
Di bawah tatapan Zavyan, Rosse pun semakin merasa gelisah.. Zavyan tidak berkata apapun dan Rosse jadi berpikir apa kah kebohongan nya sudah terbaca..lalu apalagi yang harus dia katakan.
Rosse sudah seperti seorang murid yang ketahuan nyontek oleh guru nya..tak bisa berkutik.
Seolah nasib baik masih memihak pada nya,Rosse merasa terselamat kan karena tiba-tiba pintu ruangan kantor Zavyan terbuka..rupa nya asisten Zavyan lah yang masuk dan membawa dua cangkir teh dan dia pun menyajikan nya di hadapan Zavyan dan Rosse.
Rosse pun mengucapkan terima kasih pada asisten Zavyan itu,tapi wanita itu sama sekali tidak menggubris nya seakan tidak menganggap nya ada di ruangan itu dan malah menghadap ke arah Zavyan.
Asisten Zavyan itu masih setia menatap ke arah Zavyan seolah dia sedang menanti kan respon dari
pria itu.. Zavyan pun sama sekali tidak memandang nya dan dia juga
tidak berterima kasih bahkan dia tidak menyentuh teh yang di bawa kan oleh asisten nya itu.
Zavyan tau bahwa asisten nya itu memang sengaja masuk ke ruangan
nya bukan hanya untuk sekedar
mengantar kan teh itu..tetapi dia juga penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh nya dan Rosse.
Kalau saja wanita itu tidak pintar dan cekatan dalam mengerjakan tugas nya,pasti sudah Zavyan pecat sedari dulu.
Raya nama asisten Zavyan,dia memang sudah bekerja cukup lama di kantor nya dan dia juga sudah mengerti seluk-beluk perusahaan nya..pengalaman nya itu lah yang membuat nya jarang sekali melaku kan kesalahan.
Sayang nya,Zavyan telah menyadari
bahwa Raya menaruh hati pada nya dan di tambah dengan sikap nya yang semakin lama malah semakin agresif membuat Zavyan tidak nyaman dan terkadang dia kesal dengan tingkah Raya.
Dulu mungkin saya hanya akan
memandang nya saja dari kejauhan, tetapi sekarang dia sudah berani memasuki ruang nya tanpa ijin dari nya dan hanya dengan alasan
mengantar kan teh.
Mungkin kah dia harus memikirkan untuk memecat asisten nya ini,seperti nya Tomi saja sudah cukup untuk nya.
Setelah meletak kan cangkir teh itu, Raya tidak lah langsung keluar dari ruangan nya,dia malah kini sedang
berdiri di samping Zavyan seolah dia sedang menunggu perintah lebih lanjut dari bos nya itu.
Hal ini justru membuat Zavyan jadi merasa semakin kesal saja..dia pun mengibas kan tangan nya kilau tanda bahwa dia menyuruh saya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Melihat perintah dari bosnya itu, rata pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi
selain pergi dengan lesu..karena perintah sang bos adalah mutlak.
Sementara itu, Rosse hanya memandangi kepergian Raya dengan tatapan cemas..dia seakan
merasa tidak rela melihat Raya mulai berjalan keluar dari ruangan ini..dia tidak mau ditinggal kan seorang diri bersama dengan Zavyan.
Apa lagi yang harus dia lakukan,apa yang dia katakan pada Zavyan seolah menjadi boomerang untuk nya sendiri.
Suara pintu tertutup pun kini terdengar di telinga Rosse yang masih tidak bisa mengalih kan perhatian nya dari pintu itu, sementara wajah nya pun juga mulai terlihat gelisah dan gugup.
Otaknya harus berputar dengan cepat untuk mencari jalan keluar dari situasi membagongkan ini.
"Kenapa rasa nya seperti sedang di ruang interogasi ya.. menegangkan" batin Rosse.
#
Ruangan itu kembali sunyi seakan kembali pada mode awal..hanya ada
mereka berdua yang ditemani oleh dua cangkir teh yang juga terabaikan di atas meja.
Zavyan sendiri hanya duduk sambil bersandar di sofa nya dengan
santai tentu sambil menatap Rosse yang seperti ketakutan di hadapan nya..wanita itu sudah seperti kelinci
kecil yang gemetaran seolah Zavyan adalah harimau yang siap untuk menerkam nya.
Rosse tampam duduk dengan tegak, seolah dia takut jika dia lengah sedikit saja,dia akan langsung ditelan hidup-hidup oleh Zavyan.
Rosse kembali menyisir anak rambut yang terjuntai berantakan di pipinya.
Gerakan yang Rosse lakukan justru tanpa sengaja ujung jari nya malah menyentuh luka bekas tamparan Metta ibu tiri nya..luka itu memang masih terasa perih sehingga dia sedikit meringis sambil menahan rasa sakit.
Zavyan pun masih memperhatikan semua gerak-gerik Rosse..dia juga bisa melihat Rosse yang meringis saat jemari nya menyentuh pipinya. tiba-tiba tubuh Zavyan langsung
menegang saat memikirkan bahwa ada sesuatu yang telah terjadi pada Rosse.
Zavyan pun segera bangkit dan
berdiri dari tempat duduk manis lalu
mencondong kan tubuh nya ke depan dan memegang dagu Rosse juga sedikit menarik nya sehingga dia bisa melihat wajah nya dengan jelas.
Tangan nya memegang dagu Rosse dengan sedikit keras karena dia tadi terlalu terburu-buru,hingga membuat Rosse kembali kesakitan dan meski samar Zavyan tetap masih bisa melihat bekas luka yang telah ditutupi bedak oleh Rosse.
Luka itu masih bisa tersamar kan
sehingga ia tidak bisa mengetahui nya hanya dengan sekali lihat saja dam di saat-saat seperti ini lah, Zavyan jadi merasa sangat kesal terhadap kemampuan penglihatan nya..bahkan Rosse terluka pun dia tidak menyadari nya..dia benci dengan diri nya yang tidak bisa melihat dengan sempurna.
Matanya tidak lah lagi sesempurna seperti dulu sehingga banyak sekali hal yang terlewat kan oleh nya..saat dulu di saat penglihatan nya yang dulu masih sempurna, bahkan untuk
hal sekecil apa pun itu tidak akan luput dari perhatian nya,terutama hal-hal yang mengenai Rosse.
Sekarang dia bahkan tidak bisa menyadari bahwa Rosse nya sedang terluka hanya karena wanita itu berusaha untuk menutupi luka nya
dengan bedak..sungguh dia sangat marah dengan diri nya sendiri yang tidak peka akan keadaan Rosse.
Rosse tidak tahu harus berbuat apa saat Zavyan yang masih memegang dagu nya..jujur dia juga terpana saat
melihat wajah Zavyan yang saat ini berada tepat di hadapan nya.dia juga bisa melihat wajah Zavyan yang begitu rupawan itu dengan sangat jelas.
Wajah pria itu benar-benar sangat dekat dengan nama hingga membuat Rosse sesak hanya sekedar untuk bernafas saja.. bahkan saking dekat nya,jarak kedua nya sejengkal pun seperti nya tak sampai.
Wajah Rosse kini jadi memerah dan merona hingga telinga nya pun jadi
terasa panas karena malu dan gerogi..dia memang tidak terbiasa untuk sedekat ini dengan seorang pria bahkan terkesan canggung.