
Aku masih diam mematung tidak tau lagi apakah harus masuk untuk melihat kenyataan itu atau tetap berdiri Disni seperti orang bodoh.
Aku mengumpulkan kan tenagaku, dan melangkah masuk sampai di depan resepsionis hotel tubuhku kembali bergetar, aku tidak bisa menerima kenyataan jika benar yg didalam itu Derrel dan klien perempuan tadi.
Resepsionis hotel itu menyapaku." selamat sore mbak ada yg bisa saya bantu? sapa nya sopan.
"Iya mbak saya ingin bertanya apa kah ada tamu hotel dengan nama Derrel Fredy?" tanyaku setenang mungkin.
"Maaf mbak, anda siapa yah? tanya resepsionis hotel.
"Saya istrinya" jawabku.
Dapat aku lihat perubahan ekspresi wajah resepsionis hotel itu. yg tadinya biasa saja kini terlihat gelisah. aku bisa menebak jika wanita dihadapan ku ini takut, dia takut jika aku melabrak langsung Derrel dengan wanita lain. bisa bisa saja dia terancam dan dipecat.
"Maaf bu, saya tidak tahu klo ibu istrinya pak Derrel, tapi maaf saat ini beliau sedang tidak ada di kamarnya". ucap resepsionis wanita itu.
"Benarkah?, tapi baru saja suamiku menelfon ku untuk datang kemari". lirihku tentunya berbohong.
"Ta.. tapi bu..". belum sempat dia melanjutkan ucapannya aku sudah berbicara terlebih dahulu.
"Mbak, jangan bohong padaku, aku tahu suamiku ada di dalam. aku tahu kamu takut dipecat, tapi percayalah padaku tidak akan ada yg berani memecat mu.". ucapku.
Resepsionis wanita itu diam
Aku menggapai tangannya lalu menatap nya, resepsionis wanita itupun balik menatap ku sebelum akhirnya dia menyunggingkan senyuman.
Biarlah jika harus di pecat, setidaknya aku sudah berbuat baik. gumam resepsionis wanita itu.
"Baiklah Bu, pak Derrel berada di kamar no 40 lantai 8, ini access card cadangan kamar beliau". ucap wanita itu dan memberiku access card milik Derrel.
"Makasih mbak, aku janji tidak akan ada yg berani memecat mu, mbak tenang saja". sahutku
B**agaiman mungkin pak Derrel berselingkuh dari istrinya, padahal istrinya itu sangat cantik, baik lagi. semoga kelak pak Derrel menyesal membuang berlian demi batu krikil. gumam mbak resepsionis..
Ting..
pintu lift terbuka aku segera masuk dan menekan angka 8.
Ting..
Kembali pintu lift terbuka, akupun melangkah kan kaki ku keluar. dan akhirnya dekat dengan pintu lift angka 40 tertera di sana, itu dia kamar milik Derrel.
Aku menguatkan hatiku, sebelum akhirnya kubuka pintu itu dengan access card yg mbak resepsionis berikan tadi.
Klakk...
Pintu terbuka lebar aku melihat suamiku dan wanita yg ia bilang tadi hanya rekan kerja nya saja. mereka tengah asyik bercinta.
Mataku terbelalak terkejut, Tubuh'ku bergetar hebat, aku tidak percaya dengan apa yg aku lihat di hadapan ku saat ini. tidak mungkin, ini semua hanya mimpi.
Tanpa aku sadari air mataku sudah mengalir sangat deras membasahi wajah ku.
bersamaan dengan itu Derrel menoleh ke arah pintu, betapa terkejutnya saat ia melihat ku.
"Ris..Risha". lirih nya dengan wajah yg terlihat pucat.
Sedangkan wanita j***g itu langsung menutupi badan nya dengan selimut, ia bersembunyi dibalik selimut itu
Derrel kelimpungan memunguti pakaiannya lalu memakainya secara asal dan berlari menghampiri ku.
Bersamaan dengan itu aku pun berlari meninggalkan nya.
Aku seperti kehilangan arah, berjalan tanpa hentinya. dan tibalah di lobby hotel aku kembali berlari keluar tanpa memperdulikan orang orang yg menatap ku, kebingungan.
Sudah cukup aku menjalani rumah tangga inu, aku benar benar tidak menyangka jika selama ini Derrel membohongi ku, dia tidak pernah memiliki kelainan. bodoh, bodoh, aku sungguh bodoh.. aku menggerutuki kebodohan ku.
"Risha, berhenti". teriak seseorang yg suaranya tak asing lagi ditelinga ku. aku menghentikan langkahku tanpa menoleh ke arah nya.
pria ******** itu ternyata mengejar ku, hebat sangat hebat..
Derrel terkejut melihat wajahku yg berantakan. ia melangkah kan kakinya akan menghampiri ku.
"Jangan mendekat". titah ku berteriak
"Barusan kamu ngomong apa Derrel?, kamu bilang klo tadi tidak seperti yg aku lihat.. jadi maksudnya gimana ha?. wah.. aku tidak menyangka jika suamiku yg selama ini memiliki kelainan ternyata bisa b***a dengan wanita lain. oh.. apa jangan jangan penyakit mu itu mendadak sembuh jika berhubungan dengan wanita lain. hmm sungguh luar biasa yah sayang". ucapku diselingi senyuman mengejek.
Aku menangis, napas ku memburu.
Derrel tetap diam, dia membeku ditempat.
"Kita selesai Derrel". sarkas ku tajam
Sudah cukup selama ini aku dijadikan mainan olehnya.
Derrel menggeleng. "Gak, aku ngga mau pisah dari mu". ucapnya dan aku menangis. Lihatlah Derrel tidak ingin kami selesai tapi dia menyakitiku. "Sampai kapan pun!". Sentaknya.
Kali ini aku menggeleng kuat, aku menatap nya dengan air mata yg mengalir. "Aku ngga mau, sudah cukup selama ini aku jadi wanita bodoh". teriakku didepan wajahnya.
Perlahan aku memundurkan langkahku bersamaan dengan membuka cincin yg melingkar di jari manis ku. setelah itu melemparnya ke hadapan Derrel.
"Terimakasih Derrel, selama 2 tahun ini kamu sudah menempati hatiku, terimakasih selama ini kamu sudah menjadi suami yg baik, selalu ada untuk ku, aku harap setelah ini kita tidak akan bertemu lagi". ucapku, aku menyekah air mataku lalu berlalu meninggalkan dia.
.....
Aku berjalan menyusuri jalanan mencari taksi untuk segera pulang kerumah, dengan hati yg hancur berkeping keping.
Hingga akhirnya sebuah taksi menghampiri ku, dengan cepat aku masuk kedalam. kini aku enggan untuk menangis lagi, air mataku sudah kering cukup sudah ku habiskan hanya Krn lelaki bejat itu.
Diperjalanan aku mencari ponsel ku, dan baru aku sadari ternyata ponselku sudah rusak yg tersisa cuman card nya saja.
Setelah sampai di rumah, aku segera berlari menuju kamar, dan melempar semua barang barang ku hingga pecahan vas bunga melukai tanganku dan mengeluarkan darah segar yg cukup banyak.
Aku tertunduk lemas di samping nakas, air mata sialan ini tanpa permisi mengalir dengan deras.
Ucapan wanita itu terus terngiang ngiang di kepalaku..
Cukup lama aku berdiam diri, meyakinkan hatiku, klo aku harus pergi dari sini.
tiba tiba bayangan pria itu muncul di kepalaku.
Dengan cepat aku berdiri untuk mencari ponsel lamaku yg seperti nya ada didalam lemari.
Aku mencari carger lalu mengisi daya baterai ponselku itu, beberapa menit kemudian aku memasukan card ku lalu menghidupkan ponselku. tujuan utamaku mencari nomor pria yg tempo hari mengirim ku sebuah pesan.
Dengan tangan gemetar aku mencoba menghubungi nomor pria itu.
Terdengar tiga kali nada sambung sebelum akhirnya terdengar suara berat dari seorang pria diseberang sana.
Mataku berkedut, dengan bibir yg gemetar aku mengatakan "Apa kamu masih menginginkan ku?".
"Datanglah malam ini". Ucapnya, lalu mematikan sambungan telepon nya.
apa yg aku lakukan saat ini, ingin balas dendam ?
Aku berjalan menuju cermin dan membuka satu persatu pakaian ku, melihat lekuk tubuh ku yg indah aku tersenyum tipis. Derrel telah menyerahkan kan ku kepada pria lain dan aku menikmati nya.
Baiklah, aku akan melakukan nya lagi.
Malam pun datang aku menoleh melihat jam di dinding yg sudah menunjukkan pukul 18 lewat 10. aku masuk kedalam kamar mandi dan merendam diriku didalam bathub.
Setelah selesai dengan ritual mandi ku, kaki ku mengayun keluar, aku membuka lemari mencari mini dress yg akan ku gunakan.
Kembali aku menatap diriku dipantulan kaca, memastikan apa ada yg kurang dari diriku, dan ternyata tidak, aku cantik bahkan lebih cantik dari kekasih Derrel.. astaga, apa yg aku fikirkan..
.....