
Wajah Ben pun tetap ramah di saat ia berusaha untuk menjelaskan semua nya dengan sabar..dia tidak mau membuat Rosse malah semakin tidak percaya pada nya.
"Nona,hanya sekedar mencari
tahu tempat tinggal anda bukan lah hal yang sulit bagi keluarga Wilingham..kami bisa tau semua hal,meski itu hal sekecil sekalipun" kata Ben masih mode biasa saja yang malah membuat Rosse bergidik saat mendengar jawaban itu.
Dia tidak mau bertemu dengan pria itu lagi..dia takut di paksa seperti pagi tadi sebelum dia berhasil lolos.
Dia tidak ingin mengingat apa yang telah terjadi pada nya kemarin malam..lagi pula,dia juga harus pergi ke rumah sakit untuk segera
mengunjungi ibu nya dan dia juga harus memikirkan cara untuk mencari uang untuk biaya rumah sakit ibu nya.
Rosse tidak punya waktu hanya untuk sekedar bertemu dengan seorang Zavyan Wilingham saja, meski pria itu adalah anak seorang konglomerat sekali pun tetap saja prioritas utama nya adalah bekerja mencari uang untuk ibu nya dan kehidupan sehari-hari nya.
"Maafkan saya pak..saya tidak mengenal bapak dan saya tidak mau pergi bersama dengan orang yang tidak saya kenal" jawab Rosse
dengan nada tegas.
"Tap__" belum sempat Ben
menyelesai kan kalimat nya, Rosse langsung kembali memotong nya.
"Maafkan saya" kata Rosse memotong ucapan Ben sambil berusaha untuk menutup pintu rumah nya dan mengusir Ben secara halus.
Ben sangat tahu bahwa dia tidak mungkin bisa memaksa Rosse yang notabene nya baru bertemu dengan nya untuk ikut dengan nya menemui Zavyan..bagaimana pun juga,wajar saja jika seorang wanita bersikap
waspada apalagi mereka baru bertemu.
Tidak seharus nya Rosse mengikuti
pria tidak dikenal secara sembarangan..nmun Ben juga tidak bisa pulang dengan tangan kosong.l begitu saja..dia pun dengan segera menghentikan Rosse sebelum pintu rumah tersebut ditutup rapat.
"Nona maaf..tuan Zavyan berpesan untuk meninggalkan kartu nama nya untuk anda..anda bisa menghubungi nya jika nanti berubah pikiran" kata Ben sambil menyerahkan sebuah kartu nama pada Rosse.
Rosse merasa lega karena pria paruh baya di hadapan nya itu tidak memaksa nya untuk mau ikut bersama dengan nya..dia pun akhrinya menerima kartu nama yang diberikan oleh Ben tanpa mengatakan apa pun lagi lalu menutup pintu rumah nya.
Setelah kartu nama yang ia berikan itu di terima oleh Rosse,Ben sedikit
mengangguk kan kepala nya sebagai gestur untuk berpamitan dan dia pun meninggal kan Rosse di sana seorang diri.
Rosse kini tengah menatap kartu nama di tangan nya itu dengan perasaan linglung di depan rumah nya..sungguh hari ini sangat banyak hal aneh yang terjadi dalam hidup nya.
Kartu nama di tangan nya berwarna hitam legam dan dihiasi dengan tulisan-tulisan bertinta emas yang membuat nya tampak sangat elegan.
Zavyan Wilingham,CEO Wilingham corporation's..apa yang sebenar nya pria itu inginkan dari nya.. Rosse pun menyimpan kartu nama hitam itu di tas nya dengan asal-asalan dan berusaha untuk tidak memikir kan bahwa Zavyan sedang mencari nya.
Dia tidak punya waktu untuk memikir kan pria itu..Rosse pun kini segera bersiap-siap dan pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ibu nya tercinta..sudah tiga tahun lama nya ibu nya koma dan tinggal di rumah sakit.
Selama tiga tahun itu juga Rosse harus berjuang seorang diri,berjuang untuk menyelesaikan kuliah nya dan dia juga berjuang untuk mencari uang demi biaya rumah sakit ibunya.
Ibu nya dulu adalah seorang parfumeur..seorang pencipta parfum sangat yang terkenal pada masa nya..sejak kecil,Rosse sering kali mendengar kan cerita mengenai pekerjaan ibu nya..dengan parfum ciptaan nya,ibunya bisa membuat
para wanita menjadi jauh lebih percaya diri.
Cerita-cerita tentang ibu nya itu lama kelamaan menjadi bagian dari mimpi nya dan juga membawa nya untuk mengambil jurusan ahli kimia
nanti dia bisa menjadi seorang parfumeur yang profesional seperti ibunya.
Karena pekerjaan nya itu lah ibunya akhir nya memiliki sebuah lahan kecil yang dia gunakan untuk
bercocok tanam..di setiap akhir pekan,ibunya sering kali mengajak Rosse untuk menanam berbagai macam bunga dan ibu nya juga selalu memberitahu nya mengenai berbagai macam pengetahuan mengenai dunia parfum.
Dengan hanya mengandalkan semua pengetahuan itu dan juga ketajaman indera penciuman nya, Rosse akhir nya menggunakan kemampuan nya untuk mencari uang.
Dia membuat parfum dan juga
aromaterapi untuk dijual di toko-toko kecil.
Hanya itu lah yang bisa Rosse lakukan saat ini untuk bisa tetap bertahan hidup..sayang nya,itu saja rupa nya masih tidak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup nya yang luar biasa besar nya.
Setelah selesai bersiap-siap, Rosse pergi menggunakan sepeda nya untuk menuju ke rumah sakit..Rosse berusaha untuk bisa berhemat sebisa mungkin sehingga dia tidak menggunakan uang nya untuk sekedar menaiki kendaraan umum.
Biasa nya Rosse akan pergi dengan hanya berjalan kaki saja atau kalau perjalanan nya cukup jauh,dia akan menggunakan sepeda nya..rumah sakit sudah seperti rumah kedua
bagi Rosse.
Waktu luang yang dia miliki akan dia
habiskan untuk mengunjungi rumah sakit,memeriksa keadaan ibu nya..dalam setiap perjalanan nya ke rumah sakit,Rosse selalu berdoa dan juga berharap bahwa ibu nya telah bangun dan menyambut nya dengan senyuman seperti saat dia pulang sekolah dulu.
Namun sayang nya,setiap hari dia
harus bisa untuk berbesar hati dan bisa menerima bahwa harapan nya harus terus menerus runtuh..hari ini sama seperti hari-hari sebelum nya,
Rosse melihat sosok ibu nya yang masih betah tertidur lelap dan tidak menunjuk kan tanda-tanda bahwa dia akan bangun.
Berbagai macam mesin-mesin selalu mengelilingi ibu nya untuk menjaga agar kondisi ibunya tetap stabil..seiring berjalan nya waktu membuat penampilan ibunya juga mulai berubah..rambut hitam yang dulu nya dengan panjang nya sebahu dan sekarang sudah mulai beruban.
Wajah nya yang dulu mulus pun kini sudah terlihat mulai keriput dan tubuh nya pun begitu tampak sangat kurus,seolah waktu telah memakan masa muda nya di atas brankar rumah sakit.
"Ibu, Rosse datang bu..Rosse kangen Ibu" kata Rosse dengan suara lirih.
"Ayo bangun bu,bangun lah karena Rosse butuh Ibu di sisi Rosse" lanjut nya dengan tangis yang begitu pilu.
Hari itu,rasanya semua perasaan Rosse yang terpendam di hati nya dia tumpahkan..kejadian yang menimpa nya hari ini juga seolah
menambah beban yang telah lama meumpuk di hati nya,membuat semua yang selama ini dia rasakan seolah meluap tak terkendali dalam tangis nya.
Air mata nya pun sudah menetes satu demi satu..Rosse tak lagi kuat untuk menahan isak tangis yang dia tahan sedari tadi..dia begitu sangat merindukan sosok ibu nya yang selalu menjadi tempat untuk nya
bersandar dan tempat dia berkeluh kesah.
Tempat dia untuk selalu berbagi tawa dan cerita..dia satu-satu nya
sosok yang mencintai nya setulus hati dan juga sosok yang bersedia untuk melakukan apapun demi
diri nya.
Namun Rosse juga tahu bahwa tidak ada guna nya dia menangis,tangisan nya itu tidak akan pernah bisa untuk membangun kan ibunya yang kini masih terlelap dengan damai nya di atas brankar rumah sakit.