
Di kamar, Bryan masih duduk mematung di atas ranjang. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan terhadap Jessie.
Ares yang tadi baru datang langsung menuju ke kamar Bryan dengan niat menyuruhnya makan. Namun saat baru masuk ke kamar, Ia bingung ketika melihat Bryan yang duduk dengan tatapan kosong.
"Bry....kamu kenapa? Kenapa bengong?" tanyanya sambil menghampiri Bryan. Namun alih-alih menjawab Ares, Bryan malah mengacak-acak rambutnya sendiri. Ares pun terkejut sampai-sampai dia hampir terjungkal.
"Apa-apaan sih kamu? Membuatku terkejut saja!!!" teriak Ares kesal.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Bryan yang baru menyadari kehadiran sahabatnya itu.
"Waaahhhh......memangnya dari tadi aku ini nggak kelihatan?" kata Ares masih dengan nada kesal.
"Sorry....aku tidak melihatmu."
"Hampir saja aku berpikir kalau kamu kesurupan,tahu nggak? Ya sudah ayo keluar makan dulu, Sam udah menyiapkan makanan di meja makan," kata Ares sambil berjalan keluar kamar. Bryan pun mengikutinya menuju ruang makan.
-
-
Di tempat lain, tepatnya di apartment Jessie. Sesampainya di rumah Jessie langsung mengganti pakaiannya lalu duduk di dekat jendela, memandang ke luar gedung. Ia masih memikirkan kejadian tadi, saat Bryan menciumnya.
"Ya Tuhan....apasih yang aku pikirkan? Kenapa aku terus-terusan memikirkan kejadian tadi? Bisa saja dia hanya terbawa suasana kan, karena hanya ada kami berdua di dalam kamar. Benar....tidak mungkin dia sengaja melakukannya," Jessie mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau itu hanya ketidaksengajaan semata.
Ting tong.....
Bel rumah Jessie tiba-tiba saja berbunyi.
"Siapa ya kira-kira yang datang?" Jessie beranjak dari tempat duduk ya lalu berjalan menuju pintu.
Ceklekkk
"Hai Beb..." kata Daren sambil bercanda dengan memasang wajah menggoda.
"Aku kira siapa. Kenapa nggak telepon dulu?"
"Kamu lihat saja ponselmu dulu! Berapa kali aku menelepon tapi nggak di angkat-angkat," jawab Daren sambil berjalan menerobos ke dalam.
Ceklekkk
Jessie menutup pintu.
"Kamu bawa makanan nggak? Aku lapar sekali."
"Sudah ku duga, kamu pasti belum makan dan sedang kelaparan.Taaaraaa....aku bawa ayam goreng kesukaan kamu," kata Daren sambil menyodorkan sebuah kotak berisi ayam goreng.
"Terima kasih Daren. Kamu memang sahabat terbaikku. Love you," ucap jessie sambil membuat tanda hati dengan tangannya.
"Aku tahu kalau kamu nggak bisa hidup tanpaku," kata Daren yang memang suka sekali membanggakan dirinya sendiri di depan sahabatnya.
nit...nit...nit...nit
Sepertinya seseorang sedang mencoba membuka pintu dengan memasukkan kata sandi.
Pintu terbuka lalu di tutup kembali.Seseorang masuk, ternyata dia adalah Tasya.
"Wah apa-apaan ini? Kau memberi tahunya kata sandi pintu, tapi kenapa kau tak memberitahuku? Ini benar-benar tidak adil," kesal Daren.
"Jangan iri begitu. Aku tidak mungkin memberi tahumu kata sandinya. Karena biar pun kita berdua sangat dekat, kita tetap lawan jenis. Aku hanya nggak mau orang lain bergosip macam-macam tentangku," jelas Jessie, mencoba untuk menenangkan sahabatnya.
"Baiklah....kali ini di maafkan."
"Tunggu....tapi kenapa kalian berdua bisa ke sini dalam waktu bersamaan?" tanya Jessie.
"Tentu saja aku yang meneleponnya," jawab Daren.
"Dia tiba-tiba saja menyuruhku datang, untung saja aku nggak sedang sibuk dan kamu ada di rumah," timpal Tasya.
"Ya sudah kita makan yuk! aku lapar."
Mereka bertiga pergi ke ruang makan. Mereka menikmati ayam goreng yang di bawa Daren.
"Oh iya Jess....bagaimana pekerjaanmu?" tanya Tasya.
"Sudah, jangan membahasnya. Aku sedang malas membahas pekerjaanku, karena itu berhubungan dengan Bryan."
"Memangnya kenapa dengan Bryan?"
"Ternyata dia hanya berpura-pura tidak mengenalku. Menjengkelkan bukan?"
"Sudah ku duga."
"Lalu kalian tahu nggak yang dia lakukan padaku?"
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Daren meninggikan suaranya, hingga membuat aku dan Tasya kaget. Kami berdua yang merasa bingung dengan sikap Daren, hanya saling menatap.
"Sudahlah....aku sedang tidak ingin membahasnya. Kalau membahas dia terus bagaimana aku bisa lupa soal....."
"Soal apa?" tanya tasya.
"Ah nggak apa-apa kok, aku ke toilet dulu ya."
Jessie berdiri lalu lari ke toilet.
"Bukankah dia bersikap agak aneh?" tanya Tasya pada Daren.
"Sangat aneh," jawab Daren sambil menaikkan alisnya.
Sementara itu Jessie yang sedang di dalam toilet, sedang mencuci tangannya di wastafel sambil menatap ke cermin.
"Bodoh!!! Hampir saja aku keceplosan soal ciuman itu."
Jessie keluar dari toilet lalu kembali bergabung dengan kedua sahabatnya di meja makan.
~Bersambung~