My Second Merriage

My Second Merriage
Memaafkan tapi dimanfaatkan



Setelah membereskan meja makan, aku menyiapkan beberapa cemilan dan minuman hangat untuk mama dan papa juga aku dan derrel.


"Ma, pa, Silahkan diminum.” ucapku sembari meletakkan nampan di atas meja.


Mama dan papa tersenyum, mama menepuk kursi disampingnya pertanda jika wanita paruh baya itu menyuruh ku duduk. dan aku pun berjalan menuju mama dan duduk tepat disampingnya.


"Risha, apa kamu belum juga ingin memberikan cucu buat mama dan papa?" Tanya mama sembari membelai rambut ku. tiba2 Derrel tersedak minumannya.


"Uhukkkk.."


Dengan cepat akupun langsung mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada derrel.


"Makasih sayang" ucapnya tersenyum. aku pun membalas senyumannya.


"Kamu baik baik saja, Derrel?". tanya mama.


"Iya ma, oiyah papa dan mama akan menginap berapa lama di sini?" Derrel bertanya untuk mengalihkan pembicaraan mama.


"knp memangnya?, apa kamu sedang mengusir mama dan papamu ini?" sahut papa dengan wajah yg terlihat serius.


"Bu..bukan begitu pa,". belum sempat Derrel melanjutkan ucapannya, mama langsung memotong nya.


"Kamu satu satunya putra kami yg sudah berumah tangga, kapan kamu akan memberikan mama dan papa cucu, sudah cukup lama kalian menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan". Ucap mama serius.


Ucapan mama barusan membuat ku kesulitan bernapas. Aku melirik ke arah Derrel, lalu berganti menatap mama dan papa. seandainya aku menggugat cerai Derrel apa mama dan papa akan membenciku, jujur saja jika kalian menanyakan apakah aku masih mencintai nya, tentu saja.. tapi aku takut jika Derrel akan melakukan kesalahan yg sama.


"Iya ma, Derrel dan Risha akan berusaha keras, mama dan papa tenang saja, benarkan sayang?" Ucap Derrel sedikit gugup.


Derrel menoleh ke arah ku, dan disaat bersamaan aku juga melirik ke arah nya membuat tatapan kami terkunci beberapa saat. hingga aku yg memutuskan pandangan kami.


"Iya ma" lirih ku sambil menoleh pada mama dan papa secara bergantian di selingi senyuman tipis.


Cukup lama kami mengobrol bersama, sampai tak terasa hari sudah gelap. mama dan papa Derrel memutuskan untuk pulang ke mansion mereka.


***


Di dalam kamar.


Aku menjatuhkan diriku di atas kasur, seharian menemani mama dan papa membuatku merasa kelelahan. tapi juga bahagia bisa melihat senyuman mereka setidaknya bisa menghilangkan sedikit beban ku.


Suara kenop pintu kamar terbuka menampilkan Derrel yg baru saja datang.


satu tangannya memegang mawar merah dan satunya lagi mawar putih.


Keningku berkerut, untuk apa dia membawa mawar.


"Risha, aku minta maaf". lirih Derrel, dapat aku lihat ketulusan di matanya.


"Kamu hanya perlu memilih salah satu dari mawar ini, jika kamu mengambil mawar merah berarti kamu memaafkan ku, jika memilih yg putih aku akan menyetujui keputusan mu" Ucapnya dengan mata yg terus tertuju kepadaku.


Setelah 3 menit waktu untuk kU berfikir jernih atas keputusan apa yg aku ambil, Dengan susah payah membuang nafas, hingga beberapa detik aku menatap matanya, mata yg selalu candu bagiku, mata yg menyiratkan cinta yg tulus, dengan sedikit bergetar tangan kananku terulur untuk mengambil salah satu mawar yg berada ditangannya.


Sebelum akhirnya aku memantapkan hatiku, harus aku akui masih ada cinta untuk nya, dan sampai saat ini perasaan itu tidak berkurang sedikit pun. entah mengapa perasaan sayang ini lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yg ia buat.


Bodoh’ yah memang aku wanita yg paling bodoh.


Hingga suara deheman yg membuatku tersadar lalu kembali menatap nya dan aku mengambil mawar merah. Yah… aku memberikan kesempatan, kesempatan untuk kami bersama.


Disetik berikutnya derrel langsung memeluk ku dan akupun membalas pelukan itu. Merasa sudah cukup puas kami berpelukan. Tiba2 derrel menatap ku lalu tanpa aba-aba menciumku lembut sangat lembut hingga aku terhipnotis dan membalas ciuman itu.


Tapi mengapa saat ini, jantungku tidak berdetak hebat, padahal biasanya jika berhadapan dengan nya jantung ku selalu berdegup kencang. apa hanya perasaan ku saja... entah lah. aku segera menepis Fikiran itu.


Tiba tiba handphone Derrel berbunyi hingga membuat nya kegiatan kami terganggu.


"Sayang, aku angkat dulu telfonnya” pamitnya dan aku mengangguk kan kepalaku.


Saat ia memegang ponsel nya aku dapat melihat perubahan ekspresi wajah nya.


10 menit kemudian, derrel kembali duduk dengan memeluk ku dari belakang.


“Siapa yg menelponmu?” Tanyaku penasaran.


"Hanya klien" sahutnya. lalu menghujami ku ciuman di pipi dan jidat.


***


Pagi hari telah tiba, suara kicauan burung yg saling bertautan membangun kan ku. Pagi yg indah dengan matahari yg masih malu-malu menampakkan sinarnya.


”Good morning sayang” Ucap derrel lalu mengecup keningku.


“Good morning to suamiku” balasku sedikit menguap.


Kurenggakan otot tangan lalu bangkit dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk segerah bersih-bersih.


Setelah keluar mandi risha sedikit terkejut, dilihatnya derrel sudah rapih dengan setelan kemeja kantor dan wangi yg sangat risha suka i, diliriknya jam yg menunjukkan pukul 06:30


“Sepagi itu kamu berangkatnya?” Tanyaku sembari mendekat dan merapihkan dasi nya.


Ia tersenyum, senyum yg selalu aku rindukan bila jauh darinya. “Ada meeting pagi sayang, ini dri klien yg akan menanam saham di kantor, jika klien itu mau melakukan kerja sama dengan perusahaan maka kita akan berlibur ke swiss, dan papa akan sangat bangga kepadaku, maka dari itu aku harus mendapatkan nya jika tidak papa akan marah padaku” jelas derrel.


"Benarkah?, klo bgtu kamu harus semangat yah sayang” Ucapku bahagia, dan oiyah sayang Kamu pulang jam brp?" Tanyaku kembali sembari memeluk nya erat.


"Mungkin larut malam sayang. jangan menunggu ku tidur lah lebih dulu". sahutnya lalu mendaratkan satu kecupan lembut di keningku. tak lama setelah itu Derrel berpamitan dan segera mengambil kunci mobil yg berada di atas meja rias ku.


***


Terik matahari pagi yang menembus jendela membangunkan ku, rasanya masih enggan untuk bangun, tapi pagi ini harus menyiapkan sarapan pagi untuk suamiku. tanganku meraba-raba ke samping namun tidak ada orang disana. ternyata Derrel sudah lebih dulu bangun. Tumben bangun pagi biasanya aku yg membangun kan nya.


Aku berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


setelah selesai aku keluar menuju dapur untuk membuat sarapan pagi.


Pagi ini aku memutuskan memasak nasi goreng, ayam goreng dan telur ceplok setengah matang kesukaan kami berdua. yah... aku dan derrel memiliki selera yg sama. aku menyepol rambut ku, lalu mengambil celemek masak.


15 menit kemudian akhirnya menu sarapan pagi sudah matang, aku menatanya di atas piring. setelah itu membuat segelas susu hangat untuk minuman kami.


"Sayang, sarapan sudah jadi, ayo makan perut kU sudah sangat lapar” Ucapku sedikit berteriak, namun tak ada jawaban.


Kemana dia, cukup lama aku menunggu dimeja makan, tapi Derrel belum datang juga. akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di kolam renang, Krn biasanya jika ada waktu luang sebelum berangkat kerja derrel olahraga disana.


Namun aku tidak menemukan nya, dimana dia?


Apa jangan jangan diruang kerjanya yah... aku kembali naik ke lantai dua.


Tok..


Tok..


"Sayang, apa kamu didalam?". Pikiranku benar-benar tak tenang.


namun tidak ada jawaban, aku memutar kenop pintu.


Klekk...


Aku mengendarkan pandangan ku mencari nya, tapi Lagi lagi derrel tidak ada.


kembali aku menutup p


sebelum akhirnya aku turun kelantai dasar.


Tiba tiba langkah ku terhenti, apa jangan-jangan derrel tidak pulang dari semalam yah. Pikiran ku mendadak tidak enak.


Aku memutuskan menghubungi nya, aku kembali ke dalam kamar untuk mencari ponsel ku.


Aku mencari kontak bernama my husband, dan segera menekan tombol panggil.


Nomor yg anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan cobalah beberapa saat lagi.


Perasaanku benar-benar tidak enak sekarang, kemana sih dia. Akhirnya aku memutuskan untuk Menlfon mama dan papa, barangkali derrel menginap disana.


Di dering pertama belum terangkat, hingga dering se lanjutkan terdengar lah suara berat yg dapat kU kenali. “Haloo, ada apa risha?”Sapa papa.


“Pah, maaf mengganggu waktu papa, apa derrel semalam tidur di rumah papa?”


Papa: tidak nak, derrel beberapa hari ini tidak datang ke sini, apa risha baik-baik saja nak?”Papa malah balik bertanya tentang keadaanku.


Ini lah alasan nya mengapa saat ini aku masih bertahan pada Derrel, disamping aku sangat mencintai nya, juga kedua orang tuanya sangat menyanyangi ku, terlebih lagi papa. papa Derrel sudah menganggap ku seperti anaknya sendiri.


Bahkan hampir setiap hari papa dan mama menghubungi ku sekedar hanya ingin memastikan apa aku baik baik saja. sungguh terharu bukan..


Papa : risha apa kau baik-baik saja nak?” Ulang papa yg membuyarkan lamunan ku.


Risha : iya, pa risha baik-baik saja. Ya sudah pah risha cuman mau bilang itu dan yah pa sampaikan salam ku untuk mama yah, akhir pekan nanti risha akan berkunjung kerumah papa dan mama” Ucapku lalu papa pun mengiyakan ucapku lalu sambungan telepon berakhir.


Sambungan telepon pun berakhir, disaat bersamaan mendadak perasaan menjadi tidak enak. Rasanya aneh tidak seperti biasanya derrel tidak pulang ke rumah.


***


Setelah perjalanan 20 menit akupun tiba dikantor suamiku. Yah… aku memutuskan untuk datang ke kantornya krn bisa saja derrel yg terlalu sibuk mengejar proyek itu jadi dia kelelahan dan tertidur disana.


“Berfikir positif yah risha” Monolog ku ke diri sendiri. Hehhehe


Kini aku sudah berada di lobby perusahaan, beberapa karyawan yg melihat ku memberikan salam dan hormat.


"Selamat pagi ibu” sapa salah satu karyawan kantor suamiku.


"Pagi mbak, oyah mbak, mas Derrel nya adakan?” Tanyaku sembari tersenyum hangat.


karyawan wanita itu mengeryitkan alisnya, dan dapat aku lihat perubahan ekspresi pada wajah nya. "Hm, saya kurang tahu Bu, tapi tadi saya lihat pak Derrel sudah ada di ruangannya" Ucapnya.


Aku terdiam sejenak, hampir saja aku menuduh yg tidak-tidak tentang suamiku.


"Bu? " Panggil karyawan. Membuyarkan lamunan ku.


"Iya mbak, maaf yaudah saya keruangan bapak dulu yah” pamitku masih dengan senyuman yg tak pudar di wajahku.


"Iya Bu" ucap karyawan wanita itu sembari tersenyum ramah


Saat ini aku sudah berada di depan lift, aku menekan tombol masuk menuju ruangan suamiku.


Ting...


Pintu lift terbuka lebar, menampilkan sosok yg sedari tadi aku khawatir kan sedang asyik asyik nya b***n mesrah dengan wanita yg ternyata klien nya itu.


Aku menggeleng kan kepalaku kuat, mendongak menatap nya dengan mata yg berkaca-kaca.


Tidak percaya dengan apa yg kulihat saat ini.


Dan disaat itu juga derrel melihat ku, dengan raut wajah sangat terkejut. Lau ia mendorong wanita itu agar menjauh darinya.


Aku memundurkan langkah ku, dan air mata sialan ini ntah Knp sudah menetes tanpa aku sadari.


“Sayang ini tidak seperti yg kamu pikirkan” Ucapnya dengan menarik tanganku namun sebelum itu aku Sudah menipis tangannya. Sunggu aku tidak sudi disentuh oleh dia. Tanpa mengucapkan apapun aku meninggalkan pasangan menjijikkan tersebut. Namun,


Derrel mengejarku, tapi aku terus melangkahkan kaki ku, tidak, aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari mulut busuk nya.


***


Author kok sedih yah dipart ini, gimana nggak, soalnya hati istri mana yg tidak sakit sudah mencari cari keberadaan suaminya, takut terjadi apa-apa.. eh, malah bermesraan dengan wanita lain.. ckckck emosi bangettt deh author


Derrel Charleston.


Suami kayak gini, bagusnya di apain yah?..


sabar sabar Risha setelah ini badai pasti berlalu.


Jangan lupa like komen, dan votenya yah biar author semangat nulisnya.