My Annoying Star

My Annoying Star
Cemburu?



Bryan sedang mengendarai mobil menuju rumah Brenda. Di dalam mobil dia terlihat diam saja, membuat Brenda bertanya-tanya.


"Kamu kenapa sih sayang kok diam saja?" tanya Brenda.


"Nggak apa-apa...Aku hanya lelah saja," jawabnya.


"Kita sudah sampai."


"Kamu nggak mau turun dulu?"


"Nggak....Aku langsung pulang saja."


"Baiklah, kamu hati-hati ya nyetirnya." Brenda mendekatkan wajahnya ke wajah Bryan seperti akan menciumnya.


"Cepat turun! Aku lelah," kata Bryan, membuat Brenda menghentikan aksinya.


Brenda turun dari mobil Bryan sembari mengerutkan dahi dan memanyunkan bibirnya. Setelah Brenda turun lalu menutup pintu mobil, Bryan langsung menginjak gas dan berlalu meninggalkan Kekasihnya begitu saja.


"Kenapa sih suasana hatinya tiba-tiba berubah buruk seperti itu?" kesal Brenda, lalu berbalik masuk ke dalam rumahnya.


Bryan pun sampai di apartmentnya, setelah memarkir mobil Ia langsung berjalan ke arah lift.


"Ting," lift terbuka.


Bryan masuk ke dalam, lift kembali menutup lalu bergerak naik ke lantai tujuan.


"Ting," lift terbuka.


Ia keluar lalu berjalan ke unitnya kemudian masuk ke dalam. Ia langsung menuju ke kamarnya dan "Bukkk" menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Posisinya telentang sehingga pandangannya tertuju pada langit-langit kamar. Pikirannya melayang, tiba-tiba Ia teringat kemesraan Jessie dan Edward saat di restaurant.


"Apakah dia harus bermesraan seperti itu di depanku?" gerutunya sambil mendudukkan badan.


"Kenapa dia harus datang ke restaurant yang sama denganku?"


"Tapi kenapa aku harus kesal melihatnya bermesraan dengan pacarnya? Bukankah itu hak dia? lagi pula itu restaurant umum, siapa saja bisa datang kesana kan?" Bryan terus mengoceh sendirian di dalam kamar.


"Apakah aku cemburu? Tidak mungkin kan? Ah...tak tahulah." lanjutnya sembari mengacak-acak rambutnya lalu Ia kembali merebahkan badannya di kasur.


-


-


Keesokan harinya di apartment Jessie.


Sekitar pukul sepuluh pagi Jessie terlihat sudah berpakaian rapi dan memakai riasan tipis. Sepertinya dia sudah siap untuk pergi bekerja.


"Hmm...hari ini pakai sepatu mana ya?" gumamnya sambil memilih sepatu yang akan digunakan. Ia pun mengambil sepatu kets berwarna putih lalu menggunakannya.


Jessie kini sudah ada di lobby apartmentnya menunggu taxi.


"Tin...tin...tin" Sebuah mobil yang tak asing berhenti di hadapannya. Kaca mobil di turunkan, nampak seseorang yang sangat Ia kenal duduk di balik kemudi. Ya, orang itu adalah Daren sahabatnya.


"Bukankah kamu sedang dinas ke luar kota?" tanya Jessie.


"Aku baru saja sampai dan langsung menjemputmu."


"Aku tahu kamu terharu kan? Tapi nangisnya nanti saja," goda Daren.


Jessie hanya mengerutkan keningnya.


"Masuklah, Aku akan mengantarmu."


"Aku sudah pesan taxi," Jawab Jessie.


"Tin...tin...tin" Suara klakson mobil, sebuah taxi sudah berhenti di belakang mobil Daren.


"Itu dia taxi yang aku pesan datang, sebaiknya kamu pulang biar aku naik taxi saja."


Jessie meninggalkan Daren lalu masuk ke dalam taxi. Daren pun melajukan mobilnya, begitu juga dengan sopir taxi yang Jessie naiki.


Taxi sudah sampai di tujuan, yaitu apartment XX yang tak lain adalah tempat tinggal Bryan.


-


-


Saat ini Jessie sudah berada di depan pintu Bryan. "Ting...tong" Jessie memencet bel yang berada di samping pintu. "Ceklek" seseorang membuka pintu yang ternyata adalah Samara.


"Hai...Masuklah!"


Jessie mengangguk lalu masuk ke dalam.


"Kak Sam datang jam berapa?" Tanya Jessie.


"Aku belom lama kok, ya...sekitar 30 menit."


"Di kamarnya."


"Baiklah, Aku ke kamarnya dulu ya."


Samara mengangguk sambil duduk di kursi ruang tamu, sedangkan Jessie pergi ke kamar Bryan.


"Tok...tok...tok" Jessie mengetuk pintu kamar sebanyak tiga kali tapi tak ada jawaban juga. Ia memutuskan untuk masuk, namun saat sampai di dalam Bryan tak ada. Ia langsung masuk ke lemari untuk memilih beberapa baju yang akan di kenakan oleh Bryan nanti saat syuting. Sementara itu Bryan yang ternyata sedang ada di dalam kamar mandi pun keluar. Ia heran melihat pintu kamarnya yang terbuka, karena seingatnya dia sudah menutupnya tadi.


Bryan berjalan menuju pintu kemudian menutupnya. Ia berjalan ke depan lemari super besarnya untuk bercermin, tapi tiba-tiba pintu lemari terbuka dan Jessie keluar dari dalam lemari.


"Aaaaaaa........" teriak keduanya.


Bryan yang saat itu hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya pun sangat terkejut, handuknya merosot sehingga Jessie bisa melihat seluruh tubuhnya. Jessie spontan lalu membalikkan badan sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya. Bryan memungut handuknya di lantai lalu melilitkan kembali ke tubuhnya, setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamar mandi.


"Memalukan....bodoh. Bisa-bisanya hal memalukan seperti ini terjadi padaku," kata Bryan sembari memukul-mukul kepala sendiri.


Jessie yang masih terkejut pun berjalan keluar lalu menutup kembail pintu kamar. Ia berjalan ke arah ruang tamu seperti orang linglung.


"Kamu kenpa Jess" tanya Samara.


Jessie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sembari duduk di sebelah Samara. Samara nampak bingung melihat Jessie yang tiba-tiba bertingkah aneh seperti ini.


"Hey...ada apa?" tanya Samara lagi, kali ini sambil menepuk pundak Jessie dan membuatnya tersadar.


"Eng...nggak ada apa-apa kok kak."


"Kamu yakin?"


"Iya kak...nggak ada apa-apa."


"Aku pamit ke toilet dulu ya kak," kata Jessie.


"Iya"


Jessie pergi ke kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


-


-


Bryan yang sudah mengganti baju pun keluar dari kamarnya lalu menghampiri Sam yang berada di ruang tamu.


"Kak Sam!" panggilnya, Sam pun menoleh ke arahnya.


"Jessie kemana?"


"Sedang ke toilet."


"Oh iya...apakah terjadi sesuatu? Soalnya tadi saat keluar dari kamarmu dia terlihat bengong seperti orang linglung."


"Nggak kok...nggak terjadi apa-apa." jawab Bryan dengan wajah memerah.


"Ada apa dengan wajahmu merah begitu?"


"Nggak apa-apa kok." Bryan pun berbalik ke kamar untuk bercermin.


"Memalukan sekali kenapa wajahku merah merona begini?" batinnya.


"Tok...tok..tok" Seseorang mengetuk pintu kamar.


"Masuklah!" kata Bryan sambil menoleh ke arah pintu.


"Ceklek" Jessie membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar.


"Ehemm.....Aku mau lanjut pilih baju," ucap Jessie canggung.


"Silahkan."


Baru saja Jessie berjalan melewati Bryan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Jessie mengangkat telepon yang ternyata dari Edward kekasihnya.


"Halo...ada apa sayang?"


Bryan yang mendengar kalimat itu langsung tahu siapa yang menelpon. Ia kelihatan kesal lalu pergi keluar kamar dan meninggalkan Jessie sendiri.


Bryan masih dengan wajah kesalnya duduk di sofa ruang tamu. Samara yang menyadari bahwa suasana hati Bryan sedang buruk pun menahan diri untuk tidak bertanya apa pun.


"Dia lagi...dia lagi, menyebalkan sekali," kata Bryan sambil meraih minuman di atas meja kemudian meneguknya.


"Dia siapa?" tanya Samara tapi tidak di jawab olehnya.


~ Bersambung ~