yang mungil dan menggemaskan.
"Yaelah, gak asik banget lo!" Kata Vino kesal.
"Tau nih! Lagian sekalian ajak Jasmine, biar dia bisa temenan sama Marsha dan gak makan sendirian lagi."
Jasmine yang disebut namanya lantas menggelengkan kepala, "Ih enggak! Gue bisa makan sama yang lain kok, jadi gak masalah."
"Ari, gak apa-apa ya hari ini makan bareng mereka?"
Ari menghela napasnya, kekasihnya yang menggemaskan itu sulit untuk ia tolak, apalagi permintaannya hanya sekecil ini. Mau tidak mau Ari mengangguk lalu mengikuti yang lain ke arah kantin. Marsha yang melihat wajah Ari ditekuk, menjalin jemarinya pada jemari kekasihnya itu. Sentuhan lembut pada jemari Ari membuatnya tenang, kekesalannya sudah lenyap entah kemana.
"Jangan ngambek, ini cuma makan siang aja, Ari." Bisik Marsha, ia sedikit berjinjit agar bisikannya terdengar di telinga Ari.
Ari menundukkan tubuhnya lalu membisik, "Iya, tapi aku mau makan berdua saja. Dikit lagi ujian semester, kamu selama liburan kan di Bandung."
Marsha terkikik, tanpa suara ia mengatakan lebay kepada Ari yang ditanggapi dengan kekehan juga. Keduanya duduk sebelahan, di depan Marsha ada Jasmine dan di depan Ari ada Vino, Gerald duduk disamping Vino. Jasmine tak banyak bicara, ia akan bertanya jika ada yang bertanya, selebihnya akan menyimak obrolan yang lainnya.
Marsha yang ceria dan cerewet, Ari yang selalu menimpali obrolan, Gerald yang heboh, dan Vino yang banyak tertawa hingga mengundang banyak mata menatap ke arah mereka duduk. Jasmine hanya menyimak dan sesekali tertawa apabila ada yang lucu, ia lebih diam dan memakan batagornya. Marsha yang menyadari itu hanya bisa maklum dan mengerti jika Jasmine bukan golongan ekstrovert seperti mereka.
"Kamu ikut karate juga ya, Jas?"
"Iya, Sha."
"Kenapa suka karate?"
"Kenapa ya??" Jasmine meneguk jus jeruknya yang tersisa sedikit, "Suka aja, buat jaga-jaga kalau suatu hari nanti ada yang mau apa-apain aku. Kamu ikut eskul apa?"
"Wah keren ya, kamu mikirin untuk kedepannya. Aku ikut penyiaran radio, setiap hari selasa dan kamis ada suara aku setiap jam istirahat, kalau kamu mau titip lagu atau apapun itu bisa lewat aku nanti aku putarin lagunya."
"Wah menarik banget, nanti kapan-kapan kalau ada lagu yang mau aku putar, aku bilang kamu ya."
Marsha mengangguk. Gadis mungil itu tersenyum lebar saat melihat Jasmine yang antusias mengobrol dengannya. Rasanya seperti menaklukkan Ara untuk pertama kalinya, sebab dulu Ara sulit sekali untuk diajak mengobrol tetapi sekali berhasil akan mudah untuk terus diajak berbicara. Ari memperhatikan keduanya dalam diam, ia senang melihat Marsha yang dapat bergaul dengan siapapun, bahkan dulu ia sempat terkejut melihat Ara dapat mengobrol dengannya hanya dalam waktu tiga hari. Vino saja yang sahabat sejak sd dengannya baru bisa mengobrol santai dengan Ara ketika kelas 3 smp. Sedangkan Gerald adalah sepupu Ara dan Ari, bahkan pernah tinggal di rumah si kembar selama dua tahun.
"Kenapa?" Tanya Marsha setelah mengobrol dengan Jasmine, ia sadar sedang diperhatikan oleh Ari.
"Gak apa-apa. Seru ngobrol sama Jasmine?"
"Seru dong! Aku senang dapat teman baru lagi, aku mau nonton latihan karate kalian hari sabtu, boleh?"
Ari terkejut, Marsha hanya pernah dua kali menonton latihan karate, gadis itu tidak begitu menyukai olahraga tersebut. "Kamu mau nonton aku karate?"
"Tumben, Sha!" Celetuk Vino yang mendengar obrolan mereka.
"Aku mau nonton Jasmine, bukan kamu!" Marsha menahan tawanya melihat wajah Ari yang berubah masam, sementara yang lainnya tertawa puas, dan Jasmine yang tertawa meskipun tidak sepuas Vino dan Gerald.
"Terserah! Gini amat punya pacar!"
Marsha tak bisa menahan tawanya lagi. Gadis itu merasa ekspresi Ari yang sekarang sangatlah lucu. Banyak mata yang melihat dengan penasaran dan iri karena tidak bisa terlalu dekat dengan Ari, Vino, dan Gerald yang mempunyai segudang prestasi. Marsha merasa selalu beruntung karena bisa bersama ketiganya, ditambah dengan kehadiran Jasmine yang mungkin akan mengubah hidupnya.
****
"Siapa, Sha?"
"Jasmine, siswa baru, sekelas sama Ari dan Vino. Keren banget ya dia, cantik, badannya oke banget, jago karate, duh idaman banget!"
Ara menggelengkan kepalanya, heran dengan sifat ajaib Marsha. "Diembat Ari aja baru tau rasa!"
Marsha memukul pelan paha Ara, "Kalo ngomong suka sembarangan banget sih, Ra! Nanti kalau malaikat lewat terus bilang amin gimana?"
"Biasa aja dong, aku cuma bercanda tau! Lagian kamu sama Ari kan sudah pacaran sekitar 3 tahun kan? Gak mungkin kalo dia suka sama cewek lain."
Marsha memandang Ari dan Jasmine bergantian, "Kamu ngomong gitu aku jadi takut deh, Ra."
Ara menoyor kepala Marsha, "Ini otak mikirin apa aja sih? Ari gak mungkin duain lo, Sha. Kalaupun iya, udah gue abisin itu anak. Tenang aja!" Ara mendegus, kata aku kamu berganti dengan lo gue karena sebal dengan pikiran Marsha yang kadang menjadi berlebihan.
"Kalo seandainya beneran gimana, Ra?" Marsha menatap Ara dengan serius, "Gak ada yang gak mungkin kan? Apalagi selama 3 tahun ini hubungan aku dan Ari bisa dibilang mulus banget seperti jalan tol. Kalau tiba-tiba Jasmine menjadi sebuah rintangan berat yang pertama gimana?"
Ara dapat melihat dengan jelas ketakutan di mata Marsha. Ia tahu dengan jelas kalau hubungan Ari dan Marsha tidak pernah diterpa badai yang besar, jika hanya kesalahpahaman atau marahan biasa saja mungkin beberapa kali pernah terjadi. Tapi untuk badai yang besar, hal itu belum pernah terjadi. Marsha selalu membicarakan hal ini pada Ara, ia takut ada badai yang besar dan khawatir jika hal ini akan membuat salah satu diantaranya goyah. Hubungan yang mulus memang dapat membuat takut apabila ada hal besar yang sedang menunggu.
"Tenang, santai, semuanya akan baik-baik saja. Kalaupun akan ada saat dimana kamu dan Ari terkena badai besar, masalahnya bukan siapa yang jadi badai itu, tapi gimana cara kalian untuk bertahan dan bisa lewatin secara bersama-sama. Gak usah dipikirin, Sha. Semua pikiran buruk yang ada di otak kamu sekarang belum tentu jadi kenyataan."
Marsha menghela napasnya. Perkataan Ara ada benarnya. Ketakutan dan pemikiran negatif yang disimpan memang bukan hal yang benar. Marsha yakin apapun yang akan terjadi pada hubungannya dengan Ari pasti akan ada masa dimana mereka akan baik-baik saja.
"Terima kasih, Ra. Aku yakin Ari pasti akan genggam tanganku apapun yang akan terjadi nanti."
Marsha mengalihkan pandangannya ke arah lapangan, Ari berjalan ke arahnya dengan senyuman yang manis. Marsha secara otomatis ikut tersenyum, ia memberikan handuk kecil dan air mineral untuk Ari. Obrolan dengan Ara masih saja mengganggu meskipun ia sudah berusaha menghilangkan pikiran-pikiran buruk. Marsha menatap wajah Ari tanpa mengalihkannya barang sedetik.
"Kenapa lihat aku sampai segitunya? Ada sesuatu di wajah aku?"
Marsha tersenyum, "Duh kamu keren banget sih kalau abis latihan karate! Seksi! Ganteng! Duh... Aku tambah jatuh cinta sama kamu kalau begini, Ri!"
Ari tertawa, ia mencubit pipi Marsha yang seperti bakpao. "Duh gemesnya. Bagus dong, kamu harus nonton aku latihan terus biar makin cinta."
Marsha melempar handuk ke muka Ari yang membuatnya tertawa. Ara yang sedang duduk di samping Gerald hanya bisa tersenyum menatapnya, kemudian tatapannya jatuh pada Jasmine yang sedang mengobrol dengan dua orang anggota perempuan karate.
"Kenapa?" Tanya Vino yang baru saja duduk di sebelah Ara.
"Apanya yang kenapa?"
"Lo ngelihat apa sampai gak berkedip?" Vino merampas air mineral yang dipegang Ara.
"Gak ada. Ini kalian udah selesai latihannya?"
"Sudah. Setelah ini mau kemana?"
"Mau pulang aja, ada rencana buat donat sama Marsha."
Vino yang sedang mengelap keringat langsung menatap Ara, "Serius? Gue boleh dong main ke rumah lo?"
"Gak ada! Gak ada acara main ke rumah si kembar! Gue doang yang boleh main."
Vino melempar handuk bekas keringatnya pada Gerald, "Rumah mereka ini kenapa lo yang repot?! Heran gue."
Ara tertawa kecil. Ia mengizinkan keduanya untuk main dan mencicipi donat yang akan dibuatnya dengan Marsha. Ara dan Marsha senang membuat resep masakan yang baru, meskipun terkadang gagal, tapi kegiatan memasak bersama sangatlah menyenangkan dan hasil enak yang didapatnya pun membuat bangga.
Ara menatap tidak suka pada Vino yang mengajak Jasmine untuk main ke rumahnya, ditambah Ari dan Marsha yang sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Jadilah Vino, Gerald, Jasmine, dan Marsha berada di mobil menuju rumahnya dan Ari. Ara yang mempunyai sifat jutek tidak bisa menutupi ekspresi ketidak sukaannya dengan kehadiran Jasmine. Ia bertambah kesal dengan mereka semua yang seolah tidak mengenal Ara seperti apa. Ari yang berada di kursi kemudi melirik Ara yang berada di sampingnya, ia menyadari ketidaksukaan kembarannya terhadap kehadiran Jasmine.
"Ra, ekspresinya. Nanti juga biasa."
Ara mendegus, ia melihat ke luar kaca mobil. Nanti juga terbiasa, adalah kata-kata yang tidak biasa untuk Ara terapkan. Gadis itu mulai bete dan tidak ada mood untuk sekedar mengeluarkan suara jika yang lainnya bertanya sesuatu.
####
Hola.... Adakah pembaca cerita ini??
Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan membaca cerita ini. See you next chap!