
Pria itu berjalan ke arah Jessie sambil tersenyum, Jessie yang tadi duduk pun berdiri sambil menatap dan membalas senyumannya. Pria itu kini sudah berdiri tepat di hadapannya lalu Jessie langsung memeluknya. Ya pria berwajah tampan bak aktor korea ini adalah kekasih Jessie, namanya Edward, mereka sudah menjalin hubungan kurang lebih 1 tahun lamanya.
"Hai Edward....apa kabar?" sapa Daren sambil mengajak bersalaman.
"Baik" jawabnya.
"Duduk sayang" kata Jessie.
Edward pun duduk di kursi kosong sebelah kiri Jessie.Tasya yang tadi asyik bermain game di ponselnya baru menyadari kedatangan kekasih sahabatnya itu.
"Oh sorry....aku lagi main game jadi nggak sadar kalau ada Edward, apa kabar?" kata Tasya sambil menyalaminya.
"Baik" jawabnya singkat.
Makanan yang mereka pesan pun datang, para pelayan meletakkan pesanan di atas meja lalu bertanya " Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Sayang kamu mau nambah pesan apa?" tanya Jessie kepada Edward.
"Nanti saja, aku makan yang sudah kamu pesankan saja dulu" Jawabnya.
"Nanti saya panggil lagi ya mba" kata Jessie kepada pelayan.
"Baik, selamat menikmati" jawab si pelayan lalu pergi.
Mereka pun menikmati makanan yang sudah di pesan , tiba-tiba ponsel Jessie mendapat notifikasi pesan, Ia pun langsung mengeceknya dan ternyata pesan tersebut dari Mr.Alan.
"Selamat Malam Miss Jessie, Maaf mengganggu waktunya, Apakah besok siang bisa datang ke kantor DS Entertainment? Kami sudah memutuskan siapa artis kami yang akan di tangani oleh anda, sekalian anda bisa langsung bertemu dengannya." seperti itu pesannya.
Lalu Jessie langsung membalasnya "Besok saya bisa ke kantor DS Entertainment, kira-kira jam berapa saya harus ke sana?"
"Siapa" tanya Edward ke jessie.
"Oh ini dari DS Entertainment, katanya mereka sudah memutuskan siapa artis yang akan aku tangani." Jelasnya.
"Semoga bukan Bryan collin" Tasya keceplosan.
Jessie yang mendengarnya langsung memelototinya, Edward dan Daren menatap Jessie seolah meminta penjelasan apa maksud dari ucapan Tasya tadi. Namun sebelum Jessie mulai berbicara, Tasya langsung memotong pembicaraan.
"Begini lho maksudnya, Bryan collin itu dulu pernah satu sekolah sama Jessie dan aku waktu SMP, terus tadi siang pas di DS Entertainment Jessie berpapasan sama dia tapi dia sama sekali nggak mengenali Jessie makanya Jessie agak kesal sama si Bryan itu." kata Tasya membantu menjelaskan.
"Oh begitu." kata Edward.
"Iya sayang" jawab Jessie.
"Tunggu, Bryan collin cinta pertama kamu itu?" tanya Daren tiba-tiba. Tasya yang sedang minum pun tersedak sedangkan Jessie hanya mematung tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan. Edward pun terkejut lalu dia menatap Jessie seolahmeminta penjelasan apakah yang di katakan Daren itu benar.
"emm....itu...iya...benar dia cinta pertamaku waktu SMP." jawab Jessie terpatah-patah karena gugup.
"Tapi itu sudah lama sekali lebih dari 10 tahun lalu, dan itu hanya cinta monyet saja hehehe." Jelasnya lagi.
Edward yang merasa bahwa kekasihnya itu seperti tidak nyaman dengan pertanyaan tadi, langsung meraih tangan Jessie dan menggenggamnya.
"Tak apa, itu kan masa lalu kamu, semua orang punya cinta pertama dan masa lalu kok." kata Edward yang kemudian di balas dengan senyuman manis oleh Jessie.
"Wah kayanya kita berdua nggak kelihatan ada di sini ya Tas" Kata Daren menyindir sambil berdiri.
"Mau kemana" Tanya Jessie.
"Toilet" jawabnya ketus.
Tiba-tiba ponsel Tasya berdering.
"Sebentar ya aku angkat telepon dulu." kata tasya lalu berdiri menjauh dari Jessie dan Edward.
Jessie dan Edward yang masih duduk di kursi mengobrol sambil saling menatap.
"Iya, makasih sayang."
"Tapi kamu beneran nggak apa-apa kalau nanti sering ketemu sama si Bryan itu?" tanya Edward yang mulai khawatir.
"Ya nggak apa-apa donk sayang, lagi pula kan artis DS Entertainment kan banyak, nggak mungkin kan mereka nyuruh aku yang masih baru ini untuk menangani artis papan atas kaya Bryan." Jessie menjelaskan untuk menenangkan Edward.
Tak lama kemudian Daren kembali ke meja.
"Tasya mana?" tanyanya.
"Lagi terima telepon." jawab Jessie.
Tak lama kemudian Tasya datang.
"Guys....kayanya aku harus pergi duluan deh, ada urusan mendadak, Jess kamu pulang sama Edward ya, maaf banget aku harus pergi." kata Tasya sambil meraih tasnya.
"Iya beb kamu duluan aja." Jawab Jessie.
"Hati-hati Tas" saut Daren.
Tasya pun berlalu, dan sekarang tinggal mereka bertiga.
"Aku juga kayanya harus pulang." kata Daren tiba-tiba.
"Kamu bareng Edward atau mau nebeng aku Jess?" lanjutnya bertanya.
"Jessie biar aku saja yang antar." jawab Edward.
"Ya sudah kalo begitu kita juga pulang sekarang aja yuk sayang" ajak Jessie.
Edward hanya membalas dengan tersenyum. Mereka bertiga pun meninggalkan meja lalu berjalan ke arah tangga dan menuruninya, saat sampai di lantai bawah tiba-tiba Jessie berhenti lalu menyuruh Edward dan Daren keluar duluan karena dia harus ke kasir dulu untuk membayar.
"Kalian berdua duluan saja, aku mau bayar dulu." kata Jessie.
"Sudah aku bayar kok sayang" kata Edward sambil merangkul pundak Jessie.
"Loh kok kamu yang bayar? kan aku yang mau traktir." kata Jessie.
"Nggak apa-apa, kan aku pacar kamu." kata Edward lagi.
"Terima kasih ya sayang." Jessie menatap Edward lalu tersenyum.
"Ya sudah aku duluan ya, Terima kasih traktirannya." Daren berlalu dengan raut yang terlihat sedikit kesal entah apa penyebabnya.
Edward dan Jessie meninggalkan cafe dan berjalan menuju tempat parkir dengan bergandengan tangan. Saat sampai di mobil Edward langsung membukakan pintu untuk Jessie kemudian dia sendiri masuk ke dalam lalu Mobil pun melaju meninggalkan cafe.
"Sayang, Daren tadi kenapa tiba-tiba mukanya bete begitu." tanya Edward.
"Nggak tahu, dia memang suka begitu anaknya." jawab Jessie.
"Dia nggak cemburu kan ya lihat kita?" Tanyanya lagi.
"Nggaklah sayang, kamu ini ada-ada saja.Aku sama Daren itu sudah bersahabat dari kecil." kata Jessie sambil tertawa.
Edward hanya balas tersenyum lalu fokus lagi mengemudi. Tak lama kemudian mereka sampai di depan apartment Jessie.
"Terima kasih ya sayang untuk hari ini" kata Jessie.
"Sama-sama sayang." jawab Edward sambil membelai pipi Jessie. Lalu mendekat ke wajah Jessie seperti ingin menciumnya, namun belum juga bibirnya menyentuh bibir Jessie tiba-tiba mereka di kagetkan dengan suara klakson mobil di belakang mereka yang membuat Edward akhirnya menghentikan aksinya.
"Ya sudah kamu hati-hati ya sayang." Jessie pun turun dari mobil Edward. Edward pun melajukan mobilnya meninggalkan Jessie.
~Bersambung~