
Sampailah pada malam hari, yang dimana aku telah memberitahu Elsa kalau aku tidak akan menginap di apartemen tapi akan tetap mentransfernya uang ke akun banknya nanti.
Aku yang sekarang berada di sebuah Mall besar bersama dengan Adam, ia mengajakku membeli sebuah gaun untuk dipakai ke pesta nanti, 30 menit sebelum pesta dimulai dia mengajakku.
"Bagaimana dengan pakaian ini?" Tanyaku kepadanya sambil berputar indah menggunakan dress hitam dengan sedikit menampilkan pesonaku. Hehe.
"Tidak suka, terlalu terbuka. Pelayan carikan yang lain" Jawab Adam sambil memerhatikan belahan dadaku dan memerah sendiri.
Pelayan itu pun datang dengan membawa rak baju edisi terbaru yang hanya di stock lima barang di toko tersebut, dengan kata lain baju itu adalah baju limited edition versi toko mereka.
Lalu aku mencoba semua baju tersebut dan menunjukkannya kepada Adam, seperti yang terlihat ekspresi Adam sangat puas lalu menyuruh pelayan toko tersebut untuk mengemas semua baju yang sudah kucoba. Orang kaya ternyata berbeda ya. Huft.
"Cepat bayar ini dengan kartuku lalu kita akan kembali kerumah dan berias diri lalu pergi" Ucap Adam dan memberiku sebuah kartu hitam yang mengkilap. "Totalnya 30juta semua, apa dengan kartu ini cukup? kalau tidak kita ak-" Ucapanku tetiba terpotong karena melihat Adam tertawa puas sambil mengelus pucuk kepalaku gemas. Sedangkan pelayan toko pun ikut tertawa diam - diam karena tingkahku. Salahku dimana?
"Bodoh sekali, kartu ini unlimited. Mau kau habiskan sampai bermiliar juga tidak bakal habis sayang." Jawab Adam sambil mengelus bibirku intens dan tersenyum ganteng. "APA?! B - ba - bagaimana mungkin.." Aku terdiam dan mulai memandangi kartu tersebut, lalu setelah puas memandangnya segera aku bayar baju tersebut dan pulang.
"Heh, bagaimana bisa gadis sepertimu tidak mengetahui kartu apa itu?" Tanya Adam saat aku mulai duduk di sebelahnya, tapi aku mengabaikannya, alhasil dia menjadi marah kepadaku dan menarikku untuk duduk di pangkuannya dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Kami sangat dekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya juga.
"Memang kenapa kalau aku tidak tahu?! apakah itu masalahmu juga?!" Kesalku dan langsung menatap matanya tajam. "Kenapa gadisku begitu kasar denganku? hm?" Adam mengabaikan marahanku dan segera menindihku di kursi mobil lalu menciumku dengan ganas sehingga aku kehabisan nafas. "Adamh hentikanh ku - kumohon padamu" Aku menangis, karena nafasku sesak saat berciuman dengannya. Ya, sangat sesak sehingga membuatku tersiksa disaat itu juga.
Adam yang melihatku menangis segera menghentikan ciumannya dan kembali memangku ku lalu menenangkanku dengan cara mengelus - elus rambutku dan membiarkanku tidur sejenak di bidang dadanya yang seksi itu. Ya, kuakui sekarang juga bahwa dia mempunyai tubuh yang bagus!
"Tuan putri sudah selesai tidurnya?" Tanya Adam saat melihatku yang sudah terbangun dari tidurku. "Sudah, oiya aku harus turun sekarang kalau tidak kita akan terlam-" Tanpa basa - basi Adam langsung mengecup bibirku sejenak dan melihatku lalu ia tersenyum. "Ini balasan dariku karena kamu sudah memakai badanku untuk kamu tidur" Ucap Adam lalu ia menggendongku turun bersamanya.
Setelah selesai aku berhias diri, aku segera menemui Adam dan mengajaknya untuk cepat pergi karena kami berdua sudah terlambat 5 menit dari pesta tersebut. Apa kata orang nanti? Aku sangat mengkhawatirkannya sekarang juga, bagaimana jika Adam dicari - cari oleh orang sana?!
"Tidak perlu terburu - buru, emang apa yang mau kamu cari disana sayang?" Tanya Adam dengan begitu santai. Tapi aku tak peduli dan segera langsung menarik tangan Adam dan mengajaknya masuk ke mobil. Adam yang melihatku pun terkejut dan senang campur aduk, lalu ia mulai memerintahkan sesuatu kepada asisten pribadinya, namanya Ryan.
"Ryan segera kerahkan dua pengawal hitam untuk mengawasi wanitaku, Sofia. Lindungi dia dari bahaya apapun dan laporkan bila ada sesuatu janggal dengannya." Perintah Adam kepada sekretarisnya diam - diam.
"Dimengerti presdir!" Jawab Ryan tegas dan segera mengantar kami berdua menuju pesta tersebut. Aku tidak peduli dia berdua membicarakan apa, toh paling juga cuman bisnis bukan?
"Wah lihat, bukankah itu presdir Adam?! ganteng sekali! Oh Tuhan berikan aku kesempatan bersamanya!"
"Siapa wanita itu? Kenapa dia juga sangat mempesona sekali? Aku menyukainya!"
"Dia berdua adalah pasangan yang sangat serasi, jika mereka berpacaran maka dunia akan merestuinya!"
Baru saja masuk aku sudah menjadi pusat perhatian semua orang, ini semua karena Adam. Tapi aku harus menahannya dan segera melihat keadaan sekitar. Kulihat ternyata ada ibu dan ayahku serta kakak keduaku, Crishta.
"HOI HOI! DISINII!" Teriak Jean memanggil Adam untuk bergabung bersamanya dan meninggalkanku sendirian, karena sudah terbiasa ditinggal aku mulai mencari kesibukanku saat sendirian ini.
"Bukan begitu! bukankah kalian yang mengusirku dari rumah? bagaimana bisa kalian memfitnahku sembarangan seperti ini!" Bentakku pelan dan melihatnya kesal sekali. "Heh?! kamu sudah berani membentak ibumu sendiri? ayah lihat dia!" Adu Christa sambil menatapku sinis.
"Sekarang kau tidak mempunyai seseorang untuk melindungimu lagi, kakak pertama sibuk dengan bisnisnya sedangkan presdir Adam? Haha! dia sibuk mencari wanita lain!" Christa semakin menjadi - jadi sekarang. Disisi lain, pengawal hitam yang diutus Adam pun segera melaporkan kejadian tersebut dan memberitahu kepada Adam segera.
"Kau jangan membawa - bawa kakak pertama! dia tidak terlibat masalah ini denganku! bagaimana bisa kau sangat begitu licik dan bermuka dua disini!" Marahku sambil menatapnya sangat tajam. Ku sangat ingin membunuhnya, namun aku ingat dialah kakak keduaku. "CUKUP KAU ANAK HARAM, SEBENARNYA KAU BUKANLAH ANAKKU!" Teriak ibu yang langsung membuatnya menjadi pusat perhatian seketika. Aku yang mendengarnya pun terkejut dan sangat sedih sekarang.
"YA BENAR! KAU HANYALAH ANAK PEMBAWA SIAL, AKU SANGAT INGIN MENAMPARMU!" Ayah pun ikut memarahiku dan mulai menamparku keras hingga berdarah.
Ntahlah, badanku sangat lemas sekarang hingga aku terduduk diam. Mengapa disaat - saat seperti ini aku malah memikirkan Adam? Sangat tidak berguna sekali diriku ini.
"Ayah, sudah cukup! kita akan masuk media jika seperti ini! sebaiknya kita melarikan diri saja!" Christa mulai panik dan mengajak Ayah Ibunya melarikan diri bersama.
"Sudah memukul perempuan cantik, lalu pergi melarikan diri. Bukankah itu adalah orang yang sangat pengecut?" Seseorang berdiri di belakangku dan membantuku berdiri, tapi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Apakah kemungkinan itu Adam? aku juga tidak tahu. Aku sangat pusing.
"Heh! bukankah itu vocalis band yang pernah menghilang waktu lama itu?"
"Ya! bukankah dia adalah Nicolas?! sungguh pesonanya masih sama seperti dulu. Sama sekali tidak berubah! tetap ganteng!"
"Dia menyelamatkan wanita itu, baru kembali saja sudah menolong orang. Betapa kagumnya aku kepadamu Nicolas!"
Aku samar - samar mendengar kata 'Nicolas', Apakah ia adalah biasku yang aku sering kagum - kagumkan sewaktu kecil bersama Elsa? Karena aku tidak bisa berdiri alhasil dia menggendongku dan membawaku ke kamar pribadinya dan merawatku. Dilain sisi aku sedih dan kecewa, ternyata apa yang dikatakan Christa benar! Adam sama sekali tidak memikirkanku.
"Gadis cantik, sudah bangun?" Tanya Nicolas sambil tersenyum melihatku dan membantuku bersandar.
"Eh? Oh? Apa? Su - sudah kok!" Aku menjawabnya dengan terbata - bata dan juga wajahku sudah sangat memerah sekarang. Karena idolku berada dekat denganku huhu!
"Baguslah kalau begitu, untuk sekarang beristirahatlah dengan baik. Kamu sedang berada di kamarku sekarang." Jelas Nicolas lalu ia mulai mendekatkan wajahnya kepadaku. "Eh? apa yang ingin kamu lakukan?" Aku panik dan segera menutupi wajahku dengan selimut agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. "Tidak apa, wajahmu sangat familiar kepadaku."
"BAGAIMANA BISA DIA MENGHILANG?!" Adam marah ketika mengetahui aku menghilang di aula pesta itu. Lalu ia mengerahkan semua pengawal hitamnya untuk mencariku, namun tidak ada hasilnya sama sekali.
"Kakak, Aku sudah menelfon kakak ipar tapi handphonenya mati. Kemungkinan penjahatnya membuang handphonenya?" Jean juga ikut panik karena calon kakak iparnya menghilang.
"Kenapa wanita itu harus kamu pikirkan Adam? bukankah dia hanya wanita miskin yang ingin menghabiskan hartamu saja? hm?" Olivia mulai mengangkat dressnya dan duduk di pangkuan Adam. Adam yang melihatnya pun marah besar.
"SIMPAN MULUT SAMPAHMU INI KALAU KAU MASIH INGIN HIDUP OLIVIA!" Adam sekarang sudah tenggelam dalam emosi yang besar, Jean yang tidak mengerti cara menenangkannya pun bingung dan mengerahkan pengawalnya untuk ikut mencari Sofia sekarang juga.
"Yasudah, tapi kemungkinan dia sudah kabur bersama pria lain sepertinya? Sofia kan jalang AHAHAAHA" Olivia memanasi Adam lalu ia segera pergi dari Adam. Baguslah, karena Adam pun muak melihatnya. "Kak sepertinya Olivia sengaja menahan kita disaat pengawalmu mulai melaporkan hal itu tadi." Jelas Jean yang mulai berpikir seperti itu.