My Sweet Home

My Sweet Home
4



Sesampainya di rumah si kembar, para perempuan sibuk membuat donat termasuk Jasmine. Ara masih memasang wajah jutek, bahkan dia tidak menimpali perkataan yang lainnya untuk mencoba mengobrol. Rencananya untuk masak bersama Marsha menjadi gagal total, Jasmine ikut memasak bersama. Ara kesal karena Jasmine seolah tak bisa melihat wajahnya yang jutek dan menolak secara blak-blakan kehadiran gadis itu. Marsha yang merasakan aura dingin Ara menjadi bersalah karena membuka jalan untuk Jasmine bergabung. Marsha membantu Ara memasukkan isian ke dalam donat creme brulee yang telah matang. Semuanya berkumpul di ruang keluarga, setumpuk donat tersaji di atas meja. Melihat donat dengan karamel dipermukaannya membuat sisi kelaparan lelaki bangkit. Vino dan Gerald langsung melalapnya, keduanya sampai melotot saking enaknya donat tersebut.


"Enak banget! Wow asli ini mah, mantap!" Seru Gerald yang diangguki setuju oleh Ari.


"Benar, enak banget, super. Biasanya kalo cuma Ara dan Marsha yang buat rasanya enak aja atau kadang kurang enak, tapi ini enak banget. Pasti karena Jasmine nih yang ikut buat. Lo bisa masak, Jas?"


"Bisa, Vin. Gue emang suka masak."


Ara menatap Vino dengan datar, kata-kata itu tentu saja membuatnya kesal, seperti tidak dihargai. Marsha menelan ludahnya kala melihat ekspresi wajah Ara, ia tahu gadis itu marah. Marsha terkejut mendengar penuturan Vino, perkataannya pasti menyinggung Ara. Selanjutnya, Ara berdiri setelah membawa nampan yang berisi tumpukan donat. Tanpa kata gadis itu membawanya ke lantai dua, ke kamarnya.


"Ara kenapa?"


"Kenapa, Vin? Serius? Lo gak sadar perkataan lo yang tadi nyinggung perasaan Ara?"


Vino menaikkan sebelah alisnya, donat yang masih tersisa setengah diletakkan di atas meja. "Gue rasa perkataan gue gak ada yang kasar atau nyinggung, Ara."


"Kalo lo mau bilang donat itu enak, tinggal bilang enak, gak usah ngungkit masakan gue dan Ara yang gak enak. Hargain usaha orang lain!" Sentak Marsha kesal.


"Sha, kamu dan Ara berlebihan deh kayaknya. Vino cuma asal ngomong, ada benarnya juga kalau dengan bantuan Jasmine donatnya jadi lebih enak."


Marsha menghela napasnya kasar, "Yang kembaran Ara itu aku atau kamu sih, Ri? Ya ampun, gak ngerti aku."


Marsha memilih menyusul Ara ke kamarnya. Ia mengetuk pintu karena dikunci lalu masuk setelah beberapa saat mengetuk. Ara duduk di lantai, punggungnya disandarkan pada kasur. Marsha merasa ini salahnya, harusnya ia menolak usulan Vino yang ingin membawa Jasmine ke sini. Marsha harusnya mengerti Ara yang tidak bisa dekat dengan orang lain secara instan.


"Hei, aku minta maaf ya, Ra. Harusnya aku cegah Jasmine untuk ke sini."


Ara tersenyum masam lalu menggigit donat yang susah payah mereka buat, "Sepertinya masakan aku selama ini tuh gak enak, kalah enaknya sama Jasmine. Tapi harus banget ya Vino bilang gitu tadi? Mood aku yang sudah kacau tambah kacau lagi, Sha."


"Aku juga sebel banget sama Vino dan Ari. Dia nganggep hal ini sepele, padahal perkataan Vino sudah.... Gitu deh. Aku juga minta maaf karena aku seneng tadi pas Jasmine mau gabung."


Ara menyodorkan satu donat kepada Marsha, "Sudahlah, Sha. Donatnya kita saja yang makan, aku gak mau berbagi sama mereka."


Marsha mengangguk, ia dan Ara memilih mengobrol berdua hingga mengantuk lalu Marsha memutuskan untuk menginap. Sebelum tidur pintu kamar Ara diketuk, Marsha keluar sebentar.


"Apa?"


"Aku mau antar Jasmine."


Marsha mengernyit, "Kenapa harus kamu?"


"Rumahnya dekat sini kok."


"Iya, kenapa harus kamu? Ada Vino dan Gerald."


"Vino beda arah, Gerald nginep di sini."


"Suruh Gerald saja yang antar Jasmine pulang. Kamu antar aku pulang!" Ada nada tidak suka dari Marsha saat Ari ingin mengantarkan perempuan lain pulang ke rumah.


"Gerald malas, aku antar kamu pulang setelah antar Jasmine ya. Rumahnya gak jauh dari sini, cuma beda beberapa gang saja, Sha. Gak akan lama."


Marsha kesal, ia cemburu dengan Jasmine. "Pacar aku dia atau kamu sih? Kenapa utamain dia duluan?"


"Apa sih, Sha? Gak ada utamain dia duluan. Rumah dia deket banget jadi aku mau antar dia pul__"


"Kamu sudah pernah antar dia pulang sebelumnya?" Tanya Marsha tidak suka, Ari hanya dapat terdiam. Hal itu cukup bagi Marsha untuk mengambil kesimpulan. "Aku mau kamu antar pulang, bukan dia, kalau deket suruh aja dijemput atau apa kek gitu."


Ari menghela napasnya lelah, "Sha, jangan egois. Sudah malam, gak mungkin aku suruh dia pulang sendiri kan? Dia juga gak ada yang bisa jemput. Aku pasti antar kamu setelah antar dia."


"Antar saja dia pulang, antar sampai selamat di rumah. Aku bisa pulang sendiri!" Ucap Marsha kesal lalu hendak masuk ke dalam kamar Ara tetapi sikunya ditahan Ari. "Apa?!"


"Kamu kenapa sih? Aku cuma mau antar dia pulang saja, Sha."


Marsha menyentak lengannya sehingga tangan Ari terlepas dari sikunya, "Terserah. Aku bisa pulang sendiri, aku gak egois kok tenang saja. Kamu bisa antar dia pulang, terserah!"


Marsha masuk ke dalam kamar Ara, dia menatap Ara yang berdiri lurus dihadapannya. Ara tersenyum lalu mengangkat sebuah kunci mobil.


"Kalau dia gak bisa, gue antar pulang ya."


"Aku antar kamu!"


"Ara yang mau antar aku, kamu antar saja Jasmine. Jasmine, aku pulang duluan ya!"


Jasmine hanya mengangguk sambil tersenyum. Lagi-lagi Ari menahannya.


"Vino yang antar Jasmine pulang, kamu pulang sama aku!"


"Terserah!" Marsha melepaskan cengkraman tangan Ari, lalu menoleh ke arah Ara. "Aku pulang, Ra. Dadah."


"Hati-hati."


Marsha mengangguk. Ia berjalan lebih dulu ke arah mobil Ari terparkir. Keduanya tidak ada yang membuka suara, hanya ada suara penyiar radio dan lagu silih berganti. Sebenarnya Marsha tidak enak kepada Ari yang harus mengantarkannya pulang, rumah mereka cukup jauh jaraknya. Namun, ia cemburu mendengar Ari ingin mengantar gadis lain. Marsha tidak rela melihat Ari mengantar gadis lain.


"Mau beli sesuatu dulu?"


"Gak."


"Kamu marah, Sha? Maaf."


"Kenapa minta maaf? Kamu salah apa?"


"Aku tahu kamu gak suka aku antar perempuan lain pulang, tapi tadi aku kekeh mau antar Jasmine pulang. Maaf."


"Iya. Ri, aku gak suka kamu antar gadis lain selain aku, Ara, atau keluarga."


"Iya, maaf, Sha."


Marsha mengangguk. Selama berpacaran dengannya hanya sekali Ari mengantar pulang gadis lain, itu pun karena arah mereka pulang sama dan gadis itu kehabisan ongkos. Setelah Marsha mengatakan ketidaksukaanya, Ari tidak pernah mengantar gadis lain lagi.


*****


Ari berlari santai pagi ini. Libur sekolah memang disempatkan untuk lari pagi di sekitar taman yang tak jauh dari rumahnya, tapi pagi ini ia berlari sampai ke gang sebelah karena di taman dekat rumahnya sedang dipakai oleh ibu-ibu senam santai. Untunglah di taman yang lain tidak ada acara apapun, ia duduk di salah satu bangku taman. Ari membalas beberapa chat yang masuk, terutama dari Marsha yang sedang bertanya apa ia sedang lari pagi. Marsha mengetahui Ari suka olahraga pagi di akhir pekan, tapi gadis itu jarang ikut untuk lari pagi karna malas. Marsha tipe orang yang tidak suka olahraga, berkali-kali dibujuk pun tetap tidak mau kecuali niat dari dalam diri sendiri.


"Hei,"


Ari mengangkat kepalanya kala seseorang berdiri tepat dihadapannya, "Hai." Ari tersenyum melihat siapa yang datang menyapanya. Jasmine. Gadis itu berkeringat, Ari menebak Jasmine juga lari pagi di taman ini.


"Lo suka lari pagi?"


"Iya, gue rutin lari pagi. Lo sendiri suka lari atau gimana?"


"Gue suka lari, setiap libur disempatkan lari santai seperti hari ini. Eh, kok bisa nyasar ke sini?"


"Di taman deket rumah gue lagi dipake sama ibu-ibu senam santai gitu deh. Nah, lo sendiri ngapain bisa sampai di taman ini?"


"Rumah tante gue ada di sekitar sini, sekalian aja lari pagi dan selesainya bisa main ke sana. Ri, suka bulu tangkis gak?"


"Suka! Kenapa?"


"Mau jadi partner gue gak? Jadi gini," Jasmine sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Ari agar dapat mengobrol dengan enak. "Di dekat rumah gue ada lomba kecil-kecilan gitu deh, nah gue mau ikut bulu tangkis tapi yang ganda gitu. Sampai sekarang belum dapat partner karena belum kenal banyak orang juga. Lo mau gak?"


Ari nampak menimbang-nimbang penawaran Jasmine yang cukup menarik untuknya. Selain karate dan lari, Ari menyukai bulu tangkis, futsal, dan renang. Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Ari menyetujui tawaran Jasmine, untuk dijadikan pengalaman tidak ada salahnya juga kan?


"Kapan acaranya?"


"Pas kita liburan semester. Lo bisa kan?"


"Bisa, tenang aja. Nanti kita latihan beberapa kali ya sebelum bertanding, jadi gak kaku banget pas jadi partner lapangan."


"Wah makasih ya, Ri. Tadinya gue putus asa nyari partner untuk lomba bulu tangkis, untungnya ketemu sama lo."


"Takdir, Jas."