
Setelah selesai mandi aku melangkah keluar, dan ternyata Jimmy masih terlelap dalam tidurnya.
Aku mengambil tas ku dan merogoh nya untuk mengambil ponselku. setelah ku hidupkan ternyata banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari mama mertuaku dan Derrel.
Ada apa lagi dia mencari ku, apa dia akan kembali meminta maaf dan menjelaskan nya semua lalu bersujud di hadapan ku agar aku bisa memaafkan nya lagi.. Ha'...tidak akan.
Aku sudah muak dengan sikapnya, aku ingin pergi jauh jauh darinya. sudah cukup 2tahun menjalin rumah tangga bersama pria pembohong seperti nya.
Tiba tiba ponselku bergetar, menampilkan panggilan dari mama Derrel. sedikit rasa bersalah menyerangku namun jika Derrel tidak berkhianat mungkin aku tidak melakukan hal ini.
Aku menekan tombol angkat lalu mendekatkan ponsel ke telinga ku.
"Halo.. mama". Ucapku
"Halo..,Risha kamu dimana?". Tanya mama
Pertanyaan mama membuat ku bungkam, sejenak aku mencari alasan yg tepat untuk menjawabnya.
"Risha, semalam nginap dirumah Melinda ma,". Jawab ku.
Maafkan aku tuhan sudah membohongi mama. Ucapku membantin
"oiyah nak, kamu pulang jam brp?" mama bertanya lagi.
"Hmph.. Risha belum tahu ma". Jawabku.
"Tapi kamu sudah izin kan sama suami mu?". pertanyaan mama sontak membuat ku terkejut. sejenak aku terdiam, entah apa yg harus aku katakan. aku takut, sungguh takut.. aku menarik nafas lalu membuang nya sedikit kasar sebelum akhirnya aku kembali menempelkan benda pipi itu ke telinga ku.
"Iya sudah ma, tadi malam Risha sudah izin sama Derrel". Sahutku...
"Baiklah nak, mama cuman ingin bilang klo mama dan papa akan ke luar negeri untuk perjalanan bisnis". Jelas mama.
"Mama dan papa hati2 yah". Ucapku.
"Iya sayang, kamu juga jaga diri baik baik, mama berharap setelah pulang nanti kamu sudah mengandung cucu mama.". Ujar mama.
Uhuk.. uhuk.. Ucapan mama membuat ku tersedak Saliva ku sendiri...
"Risha, apa kamu baik baik saja nak?". tanya mama khawatir.
"i..iya mama, Risha baik baik saja". jawabku.
Bagaimana ini apa yg harus aku lakukan, aku sudah tidak ingin kembali kerumah itu. Aku benar benar frustasi.
"Baiklah sayang, mama matikan dulu telfonya. ingat yah pesan mama". ucapnya lagi.
"Iya mama".
Akhirnya aku bisa bernafas lega.
.
.
.
Jimmy tengah menatap layar laptopnya, saking seriusnya Ia bahkan tidak sadar jika sudah melewati jam makan siang.
Baginya itu tidak terlalu penting Krn semenjak putus dari kekasihnya Jimmy tidak lagi memperhatikan dirinya.
Hingga suara langkah kaki ku membuyarkan konsentrasi nya. Dan Ia pun mendongak menatap ku.
"Hm, kamu belum makan dari tadi, dibawah sudah ada makanan". Ucap ku gugup.
"Kamu bisa masak?". Tanyanya.
Pertanyaan apa itu, Ya iyalah aku bisa masak emangnya selama menjadi istri Derrel apa yg tidak bisa aku lakukan. Umpat ku kesal.
"Hei, nona". Panggil Jimmy membuat lamunan ku buyar.
"Eh i iya". Ucapku berusaha menyembunyikan kekesalan ku.
Tiba tiba Jimmy bangkit dari posisinya dan berjalan ke arahku dengan tatapan mata memancarkan aura panas. hal itu tentu saja membuat jantung ku berdegup kencang.
"Mau apa dia". Ucapku dalam hati.
Sedikit rasa was-was menghampiri ku, aku sangat takut jika Jimmy akan melakukan nya lagi. sungguh pria itu tidak pernah lelah sampai aku dibuat kewalahan menghadapi permainan nya.
Jimmy terkekeh membuat ku menatap nya bingung.
"Hei nona apa yg sedang kamu fikirkan?". Tanya nya sembari berjalan meninggalkan ku.
"Sialan, memalukan Sekali". Gumam ku kesal dan ikut berjalan menuju dapur.
Selama makan siang kami berdua hanya diam, hanya ada suara sendok dan garpu yg saling beradu. sesekali aku melirik ke arahnya. Astaga, pria itu tampan sekali dan disaat makan pun Ia masih terlihat tampan..
Gila, apa yg aku fikirkan.. ingat Risha kamu masih menjadi istri Derrel.
"Sampai kapan kamu akan menatap ku?".Tanya Jimmy reflek lamunan ku buyar dan memalingkan wajahku ke sembarang arah.
"Memalukan, sungguh memalukan.. agghhhh". Ucapku dalam hati.
Jimmy pun menyudahi makan nya dan berjalan menuju kamar nya. dan saat itu juga aku bisa bernafas lega.
Setelah selesai membersihkan peralatan masak, akupun bergegas menuju ke kamar Jimmy. ingin membahas mengenai masalah ku ini. aku sudah tidak sabar pisah dari Derrel.
Tok!Tok!Tok!
"Masuk". Titah Jimmy dari balik pintu itu.
Klak..
Aku tersenyum kikuk saat Jimmy menatap ke arahku, jelas saja Aku masih malu perihal kejadian tadi tapi demi terbebas dari Derrel apapun itu akan aku lakukan. toh, biarlah menjadi jalang hanya untuk pria ini seorang.
"Hm, Tuan mengenai masalah ku". Ucapku sembari berdiri layaknya sedang menunggu diberikan uang saku dari papa, haha..
Jimmy menghentikan aktivitas nya dan mendongak menatap ku. tatapan nya membuat jantungku berdetak kencang apalagi melihat ekspresi nya yg tak terbaca itu.
"Duduk". Titahnya sembari menepuk kursi yg berada di sampingnya dan akupun bergegas duduk.
Lama kami berdiam Krn semenjak dia menyuruh ku duduk disampingnya, Pria menyebalkan itu malah melanjutkan aktivitas nya dan yah,, menghiraukan ku membuat ku ingin menjambak rambutnya.
"Hm". Aku berdehem berusaha membuat Jimmy tersadar dari kesibukan nya itu.
Dan ternyata benar, Ia kembali menghentikan aktivitas nya dan menoleh ke arahku. dan setelah itu Ia berjalan menuju lemari.
Aku mengernyitkan dahi ku bingung, apa apaan pria itu, apa dia ingin pergi sekarang. semalam dia berkata akan membahas nya besok.. uh, menyebalkan.. umpat ku kesal.
Jimmy berjalan menghampiri ku membawa sebuah paper bag berwarna putih.
"Pakai ini, kamu akan tinggal disini untuk melayani saya, jika saya ingin melakukan itu". Sahutnya membuat ku sedikit terkejut.
"Apa ini?". Tanyaku namun Jimmy malah berjalan menuju kamar mandi.
"Pakai itu untuk tidur nanti". Ucapnya sembari membuka kenop pintu kamar mandi.
Aku pun membuka paper bag itu, dan disaat itu juga aku terkejut.
Piyama?, mengapa pria itu memberikan ku piyama. aku pun kembali melihat piyama itu memang tidak ada yg salah. hanya saja bahannya sangat tipis, dan aku sangat yakin piyama ini pasti tembus pandang.
Beberapa menit kemudian.
Klak.
Pintu kamar mandi terbuka sontaj aku mendongak menatap ke arah Jimmy hingga pandangan kami bertemu.
Cukup lama kami saling berpandangan hingga suara deringan ponsel milik ku memutuskan pandangan kami.
Setelah Jimmy selesai dengan kesibukan nya, Ia pun berjalan menghampiri ku dan,
Deg.. jantung ku kembali berdetak kencang apalagi saat melihat bentuk tubuhnya yg sangat menggoda itu.. Akhh,
"Hey nona, mandilah sebelum saya yg akan memandikan kamu".
Tanpa aba aba aku pun segera bangkit, walaupun jalan ku sedikit oleng. hal itu tentu tak lepas dari penglihatan pria itu.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen biar author semangat nulisnya 🙏.