My Annoying Star

My Annoying Star
Pingsan



Bryan bersama semua crew termasuk Jessie sudah berada di lokasi syuting iklan. Sudah sekitar lima jam syuting tapi belum juga selesai lantaran Bryan harus berkali-kali mengulang take. Hari ini dia terlihat berbeda, seperti ada hal yang mengganggunya. Sutradara berkali-kali membentaknya karena dia tak bisa fokus. Syuting pun di hentikan, Sutradara menyuruh semua beristirahat selama satu jam.


Bryan berjalan menuju ke ruang make up, di sana hanya ada Jessie karena Samara sedang pergi ke toilet. Ia melangkah menghampiri Jessie dengan langkah yang lelah. Jessie yang sedang duduk di meja rias dan menghadap cermin awalnya tak menyadari kedatangan Bryan. Namun Ia melihat di cermin saat Bryan berdiri tepat di belakannya. Jessie pun berdiri lalu membalikkan badan. Untuk beberapa detik Bryan menatap sendu wajah Jessie.


Bruukkkkk


Tiba-tiba saja tubuhnya menjatuhi Jessie, namun dengan refleks Jessie menahannya sehingga mereka berdua tidak jatuh ke lantai. Tak lama kemudian Samara kembali dari toilet.


"Kalian lagi apa?" tanyanya yang melihat posisi Bryan dan Jessie seperti sedang berpelukan.


"Kak Sam......tololong!"


"Tolong?" Samara masih tidak mengerti maksud Jessie.


"Bantu...aku...kak...Sepertinya....Bryan....pingsan," kata Jessie dengan nafas tersengal-sengal.


"Apaaa??????" Samara pun berlari menghampiri lalu membantu Jessie merebahkan Bryan di lantai. Kemudian Ia menelepon Ares dan ambulance sedangkan Jessie berusaha membangunkan Bryan dengan terus memanggil namanya. Jessie yang mulai khawatir pun terus menangis.


Ares yang sedang pergi membeli rokok pun tiba di lokasi lalu bergegas ke ruang make up.


"Ambulance?" tanya Ares panik.


"Sebentar lagi mereka datang," jawab Samara.


"Sebaiknya kita langsung bawa ke rumah sakit saja. Bantu aku mengangkatnya ke mobil!" kata Ares.


Ares pun menaikkan Bryan ke punggungnya di bantu oleh Samara dan Jessie. Lalu mereka bergegas lari menuju mobil, namun saat baru akan masuk ke mobil ternyata ambulance sudah datang. Perawat bergegas turun lalu memindahkan Bryan ke dalam Ambulance.


"Aku saja yang ikut," ucap Jessie.


Jessie pun naik lalu ambulance melaju menuju rumah sakit terdekat. Ares dan Samara mengikuti mereka di belakang.


Sesampainya di rumah sakit Bryan langsung di bawa ke UGD sedangkan Jessie dan yang lainnya duduk di ruang tunggu. Air mata Jessie terus menetes, sesekali Ia berdiri lalu mondar-mandir di sekitar. Ia terlihat tidak tenang dan sangat mengkhawatirkan Bryan.


"Tenanglah Jess....Bryan pasti bak-baik saja," ucap Samara sambil memegang tangan Jessie.


Ares hanya duduk terdiam namun raut wajahnya tak bisa menutupi kekhawatirannya.


Setelah beberapa saat dokter menghampiri mereka.


"Wali Mr. Bryan?" tanyanya.


"Ya," jawab Ares yang merupakan manager Bryan.


"Mr. Bryan hanya kelelahan dan butuh istirahat saja. Sebaiknya untuk seminggu ke depan Mr. Bryan beristirahat di rumah saja," kata Dokter.


"Baik Dok, terima kasih."


"Untuk sekarang Mr.Bryan sudah sadar, silahkan kalau kalian mau menemuinya. Pasien sudah di perbolehkan pulang."


"Terima kasih Dok," ucap Jessie.


Dokter pun meninggalkan mereka. Kemudian mereka bertiga pergi menemui Bryan.


"Kamu....buat orang khawatir saja," kata Jessie sembari memelototkan matanya. Ia terlihat sangat kesal, namun Bryan malah tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Muka kamu lucu hahaha....."


Jessie makin kesal lantas memalingkan muka.


"Aku mau ke administrasi dulu, kalian berdua bantu bawa Bryan ke mobil ya," kata Ares.


"Baiklah," jawab Samara.


Ares pun pergi, Samara dan Jessie membantu Bryan ke mobil.


-


-


Saat ini mereka semua sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju apartment Bryan.


"Jess...nanti tolong kamu temani Bryan dulu ya, aku dan Samara harus kembali ke lokasi untuk mengambil barang-barang," kata Ares.


"Iya...tenang saja, biar Bryan aku yang urus."


"Memangnya aku anak kecil?" saut Bryan.


"Sudah nurut saja, kamu itu pasien," tegas Ares.


"Nggak apa-apa kita tinggal mereka berdua?" tanya Samara di dalam mobil yang di lajukan oleh Ares.


"Mereka butuh waktu berdua."


"Sebenarnya ada apa sih antara mereka?"


"Cinta pertama yang belum usai? Mungkin semacam itulah," jawab Ares sambil tersenyum.


Samara pun terkejut mendengarnya, namun kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia mengerti.


-


-


-


Di tempat lain, tepatnya di apartment XX tempat Bryan tinggal. Jessi dan Bryan sudah masuk ke dalam, saat ini mereka sudah berada di kamar. Bryan terlihat sudah berbaring di atas tempat tidur, sedangkan Jessie berdiri di sebelahnya.


"Kamu istirahat saja. Aku akan menunggu di ruang tamu, kalau butuh apa-apa panggil saja aku," kata Jessie, lalu dia pergi meninggalkan Bryan di kamar.


Baru sekitar 5 menit Jessie duduk, tiba-tiba saja terdengar Bryan memanggilnya.


"Jess!!!"


Jessie bergegas menghampirinya.


"Ada apa?"


"Bisa minta tolong ambilkan air minum?"


Jessie pun mengambilkannya, lalu kembali ke ruang tamu lagi.


"Jess!!!" lagi-lagi Bryan memanggil.


"Kenapa?"


"Bisa tolong kecilkan AC nya?"


Jessie mengecilkan AC lalu meletakkan remot di sebelah Bryan sambil sambil berkata "remot aku letakkan di sini."


Jessie kembali keluar, namun belum sempat Ia duduk Bryan sudah memanggilnya lagi.


"Menyebalkan sekali, sekarang apa lagi?" kesal Jessie dalam hati.


"Apa lagi sekarang? tidak bisakah aku beristirahat sebentar? kata Jessie dengan nada kesal."


"Tidak bisakah kamu menemaniku sampai aku tertidur?" tanya Bryan.


"Hah?"


"Iya...kamu bisa istirahat di kamar ini, duduk saja di sofa itu." kata Bryan sambil menunjuk ke sofa yang terletak di sebelah tempat tidurnya.


"Baiklah. Aku akan duduk di sini, sekarang tidurlah."


Setelah beberapa saat Bryan pun tertidur. Jessie beranjak dari sofa, berjalan menuju ranjang lalu menutupi badan Bryan dengan selimut. Saat dia berbalik dan hendak pergi, tiba-tiba saja sebuah tangan yang tak lain adalah tangan Bryan itu memegang tangannya. Jessie pun terkejut lalu menoleh ke arah Bryan.


"Jangan pergi," ucap Bryan.


Jessie masih terlihat bingung kenapa Bryan berbicara seperti itu. Ia berusaha melepaskan tangannya namun Bryan malah menariknya hingga membuatnya terduduk di kasur. Bryan bangun lalu menyenderkan kepalanya di bagian atas ranjang, namun tangannya masih memegang tangan Jessie. Mereka berdua saling menatap, Bryan mendekatkan wajahnya.


Cup...


Tiba-tiba dia mendaratkan sebuah kecupan di bibir Jessie. Mereka berdua terkejut dan mematung untuk sesaat seakan tak percaya apa yang baru saja terjadi. Setelah beberapa detik Jessie pun tersadar lalu berdiri meninggalkan Bryan. Sedangkan Bryan masih terdiam di ranjangnya.


Jessie pergi mengambil air minum ke dapur.


Ting...tong


Seseorang membunyikan bel. Jessie pun segera membuka pintu, ternyata Ares dan Samara yang datang.


"Lama ya.... maaf. Kami tadi mampir membeli makanan dulu, kalian kan belum makan," kata Samara.


"Maaf....kalian makan bertiga saja ya. Ada urusan mendadak, jadi aku pergi. Bye..." ucap Jessie sambil meraih tasnya lalu buru-buru pergi.


"Kenapa dia buru-buru begitu?" tanya Ares pada Samara.


Samara pun menggelangkan kepalanya karena dia memang tak tahu.


~ Bersambung ~