My Annoying Star

My Annoying Star
Apartment Bryan



Jessie yang telah kembali dari toilet, masuk kembali ke ruang meeting. Saat baru membuka pintu Ia mendapati Bryan yang masih senyum-senyum sendiri.


"Ini orang kenapa senyum-senyum sendiri....gila ya?" bathin Jessie.


"Mr.Bryan." kata Jessie yang membuat Bryan merasa terpanggil dan sadar dari lamunannya.


Bryan yang merasa agak malu karena ketahuan sedang melamun pun langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu lalu berbalik menoleh ke arah Jessie sambil berkata "Ikut aku!".


Jessie langsung mengambil tasnya yang ada di kursi lalu berjalan mengikuti Bryan keluar ruangan.


Bryan terus berjalan keluar sampai depan lift, lalu dia memencet tombol G yang artinya dia menuju ke lobby. Benar saja sampai di lantai tujuan mereka langsung keluar lift dan menuju lobby, di sana sudah ada sopir yang menunggu dengan mobil Alpard warna hitam.


"Masuk!" kata Bryan menyuruh Jessie untuk masuk ke dalam mobil.


Sesaat Jessie terlihat bingung namun Ia segera membuka pintu depan dan hendak duduk di samping sopir. Namun tiba-tiba Bryan menarik dan menyuruhnya duduk di belakang, Jessi masih nampak bingung namun dia hanya bisa menuruti Bryan. Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam mobil, lalu mobil pun melaju.


Di dalam mobil Jessie hanya diam saja, dia terlihat memikirkan sesuatu.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Bryan.


"Ah ... tidak, tidak lagi memikirkan apa-apa kok." Jawab Jessie.


"Tunggu, barusan dia ngomong sama aku pake bahasa informal kan?" bathin Jessie sambil menatap wajah Bryan dengan tatapan bingung.


"Ada apa menatapku seperti itu?" tanya Bryan.


"Aahhh kamu pasti lagi terpesona oleh wajah tampan seorang Bryan collin kan." imbuhnya narsis.


"Tidak....hanya saja kenapa anda bicara informal dengan saya?" tanya Jessie.


"Nggak apa-apa kan kita seumuran, kata kamu kita ini teman sekolah. Kamu juga mulai sekarang pake bahasa informal saja kalau lagi sama aku." kata Bryan.


"Bry, ini kita mau kemana?" tiba-tiba sopir yang dari tadi hanya diam saja berbicara pada Bryan.


"Ke rumah dulu." jawabnya.


" Bry? .... bahkan sopirnya bicara santai gitu?" lagi-lagi bicara dalam hati.


"Oh iya, kenalin itu Ares sopir sekaligus manager dan sahabatku." kata Bryan tiba-ba memperkenalkan.


"Ares, ini Jessie penata gayaku yang baru." imbuhnya, kali ini dia memperkenalkan Jessie.


"Hai Jess" sapa Ares.


"Hai Ares" balas Jessie.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di lobby Apartment XX yang terkenal paling Mewah.


"Kalian naik saja duluan, nanti aku nyusul setelah memarkir mobil." Kata Ares.


"Selamat sore Mr. Bryan." sapa para karyawan Apartment saat Bryan dan Jessie melewati mereka.


"Sore" Jawabnya singkat namun dengan nada yang ramah.


Mereka pun sampai di depan lift.


"Ding...dong" lift terbuka, lalu mereka berdua masuk kemudian Bryan memencet tombol lantai 12.


"Ding dong" lift terbuka lagi, mereka sudah sampai di lantai tujuan. Kemudian Bryan keluar lift dan berbelok ke arah kiri lalu berjalan lurus sampai ke pintu paling ujung, Jessie hanya mengikuti di belakang. Di pintu tertera angka 1202 yang merupakan nomor unit Apartment, lalu Bryan memasukkan kode pin dan pintu pun terbuka.


"Masuk!" kata Bryan yang sudah masuk terlebih dulu.


Jessie pun masuk ke dalam lalu menutup pintu.


"Aku mau mandi dulu, kamu boleh tunggu di mana saja, kalau mau minum ambil saja di dalam kulkas." kata Bryan, Jessie pun mengangguk lalu Bryan masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Bryan mandi, Jessie berniat untuk melihat-melihat isi apartment sang actor, dia pun mulai berkeliling dari mulai ruang tamu lalu dapur dan ruang makan lalu dia berjalan ke arah jendela kaca, dari sana nampak gedung-gedung tinggi lainnya.


"Waahhh....pantas saja harganya mahal, ternyata tempat ini benar-benar mewah dan punya view yang indah." gumam Jessie.


Tiba-tiba Bryan yang sudah selesai mandi membuka pintu kamar dan memanggil Jessie.


"Jess, kemarilah."


Jessie pun langsung menghampirinya, namun saat Ia baru sampai di pintu dia langsung berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, karena melihat Bryan yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya dengan handuk dan telanjang dada.


"ssstttt.....diamlah" kata Bryan sambil menghampiri lalu menarik Jessie masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


" Apaan ini, apa yang akan dia lakukan padaku?" bathin Jessie yang masih tetap menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, jantung jessie berdetak sangat kencang.


"Ha...ha..ha..ha" terdengar suara Bryan tertawa, Jessie pun menurunkan tangannya dan membuka mata. Dia melihat Bryan yang duduk di atas ranjang sambil tertawa terbahak-bahak. Jessie hanya terdiam dan terlihat bingung. Lalu setelah puas dengan tertawanya Bryan menunjuk suatu arah, mata Jessie mengikuti jari telunjuk pria itu, di sana terlihat seperti sebuah lemari dengan kaca yang sangat besar. Jessie berjalan ke arah lemari itu lalu membuka pintunya, ternyata di balik pintu terdapat sebuah ruangan yang berisi pakaian, sepatu, jam tangan dan Aseksoris milik sang actor.


Jessie berbalik menatap Bryan, lalu Bryan berdiri dan menghampirinya.


"Kamu kan penata gayaku, sekarang pilihkan aku suits untuk ke acara Award malam ini." Kata Bryan.


Jessie pun mengangguk lalu dia masuk ke dalam lemari dan mengambil baju yang Ia pilih untuk di kenakan Bryan. Setelah Ia memilih baju dan memberikannya pada Bryan, Ia pun meninggalkannya sendirian di kamar untuk berganti baju. Saat sudah memakai baju yang di pilihkan Jessie tadi Bryan pun kembali memanggil Jessie untuk masuk kembali ke kamarnya. Jessie masuk kembali ke kamar Bryan namun Ia membiarkan pintu kamar tetap terbuka.


"Kenapa?" kata Jessie pada Bryan yang sedang berdiri di depan cermin dan membelakanginya. Dan ketika Bryan berbalik, Jessie hanya bisa terdiam terpana melihat lelaki di hadapannya yang terlihat sangat menawan, Bryan yang menyadari itu langsung menghampiri Jessie. Dan saat Jessie tersadar ternyata Bryan sudah berdiri tepat di hadapannya yang hanya berjarak 10cm. Jessie yang tak bisa berkutik menengadahkan wajahnya ke atas menatap ke wajah Bryan yang memiki tinggi badan 187cm dan lebih tinggi 17cm darinya itu. Saat ini posisi mereka benar-benar sangat dekat seperti dua orang yang akan berciuman, namun keduanya hanya saling menatap.


"Uhuk....uhuk" terdengar suara seorang pria yang sedang batuk, ternyata Ares yang berdiri di depan pintu sambil memegang botol minuman sedang mematung melihat dua orang tadi. Bryan dengan wajah memerah berjalan keluar kamar lalu meraih minuman yang ada di tangan Ares dan meneguknya.


"Jangan salah paham" katanya sambil merangkul pundak Ares dan mengajaknya ke ruang tamu.


Jessie yang masih berada di dalam kamar terlihat mematung, Ia masih tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Lalu setelah beberapa saat dia terduduk lemas di atas ranjang.


~Bersambung~