
Marsha membalas pelukan Ari dengan sama eratnya. Siang ini Ari mengantar Marsha ke stasiun untuk keberangkatannya ke Bandung. Liburan pertama mereka habiskan untuk menonton film bersama dan makan sate langganan, dengan berat Ari melepaskan gadisnya untuk sementara waktu. Selama berpacaran keduanya hanya sekali ldr hingga tiga minggu, saat kenaikan kelas tahun lalu dan itu karena Ari harus ke London untuk menjaga adik ibunya yang sakit bersama Ara.
Marsha terkikik karena Ari yang enggan melepaskan pelukan, sejujurnya ia juga berat untuk berpacaran jarak jauh tetapi mau tidak mau tetap harus dijalankan. Marsha menepuk kedua pipi Ari lalu mundur dua langkah untuk memberikan jarak. Ari tampak tidak rela, tangannya bahkan memegang ujung lengan baju Marsha. Dilihat-lihat dalam keadaan seperti ini Ari tampak begitu menggemaskan.
"Aku cuma tujuh belas hari lho di Bandung, Ri. Nanti pulangnya aku beliin buah tangan, kamu jangan datar gini dong mukanya."
Ari mendegus sebal lalu memaksakan untuk tersenyum, "Iya, bawa buah tangan yang banyak ya! Jaga diri baik-baik di sana, jangan jauh-jauh dari Bunda, dan jangan lupa untuk selalu ibadah."
"Iya, kamu juga. Semangat belajar untuk olimpiade dan semangat latihan karatenya. Oh iya satu lagi! Jangan sering-sering ninggalin Ara sendirian, nanti dia kesepian lho." Marsha ingat curhatan Ara beberapa hari yang lalu tentang Ari yang belakangan sering main dengan teman-temannya hingga pulang larut malam. Hal ini tentu saja membuat Marsha kesal, tapi karena ia akan pergi ke Bandung dan tidak ingin membuat pertengkaran dengan Ari maka ia meredam kekesalannya.
"Anak-anak pada ngajakin main game sama futsal, aku ikut karena lagi suntuk dengan matematika. Aku usahain gak pulang malam terlalu sering."
Marsha mengangguk senang kemudian memeluk Ari sekali lagi, "Dadah... Aku pergi dulu Ri, sampai jumpa 17 hari lagi."
Ari melambaikan tangannya pada Marsha, ia memperhatikan hingga kekasihnya tidak terlihat di pandangan matanya. Ari mengacak rambut bagian belakangnya kemudian melangkah pergi dari stasiun. 17 hari ini ia akan menyibukkan diri dengan belajar, karate, bermain dengan Ara, Vano, dan Gerald, serta.... Ah ya ada hal yang ia lupakan. Perlombaan bulu tangkis bersama dengan Jasmine, dan bodohnya Ari lupa memberi tahu Marsha perihal ini.
"Nanti malam deh gue telpon sekalian kasih tau Marsha."
Ari meraih ponsel dalam sakunya ketika benda pipih itu berdering. Ia mengangkatnya dengan lalu seraya membuka pintu mobilnya, setelah mendengar suara si penelpon Ari berhenti bergerak sejenak sebelum kesadaran kembali merasuki tubuhnya.
"Ya?"
"Bisa latihan badminton besok?"
"Besok gue mau nemenin Ara."
"Nanti malam aja gimana? Semakin cepat latihan semakin nyatu permainan kita. Gimana?"
"Oke, nanti malam latihan di lapangan dekat rumah lo, gimana Jasmine?"
"Oke."
*****
Ari memandangi langit malam yang suram tanpa bintang, bulan pun seperti enggan untuk menampakkan dirinya dari balik tirau awan kelabu. Suara gemerisik rumput dan dedaunan yang menari bersama angin tak ia acuhkan, pandangannya jatuh pada langit malam. Suram dan sunyi, tapi anehnya menimbulkan pesona tersendiri untuk Ari. Ari dan kesunyian yang akhir-akhir selalu berserobok, tercipta secara tak sengaja. Tapi rupanya tidak hanya Ari dan kesunyian yang ada di sana, seorang gadis bersurai hitam dengan mata sebening embun pagi membingkainya dari jarak jauh.
"Ari," Suaranya yang lembut mampu mengalihkan atensi Ari. "Sudah lama?"
Ari menggeleng, ia berdiri dari duduknya yang semula begitu nyaman. "Kita pemanasan dulu ya, setelah itu kita latihan."
Jasmine, gadis yang terlihat lembut tapi tangguh dari dalam itu menganggukan kepala mengikuti semua gerakan Ari. Berikutnya keduanya sibuk latihan bulu tangkis, beberapa menit berlalu hingga berubah menjadi beberapa jam. Jasmine berbaring, tangannya terkulai lemas, napasnya memburu, dan seluruh badannya terasa terbakar. Berolahraga malam hari sungguh menyenangkan, sunyi dan dinginnya angin mampu menyeimbangkam rasa panas akibat terlalu bersemangat berolahraga. Lima belas menit kemudian sentuhan dingin otomatis membuka matanya yang terpejam berusaha meredakan lelah dan pegal. Jasmine tersenyum, ia mengambil posisi duduk bersila sama seperti Ari.
"Terima kasih," Jasmine segera meneguk air mineral yang diberikan Ari hingga tersisa setengah botol. "Gimana olahraga malam-malam?"
"Nothing special," Kata Ari setelah meneguk air minumnya. "Gue sudah sering olahraga bareng Ara. Mungkin karena sudah keseringan jadi gak begitu dapat yang spesial lagi."
"Oh gitu. Boleh kali ajak gue olahraga bareng, gue gak kenal lingkungan di sekitar sini."
"Kalau Ara mau ya, kalau dia gak mau ya gak bisa."
Jasmine tersenyum, "Hmm. Ri,"
"Apa?"
"Besok mau temenin gue gak?"
"Kemana?"
"Beli buku dan baju karate baru. Gimana, mau ya?"
Ari mengangguk setelah berpikir, "Boleh, sekalian gue mau beli baju baru lagi."
"Asik ada temannya. Eh, tapi Marsha gak marah gue minta anterin lo?"
Ari terdiam, ia menyadari bahwa Marsha baru terlintas di benaknya. Ah mungkin efek olahraga yang ia jalani tadi sehingga melupakan Marsha beberapa saat. Ari menimang-nimang apakah mengiyakan ajakan Jasmine atau tidak, tapi pada akhirnya ia mengiyakan untuk pergi bersama esok hari.
"Ri, lo sudah pacaran sama Marsha tiga tahunan ya?"
"Kurang lebih," Jawab Ari seadanya.
"Lu gak pernah bosan? Maksudnya lo sama dia pacaran sudah termasuk lama."
Ari membuka mata, tatapannya lurus kepada langit yang kelabu. Berbagai memori keluar masuk ke dalam otaknya setelah Jasmine menanyakan hal itu. Semua kenangan pahit dan manis bersama Marsha tiba-tiba saja memenuhi setiap sudut otaknya, mengepungnya tanpa ampun. Ari berusaha mencari jawaban yang ia inginkan, tapi hasilnya justru berbeda.
"Pernah," Bisiknya pelan. "Siapa sih orang yang gak pernah bosan? Namanya juga hubungan, rasa bosan pasti ada. Kalau ditanya pernah, ya pasti pernah."
"Kalau lo sudah bosan sama hubungan itu, lo ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain, nanti juga perasaan itu hilang."
"Hmm. Lo pernah kepikiran putus dan pacaran sama orang lain selain Marsha, Ri?"
Aliran darah Ari berhenti seketika, menyisakan sesak yang tak nampak. Ari menelan ludahnya yang terasa berat. Ia menjadi takut dan emosional mendengar pertanyaan itu.
"Pernah."
Jasmine terkejut, ia memandang Ari yang kini menatap kosong langit malam itu. "Kenapa? Lo cinta banget kan sama Marsha dan pacaran sudah lama, kenapa ada pemikiran itu?"
"Kadang gue lelah, kadang gue bingung sama perasaan gue sendiri. Gue masih gak ngerti sama perasaan gue disuatu momen. Terkadang gue bisa sangat mencintai Marsha, terkadang gue meragukan perasaan gue ke dia, dan terkadang gue lelah dengan hubungan kita yang beberapa kesempatan terasa kosong buat gue." Ari memejamkan matanya serapat mungkin, ia meminta pengampunan pada Marsha di dalam hati. "Mungkin gue masih labil dan belum dewasa untuk benar-benar yakin."
"Ri, mau coba sama gue?"
Refleks Ari memandang wajah Jasmine yang begitu dekat dengannya. "Hah?!"
"Mungkin lo ragu karena belum pernah mencoba dengan orang lain, selama ini lo baru mencoba dengan Marsha. Lo gak tau rasanya jatuh cinta dengan yang lain, Ri."
Ari bangun, ia menatap Jasmine dengan sorot mata tidak percaya. "Serius, Jas? Lo nawarin buat gue selingkuhi Marsha? I love her! Perasaan bosan hanya sementara, itu karena gue yang lagi lelah dengan keadaan. Jangan berani-berani nawarin hal seperti ini sama gue, Jas!"
Jasmine menahan tangan Ari ketika lelaki itu hendak pergi. "Cinta? Gue tahu kok lo curi-curi pandang sama gue, lo tertarik sama gue Ri. Gue tahu! Lo yakin cinta sama Marsha?"
Flashback
Jasmine duduk dengan canggung bersama anggota karate yang lainnya. Ia baru bergabung dengan kelompok karate satu minggu yang lalu, Jasmine merasa belum terlalu nyaman dengan anggota lainnya. Jasmine menundukkan kepalanya fokus kepada game yang ia mainkan. Bukannya fokus dengan game, Jasmine merasa ada yang mengawasinya. Beberapa kali ia mencoba mencari tahu siapa yang memandanginya tetapi tidak ada tanda-tanda, hingga akhir Jasmine menangkap basah Ari sedang menatapnya. Sebisa mungkin ia menahan senyum melihat Ari yang salah tingkah, terlihat sangat menggemaskan.
Setelah latihan karate selesai, Jasmine memberanikan diri berbicara kepada Ari. Ari tersenyum kikuk melihat Jasmine berdiri dihadapannya.
"Ri, boleh nebeng pulang gak?"
Ari mengangguk tanpa ragu. Sebelumnya ia juga pernah mengantar Jasmine pulang saat hari pertama gadis itu masuk ke anggota karate.
Keesokan harinya saat di kantin sekolah, Ari makan bersama Marsha. Matanya sesekali melirik Jasmine yang duduk bersama dengan beberapa teman sekelasnya. Sementara itu Marsha duduk dihadapannya sedang mengoceh tentang pelajaran yang begitu membosankan.
"Gila ya itu si Jasmine. Body nya aduhai banget, Ri. Aku jadi iri banget kalau lihat tubuhnya yang indah itu, padahal umur kita sama tapi badan aku sama dia beda banget. Kok bisa ya dia ramping gitu? Kayaknya dia gak pernah nyobain makan mie pake telor dua deh, Ri."
Ari tertawa keras, ia memutar kepalanya melihat Jasmine. Yang dikatakan Marsha memang benar, tubuh Jasmine sangatlah indah. Jasmine yang ramping, tinggi, berkulit putih, dan berwajah sangat cantik bak dewi, yang melihatnya pasti terpesona. Ari tersenyum menatap Jasmine yang tertawa bersama teman-teman perempuannya yang lain. Ari segera mengalihkan atensi nya pada Marsha ketika gadis itu kembali berceloteh dan memukul meja karena kesal dengan pelajaran matematika.
Ari tidak pernah tahu ada gadis yang sangat cantik di sekolah ini. Gadis yang hampir sempurna.
Flashback off
Ari terpaku, ia tiba-tiba mengingat momen saat ia terpesona dengan kecantikan Jasmine. Jasmine mendekatkan tubuhnya pada Ari, kemudian mengecup bibir yang selalu menggodanya. Malam itu, Ari benar-benar kehilangan akal sehat dan nekat bermain api. Entahlah, Ari merasa sulit untuk menyangkal pesona dari Jasmine yang tidak tahu sejak kapan dapat membutakan hati serta pikirannya hanya dengan melihat mata indah gadis itu. Ari sepenuhnya menyerahkan dirinya diujung jurang yang suram dan dapat menjerumuskannya tanpa aba-aba.
"Kita akan baik-baik saja, Ri."
Ari menatap mata gadis itu, berusaha mencari kekuatan dari indahnya binar yang saat ini terpancar. Ari mengangguk, ia jatuh dalam pesona Jasmine untuk kesekian kalinya. Bahkan lelaki itu membalas ciuman yang dilayangkan Jasmine untuknya.
####
Halo... Terima kasih untuk yang sudah membaca cerita ini. Kritik dan saran sangat berguna untuk penulis. See u next part!