
Rintik air hujan perlahan membasahi bumi, semilir angin menerpa menimbulkan hawa dingin. Pagi ini cuaca tidak terlalu bagus, mendung, dingin, hujan, dan beberapa petir menyambar bersahut-sahutan. Meskipun begitu sekolah tetap mengadakan KBM seperti biasanya. Hampir semuanya menggunakan payung guna menghindari basah lebih banyak pada seragam sekolah. Tak terkecuali Marsha yang berjalan bersisian dengan Ari. Tanpa disangka, Ari menjemputnya di depan rumah, keduanya berangkat bersama. Rumah Ari dan Marsha tidak searah dan cukup jauh, sangat jarang lelaki itu menjemputnya untuk pergi ke sekolah bersama. Saat berkencan pun keduanya terkadang bertemu langsung ditempat yang sudah disepakati, hal ini sebenarnya usulan dari Marsha agar Ari tidak repot mengantar jemput ke rumahnya yang jauh. Meskipun begitu Ari juga kadang mengantar jemput Marsha, tidak sering tapi lebih dari hitungan jari.
"Gak nyangka hujannya deras banget. Kamu basah dimana lagi?" Marsha mengeluarkan handuk kecil yang sering dibawa lalu mengelap jaket sebelah kanan Ari yang basah. "Baju seragamnya juga basah?"
Ari menggeleng, ia tersenyum lebar. Marsha dengan perhatiannya yang selalu membuat senang. Marsha selalu melihat Ari lebih dulu dibandingkan dirinya sendiri padahal bagian lengan gadis itu juga basah karena hujan, tapi yang diperhatikan duluan malah dirinya. Ari mengambil alih handuk kecil dari tangan Marsha, kemudian mengelap seragam dibagian lengan yang basah. Kekasihnya yang menggemaskan itu tidak memakai jaket dan menolak keras memakai jaket Ari dengan alasan panas, padahal cuaca dingin. Marsha memang tahan dingin lebih baik dibandingkan panas, cuaca seperti ini tidak berefek terlalu dalam untuknya tapi berbeda jika cuaca terik bisa membuat wajah Marsha memerah bak kepiting rebus dan keluhan-keluhan kesal.
"Yakin gak mau pakai jaket?" Tanya Ari setelah tiba di depan kelas Marsha. Ia melirik payung yang berjajar disandarkan pada tembok.
"Iya, kalau dingin aku langsung pakai kok, aku ada jaket di dalam tas Ri. Nanti makan siang bareng?"
"Aku makan siang mau ke perpustakaan, mau menyelesaikan latihan mtk yang belum selesai aku kerjakan. Kamu makan duluan saja," Ucap Ari sambil menaruh payungnya disejajaran payung milik yang lainnya. "Payungnya aku titip di kamu ya."
"Aku bawa bekal, mau makan berdua di luar perpustakaan? Kita duduk di bangku luar, nanti ke dalam lagi."
Ari tersenyum lebar, manis sekali. "Boleh! Aku ke kelas dulu ya," Ucapnya setelah mengacak rambut Marsha yang dihadiahi dengan jeritan kesal.
Marsha merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah Ari, ia hendak masuk ke dalam kelas tetapi matanya menangkap Jasmine yang berjalan dari ujung koridor kelas. Jaket gadis itu kuyup, rambutnya juga basah. Marsha melambaikan tangannya, "Hai!"
"Hai,"
"Gak bawa payung?"
"Enggak, tadi diantar tapi pas dari gerbang ke dalamnya kehujanan. Gue duluan ya,"
"Oh iya, lepas saja jaketnya Jas biar seragamnya gak kena basah juga."
"Iya, makasih Sha."
Marsha mengangguk, ia memperhatikan punggung Jasmine hingga tubuh gadis itu menghilang dibelokan koridor. Marsha menghela napasnya lalu masuk ke dalam kelas, duduk, lalu membuka buku bahasa Inggris.
****
Saat jam istirahat Marsha menemui Ari sedang di perpustakaan. Marsha mengajaknya untuk makan di luar demi menaati peraturan yang sudah berlaku. Bekal makan siang yang dibawa Marsha ialah nasi, udang pedas manis, telur dadar, dan mie. Pagi-pagi sekali gadis itu memasak dibantu dengan sang ibu, ia sedikit menyesali sikapnya yang kekanak-kanakan kepada Ari perihal mengantarkan Jasmine pulang ke rumah.
"Siapa yang buat bekalnya?" Tanya Ari setelah memakan beberapa suap. "Aku suka, enak."
"Aku dibantu mama. Serius enak?"
Ari mengangguk, ia mengelus rambut Marsha. "Serius enak, keahlian memasak kamu semakin meningkat lho. Tinggal keahlian buat kue-kuean aja yang ditingkatkan juga, tapi sejauh ini makanan kamu enak. Kamu sudah bekerja keras, bagus!"
Marsha tersenyum lebar, mendapatkan pujian dari kekasih memang selalu menjadi debar yang berbeda. Ada rasa aneh yang selalu menagihkan, membuatnya merasa haus akan debar itu. Setelah sekian lama menjalin kasih dengan Ari, ia tidak pernah mendapatkan penurunan dari debar aneh itu. Marsha selalu suka dengan rasa debar aneh itu, ia selalu jatuh lebih dalam lagi setiap hari karena sifat Ari.
Setelah bekal makanannya habis, keduanya kembali ke dalam perpustakaan. Ari dengan buku matematika sedangkan Marsha mengetik tugas artikel. Tak ada yang berbicara sebab sudah tenggelam pada dunianya masing-masing, hingga seseorang duduk di depan Ari. Marsha tersenyum melihat seseorang yang duduk di depan Ari. Sementara itu Ari bertanya ada apa tanpa suara.
"Kata teman-teman di kelas kamu jago matematika, aku boleh minta ajarin gak? Ada materi yang tidak aku mengerti."
"Kamu lagi mengerjakan apa, Marsha?"
Marsha sedikit tersentak, ia memandang Jasmine yang kini sudah menutup buku matematika. "Aku lagi ngerjain tugas artikel dari guru bahasa Indonesia, remedial."
"Remedial? Kok bisa?"
Marsha mengangkat kedua alisnya, "Ya.. Bisa. Nilainya kan kurang dari kkm jadi diremed deh. Ulang harian gitu deh."
"Bahaya dong ya. Sedikit lagi ujian kenaikan kelas, kamu harus ekstra belajar berarti ya."
"Iya nih, bete banget rasanya kalau belajar mulu." Marsha bernapas kasar, membayangkan belajar lebih saja membuatnya ingin muntah.
"Lebay, belajar biar nilai kamu naik, setidaknya sampai ke kkn." Timpal Ari yang kini sudah menutup buku matematika, atensinya sudah mengarah pada Marsha. "Belajar gak perlu nonstop seharian, diwaktuin aja. Misalnya setelah pulang sekolah kamu review materinya, sebelum tidur, dan setelah solat subuh. Sedikit yang penting masuk di otak. Jelas gak, Sha?" Ari menoel-noel pipi Marsha yang seperti bakpao sedangkan yang ditoel malah memanyunkan bibirnya. Lucu.
"Iya bapak Ari yang terhormat!" Marsha sambil menggerakkan tangannyau menyerupai gerakan hormat, kemudian ia beralih pada Jasmine. "Jas, sudah makan siang?"
"Sudah tadi bareng yang lain."
"Oh okay. Ri kit—" Ucapan Marsha terhenti saat melihat salah satu teman sekelasnya masalah menghampiri. "Kenapa, La?"
"Kamu dicari Indah, katanya ada masalah soal tugas kelompok."
"Oke. Ri, Jas, aku duluan ya."
"Okay, jangan nyari masalah!"
Marsha memandang Ari dengan mulut yang mencebik kesal, "Yang ada dia suka nyari gara-gara mulu!"
Sepeninggal Marsha, baik Ari dan Jasmine hanya terdiam. Keduanya sibuk dengan buku masing-masing. Ari hendak keluar dari perpustakaan karena suasana canggung yang membuatnya merasa gerah. Namun, sebelum ia benar-benar berdiri sepenuhnya, Jasmine memanggil namanya.
"Nanti boleh ikut nebeng gak pulang sekolah?" Tanya Jasmine sepelan mungkin, ia memandang Ari dengan takut.
"Gak dijemput?"
"Lagi gak ada yang bisa jemput. Boleh bareng?"
"Maaf Jas, pulang sekolah gue ada janji sama Marsha."
Ari berlalu dari hadapan Jasmine yang memandangnya sendu. Jasmine menghembuskan napasnya lalu meninggalkan perpustakaan juga. Ia berjalan pelan dengan pandangan tertunduk, merasa malu karena meminta tolong tetapi di tolak. Seharusnya ia sadar jika Ari sudah memiliki orang yang akan cemburu bila pergi dengan gadis lain, Jasmine pun akan cemburu jika kekasihnya pergi dengan orang lain.
---------------------
Halo.... Adakah yang membaca cerita ini? Kalau ada, terima kasih ya sudah membaca cerita ini. Semoga dengan membaca cerita ini kalian merasa senang. See you next part!