My Journey In Naruto World

My Journey In Naruto World
Chapter 3 : Malam yang panjang



Sasaki membuka matanya, ' Ada di mana ini? ', Dia saat ini sedang berada di sebuah ruangan yang terlihat cukup rapih, dan dari dekorasi dan barang-barang yang ada di kamar itu Sasaki menebak kalau kamar ini milik seorang perempuan.


" Aaaaghhh " Teriak Sasaki, dia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang luar biasa di kepalanya, rasanya seperti otak miliknya ingin pecah.


Tapi di saat yang bersamaan dia mulai mendengar suara-suara aneh di benaknya.


'Heaven....destiny....heaven....destiny....heaven....destiny' Dia terus-terusan mendengar suara bisikan meskipun tidak ada orang disekitarnya


Setelah itu rasa sakit di kepala Sasaki berkurang secara berangsur-angsur, membuatnya bisa berpikir lebih jernih.


" Tadi apa yang dia katakan? " Gumam Sasaki pelan lalu menggaruk-garuk kepalanya yang masih terasa sedikit sakit.


Kleek....


Pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis kecil berambut pink yang sedang memegang sebuah wadah kecil yang berisi air hangat.


" Kau sudah baikan?, kemarin kulihat kau tiba-tiba pingsan di tengah jalan " Tanya perempuan berambut pink yang memperkenalkan dirinya sebagai sakura haruno, Sakura saat ini sedang duduk di samping Sasaki.


" Mmn " Sasaki menjawab dengan singkat sambil mengangguk pelan, " Terimakasih sudah menolongku " Ucap Sasaki lalu memberikan beberapa keping perak yang bernilai 20 Ryo.


Sasaki berdiri lalu tersenyum kepada Sakura, membuat sakura salah tingkah, " T-tidak apa, lagipula kita harus saling tolong menolong " Ucap sakura dengan terbata-bata.


Mendengar itu Sasaki mengerutkan dahinya, ' Saling tolong menolong apanya? ' Pikir Sasaki lalu membuka jendela kamar sakura.


Sakura yang melihatnya kebingungan, " Kau mau ngapain? " Tanyanya lalu berdiri di belakang Sasaki.


Tiba-tiba Sasaki melompat ke luar jendela, " Sampai jumpa! " Teriak Sasaki lalu melompat di antara atap-atap rumah.


Sakura yang melihat itu hanya bisa terpesona dengan ketampanan Sasaki, di dalam hatinya dia menyesal tidak menanyakan nama Sasaki sebelum dia pergi.


Sementara itu Sasaki sendiri sedang bingung ingin langsung kembali ke rumahnya atau belum, masalahnya bulan masih menunjukkan dirinya di atas langit malam, menandakan waktu masih tengah malam.


Sasaki memutuskan untuk menunggu matahari terbit dulu baru kembali ke rumahnya untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.


Ditambah lagi besok pagi dia harus pergi ke akademi pada pagi hari dan tidak boleh telat, entah kenapa kemarin pengawas ujiannya bilang begitu.


Tak berselang lama dia sudah berada di gunung belakang kantor hokage, di sana dia duduk di atas patung hokage kedua sambil menatap pemandangan malam Konoha yang indah.


Sesekali dia menghela nafas panjang, menghirup udara dingin malam yang terasa menyejukkan.


" Jika besok ada perkenalan dan aku harus mengatakan apa jalan ninjaku....entahlah " Sasaki menepis pikiran tentang jalan ninjanya, dia sendiri masih belum menemukan apa yang disebut sebagai jalan ninja itu, karena baginya prioritas utama saat ini adalah bersantai dan berlatih.


Tanpa dia sadari dari jauh ada seseorang yang sedang mantapnya dengan dalam, orang itu bersembunyi di balik pepohonan lebat yang berada jauh di dalam hutan, dia mengenakan pakaian aneh dan topeng berwarna merah darah.


" Tuan Hokage bilang kalau dia harus dilindungi karena merupakan aset penting " Gumam orang yang sedang mengawasi Sasaki dari balik topeng darahnya.


Sementara itu Sasaki masih tidak menyadari kalau dia sedang dibuntuti memutuskan untuk tiduran sambil menghitung bintang di langit.


" Sudah pagi ya?, saatnya pulang " Sasaki bangun dari tidurnya lalu meregangkan badannya.


Setelah selesai meregangkan badannya Sasaki langsung bergegas pergi ke rumahnya dengan kecepatan penuh, dia hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di rumahnya menggunakan wind steps.


Dia langsung membersihkan dirinya lalu mengenakan pakaian yang biasa dia pakai, sebuah kimono hitam dan celana kain berwarna hitam.


" Yah, kurasa ini sudah cukup " Ucap Sasaki sambil memutar-mutar badannya seperti penari balet.


Sasaki segera pergi ke akademi, bagaimanapun ini adalah hari pertamanya di akademi, jadi dirinya tak boleh terlambat.


Dan kebetulan di sepanjang perjalanannya, Sasaki mendengar orang-orang yang membicarakan tentang pembantaian Klan Uchiha yang terjadi tadi malam, rumornya ternyata menyebar lebih cepat dari yang Sasaki kira.


Tiba-tiba Sasaki terpikirkan tentang kurama yang mendiami tubuhnya, entah kenapa kurama yang berada di dalam tubuhnya ini terasa sangat tenang dan tidak buas seperti milik Naruto atau Jinchuuriki sebelum-sebelumnya.


" Aku tidak tau ini hal yang baik atau tidak " Gumam Sasaki pelan sambil terus melangkah menuju akademi.


Tak lama kemudian Sasaki tiba di akademi, di depannya sudah ada kerumunan orang mulai dari yang tua sampai muda, mereka semua hari ini berkumpul untuk menjalani hari pertama di akademi dan ada juga orang tua yang menemani anak-anaknya.


Dan di antara lautan orang itu terlihat seorang anak berambut pirang yang sedang duduk sendirian di ayunan, ekspresi wajahnya juga tak terlihat bagus.


' Naruto...jadi kau tidak berubah sama sekali ' Pikir Sasaki sambil menatap Naruto dengan dalam, bagaimanapun dia sudah mengikuti serial Naruto dari kecil sampai dewasa dan sudah sangat mengenal Naruto.


" Untuk para calon ninja dipersilahkan untuk masuk sesuai kelas yang sudah dicantumkan di papan pengumuman yang ada di depan sini " Teriak salah satu Chunin yang sempat menjadi pengawas ujian Sasaki.


Seketika para anak-anak berhamburan ke depan untuk mengetahui mereka ada di kelas mana.


Sasaki sendiri tidak mengetahui kelasnya jadi dia memutuskan untuk mengikuti arus, dia membaca dari kelas d sampai kelas a dan mendapati namanya ada di Kelas A.


Sasaki tersenyum tipis melihat itu, ' Semuanya sudah sesuai rencanaku ' Batinnya lalu membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu masuk akademi.


Saat tengah berjalan tatapannya tak sengaja bertemu dengan seorang pria berambut hitam acak-acakan, dan pria itu juga balik menatap Sasaki.


Dalam waktu yang singkat itu Sasaki bisa merasakan kalau mereka adalah 'orang' yang sama, begitupun dengan pria itu, dia merasa kalau Sasaki bukanlah seseorang yang sederhana.


Setelah itu mereka saling melewati, entah kenapa Sasaki merasa sedikit antusias dengan hal ini, ' Sepertinya akan ada hal yang menarik ' Batinnya sambil berjalan ke pintu kelas A-1.


" Inikah kelasku? " Gumamnya pelan sambil menatap papan nama yang tergantung di samping pintu, di papan nama itu tertulis A-1.


.


.


.


To be continued...