My Introvert Secretary

My Introvert Secretary
7. Kencan



"Hah kamu tidak perlu menyelidikinya Adam! seharusnya kamu berterimakasih kepadanya karena telah menyelamatkanku!" Kesalku sambil memanyunkan bibirku dan menatap Adam.


"Ya ya baiklah, untuk hari ini aku mengalah karena kamu sedang sakit." Adam mengalah lalu ia menggendongku dan membawaku keluar pergi berjalan - jalan. Apakah kencan? tidak tahu!


"Ryan, kosongkan semua jadwalku hari ini. Gadisku, aku harus membawanya berjalan - jalan sekali denganku!" Perintah Adam ke asistennya Ryan, lalu Ryan kembali menjawabnya "Tapi presdir, salah satu jadwalmu adalah bertemu dengan tuan dari perusahaan RUI" Jawab Ryan khawatir, namun ia malah mendapatkan tatapan mengerikan dari Adam.


"Presdir sepertinya jadwalmu sekarang lebih penting daripada ini, aku bisa berjalan sendiri dan mengobati luk-" Ucapanku terpotong saat tiba - tiba Adam menatapku marah dan mengecupku jelas di bibir lalu asisten Ryan segera pergi meninggalkan tempat.


"Keadaanmu sekarang terluka, sebaiknya menurutlah denganku jika tidak, aku akan berbuat yang lebih lagi kepadamu ingat." Ancam Adam lalu ia segera melanjutkan jalannya menuju lift. Pintu lift pun terbuka, namun ada sesuatu hal yang tak terduga malah terjadi.


"Heh, bukankah itu presdir. Siapa wanita yang digendongnya itu? tidak tahu malu sekali bukan?"


"Emh, mungkin Adam sudah tergoda oleh wanita itu, trik godaan apa lagi yang dia pakai?"


"Adam berselingkuhkah? apa dia tidak melihat didepannya adalah pacarnya? artis terkenal itu Olivia!"


Baru keluar saja aku sudah dikomentarkan oleh karyawan - karyawan Adam dibawah. Aku harus menaruh mukaku dimana sekarang? sepertinya aku sudah tidak mempunyai muka sama sekali untuk hal ini, dan didepanku adalah Olivia! ya, pacarnya Adam.


'Lihat Adam bagaimana kau akan menurunkannya didepanku dan segera memelukku sekarang! gadis itu tidak pantas berada di gendonganmu!' Gumam Olivia lalu ia segera merubah ekspresinya menjadi gelisah dan khawatir didepan Adam.


"Adam, apa yang kamu lakukan? aku berniat mengunjungimu dan membawakanmu bekal makanan kesukaanmu hari ini.." Ucap Olivia dengan nada lemas dan terduduk di lantai berpura - pura kaget melihat Adam dan Sofia.


"Heh, gadis busuk sepertimu setelah apa yang kau lakukan kemarin malam lalu sekarang malah terduduk di lantai perusahaanku?" Adam terlihat marah, ia menatap Olivia tanpa rasa khawatir dan kasihan sedikitpun. Sepertinya dia benar - benar benci dengan Olivia sekarang.


"Tolong maafkan aku soal masalah kemarin, aku kesini hanya ingin membawakanmu makanan sayang. Aku adalah pacarmu Adam!" Olivia mulai menangis hebat dan langsung mendekat dan memeluk kaki lutut Adam dengan ekspresi sedih.


"Berarti gadis yang digendong Adam benar penggoda? sungguh memalukan sekali."


"Ya, lihatlah betapa sedihnya Olivia. Apakah Adam tidak kasihan melihatnya? sungguh pacar yang kejam!"


'Ya bagus sekali, dengan semua ocehan orang bodoh ini maka semua rencanaku akan berjalan lancar!' Gumam Olivia lagi dan ia sedikit tersenyum lalu tanpa ragu Sofia langsung turun tanpa perintah dari Adam sekarang.


"Heh bukankah kau dan dia sudah putus? lalu kenapa terduduk disini? apa baru menyesal sekarang?" Tanyaku kepada Olivia karena kesal juga mendengar ocehan orang sekitarku, Adam lalu menatapku dengan tatapan bangga kepadaku.


"Apa - apaan dengan dirimu itu? sudah jelas jalang lalu menghinaku! AKU PACARNYA ADAM! ADAM MENCINTAIKU BUKAN KAU JALANG!" Olivia marah besar dan teriak - teriak dilobby perusahaan Adam, lalu ia berdiri dan ingin menjambak rambut Sofia.


Apa yang terjadi? Sofia lalu mengetahui tindakannya dan segera menghentikannya sendiri tanpa bantuan dari Adam sedikitpun sekarang.


"Kau, kau berani - beraninya kepada artis papan atas seperti ini? aku adalah Olivia! ingat itu!" Ancam Olivia untuk membuat Sofia takut, namun tak mempan. Karena Adam mendukung Sofia sekarang.


"Jaga omonganmu, Olivia. Adam sekarang pacarku dan aku tidak ingin membuatnya tidak nyaman disini gegara kau seorang, ingat kau adalah mantan! hanya mantan!" Camku kepada Olivia lalu tanpa sadar tubuhku mendekat ke Adam dan mencium bibirnya lembut sekali.


"SOFIA, kau barusan mencium pacarku dan kau masih tidak sadar diri?!? APA MAKSUDMU INI? APA KAU MENGINGINKAN UANGNYA ADAM?!" Kemarahan Olivia semakin menjadi - jadi yang membuatku menggelengkan kepala karena lelah.


"Heh gadis nakalku sudah berani menciumku sekarang? aku senang kepadamu" Adam tersenyum ganteng lalu segera menggandengku masuk ke dalam mobil.


Dalam perjalanan menuju tempat makan sungguh sangat sunyi. Karena aku membenci kesunyian jadi aku berusaha memecahkannya sekarang.


"Soal yang tadi, aku tidak bermaksud menciummu. Aku hanya ingin masalah itu cepat selesai" Ucapku sambil memainkan jariku yang gemetar hebat.


"Bermaksud atau tidak saja itu sudah membuatku senang, bibirmu sekarang menjadi canduku." Jawab Adam yang membuat pipiku merah seperti tomat.


"Ah ya! dan juga kamu bukanlah pacarku sama sekali! aku tidak menyukaimu! aku hanya..aku hanya ingin membantumu tadi!" Tekanku menjelaskan ke Adam agar ia tidak salah paham kepadaku sekarang.


Adam tidak menanggapinya, hatiku semakin tidak tenang. Aku rasa aku ingin belajar cara membaca pikiran orang lain sekarang. Haduh. Sesampainya di tempat makan itu kami berdua turun dari mobil dan segera memasuki tempatnya.


"Kenapa ini restoran sepi sekali? apa aku tidak salah melihat? ada apa dengan dunia hari ini." Tanyaku pada diriku sambil menggelengkan kepala sendirian.


"Itu karena aku membeli restorannya, apakah kamu suka? dan aku tidak ingin kita berdua diganggu lagi sekarang." Tanya Adam kepadaku dan ia segera mengajakku makan di ruangan VIP.


"Kenapa pria kaya sangat suka menghamburkan uang, uang sangatlah susah dicari presdir benar - benar bodoh." Omongku pelan tetapi tetap saja masih bisa didengar oleh Adam.


"Uang sangat mudah dicari, yang sulit dicari adalah kamu Sofia. Jadi jika kamu butuh uang katakan saja jumlahnya kepadaku, aku akan mentransfernya." Jelas Adam lalu ia mencubit hidungku gemas.


"Baiklah presdir, untuk makanannya aku mengikuti kamu saja presdir. Aku tidak tahu tentang makanan mahal ini." Kataku sambil bingung melihat menu makanan yang begitu mahal dan mewah.


"Baik, kita pindah tempat saja. Jangan makan disini, gadisku juga harus berisi agar enak nantinya." Ucap Adam lalu berdiri sambil memakai jasnya dan menungguku di dalam mobil.


Pindah lah kami berdua pergi ke restaurant dekat rumahku yang sangat - sangat ENAK! menurutku. Lalu aku mengarahkan Adam ke jalan restaurantnya.


"YA KITA SUDAH SAMPAI YEAY!" Aku berteriak bahagia lalu meninggalkan Adam segera dan berlari masuk menuju pintu restaurantnya, namun tebak apa yang terjadi?


Aku menabrak seseorang yang sangat tinggi! Aku lalu mengangkat wajahku dan segera meminta maaf kepadanya, namun sepertinya tidak dimaafkan.


"Maafkan aku tuan, salahku yang menabrakmu." Ucapku sambil melihatnya khawatir dan terkejut karena kak Christa kakak keduaku ada disampingnya juga.


"Sayang apa kamu sudah tidak apa - apa? dasar gadis buta! berjalan saja tidak tahu malah masih menabrak orang!" Marah kak Christa sambil mendorongku kasar, untungnya aku tak terjatuh karena Adam menahanku.


"Wanitaku bukan mainan yang bisa kau mainkan sesukanya, Christa kuberi kau peringatan." Ancam Adam dan menggendongku duduk di pangkuannya di meja makan.


"Sayang lihat bukan, presdir Adam sungguh sangat melindungi wanita itu, aku sungguh kesal dengannya." Christa yang mencoba meminta pembelaan dari pacarnya, alhasil nihil.


"Berikan aku informasi tentang gadis itu, kuberi waktu satu menit." Perintah Gavin, pacar Christa. Sepertinya Gavin mulai tertarik dengan Sofia karena suatu hal.