
Aku sudah merias wajahku secantik mungkin, tentu aku melakukan nya agar saat suamiku pulang bekerja dia akan bahagia.
Pernikahan ku sudah terjalin 2 tahun lamanya, namun sampai detik ini kami belum juga diberi keturunan. bukan tanpa sebab namun Krn suamiku memiliki penyakit sehingga kami tidak pernah melakukan hubungan intim selayaknya sepasang suami istri diluaran sana.
Tapi aku menerima nya, aku mencintai nya sangat mencintai nya.
Selama 2 tahun aku sudah menjadi istri yg penurut dan sabar, Krn itu mama dan papa mertua ku menyukai ku.
suamiku juga sangat mencintai ku, dia selalu perhatian dan selalu membuat hariku berwarna. aku bahagia menjadi istrinya.
klakk ....
Aku menoleh ke arah pintu yg sedang dibuka, ternyata ada suamiku disana yg baru pulang bekerja.
Dapat aku lihat raut wajah nya terlihat sedih, tidak seperti biasanya setiap pulang bekerja pasti suamiku tersenyum saat aku menyambut nya.
dengan perasaan yg aneh Aku berjalan menghampiri nya. "Sayang kamu pasti lelah". ucapku lalu mengambil tas dan jas suamiku.
Suamiku hanya diam dengan ekspresi wajah sedihnya.
"Mau aku buatkan teh hangat sayang?". Tanya ku menawarkan.
Namun dia masih enggan untuk berbicara.
"Sayang?". Panggil ku lagi.
"Terimakasih Risha, tapi tidak usah". Sahutnya, lalu Ia kembali diam.
Aku membuang nafas ku sedikit kasar. "Sayang ada apa sebenarnya?, jangan membuat ku khawatir". Tanyaku lagi.
Derrel membalikkan badannya dan menatap lekat mataku .. yah.. Derrel Charleston dia adalah suamiku, pengusaha muda nan sukses, lelaki tampan dengan postur tubuh tinggi, warna mata kecoklatan dan warna kulit putih. semua teman2 ku mengatakan aku beruntung Krn bisa menikah dengan lelaki terkaya kedua di kota Xx.
terlihat jelas mata suamiku berkaca kaca.
Dapat aku lihat suamiku mengambil nafas lalu menghembuskan nya kasar, seperti nya masalah kali ini berat untuk nya, Krn baru kali ini aku melihat nya segelisah ini dan yah,, dia tidak seperti biasanya.
"Sayang, perusahaan ku sebentar lagi akan bangkrut". Ujarnya.
Seketika mataku terbelalak terkejut.
"Kok bisa?, padahal kemarin baik2 saja sayang". Tanyaku tak percaya.
"Ada penghianat dalam perusahaan ku, dia menjual sejumlah aset dan membocorkan rahasia perusahaan hingga kita rugi triliunan". Jelasnya sembari menundukkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin, apa semua karyawan mu tidak memeriksa nya, disana kan ada cctv. kamu pasti bisa mendapatkan orang itu". Ucapku sembari memegangi kepalaku yg tiba2 sedikit pusing.
Namun Derrel hanya diam, masih dengan ekspresi yg sama. hal itu tentu saja membuat ku frustasi. "Apa yg bisa kita lakukan?" Tanyaku lagi sembari memeluk tubuhnya.
Derrel menatapku namun tatapan nya kali ini terlihat aneh. "Sebenarnya akan ada yg membantu menyuntikkan dananya untuk perusahaan ku". lirihnya pelan.
Aku mengernyitkan dahi ku bingung, klo memang akan ada yg menyuntikkan dana kenapa dia bisa sesedih itu. toh tinggal suntikan saja dana itu maka semuanya akan kembali normal.
"Terus knp kamu sesedih ini?, kan tinggal terima saja sayang". Ucapku masih dengan menatap lekat matanya.
"Tapi dia menginginkan syarat". Sahutnya
"Syarat apa?, knp kamu tidak menyetujui nya" .aku kembali bertanya, kali ini sedikit mendesak.
Derrel memalingkan wajahnya. sungguh aku tidak mengerti sebenarnya apa yg terjadi.
mendadak perasaan ku tidak enak.
"Ada apa sebenarnya?, apa yg bisa aku lakukan untukmu?". Tanyaku kembali bertanya masih dengan mendesak nya.
Sontak Derrel mengangkat kepalanya lalu melihat ke arahku. "Apa kamu yakin ingin membantu ku?". Ia balik bertanya.
Aku mengangguk pelan.
Kembali Derrel menarik nafasnya lalu membuang nya kasar. "Baiklah, temani lelaki itu semalam maka perusahaan ku akan kembali normal". Ucapnya tanpa melihat ke arahku.
Demi apapun aku terkejut mendengar nya, jantung ku berdetak lebih kencang. hatiku perih seperti ditusuk sembilu. membuat sekujur tubuhku lemas dadaku sesak luar biasa.
"Jangan bercanda Derrel, ini tidak lucu sama sekali".
Ucapku sembari memegangi wajahnya agar menatap ku.
Tangan Derrel terulur untuk menggapai pundak ku dan menarik nya. namun dengan cepat aku menepis nya.
"Knp harus aku?, apa kamu tidak menyanyangi ku Derrel?". Tanyaku dengan bibir bergetar. kini air mataku sudah luruh membasahi wajah cantikku.
Tiba tiba derrel bersimpuh di hadapan ku.
Aku terkejut, benar benar tidak menyangka suamiku akan melakukan hal serendah ini. jika seorang lelaki bersimpuh di hadapan seorang wanita sama saja harga diri nya telah hilang. Benar bukan?
"Berdiri". Titah ku tanpa menoleh ke arahnya.
Namun Derrel masih diam mematung dengan posisi yg sama.
"Aku tidak akan melakukan hal serendah itu Derrel, ingat aku ini istri mu". Ucapku sedikit berteriak.
"Aku tahu Risha, tapi perusahaan ini lebih dari segalanya untuk ku kamu tahu bukan papa sudah susah payah membangun perusahaan itu hingga berkembang pesat". Ucapnya.
"Akhir akhir ini penyakit jantung papa sering kumat, bagaimana jika papa tahu klo perusahaan yg ia rintis dari nol itu dalam sekejap akan hancur". Sambung nya.
Terdengar suara Derrel serak seperti menahan tangisnya, tentu saja aku merasa iba dan sedih mendengar itu. belum lagi papa mertuaku sudah sangat susah payah membangun perusahaan itu dari nol apa harus bangkrut dalam sekejap, apa yg akan terjadi padanya jika lelaki paruh baya itu tau.
dan yah, papa Derrel sudah aku anggap seperti orangtuaku sendiri sedari dulu mereka sudah memberikan ku yg terbaik, aku berhutang Budi kepada mereka.
"Berdiri Derrel, dimana lelaki angkuh dan menomorsatukan harga dirinya, apa kamu serendah ini, ha?". Ucapku berteriak namun masih enggan untuk menatap nya.
"Tidak akan, biarlah aku rendah dihadapan mu". lirihnya pelan.
Oh Tuhan bagaimana mungkin aku mengorbankan harga diriku yg seharusnya aku berikan pada nya. Tapi jika aku tidak menyetujui nya aku takut jika papa tahu bisa bisa penyakit jantung nya kambuh lagi.. tidak.. tidak.. aku tidak akan membiarkan papa jatuh sakit.
"Bangun, jika kamu seperti itu aku tidak akan membantu mu". lirihku.
Sontak Derrel berdiri dan memeluk ku. namun aku tidak membalas pelukan nya. aku hanya diam mematung tanpa ekspresi apapun.
Derrel merenggangkan pelukannya lalu menatap lekat mataku. dapat aku lihat raut wajahnya berubah yg tadinya sangat sedih kini memancarkan kebahagiaan.
"Makasih sayang". Sahut nya lalu mencium keningku. aku hanya bisa pasrah atas apa yg ia lakukan. biarlah... toh setelah ini aku akan meminta pisah darinya.
"Baiklah sayang, skrng bersiap siaplah. lelaki itu sudah menunggumu". Ujarnya kembali Raut wajah nya terlihat sedih.
Tanpa berlama lama aku berlalu meninggalkan nya, berjalan menuju kamar mandi.
Aku memilih memakai dress tanpa lengan sampai lutut dan berwarna putih, ku padukan dengan sepatu hak tinggi dan merias wajah ku senatural mungkin.
aku memandangi pantulan wajahku di cermin, aku berusaha tegar agar tidak menangis, namun tetap saja setetes air mata lolos dari pelupuk mataku.
Kini aku berjalan ingin mengambil ponselku, namun ekor mataku tak sengaja mendapati Derrel tengah senyum senyum sendiri menghadap layar ponselnya. Entah apa yg membuat nya tersenyum seperti itu. tapi aku tak peduli lagi.
"Honey you are so beautiful". Pujinya Ia pun bangkit dan berjalan menghampiri ku.
Aku membalasnya dengan senyuman sinis. sungguh hatiku sakit.
"Ayo sayang, nanti kita terlambat ". Ujar nya sambil memegangi tanganku namun segera aku tepis.
"Knp"?. Tanyanya menoleh ke arahku.
"Tidak apa apa". Jawabku sembari tersenyum tipis.
Derrel menggenggam tanganku sampai di depan mobil. dia membukakan pintu mobil untuk ku, benar2 suami yg romantis... jika seseorang melihat kami mungkin mereka mengira kami akan pergi berkencan romantis.
padahal kenyataannya suamiku mengantarku ketempat lelaki lain untuk menukarkan diriku dengan uang. miris bukan....
Derrel mengendarai mobilnya mengantar ku ketempat lelaki itu berada. 15 menit kemudian kami sudah sampai di sebuah apartemen mewah The Langham Resindence yg berada di pusat kota X.
Benar2 apartemen yg megah, dengan desain berwarna emas kecoklatan ditambah dengan interior yg menyegarkan mata.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen nya.