
Reza memasuki lift yang sudah berisikan Christopher, tetangganya di unit 303.
"hello mr Reza nice to meet you"(halo mr.Reza seneng bertemu denganmu)
"oh.. hi.. everything going well?”(oh...hi...segalanya berjalan baik?")
"Of course, it's great to live in this country."(tentu saja, senang rasanya tinggal di negara ini)
"good then"(bagus kalau begitu)
"mr. Reza... do you know a woman who lives in unit 304?" (mr.Reza apakah kamu mengenal wanita yang tinggal di unit 304?"
"yes.. that woman's name is Aca" (iya.. namanya Aca)
"oh... aca is a nice name, but her screams are terrible"(oh..namanya bagus, tapi teriakannya sangat mengerikan)
"the woman screamed?"(dia berteriak?)
"yes... unfortunately in this country there are no 911 calls. I hope she's ok"(ya.. sayangnya negara ini tidak ada panggilan 911. aku harap dia baik-baik saja)
"when did you hear it?" (kapan kamu mendengarnya)
"sometimes during the day, sometimes in the evening. At least she always screams loudly every day" (terkadang siang hari, terkadang sore hari. yang pasti dia selalu berteriak setiap hari)
"really?" (benarkah)
"I want to help her, but I don't know how to help someone who is in trouble in this country, I hope you can help her."(aku ingin membantunya, tetapi aku tidak tau bagaimana menolong seseorang yang dalam kesulitan di negara ini, aku berharap kamu bisa membantunya)
Ting..... pintu Lift terbuka
Mereka pun keluar karena lantai rumah mereka sama.
Christopher menuju rumahnya, dan Rezapun menuju rumahnya.
Reza tampak termenung di depan pintunya, memikirkan perkataan tentang Aca dari tetangganya.
Banyak sekali pertanyaan untuk Aca.
Hari ini sangat berat untuk Reza.
mana yang harus gua bahas, masalah dia dijemput cowok tadi pagi atau masalah Christopher denger Aca suka teriak...
Reza menekan kode pintunya lalu membuka pintunya dan masuk kedalam. Reza yang sebenarnya belum siap untuk bertemu Aca karena memikirkan apa yang harus dia tanyakan kepada Aca. Tapi pemikiran tersebut buyar karena justru Reza dikejutkan olehnya
Prrrrritttttt.... Prrrrritttttt...... prrrrritttttt...... suara pluit berbunyi dengan nyaring
"selamat hari jadi rumah kita kakak, MY SWEET HOME MY ADVENTURE yeeeeeeeeeeeee" Aca menaburkan kertas potongan kecil ke atas lalu menjatuhi keduanya
Aca melompat kegirangan dan berputar-putar layaknya anak kecil yang sedang bermain hujan salju. Reza tersenyum melihat tingkah Aca yang menggemaskan lalu ada perasaan kecil yang muncul dibenaknya, sesaat kemudian Reza memeluk Aca.
ya...Pelukan Reza menghentikan pergerakan lincah Aca, Perasaan Reza tertumpah dalam pelukannya. Reza mengingat semua tentang Aca, tentang bagaimana dia membagi tawa candanya saat bersama tetapi memilih bersembunyi untuk menangis sendirian.
Aca yang terkejut dan terdiam saat dipeluk Reza kini tersenyum dan membalas pelukan Reza.
Tangan kecil Aca memeluk erat punggung Reza yang bidang dan hangat. Sedangkan Reza terus mengelus-elus punggung Aca dan membenamkan wajahnya di bahu Aca.
Waktu terasa berhenti untuk keduanya. Rasa lelah diluar rumah telah gugur seraya hanya dengan sebuah pelukan hangat mereka.
"kak eja sakit?" tanya Aca yang masih di peluk oleh Reza.
Reza menggelengkan kepalanya yang sedang terbenam di leher Aca
"tapi kak eja gak apa-apa kan" Kini Reza menganggukkan kepalanya, memberikan tanda kepada Aca bahwa dia baik-baik saja
"yaudah...gak semuanya harus diceritain ko, kakak bisa peluk Aca kapanpun kakak mau kalau itu bikin kakak tenang" ucapan Aca membuat pelukan Reza semakin kencang.
Kini Aca yang bergantian mengelus-elus punggung Reza.
Aroma tubuh Aca seperti aroma terapi untuk Reza, sangat khas dan menenangkan. Tak sadar bahwa bibir Reza mengenai leher Aca yang membuat bulu kuduk Aca berdiri. Tapi Aca tak bergerak sedikitpun, Aca takut kalau gerakannya nanti akan mengganggu ketenangan yang sedang di rasakan Reza.
"apanya kak?"
"kalau ada apa-apa bilang sama kakak, kalaupun Aca gak mau cerita Aca boleh peluk kakak kapanpun Aca mau untuk nenangin diri Aca"
Ucapan Reza membuat air mata Aca menetes mengenai baju Reza. Reza yang sadar bahwa bajunya basah dan tembus ke kulit dadanya oleh air mata Aca pun memilih tidak bergerak sama sekali dan membiarkan Aca mencurahkan perasaannya.
Reza tidak pintar dalam menggali sebuah cerita sedih seseorang meski ia ingin sekali mengetahuinya.
Tetapi memilih untuk menenangkan perasaan seseorang yang sedang sedih itu lebih penting dari pada egonya untuk memaksa seseorang bercerita.
Reza melepaskan pelukannya lalu memegang kedua pundak Aca.
"janji ya ca kita sama-sama saling peluk kalau emang lagi banyak masalah"
Aca menganggukkan kepalanya dan tersenyum
"kakak emang bukan siapa-siapa, tapi justru karena kakak orang asing Aca bisa lebih leluasa untuk mencurahkan isi hati Aca" ucap Reza yang menghapus air mata Aca
Aca menganggukkan kepalanya lagi.
"kakak salah minum obat atau belum minum obat?"
"Acaaaa"
"maksud Aca terusin aja kak, biar kakak manis terus ke Aca kaya gini"
"bahaya... nanti Aca suka sama kakak"
"emang udah suka weeekkk"
"halah.... bocil ngerti apa sih" Reza mengacak-acak rambut Aca tersenyum lega mendengar Aca kembali ceria
"iihhh... kakak mah... makan yuk, aca masak fried rice with mutton and fresh vegetables" ucapnya bangga
"nasi goreng?" Reza berjalan ke arah meja makan
"gak keren ih kakak mah" Aca mengekor berjalan mengikuti langkah Reza
Reza duduk dan memperhatikan makanan yang ada di meja.
"gak mandi dulu kak?" tanya Aca
"laper ca, mandi nanti aja kakak masih ganteng kan?"
"hahaha iya kak ganteng bangeeeettttt"
"yukk makan... selamat makan Aca, terimakasih sudah masak malamnya dan selamat hari jadi rumah kita" ucap Reza tersenyum
"sama-sama kak yeeeee beneran rumah kita nih kak?"
"iya... sweet home kan?"
Aca menganggukkan kepalanya tersenyum senang.
Mereka berdua selalu bercanda seru meski sedang makan, setelah makan Rezapun tampak membantu aca merapikan meja makan sedangkan Aca mencuci piring. Sekarang mereka berkaraoke ria di ruang tengah sambil menyantap pizza dan minuman soda yang dipesan oleh Aca.
Reza selalu tertawa melihat tingkah Aca saat bernyanyi, suaranya sangat tidak enak untuk di dengar tapi tingkahnya sangat menghibur. Sesekali Aca berteriak saat bernyanyi dan membuat nadanya menjadi sumbang. Sesekali juga Aca berjoget-joget kegirangan saat memilih lagu dangdut.
Mereka berdua juga benyanyi bersama dan berjoget bersama. Momen dimana Reza dapat tertawa lepas dan Aca merasa nyaman.
Tapi tiba-tiba suara kode akses pintu berbunyi tanda seseorang sedang menekannya.Aca dan Reza saling menatap dan sontak langsung mematikan layar TV nya.
Aca terburu-buru membereskan bantal-bantal sofa yang berserakan, Reza pun membereskan mic yang dia pakai bersama Aca kedalam laci penyimpanan.
Kemudian Reza duduk di sofa dan Aca duduk di lantai karpet meminum soda. Mencoba tenang mengisyaratkan tidak ada situasi apapun sebelumnya.
"hai...." sapa Lieta saat masuk ke rumah