My Journey In Naruto World

My Journey In Naruto World
Chapter 11 : Misi ( 2 )



Sasaki langsung berlari ke dalam hutan, dan para Chunin itu mengejarnya tanpa pikir panjang.


Tidak lupa dia memberi tanda untuk Amano bergerak. sementara itu Ritsumoto mengikuti mereka dari belakang-bersiap untuk membantu Sasaki.


" Tangkap dia, Lightning Element Technique : Zap! " Teriak salah satu dari orang yang mengejar Sasaki lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah Sasaki.


Dari tangan kanannya keluar petir yang berwarna biru terang. petir itu dengan cepat melesat ke arah Sasaki, Sasaki yang melihat itu dari jauh tidak bisa menghindarinya dan langsung jatuh terkapar di tanah-tak bisa bergerak karena dilumpuhkan oleh petir itu.


Ketiga Chunin itu memperlambat pergerakan mereka lalu berjalan ke arah Sasaki dengan perlahan. Sasaki ingin lari tapi tubuhnya benar-benar tak bisa digerakkan dan hanya terasa rasa perih yang luar biasa di tubuhnya.


" Akhirnya kau tertangkap juga ba*ingan kecil " Ucap salah satu orang itu dengan senyum penuh kepuasan lalu menjambak rambut panjang Sasaki.


Orang itu hendak memukul Sasaki tapi tiba-tiba sebuah kunai mengenai tangannya-membuat dirinya melepaskan Sasaki lalu muncul beberapa langkah.


Mereka bertiga langsung melihat ke arah datangnya kunai tadi dengan waspada. dari kejauhan terlihat seorang gadis kecil berambut cokelat yang sedang memegang kunai dengan tangan yang bergetar hebat.


' Mama... ' Batin Ritsumoto, dia ketakutan melihat tatapan ketiga orang itu kepadanya, dia ingin lari tapi hati nuraninya tak tega meninggalkan Sasaki sendirian.


Sedangkan Sasaki melihat ini sebagai kesempatan, ' Seharusnya sedikit lagi guru akan datang ' batinnya senang, sebuah senyuman mengerikan terlukis di wajahnya.


" 3 orang Chunin dari kumogakure menindas 2 anak kecil, benar-benar sampah "


Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari atas, sontak semua orang reflek melihat ke atas.


Di atas sebuah batang pohon terlihat seorang pemuda dengan rambut hitam legam dan baju rompi berwarna hijau khas konohagakure, dan dia juga mengenakan ikat kepala berlambang Konoha, dengan mata merahnya dia menatap ketiga Chunin itu dengan dingin.


.


.


.


Amano kaget saat melihat banyaknya kertas dokumen dan foto beberapa orang di dalam tenda para Chunin itu, dia sudah mengecek seluruh isi tenda dan hanya menemukan itu dengan beberapa stok makanan instan dan minuman keras.


" Mereka semua adalah warga Konoha " Gumam Amano pelan sambil memperhatikan satu-persatu foto yang ada di situ.


Setelah selesai mengemas semua itu dia segera pergi dari tenda itu, tak lupa dia membakar tenda itu untuk keren-kerenan saja.


" Aku harus melaporkan ini kepada kak Akimura " Kata Amano dengan terngah-engah sambil sembawa sebuah tas besar berisi dokumen dan foto-foto yang tadi ada di tenda musuh.


.


.


.


Di sisi lain Akimura melawan kedua Chunin itu, sedangkan Sasaki dan Ritsumoto melawan yang satunya lagi.


Sasaki yang sudah bisa menggerakkan badannya benar-benar bisa menyeimbangi Chunin itu dalam taijutsu, sedangkan Ritsumoto membantu dari jauh dengan melemparkan kunai-kunai agar pergerakan Chunin itu terbatas.


' Kalau begini aku bisa mati ' Pikir Chunin yang dilawan oleh Sasaki, dia mulai panik karena Sasaki menyudutkannya ditambah dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi luka dikarenakan kunai dari Ritsumoto.


" Earth Element Technique : Earthquake! " Chunin itu menyentuh tanah dengan kedua tangannya lalu mulai membuat segel tangan.


Seketika terjadi guncangan yang tidak terlalu kencang tapi cukup untuk membuat Sasaki sedikit kepayahan.


Dengan cepat Sasaki mundur-mengambil jarak untuk mengatur ulang rencana, dia kemudian meminta salah satu kunai milik Ritsumoto dan kembali melesat ke arah Chunin itu.


" Sekarang aku serius! " Seru Sasaki lalu mulai melancarkan tebasan-tebasan beruntun ke arah Chunin itu.


Chunin itu berhasil beberapa kali menghindari dan menangkis serangan dari Sasaki, tapi sekarang keadaan tubuhnya terlihat sangat buruk.


Di sekujur tubuhnya terlihat bekas tebasan-tebasan yang dalam dan mengeluarkan banyak darah-sangat mengerikan.


Tak lama kemudian Chunin itu jatuh berlutut di tanah dengan pasrah, dia sudah tak bisa melawan lagi.


" Namaki! " Teriak salah satu Chunin yang melawan Akimura, dia berniat untuk menyelamatkan Chunin bernama Namaki yang sedang melawan Sasaki dan Ritsumoto.


Tapi dia langsung dihentikan dengan pukulan berat Akimura-membuatnya hampir pingsan.


" Lihat kemana kau, lawanmu ada di sini " Kata Akimura dengan pelan tapi dipenuhi dengan kemarahan, sudah tak terhitung rekannya yang mati dikarenakan ninja dari desa lain termasuk desa kumogakure-membuatnya marah.


Sedangkan Chunin yang satunya lagi sudah mati dengan bolongan besar di dadanya, Akimura membunuhnya degan brutal.


" Ada kata-kata terakhir? " Tanya Sasaki dengan senyum mengerikan, membuat orang yang melihatnya merinding.


" *Cough* Ka- " Namaki ingin mengatakan sesuatu tapi darah sudah memenuhi mulutnya, membuatnya memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya.


Melihat itu Sasaki tertawa pelan sebelum menebas kepala Namaki dengan kunainya dan tak lupa dia menggunakan gaya yang terlihat keren.


" Begitu ya..." Kata Sasaki pelan lalu mengelap darah yang menempel di mulutnya, setelah itu dia mengantungi kunainya dan hendak berbalik ke Ritsumoto.


Tapi beberapa detik kemudian dia terkejut melihat Chunin yang tadi melawan Akimura berniat meledakkan dirinya. dengan cepat Sasaki pergi menjauh dari tempat itu bersama dengan Ritsumoto, begitu juga dengan Akimura.


" Ayo cepat! " Seru Sasaki kepada Ritsumoto, dia menggunakan hampir semua chakranya yang tersisa untuk lari menjauh dari Chunin itu, tapi mereka sudah terlambat.


Ledakan yang cukup dahsyat terjadi, membuat Sasaki dan Ritsumoto terlempar jauh di langit.


" Sial, jika kita jatuh sekarang maka hanya ada kematian yang menanti! " Sasaki mengumpat keras di langit, dia benar-benar sial kali ini.


Sedangkan Ritsumoto di sampingnya sudah terlihat pasrah, dia memejamkan matanya berharap tak merasakan sakit saat mati nanti.


Bayangan-bayangan pembunuhan yang dilakukan oleh Sasaki juga masih menghantui dirinya, dia sangat ketakutan saat melihat Sasaki membunuh orang sebelumnya, sampai-sampai dirinya tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya.


Sedangkan Sasaki mulai merenungkan apa yang selama ini dia lakukan selama hidup, mau hidup saat di bumi maupun dunia Naruto, kali ini jika dia mati mungkin dia akan masuk neraka karena dosa-dosanya semasa di bumi cukup banyak.


Sasaki menghela nafas sebelum berdoa, kali ini dia bersungguh-sungguh, " Tuhan, ampuni seluruh dosaku ini....setidaknya biarkan diriku bertobat " Gumam Sasaki sambil memejamkan matanya.


Saat dia membuka matanya dia sudah bisa melihat daratan dengan jelas, dia kemudian memeluk dengan erat Ritsumoto, membuat Ritsumoto kaget.


" E-eh, kenapa ini " Ritsumoto berkata dengan panik, terlihat wajahnya memerah saat mengatakan itu.


" Diamlah, aku akan mengrorbankan diriku, setidaknya aku sudah cukup bersenang-senang di dunia ini " Jawab Sasaki sambil tersenyum penuh makna, dia mulai mendapatkan kilasan balik.


Dia melihat wajah Kaguya, Nanami, Naruto, Sasuke, Akimura, Ritsumoto, Amano, dan orang-orang yang berkesan di kehidupannya kali ini.


Melihat hal itu membuat Sasaki mengeluarkan air mata pertamanya di kehidupan kedua ini.


Sedangkan Ritsumoto yang mendengar perkataan Sasaki menjadi terharu, dia ingin berterimakasih kepada Sasaki.


Brukk...


Tapi dia sudah terlambat, mereka berdua sudah menghantam tanah dan langsung terdengar suara tulang patah yang memekikkan telinga.


Sasaki ingin berteriak tapi kesadarannya sudah hampir menghilang, organ-organ dalam miliknya juga sudah hancur jadi tak mungkin untuk bertahan hidup lagi.


Ritsumoto langsung beranjak dari pelukan Sasaki dan mencoba membantunya, " Ayo Sasaki bertahanlah " Kata Ritsumoto dengan panik, dari suaranya dia seperti ingin menangis.


" P-per-gi-lah " Kata Sasaki dengan lemah lalu memberikan isyarat untuk Ritsumoto pergi.


Ritsumoto menggelengkan kepalanya, " Akan kupanggil Guru Akimura, dia pasti bisa membantumu " Kata Ritsumoto dengan semangat, tak menunggu jawaban dari Sasaki dia sudah pergi dari tempat itu menuju arah Akimura pergi tadi.


Sasaki yang melihat itu hanya tertawa lemah, nafasnya semakin berantakan dan rasa sakit yang luar biasa mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


Sasaki mengangkat tangannya ke atas lalu mengepalkannya sekuat tenaga, " Heh " dia tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri yang terlalu payah.


.


.


.


Di sisi lain Ritsumoto sedang melesat di antara pepohonan di dalam hutan, tak lama kemudian dia menemukan Akimura yang sedang bersama dengan Amano.


" Hey Ritsumoto, kau baik-baik saja? " Tanya Amano.


" Ya aku baik-baik saja, tapi sebaiknya kita cepat membantu Sasaki " Kata Ritsumoto dengan terburu-buru.


Mendengar itu Akimura mengerutkan dahinya dia sedikit kebingungan karena seharusnya Sasaki adalah yang terkuat di antara murid-muridnya, " Ada apa dengan Sasaki? " Tanyanya dengan khawatir, bagaimanapun Sasaki adalah muridnya.


" Kita tak memiliki banyak waktu, ikuti aku " Jawab Ritsumoto dengan tergesa-gesa lalu segera pergi ke tempat Sasaki.


Akimura dan Amano juga tak ingin membuang waktu, melihat Ritsumoto yang begitu panik berarti sesuatu yang buruk telah terjadi.


Mereka kemudian mengikuti Ritsumoto menuju ke Sasaki.


Tapi sesampainya di tempat yang dimaksud oleh Ritsumoto mereka tak menemukan Sasaki berada di sana, melainkan hanya sebuah jejak darah.


" Eh, kemana dia? " Ritsumoto kebingungan, begitu juga dengan Amano.


Seharusnya dengan kondisi Sasaki saat ini tak mungkin baginya untuk berjalan, bahkan untuk duduk saja sudah susah.


" Ikuti jejak darahnya, mungkin kita bisa menemukannya " Kata Akimura lalu mulai mengikuti jejak darah, begitu juga dengan Ritsumoto dan Amano.


Mereka terus mengikuti jejak darah itu dan berakhir di sebuah jurang yang tak terlihat dasarnya.


" Kita tak bisa bertindak gegabah sekarang, lebih baik kita kembali dan memberitahukan ini ke tuan Hokage " Kata Akimura dengan penuh kesedihan, dia mengepalkan tangannya dengan keras, ' Lagi-lagi aku tak bisa menyelamatkan siapapun ' Batin Akimura, menyesal tak bisa menyelamatkan Sasaki.


Mendengar itu Ritsumoto menjadi begitu sedih, begitu juga dengan Amano, ini adalah misi pertama mereka dan langsung terjadi hal berdarah seperti ini membuat mental mereka terguncang.


Mereka bertiga memandang jurang itu dengan dalam selama beberapa saat lalu memutuskan untuk kembali ke Konoha dengan membawa ikat kepala Sasaki yang kebetulan ada di tangan Ritsumoto.


.


.


.


To be continued...