
"Siap presdir!" Balas bawahan Gavin lalu ia melihat notif handphonenya masuk dan segera membuka informasi tentang gadis itu.
"Gavin! kamu kenapa mengabaikanku sekarang? apakah kamu juga terpikat olehnya?" Christa kesal ia lalu pergi menuju meja dimana Sofia dan Adam sedang menikmati makanan.
"SOFIA! APA KAU SUDAH PUAS SEKARANG?! KEMARIN ADAM DAN SEKARANG PACARKU?!" Christa marah besar lalu ia mengambil segelas air di meja tersebut dan menumpahkannya diatas Sofia, namun hasilnya nihil. Karena Adam melindunginya dengan cepat.
"Beraninya menyiram air kepadaku? Apakah kau pantas melakukannya?" Adam segera berdiri lalu aku sangat panik dan segera melepas jas kantorku lalu memakaikannya ke Adam secepat mungkin.
"Adam tenanglah, kamu seperti ini pasti akan demam. Aku - aku hanya ingin kamu sehat - sehat saja adam!" Aku tanpa sadar mengkhawatirkannya, tapi Adam membantahku. "He, kakak keduamu sedang ingin mencelakaimu. Lalu kamu akan memaafkannya saja begitu?" Adam menatapku, namun aku hanya bisa terdiam. Tak lama kemudian pacarnya pun datang, Gavin.
'gadis bodoh malah membuat masalah seperti ini, berani - beraninya ia menindas Hanaku yang polos ini. Aku harus segera memutuskannya!' Geram Gavin sambil ia mengepalkan tangannya, lalu ia menarik tangan Christa dan segera meminta maaf kepada Sofia dan Adam.
"Gavin apa maksud dari semua ini? kau malah meminta maaf kepadanya dan ak-" Ucapan Christa terpotong karena terkejut dan seketika ia terduduk lemas. "Kita putus, maaf aku sudah tidak ingin bersamamu lagi Christa. Kuharap kau bahagia selalu" Gavin memutuskan Christa dengan ikhlas lalu ia pergi meninggalkan Christa.
"Wanita jalang itu! Lihat kelak bagaimana aku akan menghabiskanmu suatu hari!" Christa setelah selesai mengeluarkan uneg - unegnya ia segera pergi kembali ke rumah.
"Adam sudahlah, menurut kepadaku hari ini. Mari kita segera kembali dan kau harus beristirahat segera" Sofia khawatir lalu ia mulai memanggil supir Adam dan menyuruhnya mengantar mereka pulang.
'Kesempatan bagus, ternyata gadisku perhatian juga' Adam sebenarnya tidak sakit. Karena badannya bugar setiap minggu selalu berolahraga, namun kali ini berbeda. Dia ingin menipu Sofia.
"Ah kepalaku pusing sekali, supir segera pinggirkan mobilnya sekarang ini juga!" Perintah Adam lalu bawahannya pun menurutinya. "Ah dimana yang sakit? ini semua salahku, aku harus merawatmu sekarang." Ucapku sambil melihatnya namun tak berani memegangnya.
"Disini yang sakit, apa kau mau menyembuhkannya?" Adam lalu mengambil jari tangan Sofia dan mengarahkannya di bibir Adam. Tanpa disadari, muka Sofia sangat merah sekali. "Apa barusan kau mencoba mengerjaiku? Baiklah, aku tidak lagi berkeinginan merawatmu lagi!" Aku kesal lalu ingin membuka pintu mobil, namun terkunci.
"Berencana untuk kabur? tidak bisa, kamu sudah menjadi milikku sekarang Sofia." Adam menindih Sofia lalu ia mencium Sofia dengan lembut dan sedikit menurunkan baju Sofia. Lama - kelamaan ciuman tersebut menurun ke leher Sofia, namun Sofia segera memberhentikannya juga.
"Adam cukup, lebih baik antarkan aku pulang sekarang, Elsa pasti sa-" Ucapanku pun terpotong karena melihat Adam menunjukkan sebuah foto Elsa sedang berada di kediamannya Adam. Aku terkejut, namun aku harus tenang sekarang. Sepertinya Elsa sangat bahagia sekarang.
"Jadi, Bagaimana caramu berterimakasih untuk hal yang telah kulakukan kepadamu?" Adam berdiri dan duduk seperti biasa. "Aku, aku tidak punya uang banyak tapi kuharap ini cukup bu-" Terpotong lagi, presdir MAUMU APA!?!?
"Sejujurnya aku tidak membutuhkan uangmu, karena uangku sudah cukup banyak. Cukup bayar saja dengan tubuhmu." Adam mengusulkan permintaan tersebut, lalu aku menyetujuinya.
Sesampainya kami di kediaman Adam, aku segera berlari mencari Elsa dan memeluknya erat di ruang tamu. Namun tak kusangka ada Gavin disana, sepertinya dia sedang menunggu Adam untuk berbicara hal bisnis, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.
"Kak Sofia, lihat ini! aku tidak sengaja menemukan foto presdir ketika kecil di ruang tamu tadi! sepertinya seseorang tidak sengaja menjatuhkannya!" Elsa dengan riang lalu segera menunjukkan foto tersebut kepadaku, tapi entah kenapa kepalaku tiba - tiba mengingag sebuah kenangan yang tidak bisa kuingat sebelumnya.
"KAK SOFIA? KAK? KAK?!!" Samar - samar aku mendengar suara Elsa yang panik, tanpa sadar mataku perlahan terpejam sendirinya sekarang.
"KAK GAVIN, BANTU AKU. KAK SOFIA, DIA PINGSAN KAK! KUMOHON BANTU AKU!" Elsa panik lalu mulai meneriakki Gavin, Gavin pun ikutan panik karena melihat Hananya pingsan jadi segera membawanya kerumah sakit. Namun Elsa lupa satu hal, YAITU ADAM!
"Ah ya ya, aku lupa mengabari Adam. Aku harus memberi tahunya sekarang juga jika ti-" Elsa yang berbicara sendiri akhirnya terkejut tak karuan melihat Adam datang dengan penampilan acak - acakkan. "Apa yang terjadi dengan wanitaku?! bagaimana bisa baru kutinggal sebentar sudah seperti ini?!" Adam marah lalu Elsa berinsiatif menjelaskan tentang kejadian tadi kepada Adam.
Dilain sisi, Gavin begitu mengkhawatirkan Sofia sampai - sampai ia terus berada di ruangan Sofia dan itu memancing kemarahan Adam sekarang.
"Heh, ternyata presdir group FUI kenapa berada di ruangan wanitaku? Apakah wanitaku meminjam uangmu? berapapun itu aku akan membayarnya" Adam langsung to the point tanpa basa - basi dan merebahkan dirinya di sofa kamar Sofia.
"Adam! bagaimana bisa disaat dia sedang kritis kamu tidak ada! pria macam apa kau?!" Gavin marah lalu ia melampiaskan kemarahannya kepada Adam, namun Adam tidak terima. "Sofia adalah orangku, aku bebas melakukan hal apa yang kumau kepadanya kau atas hak apa mencampuri urusan orangku?" Sindir Adam dengan menatap Gavin tajam.
"Hah, biarpun begitu aku - aku ah sudahlah. Lebih baik aku pergi saja sekarang." Gavin menyerah, lalu segera meninggalkan kamar Sofia dengan perasaan marah dan dendam kepada Adam.
"Ryan segera selidiki gerak - gerik Gavin. Aku perlu mengetahui apa yang membuatnya terpikat dengan wanitaku." Perintah Adam kepada Ryan, lalu Ryan segera melaksanakan perintah Adam.
** 4 Tahun yang lalu. **
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi piknik di villa pantaimu? piknik di pantai adalah keinginanku sekarangg!" Ucap Hana bergembira sambil memeluk lengan Gavin dan mengecup lengannya lembut.
"Baiklah sayang, apa yang tidak untuk dirimu seorang Hana? jika bukan kau mana mau aku membatalkan semua jadwal ini." Balas Gavin sambil mengacak - acak rambutnya Hana gemas.
Gavin pun segera membatalkan semua jadwal pekerjaannya dan segera menuruti keinginan sang kekasihnya, namun takdir ternyata berkata lain untuk mereka.
"Ya baiklah haha! kau memang pria terbaikku didunia! aku sangat sangat mencintaimu, aku berharap kita langgeng sampai tua dan keriput!" Hana berbinar lalu setelah itu mengajak Gavin mengendarai mobilnya.
Bagi Gavin, Hana adalah orang yang sangat polos, pendiam, dan polos. Diapun juga orang kedua yang Gavin sayangi setelah kedua orang tuanya. Hana sudah seperti berlian yang harus dilindungi untuk Gavin.
"Gavin, lihatlah sebentar ke kamera. Aku hari ini membawa kameraku! mari berfoto sebentar!" Ajak Hana disaat tengah - tengah Gavin sibuk mwnyetir mobil.
"Tidak bisa Hanaku, aku sedang fokus menyetir dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang ti-" Ucapan Gavin terpotong karena melihat Hana yang memanyunkan bibirnya ngambek.
"Sudahlah, aku malas denganmu Gavin. Lebih baik berhenti saja disini dan jangan melakukan piknik di pantai la-" Gavin tanpa basa-basi langsung mencium Hana yang sedang ngambek dengannya di tengah - tengah jalan. Hana pun tersenyum, namun itu adalah senyuman terakhir Hana.
"Cepat berfoto, aku sudah lumayan tampan kan? Hahaha" Gavin tertawa, sedangkan raut muka Hana terlihat pucat dan panik.
"GAVIN, CEPAT MENGHINDAR! DIDEPANMU ADA MOBIL, GAVIN TIDAK BISA SEPERTI INI. GAVIN AKU SANGAT MENCINTAIMU!!" Hana berteriak dengan keras, Gavin yang panik pun terkena shock attack dan tidak bisa berpikir di keadaan tersebut.
"SESEORANG SIAPAPUN TOLONG ADA KECELAKAAN! BAWA MEREKA KE RUMAH SAKIT CEPAT!" Panik warga dan pejalan sekitar jalanan dan segera membawa mereka ke rumah sakit, Gavin dibawa namun Hana tidak. Karena sudah tidak bisa diselamatkan lagi.
"Selamatkan Hana, aku masih ingin melihat dia hidup. Biarkan aku bersama-" Ucap Gavin sebelum ia pingsan lagi dan merawat dirinya di rumah sakit.
Sejak kejadian tersebut Gavin berjanji kepada dirinya tidak akan mendekati maupun menikahi gadis lain selain Hana seorang. Baginya Hanalah yang bisa menempati hatinya dengan bebas. Sifat Gavin berubah 360 derajat setelah kejadian tersebut.
Namun selepas melihat Sofia, dia menyadari kalau Tuhan masih menyayanginya dan membiarkan ia bertemu dengan Hana lagi. Sekarang Gavin akan mengerahkan semua yang ia miliki untuk mendapatkan Sofia dan menjadikannya Nyonya muda perusahaan FUI. Apakah bisa? Engga tau, liat aja next chapter!