
Kesedihan nya itu tidak akan bisa membuat ibu nya langsung pulih begitu saja.. Rosse harus kuat dan dia tidak boleh cengeng seperti ini,dia harus bisa tetap bertahan dan terus berjuang demi kesembuhan ibunya.
Rosse sangat ingin melihat senyum hangat ibu nya lagi serta sapaan lembut nya setiap dia pulang.
"Bu,Rosse akan tetap terus berjuang untuk mu ibu.. Rosse harap ibu akan
cepat sadar ya,Rosse rindu ibu" kata Rosse sambil menghapus air mata nya yang mengalir begitu deras nya.
Dan hanya ada keheningan yang selalu menyambut setiap ucapan nya itu..tidak ada lagi balasan atau pun senyuman hangat dari ibu nya.. Namun,itu tidak serta merta membuat Rosse jadi putus asa.
Rosse sangat yakin dan tahu bahwa di suatu hari nanti,pasti ibunya akan kembali bersama nya..tersenyum hangat menyambut nya lagi..Rosse akan menantikan hari itu.
Di saat Rosse hendak meninggalkan rumah sakit,tepat pada saat itu juga salah satu petugas administrasi di rumah sakit itu memanggil nya..sudah 3 tahun lama nya ibu nya
berada di rumah sakit itu sehingga petugas rumah sakit pun sampai bisa mengenali nya.
Mereka sudah hafal dengan Rosse.
"Rosse maaf,untuk uang deposit yang kamu berikan ke rumah sakit waktu itu hanya cukup untuk sekedar membayar biaya pengobatan ibu mu hingga sampai minggu depan saja" kata si petugas itu sambil menatap Rosse dengan simpatik.
Petugas itu sangat tahu bahwa Rosse telah berjuang begitu keras hanya seorang diri demi ibu nya. hanya Rosse lah satu-satunya orang yang terus datang dan juga selalu mengunjungi ibu nya.
Wajah Rosse pun langsung tampak lesu saat mendengar berita itu..uang simpanan nya pun sudah habis hanya untuk membayar biaya sehari-
hari nya..kini dia juga masih harus membayar biaya rumah sakit ibunya, belum lagi untuk biaya kuliah nya untuk semester depan.
Dari mana lagi dia bisa mendapat kan uang sebanyak itu.. Rosse sungguh bingung,baru saja dia bertekad untuk tetap berjuang demi ibu nya tetapi masalah yang lain justru datang dengan bertubi-tubi terus dan membuat nya semakin terjatuh,seolah tidak lagi bisa memberikan ruang bagi nya untuk bangkit kembali..dia ingin sekedar bernafas sebentar dan jauh dari pelik nya Maslaah yang tengah menimpa nya.
Kali ini apa yang harus ia lakukan,dia tidak bisa lagi hanya mengandal kan penghasilan nya
dari membuat parfum saja..dia juga sudah tidak memiliki perhiasan atau barang mahal apapun yang bisa dia jual..semua sudah habis tak bersisa hanya untuk biaya kehidupan.
Satu-satu nya yang masih Rosse dan ibu nya miliki saat ini adalah taman bunga,tapi apakah dia
harus menjual tanah itu..bagaimana jika tanah itu juga dijual dan dia tidak lagi memiliki mata pencaharian..karena taman itu lah satu-satu nya tempat untuk pekerjaan nya agar dia bisa terua menyambung nyawa nya.
Ditambah lagi dengan kepemilikan
tanah itu yang mana atas nama ibu nya jadi hanya ibu nya sendiri lah yang bisa menjual tanah itu..Rosse juga sempat meminta tolong pada
ayah nya,tetapi ayah nya justru malah menolak dengan
alasan keluarga nya sendiri juga saat ini sedang mengalami masa sulit.
Namun saat Rosse pergi ke rumah ayah nya waktu itu, Rosse bisa melihat bahwa mobil-mobil mewah masih berjejeran di sana juga Metta yang masih mengenakan pakaian yang mewah dan di tambah dengan ponsel nya pun juga masih model keluaran terbaru.
Apa mungkin dia harus mencoba lagi untuk meminta bantuan ayah nya..tetapi Rosse juga sangat sadar bahwa sebenar nya ayah nya itu hanya beralasan..ayah nya tidak benar-benar mau membantu ibu nya karena mereka memang telah berpisah.
Meskipun dulu nya mereka pernah
bersama tapi ayah nya merasa bahwa saat ini mereka telah sama-sama menjalani kehidupan mereka masing-masing,sehingga ayah nya sudah tidak mau lagi dibebani dengan masalah orang lain.
Bahkan hanya untuk sekedar mengeluarkan uang untuk biaya kuliah Rosse pun ayah nya tidak
bersedia..kali ini Rosse benar-benar di landa kegelisahan karena beban pikiran nya yang terus bertambah.
Saat sedang kalut dengan pikiran nya,Rosse tiba-tiba saja teringat dengan kartu nama yang bertulisan tinta emas yang dia terima sebelum dia menuju ke rumah sakit..Kartu
Rosse pun segera mengeluar kan kartu nama tersebut dan Rosse juga
menatap nya dwngan penuh binar seolah seluruh harapan nya itu hanya bergantung pada selembar kertas kecil berwarna hitam itu.
Zavyan Wilingham,CEO Wilingham Corporation's,apakah dia harus menemui pria ini untuk meminta bantuan nya..sungguh Rosse benar-benar tidak tahu apa yang sebenar nya Zavyan ingin kan dari nya dan juga mengenai apa tujuan pria itu hingga ingin bertemu dengan nya.
Tetapi satu yang Rosse tahu adalah bahwa Keluarga Wilingham adalah salah satu dari keluarga yang memang berkuasa di kota ini..mungkin Rosse bisa meminta bantuan atau malah meminjam uang dari Zavyan.
Atau mungkin Rosse juga bisa memohon pada Zavyan agar Zavyan
mau memberi kan pekerjaan untuk nya..bahkan jika dia menjadi pelayan nya pun Rosse akan rela
asal kan dia bisa membayar biaya rumah sakit ibu nya..ya semua ini hanya demi ibu nya.
Memang kedengaran nya tidak masuk akal sama sekali sih meminta bantuan pada orang yang tidak ia kenal..apalagi, Rosse memang baru pertama kali bertemu dengan Zavyan pagi ini.
Tetapi dia juga sudah tidak punya pilihan lain lagi..dia benar-benar
sudah putus asa dan timbul lah ide konyol ini.
"Apa aku harus meminta bantuan
pada nya..ya tuhan bantu lah aku" batin Rosse.
#
Saat ini, Rosse sedang menatap gedung yang begitu menjulang tinggi di hadapan nya..Gedung itu terlihat
sangat modern dan juga mewah..dia merasa tidak bajwa diri nya tidak lah pantas untuk berada di sana.
Wilingham Corporation's
Tulisan besar dengan warna keemasan itu terpampang jelas di bagian atas gedung itu yang mana menandakan bahwa seluruh gedung itu merupakan milik Keluarga Wilingham.
Semua orang yang tengah keluar masuk dari tempat itu begitu tampak sangat rapi..para pria yang berlalu-lalang di tempat tersebut juga memakai jas atau kemeja dengan lengan panjang dan juga sepatu pantofel yang telah di poles sedemikian rupa hingga terlihat begitu mengkilat.
Sementara itu untuk para karyawan
wanita,mereka mengenakan gaun formal yang terlihat sangat mahal dan juga sepatu berhak tinggi yang mana semakin membuat mereka jadi tampak lebih anggun dan juga menawan.
Rosse pun melihat penampilan nya sendiri saat ini dari pantulan kaca di gedung tersebut..dia yang hanya
mengenakan kaos biasa dengan celana jeans dan juga di tambah dengan sepatu keds nya membuat dia jadi insecure.
Penampilan nya itu benar-benar tidak lah sesuai dengan tempat
yang akan dia datangi kali ini..tetapi dia seakan tidak peduli dengan semua itu karena satu-satu nya yang sedang dia pikirkan saat ini hanya lah biaya rumah sakit untuk ibu nya.
Rosse pun mulai memasuki lobby gedung itu dan berjalan dengan pelan menuju meja resepsionis Rosse di sambut oleh seorang wanita dengan dandanan yang begitu tebal.
Wanita itu hanya menatap remeh Rosse dari ujung kepala hingga ke ujung kaki nya lalu melengos mengalihkan tatapan nya ke arah pekerjaan yang tengah dia lakukan..
Rosse pun masih berusaha untuk tidak memedulikan tatapan mata yang meremeh kan dari wanita tersebut.