My Journey In Naruto World

My Journey In Naruto World
Chapter 2 : Sasaki Uzumaki ( Fixed )



Pada tahun-tahun awal reinkarnasinya Sasaki lewati dengan cukup mudah, dia setiap hari hanya membaca buku, berlatih, makan, dan tidur, tak ada kegiatan selain itu yang dia lakukan.


Ditambah lagi dengan uang bulanan yang diberikan oleh hiruzen cukup banyak, membuatnya tak perlu mencari uang dengan susah payah.


Sedangkan Naruto?, entahlah dia sudah dimana karena sejak kematian kedua orang tua mereka Naruto dengannya sudah dipisahkan, Sasaki tinggal di pinggiran desa Konoha yang dekat dengan kediaman Klan Uchiha dan Naruto tinggal di dekat pusat Desa.


Berbeda dengan anak seusianya yang biasanya aktif dan suka bermain, Sasaki lebih sering menghabiskan waktunya untuk melakukan hal-hal yang menurutnya berguna, seperti makan, tidur, berlatih dll, ditambah dengan fakta kalau ditubuhnya disegel seorang monster membuat anak-anak disekitarnya takut dengannya.


Tapi Sasaki tidak terlalu memperdulikannya, dia berpikir, ' Untuk apa aku menghabiskan waktuku untuk melakukan hal merepotkan seperti itu, lagipula aku sudah dibiayai hidupnya '.


Tapi semua pikirannya itu terbantah saat dia menginjak usia 7 tahun, dia dipaksa masuk akademi ninja oleh hiruzen dan kalau dia menolaknya maka uang bulanannya akan ditahan.


Dan pada hari ini Sasaki akan mengikuti ujian menjadi calon ninja.


Dengan malas dia berjalan ke arah kerumunan orang yang sedang mengantri, sesekali dia menguap dan menghela nafas karena saking lamanya mengantri.


" Uzumaki Sasaki, sekarang giliranmu! " Kata salah satu pengawas dengan lantang, setelah itu Sasaki memasuki ruangan ujiannya.


Ada sekitar 3 orang yang sedang duduk dan mereka semua adalah seorang Chunin atau Ninja Senior.


”Tunjukkan ada berapa lingkaran chakra milikmu?” Tanya salah satu dari 3 pengawas sambil menatap Sasaki.


Sasaki mengangguk malas lalu mulai mengalirkan Chakra ke sebuah alat yang berfungsi untuk mendeteksi seberapa banyak lingkaran chakra yang dimiliki oleh seorang Ninja.


Nguung...nguung..nguung..nguung...nguung.


Terdengar suara dengungan yang sangat khas dari alat itu selama 5 kali, dan ada tulisan 5 di atas alat yang mirip jam tangan itu menandakan jumlah lingkaran chakra milik Sasaki adalah 5 lingkaran.


’Anak ini adalah seorang jenius!’


’Di umur yang sangat muda dia berhasil membangun 5 lingkaran chakra, dia adalah harapan Desa Konoha’


’Hal ini harus kulaporkan kepada hokage’


Para pengawas memiliki pemikirannya masing-masing saat melihat kejeniusan Sasak, mereka tak menyangka bisa menemukan seseorang yang bahkan lebih jenius dari sang hokage kedua, bahkan seorang hokage kedua saat seumuran dengan Sasaki hanya bisa membuat 3 lingkaran chakra.


Hal itu membuat mereka semua terdiam dan terjatuh dalam lamunan, membuat ruangan menjadi hening.


" Sudah? " Tanya Sasaki dengan malas lalu melepaskan alat itu dari tangannya.


Mendengar perkataan Sasaki membuat mereka semua tersadar dari lamunannya.


”Sudah, kau bahkan melebihi ekspektasi kami” Kata salah satu pengawas dengan ramah lalu menyuruh Sasaki untuk melakukan tes terakhir, yaitu tes menggunakan kemampuan cloning.


Sasaki berdiri dengan posisi kaki sejajar dengan bahu lalu mulai melakukan segel tangan dengan kecepatan yang sangat cepat.


Dalam hitungan detik sudah muncul sosok Sasaki di sebelah Sasaki yang asli, tapi meskipun begitu cloning milik Sasaki tak bisa bergerak.


Para pengawas mulai memberikan penilaian lalu memutuskan untuk menempatkan Sasaki di Kelas A, Kelas para jenius.


Setelah itu Sasaki dipersilahkan untuk keluar dari ruangan ujian dan dia langsung bergegas pulang ke rumah, bagaimanapun dia masih butuh istirahat setelah tidak tidur selama 2 hari lamanya.


Hal yang membuat Sasaki tidak tidur adalah karena dia membuat sebuah jurus baru, jurus yang bisa membuat tubuhnya menjadi lebih ringan dan bahkan jika sudah pada tingkat tertingginya dia bisa bergerak secepat angin.


”Aku sangat menyukai ini!” Teriak Sasaki dengan gembira di tengah hutan yang lebat, dia sedang melompat di antara pepohonan.


Setelah beberapa saat akhirnya rumah miliknya sudah terlihat, rumahnya berada dekat dengan hutan karena dirinya memang menyukai ketenangan, mungkin kalau dirinya tinggal di pusat Desa Konoha dia bisa gila karena di sana terlalu berisik.


" Akhirnya sampai juga, jika saja ba*ingan tua itu tidak menyuruhku aneh-aneh seperti ini pasti aku bisa lebih serius berlatih " Keluh Sasaki lalu merebahkan tubuhnya di kasur.


Dia memikirkan rencana untuk kedepannya, entah kenapa dia merasa kalau Dunia Naruto ini tidak sesederhana yang ia pikirkan, tadi saja dia menemukan sebuah alat yang seharusnya tidak ada di manga maupun anime Naruto.


Tanpa disadari matahari sudah terbenam dan bulan menampakkan dirinya dengan jelas malam ini, Sasaki merasa akan terjadi sesuatu yang besar saat ini tapi dia tidak bisa mengingatnya, jadi akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan setelah tidur beberapa saat.


Baru saja ia berjalan keluar dari rumahnya, bulan yang tadinya berwarna silver berubah menjadi merah darah seperti sharinggan.


" Tunggu dulu, sepertinya aku mengingat ini " Gumam Sasaki, dia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi pada saat bulan berubah menjadi merah darah, dan seingatnya hanya ada 2 kejadian di manga dan animenya.


Yang pertama adalah kejadian dimana Madara ingin mengaktifkan mugen tsukoyomi dan Klan Uchiha dibantai oleh Itachi.


’Kalau yang pertama itu akan terjadi jauh di masa depan, jadi yang memungkinkan sekarang adalah pembantaian Klan Uchiha’ Batin Sasaki sambil melompat di antara pepohonan di malam hari.


Dia cepat-cepat pergi ke kediaman Klan Uchiha dan langsung melihat pemandangan mayat-mayat orang, tapi di antara banyaknya mayat-mayat itu terlihat seorang anak kecil yang sedang berlarian di jalan.


’Itu Sasuke!’ Sasaki ingin mengejar anak kecil yang ia duga sebagai Sasuke itu tapi dia tidak bisa bertindak gegabah sekarang, kekuatannya saat ini sangatlah lemah dan bisa saja terbunuh.


Akhirnya dia memutuskan untuk kembali, tapi bukan ke rumahnya melainkan ke toko ramen yang sering dikunjungi oleh Naruto.


’Aku bukanlah orang gila yang akan berdiam diri di tempat yang berbahaya’ Pikir Sasaki sambil menyeruput mie, dia tetap makan dengan lahap meskipun sudah melihat sebuah pembantaian yang sangat mengerikan.


" Terimakasih atas hidangannya " Ucap Sasaki dengan sopan lalu memberikan beberapa keping perak yang setara dengan 50 Ryu.


Setelah keluar dari kedai makan itu Sasaki kebingungan mau ke mana, masalahnya sekarang kondisinya tidak memungkinkan untuk kembali ke rumahnya, satu-satunya yang ia pikirkan sekarang adalah mencari tempat untuk beristirahat sementara.


Mata miliknya juga semakin terasa berat karena rasa kantuk, dia tadi hanya sempat beristirahat sejenak jadi tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya.


Dia terus berjalan sampai tak sengaja menabrak seorang gadis yang sepertinya seusia dengan dirinya.


Sasaki tidak mempedulikan itu dan terus berjalan, prioritasnya saat ini adalah beristirahat di tempat yang aman karena saat ini rasa kantuk mulai menguasai tubuhnya.


”Hey kau berhenti!” Tiba-tiba ada sebuah suara teriakan dari belakang, dia menoleh sesaat lalu kembali mengalihkan pandangannya ke depan, dia pikir bukan dirinya yang di panggil, dan kalaupun memang dirinya maka Sasaki akan kabur.


”Hey kau yang disana, laki-laki rambut tomat” Teriak suara yang sama lagi, kali ini Sasaki benar-benar sudah tidak kuat lagi, dia berbalik ke arah suara itu dan ternyata itu adalah gadis yang tadi ia tabrak.


Sasaki berjalan dengan perlahan, langkah demi langkah dia semakin dekat dengan gadis itu, lalu saat jarak keduanya semakin dekat Sasaki sudah tumbang ke tanah.


.


.


.


To be continued...