
Sudah seminggu sejak aku tidak sadarkan diri, dan aku sekarang terbangun dari ranjang rumah sakit ini. Namun malah melihat hal - hal yang tidak jelas!
"Wah, wanita cantik! apa kau sudah sadar?" Ucap Nicolas setelah melihatku terbangun dan segera ingin mendekatiku, namun seseorang menghalanginya. "Sudahlah kak, dia baru saja siuman dan kau sudah tergila - gila dengannya?" Leo menghalanginya dan malah memegang tangan Sofia bermaksud membantunya menyandarkan tubuhnya di ranjang tersebut.
"HEHH, APA INI MAKSUDMU LEO MEMEGANG TANGAN WANITAKU?!?!" Ucap Nicolas panik dan dendam kepada Leo, Adik Nicolas. "Tenanglah kak, disini banyak sekali orang. Jika ketahuan apa kata media tentang kita!" Leo kembali menyadari kakaknya dan segera kembali duduk di kursinya.
"Sofia, apa kau sudah siuman? Apa kau ingin sarapan? apa masih sakit?" Adam khawatir dan menanyakan banyak hal kepada Sofia.
"Ah, aku tidak apa - apa dan juga kamu siapa? kenapa aku baru pertama kali melihatmu disini?" Kataku sambil menunjuk Leo yang sedang duduk manis di sofa tepat di samping kananku.
"Ah! Sofia, aku lupa memperkenalkannya padamu! Dia adalah adik keduaku, Leo, tapi apakah kau benar - benar tidak mengenalnya?" Ucap Nicolas sambil memperkenalkan Leo kepada Sofia.
"Ah, aku tidak mengenalnya memang kenapa? salam kenal aku Sofia ya kakak Leo!" Ucapku yang menjulurkan tanganku sambil tersenyum namun malah ditepis pelan oleh Adam yang menatapku tajam.
"Berjabat denganku. Dia baru saja sadar, jangan mengganggu waktunya siuman." Ucap Adam dengan nada dingin dan tatapan menusuk kepada Leo. Lalu mereka berdua pun jabatan tangan dengan damai dan tentram. Tapi boong.
"Ah ya, senang bertemu denganmu presdir Adam. Tak kusangka kau sampai melakukan hal seperti ini." Ucap Leo yang tak tahan, lalu ia mengakhiri jabatan tangan tersebut. "Actor Leo biasa saja, aku sudah seperti ini biasanya." Balas Adam sambil menyuruh bawahannya membelikan Sofia sarapan.
"Permisi nyonya Sofia, anda menginginkan sarapan yang seperti apa? Tuan menyuruhku untuk membelinya untukmu." Jelas pelayan tersebut kepadaku, lalu aku pun menjawabnya.
"Aku menginginkan udang rebus!" Kataku sambil mengancungkan jempol dan tersenyum sendiri. "Apa perlu kau mengucapkannya sambil tersenyum?" Kata Adam cemburu dengan udang.
"Abaikan dia, beli semua sarapan yang tidak berhubungan dengan udang! dia baru saja sembuh, cepat belikan dia, apa yang kau tunggu!" Protes Adam ke pelayan tersebut lalu Sofia malah dibuat bingung dengan sifatnya Adam.
"Apa aku tidak boleh makan udang? sedikit saja aish! presdir hari ini kamu sangat aneh sekali!" Kesal Sofia lalu tak lama kemudian pelayan tersebut datang dengan membawa banyak makanan untuk Sofia, namun tak dimakan.
"He, cepat makan. Jangan membuatku harus menyuapimu baru kau ingin makan." Kata Adam yang melihat Sofia belum menyentuh sedikitpun makanan tersebut. Sofia tetap kukuh ingin makan udang rebus sekarang, makanan mahal lain pun tetap dia tidak akan tergoda.
"Aish Adam, apa kau tak mengerti? dia ingin makan udang dan kau malah menyuruhnya untuk memakan
makanan yan-" Ucapan Nicolas terpotong karena Leo langsung menyuapinya makanan sarapan Sofia agar ia tetap diam.
"Ah, maafkan kakakku ini. Dia memang selalu begini, sangat suka bawel dan protes hehe." Ucap Leo tak nyaman dengan Adam. Namun apa boleh buat, Sofia hanya ingin udang rebus.
"Baiklah, aku akan memakannya sekarang." Sofia lanjut berkata dan segera memakan sarapannya dan tidak memperdulikan sekitar.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya Sofia diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit. Namun Adam masih tidak memperbolehkannya bekerja untuk sekarang, dia baru saja siuman. Jadi Adam menyuruhnya untuk berdiam diri di rumah.
"KAKAKK, BAGAIMANA PERASAANMU??" Tanya Elsa bahagia saat melihat kakaknya kembali pulang kerumah. "Aku baik-baik saja haha, bagaimana denganmu Elsa?" Tanyaku kepada Elsa dan mengelus rambutnya.
"Kak, apa kau tahu?!? aku sangat rindu untuk berbelanja baju denganmu! apa kau juga tidak rindu sengan itu juga?!" Tanya Elsa kepadaku sambil memelukku erat dan memohon kepadaku.
"Hahaha, apa kau ingin berbelanja? baiklah, kalau begitu mari kita berlanja bersama! pelayan segera siapkan kami satu mobil!" Kataku kepada Elsa setuju dan kami segera pergi ke sebuah mall yang megah.
Sesampainya di mall tersebut, kami segera bersiap menuju tempat pakaian bermerek. Bodohnya, aku tidak memberi tahu kepada Elsa kalau aku tidak membawa uang sepeserpun. Bagaimana ini?
"Tapi nona, baju ini sudah direkrut oleh seseorang lebih dulu daripada nona. Jadi aku tidak bisa memberinya kepadamu." Jelas pelayan tersebut dan memilih untuk menyimpan bajunya. Christa marah besar dan malah menendang rak-rak pakaian tersebut.
"Nona mohon tenang, aku akan berusaha sebaiknya untuk mencarikanmu baju tersebut yang lain!" Ucap pelayan tersebut panik dan segera membereskan baju yang berjatuhan itu.
"Kak lihat itu, kakak kedua! sebaiknya kita tidak mencari masalah dengannya sekarang! dan mari kia bantu pelayan tersebut!" Kata Elsa yang terlihat takut sekaligus khawatir dengan pelayan tersebut.
"Kenapa kita harus takut dengannya?!? Christa bukanlah lawan kita sekarang. Yang harus kita lakukan adalah membantunya!" Ucap Sofia lalu ia dan Elsa segera ikut membantu pelayan tersebut.
"Hey hey, ternyata dua ekor rubah licik berada disini? dan ingin menunjukkan sikap sok baik dihadapku? TIDAK MEMPAN BODOH!" Crishta berkata sambil menendang pipi Sofia menggunakan sepatu yang ia pakai.
"Kau boleh menindasku, menendangku, bahkan membunuhku! Tapi kau jangan semena-mena terhadap orang lain seperti ini!" Ucapku melawannya sambil memegang pipi kananku.
"Sudah sakit masih berani melawan? nyalimu masih belum menciut bertemu denganku ini?" Tanya Christa sambil tersenyum jahat kepadaku.
"Kak, apakah kau tidak apa-apa? meskipun kau adalah kakak keduaku, kau tidak semestinya menindas kakak ketigaku di hadapan semua orang! kau tidak punya malu!" Elsa marah dan langsung mendorong Christa pelan, lalu ia segera membantuku berdiri dan berdiri dihadapanku.
Dilain sisi, pelayan Gavin memberitahukan kepada Gavin bahwa mall yang ia punya sedang menghadapi kegaduhan besar, banyak orang dan anak remaja yang pergi meninggalkan mall tersebut karena melihat pemandangan yang tidak enak dilihat.
"Sesuai kemauan tuan, ini adalah laporan dari orang yang membuat kegaduhan tersebut." Ucap pelayan itu sambil menyodorkan sebuah berkas kepada Gavin.
"Wanita tersebut mengaku telah menjadi pacar anda dan menindas pelayan serta kedua wanita tak dikenal itu. Namun kedua wanita ini melakukan perlawanan yang membuat wanita tersebut marah dan menghancurkan tokoh." Jelas pelayan, lalu segera pergi meninggalkan ruangan Gavin.
"Hanaku!?! gadis bodoh itu, dia berani-beraninya membuat masalah dengan Hana! kau harus membayar untuk apa yang telah kau lakukan!" Gavin marah lalu segera pergi untuk membantu Sofia dan Elsa.
"HAH?! aku sangat tidak sudi mempunyai adik yang berani-beraninya merebut pacar kakaknya sendiri!" Christa mengepalkan tangan dan bergerak mendekati Sofia bermaksud untuk menarik rambut Sofia.
"Apa yang mau kau lakukan?! sudah cukup kakak ketiga menderita atas semua perlakuanmu dan kau ma-" Tidak sempat Elsa berbicara, Christa sudah terlebih dahulu menarik rambut Sofia dengan keras.
"Hentikan semua ini." Gavin datang sambil memegang pistol ditangannya dan membuat keadaan sekitar seketika sunyi dan hening.
"Hahaha, lihat Sofia! sayangku sudah kembali untuk menyelamatkanku! kau tidak bisa apa-apa sekarang!" Ucap Christa sambil tertawa lebar.
"Apakah kau baik-baik saja?" Kata Gavin mendekat kepada Sofia dan menjulurkan tangan untuknya, Gavin sedikit kaget melihat luka di pipi Sofia. Tak salah lagi itu adalah ulah Christa.
"Ah aku baik-baik saja terimakasih, Elsa untuk hari ini maafkan aku tidak bisa berlanja senang ria beli baju bersamamu." Kataku meminta maaf kepada Elsa. Gavin yang mendengarnya segera meminta pelayan tersebut membawakanku baju dan memberiku baju secara gratis.
"Sungguh aku tidak membutuhkan baju mahal ini, terimakasih sebelumnya dan jug-" Ucapanku berhenti yang melihat Elsa segera mengambil baju tersebut dan tersenyum kepada Gavin.
Setelah kejadian ini, setiap aku dan Elsa akan berbelanja di mall tersebut Gavin pasti mengutus 12 orang pengawal tersebut untuk melindungi kami secara diam - diam mulai sekarang.
Kalian pasti penasaran dengan Adam, untuk bajingan itu aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menutupi luka di pipiku menggunakan makeup dan tidak akan membiarkannya tahu tentang masalah ini. Karena aku yang sekarang sudah cukup membuat dia khawatir.