
Dia tidur bersama dengan tunangan Evelyn,tunangan saudara tiri nya sendiri..pria itu dikenal sebagai seorang tiran..pria yang begitu kejam dan tidak berbelas kasihan
sedikit pun..semua orang bahkan menyebut nya sebagai monster psikopat yang berhati dingin.
Tidak berhenti sampai di situ saja.. bahkan dia sudah terjatuh dan tertimpa tangga pula..dia tahu bahwa ibu saudara tiri nya Metta memang tidak menyukai nya sejak dulu..bahkan semua yang telah dia lakukan selalu salah di mata Metta.
Kali ini Metta bahkan menyalahkan nya dan memukuli nya dengan begitu bringas atas perbuatan yang bahkan tidak dia lakukan sama sekali..dia tidak ada niatan untuk merebut tunangan Evelyn,tetapi justru putri mereka sendiri lah yang telah membuat semua ini terjadi.
Namun,apa yang bisa Rosse lakukan..apa yang bisa dia lakukan untuk menjelaskan kenyataan yang tidak masuk akal ini.
Apakah dia harus mengatakan yang
sejujur nya pada keluarga nya bahwa Evelyn lah yang twlah menjebak nya dan Evelyn juga lah yang telah mengirimkan nya ke kamar hotel di mana Zavyan menginap.
Bukan kah itu terdengar sangat tidak
masuk akal,bahkan dia bisa menjamin bahwa tidak akan ada satu orang pun yang akan mau mempercayai nya walaupun dia tidak berbohong dan berkata apa yang sebenar nya terjadi.
Dia duduk di kursi ruang tengah rumah nya dengan kepala bersandar
sambil menatap ke atas ke arah langit-langit rumah nya.
"Kepala ku sakit sekali..ya tuhan kenapa takdir ku begitu kejam" ujar Rosse lirih.
Rambut hitam nya yang terurai begitu indah kini tampak terlihat begitu kacau dan berantakan.. sementara itu pipi nya juga terlihat sedikit bengkak dan bekas cakaran juga masih terlihat dengan jelas.
Sekujur tubuh nya kini masih terasa begitu nyeri bahkan untuk sekedar bergerak sedikit saja dia sudah tidak mampu.
Sakit hati,kecewa,frustasi,bahkan emosi..rasa nya semua perasaan itu sudah bercampur aduk bahkan air mata nya kini mulai menggenang dan membuat air mata nya menetes satu demi satu di pipi bengkak Rosse.
"Sebenar nya apa salahku..mengapa semua ini terjadi kepada ku..takdir begitu kejam pada ku tuhan" gumam Rosse.
Mata nya kimi mulai menyapu ke seluruh rumah yang ditempati nya saat ini..ini adalah rumah yang bisa dibeli ibu nya saat berpisah dengan ayah nya sewaktu dulu..rumah yang kecil dan juga sederhana,tidak ada apa-apa nya jika dibanding kan dengan rumah mewah milik Evelyn saat ini.
Dia hanya tidak habis pikir saja,kenapa Evelyn bisa sampai setega ini hingga melakukan semua hal buruk itu kepada nya dan melimpahkan kejelekan yang dia buat pada nya.
Bukan kah Evelyn memiliki ayah dan ibu yang lengkap,sementara ia hanya memiliki ibu nya saja..bahkan Evelyn juga memiliki rumah yang mewah,sementara dia harus tinggal di rumah yang kecil dan juga sangat sederhana.
Evelyn dimanja oleh kedua orang tua nya,apa pun yang ia ingin kan pasti akan selalu bisa di dapatkan nya, sementara Rosse..dia bahkan harus
berjuang keras seorang diri semenjak ibu nya jatuh sakit.
Lalu mengapa Evelyn malah tega melakukan semua ini pada nya..apa yang kurang di kehidupan nya sehingga dia dengan sengaja melakukan hal ini kepada saudara nya sendiri.
Walaupun mereka bukan lah saudara kandung sekali pun, Rosse tidak pernah menyangka bahwa Evelyn akan dengan sengaja melakukan hal ini kepada nya.
Setelah Rosse memutar otak tanpa mendapat kan jawaban apa pun,kini akhirnya Rosse memutuskan untuk bangkit berdiri..dia harus segera pergi ke rumah sakit dan
Sebelum berangkat, Rosse tak lupa mengecek uang yang dimiliki nya saat ini..wajah nya kini tampak lesu saat melihat hanya beberapa lembar
uang yang masih tersisa ditabungan nya.
Bagaimana cara nya dia bisa membayar biaya rumah sakit ibu nya jika uang yang dia miliki saja hanya tinggal tersisa sedikit saja..
sekarang apa yang harus dia lakukan.
Rosse kembali termangu di dalam kamar nya,dia tidak tahu harus berbuat apa lagi..dia telah berusaha dengan amat sangat keras hanya untuk tetap bisa bertahan hidup dengan baik..dia sudah melakukan segala yang ia mampu hanya untuk
menantikan ibunya bangun dari tidur panjang nya.
Tahun demi tahun telah berlalu begitu saja,rasa nya harapan itu kian hari semakin pupus..ibu nya tidak kunjung bangun juga hingga saat ini. bahkan semua perhiasan milik ibu nya telah ia jual untuk membiayai
kebutuhan sehari-hari,rumah sakit dan juga uang kuliah nya.
Sekarang dia benar-benar tidak lagi memiliki apapun..dia juga sudah
meminta tolong pada ayah nya untuk membantu membiayai rumah sakit ibu nya,tetapi ayah nya pun menolak mentah-mentah.
Lalu,apa yang harus ia lakukan..di saat Rosse tengah kalut dengan pikiran nya tiba-tiba suara ketukan pintu mulai terdengar hingga membuyar kekalutan di kepala nya.
Siapa yang mengunjungi rumah nya?.
Rosse segera bergegas membuka kan pintu dan melihat seorang pria paruh baya yang tak di kenal nya sama sekali tengah berada di depan pintu rumah nya..pria itu bertubuh cukup besar,namun sama sekali tidak menakutkan di mata Rosse.
Justru malah sebalik nya..wajah nya terlihat ramah..rambut nya juga terlihat mulai putih dan penuh dengan uban. Wajah nya tersenyum saat melihat Rosse dan membuat pria itu begitu memancarkan aura
kebapakan yang sangat kuat.
"Maaf anda siapa ya?" tanya Rosse sopan namun dengan raut bingung.
Tentu saja bingung karena Rosse bahkan tidak mengenal pria yang ada di depan rumah nya itu.
"Selamat sore nona.. perkenalkan saya Ben supir pribadi tuan Zavyan Wilingham..saya ke sini karena diminta untuk menjemput nona.. tuan Zavyan hanya ingin bertemu dengan anda" kata nya dengan nada suara sopan dan enak di dengar.
Zavyan Wilingham,astaga bagaimana cara nya pria itu bisa
mengetahui tempat tinggal nya..bahkan hari ini adalah hari pertemuan pertama mereka dan Rosse juga telah melarikan diri dari nya pagi tadi di saat pria itu sedang lengah..tentu saja bukan lah Rosse
yang memberitahu kan alamat rumah nya sendiri pada pria itu
"Tapi bagaimana bapak bisa tau tempat tinggal saya,saya tidak pernah memberitahu alamat umah saya pada siapapun termasuk tuan Zavyan sekalipun" tanya Rosse dengan sikap sedikit waspada.
Wajah Ben pun tetap ramah di saat ia berusaha untuk menjelaskan semua nya dengan sabar..dia tidak mau membuat Rosse malah jadi semakin tidak percaya pada nya.