
Karena Bryan harus istirahat selama satu minggu, maka Jessie juga otomatis libur. Jessie menikmati hari libur pertamanya dengan pergi ke sebuah mall bersama Tasya. Mereka berdua pergi ke salon dan berbelanja banyak baju. Setelah itu mereka makan di sebuah restoran cepat saji yang ada di dalam mall. Saat baru mau memesan makanan, tiba-tiba ponsel Jessie berdering.
"Sebentar ya...aku angkat telepon dulu," kata Jessie.
"Okay."
Jessie menjauh untuk mencari tempat yang tak terlalu rame.
"Halo...selamat sore," jawab Jessie dengan suara lembut.
"Selamat sore Miss Jessie. Saya Mona, salah satu crew iklan kemarin."
"Iya Miss Mona....ada apa ya?"
"Sepertinya beberapa baju milik Mr. Bryan tertinggal di lokasi. Apakah Miss Jessie bisa mengambilnya sekarang juga? Soalnya lokasi akan di gunakan untuk syuting film sore ini."
"Oh begitu....baiklah saya akan segera ke sana."
"Terima kasih Miss Jessie....saya tunggu kedatangannya. Selamat siang."
"Selamat siang."
Tut..tut
Panggilan berakhir.
Setelah menyelesaikan panggilan, Jessie langsung kembali menghampiri Tasya.
"Sorry.... sepetinya aku harus pergi," ucap Jessie dengan wajah menyesal.
"Memangnya kamu mau ke mana? Siapa tadi yang telepon?"
"Nanti saja di rumah aku ceritanya, aku pergi dulu ya."
"Jess......ini makanan udah aku pesan."
"Telepon Daren saja!!! Atau di bungkus saja, nanti aku makan di rumah," kata Jessie sambil berlari meninggalkan Tasya.
"Hmmm.....anak itu selalu saja meninggalkanku," keluh Tasya.
-
-
-
Tiga puluh menit kemudian Jessie sudah sampai di lokasi.
"Pak tolong tunggu ya, saya cuma mau ambil barang sebentar," kata Jessie pada sopir taxi.
"Baik Miss."
Jessie turun dari Taxi langsung berlari masuk ke dalam. Ia celingak-celinguk mencari Miss Mona yang tadi meneleponnya.
"Apakah anda Miss Jessie?" tanya seorang pria dari arah belakang. Jessie pun berbalik ke arah suara tersebut.
"Iya benar...saya Jessie, penata gaya Mr. Bryan."
"Miss Mona ada keperluan mendadak yang membuatnya harus pergi. Tapi sebelum pergi menitipkan koper ini, katanya Miss Jessie akan mengambilnya."
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi. selamat sore," ucap Jessie sambil membungkukan badan.
Jessie meninggalkan lokasi dengan membawa koper berisi pakaian milik Bryan.
"Terima kasih ya pak sudah menunggu."
"Sama-sama Miss," jawab sopir taxi.
"Ke mana tujuan kita Miss?"
"Ke...ke apartment XX pak," jawab Jessie ragu-ragu.
"Baik."
Taxi pun melaju. Sepanjang perjalanan Jessie terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Haruskah aku pergi ke sana? Kalau aku ke sana artinya aku akan bertemu dengan Bryan. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana ini? Aku belum siap bertemu dengannya," gumamnya.
"Miss...kita sudah sampai."
"Benarkah?" ucap Jessie sambil menengok ke luar Jendela.
"Terima kasih pak....Ini uangnya, ambil saja kembaliannya." Jessie memberikan uang lalu turun dari taxi.
-
-
Jessie sudah ada di depan pintu Bryan. Ia menarik nafas dalam-dalam baru kemudian memencet bel.
Ting...tong
Ceklekkkk
Pintu di buka.
"Miss Jessie...." ucap Brenda.
"Oh Miss Brenda ada di sini?"
"Masuklah."
Jessie pun masuk ke dalam.
Ceklekkk
Pintu di tutup.
"Siapa yang datang?" tanya Bryan yang berada di dalam kamar.
"Miss Jessie sayang yang datang," jawab Brenda.
Bryan yang mendengar langsung melompat dari kasurnya lalu keluar kamar. Ia berjalan menghampiri Jessie dan Brenda yang masih berdiri di ruang tamu.
"Ada apa?" tanyanya.
"Maaf mengganggu waktu kalian. Aku hanya akan mengantarkan barang ini," jawab Jessie sambil menunjuk koper yang di bawanya. Ia benar-benar tak menatap wajah Bryan sekalipun.
"Apa itu Miss?" tanya Brenda.
"Ini pakaian Mr. Bryan yang tertinggal di lokasi syuting kemarin. Tadi crew iklan meneleponku untuk segera mengambilnya. Sekali lagi maaf mengganggu waktu kalian, aku hanya akan menatanya di lemari lalu pergi."
"Silahkan," kata Brenda.
Jessie langsung membawa koper tersebut ke dalam kamar dan menatanya ke dalam lemari. Setelah itu dia keluar dari kamar.
"Saya sudah selesai menatanya. Kalau begitu saya permisi," ucap Jessie lalu dia berjalan ke arah pintu keluar.
"Berhenti!!!" seru Bryan. Jessie pun menghentikan langkahnya tapi tetap pada posisinya dan tidak berbalik. Brenda terlihat bingung dengan apa yang sedang terjadi. Bryan melangkah menghampiri Jessie lalu menarik tangannya. kemudian membawanya ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Tok tok tok
"Bry buka pintunya. Kamu apa-apaan sih?" teriak Brenda sambil menggedor-gedor pintu kamar Bryan.
"Kamu pulang saja dulu Bren. Biar aku selesaikan masalahku dengan karyawanku dulu," jawab Bryan dari dalam.
Brenda sangat marah. Dia langsung mengambil tasnya yang ada di meja ruang tamu lalu pergi begitu saja. Sementara itu Bryan di dalam kamar menahan kedua tangan Jessie di tembok dengan kedua tangannya. Tubuh mereka berdua menempel, Jarak wajah Bryan sangat dekat dengan wajah Jessie.
"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Jessie dengan nada kesal.
"Bagaimana bisa kamu acuh setelah ciuman kita kemarin?"
"Itu bukan ciuman...."
"Jadi kamu menginginkan lebih dari itu?" Bryan menyela perkataan Jessie.
Wajah Jessie tetlihat sangat marah. Ia menatap Bryan dengan mata penuh amarah.
Cup
Bibir Bryan mendarat di bibirnya dengan kasar. Jessie mencoba melepaskan ciuman itu, namun Ia tak berdaya karena posisinya saat ini terjepit antara dinding dan tubuh Bryan. Bryan terus memainkan bibirnya menikmati bibir Jessie.
Jessie berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Hingga akhirnya dia bisa mendorong tubuh Bryan dan terlepas dari ciumannya.
Plakkkkk
Sebuah tamparan melayang di wajah Bryan.
"Gila kamu!!!!"
Jessie berlari keluar meninggalkan apartment sambil menangis. Sedangkan Bryan lagi-lagi terdiam mematung beberapa detik. Baru setelah dia sadar, dia langsung berlari menyusul Jessie namun tak dapat menemukannya.
~ Bersambung ~