
Saat ini pukul 5 sore, pemotretan pun selesai.
"Terima kasih semuanya," ucap Bryan kepada seluruh crew sambil menunduk.
"Terima Kasih Mr. Bryan, senang bekerja sama dengan anda," ucap seorang photographer.
"Sama-sama....sampai jumpa di project selanjutnya," jawab Bryan sambil tersenyum.
Bryan pun kembali ke ruang ganti, di sana terlihat Sam sedang memasukkan peralatannya ke dalam koper, serta Jessie sedang menggantungkan baju yang selesai di gunakan Bryan.
Bryan menghampiri Jessie sambil menatapnya.
"Kenapa?" tanya Jessie.
Bryan hanya menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi.
"Bangunlah!!! kamu harus mengganti bajumu."
Bryan tak menghiraukannya dan hanya duduk terdiam.
Jessie mencoba menariknya tapi malah dia yang terjatuh ke pangkuan Bryan.
"Deg...deg...deg" jantung keduanya berdetak kencang.
Sam yang masih di sekitar pun terkejut hingga terdiam dan menganga.
Jessie berdiri lalu Bryan pun ikut berdiri. Mereka berdua terlihat sama-sama terkejut sehingga merasa canggung. Bryan meraih pakaiannya yang berada di gantungan lalu menuju toilet untuk mengganti baju.
" Apa yang baru saja terjadi?" batin Jessie.
"Jess aku duluan keluar ya, aku tunggu di mobil," kata Samara.
"Ah...Iya kak."
Jessie meletakkan tangannya di dadanya untuk merasakan detak jangtungnya.
"Kenapa ini? Kenapa aku jantungku tak beraturan begini?" batinnya.
Jessie pun melanjutkan pekerjaannya menggantung beberapa baju. Bryan keluar dari toilet lalu memberikan baju yang tadi Ia pakai kepada Jessie, Ini adalah baju terakhir yang harus di gantung.
Akhirnya pekerjaan Jessie selesai. Bryan dan Jessie berjalan keluar ruangan menuju ke mobil.
"Oh iya...Bry," ucap jessie tiba-tiba yang membuat Bryan menoleh.
"Jadwal hari ini sudah selesai kan?" lanjutnya bertanya.
"Iya...memangnya kenapa?" Bryan balik bertanya.
"Kalau begitu aku langsung pulang saja ya, aku ada janji makan malam." jawab Jessie.
"Makan malam? kira-kira dengan siapa ya? Apakah pacarnya?" tanya Bryan dalam hati.
"Bryan," panggil Jessie lagi karena Bryan tak menjawab.
"Oohh....baiklah kalau begitu, kebetulan aku juga ada janji makan malam dengan Brenda." jawabnya.
"Sampai ketemu besok," kata Bryan, lalu dia masuk ke dalam mobil.
Samara yang duduk di samping Ares pun menurunkan kaca.
"Hati-hati ya Jess, see you tomorrow," kata Sam sambil melambaikan tangan.
"Iya kak...sampai jumpa besok."
"Jess...kamu serius nggak mau bareng kita?" sambung Ares.
"Iya aku pulang sendiri saja, sampai besok," jawab Jessie sambil melambaikan tangan.
Bryan tak menghiraukannya malah terlihat sibuk memainkan ponselnya. Ares pun melajukan mobil meninggalkan lokasi.
Jessie terlihat mengutak-atik ponselnya, sepertinya Ia sedang memesan taxi. Sekitar 2 menit kemudian taxi pun datang lalu Jessie langsung naik. Jessie memejamkan mata, tiba-tiba sopir taxi membangunkannya.
"Miss... kita sudah sampai," kata sopir taxi.
Saat ini Jessie sudah berada di lantai unit apartmentnya. Ia berjalan perlahan ke arah pintu unitnya lalu memasukkan kata sandi pintu.
"ceklek" Jessie membuka pintu lalu masuk ke dalam.
"Ceklek" pintu tertutup kembali.
Jessie langsung melepas sepatunya dan melempar tas ke sofa. Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas dan mengambil sebuah kaleng beer. Ia berjalan kembali ke ruang tamu kemudian duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Saat ingin membuka kaleng beer yang di pegangnya, Ia teringat belum memberi kabar pada Edward.
"Oh iya...aku lupa mengabari Edward."
Ia letakkan kaleng yang di pegangnya ke atas meja lalu dia meraih tasnya. Di ambilnya ponsel dari dalam tas, lalu dia menelepon Edward.
"tut...tut...tut" menyambungkan panggilan.
"Halo," jawab Edward.
"Halo sayang, maaf aku lupa kasih kabar ke kamu," kata Jessie.
"Nggak apa-apa kok," sambung Edward.
"Aku sudah pulang, kita jadi kan makan malamnya?" tanya jessie.
"Iya jadi...tapi aku agak malam jemput kamu ya, ada meeting dadakan kira-kira jam 7 aku selesai," kata Edward.
"Oke...kamu jemput aku jam 8 saja ya, aku juga belum mandi dan siap-siap," sambung Jessie.
"Oke see you"
"See you sayang"
"tut..tut," panggilan berakhir.
Jessie melihat jam di ponselnya, saat ini pukul 06.10. Ia berdiri sambil meletakkan ponsel di atas meja lalu dia pergi ke kamarnya.
Ia membuka lemari pakaiannya lalu mengeluarkan semua dress yang Ia miliki kemudian dia letakkan di atas ranjang.
"Hmm....aku pakai yang mana ya," gumamnya.
Sejenak dia terlihat bingung namun kemudian dia mengambil sebuah dress berwarna merah marun dan mengembalikkan dress lain ke dalam lemari. Lalu dia bergeser ke lemari sebelah yang berisi tas, Ia mengambil tas dengan warna senada dengan dress yang di pilihnya tadi. Kemudian dia berpindah ke rak sepatu lalu mengambil sepatu berwarna hitam dengan hak sekitar 5cm.
"Oke...semua sudah siap, saatnya mandi," kata Jessie.
Ia meraih handuknya lalu masuk ke dalam kamar mandi. 30 menit kemudian dia selesai mandi dan langsung mengenakan dress yang sudah di siapkan. Setelah itu dia duduk di kursi meja rias, pertama Ia menata rambutnya lalu merias wajahnya dengan make up tipis namun terlihat elegan.
Jam sudah menunjukan pukul 07.40 dan Jessie sudah selesai bersiap-siap. Ia sudah memakai sepatu dan menenteng tas berjalan ke ruang tamu. Saat sampai di ruang tamu Ia meraih tas yang tadi dia letakkan di atas meja, lalu memindahkan barang-barang di dalamnya ke tas yang akan dia bawa.
"nit..nit" pesan masuk di terima.
Jessie mengecek pesan dari Edward yang mengatakan 5 menit lagi Ia sampai di lobby apartment Jessie.
"Lima menit? Cepat sekali sampainya." kata jessie sembari menggunakan sepatu. Ia berlari ke depan cermin untuk melihat penampilannya, apakah ada yang kurang atau tidak.
"Baiklah....Let's go."
Jessie langsung bergegas keluar karena tak ingin membuat Edward menunggu.
"Ting" lift terbuka, Jessie masuk.
"Ting" lift terbuka, jessie keluar di lantai G.
Jessie berjalan ke lobby, dan ternyata Edward sudah sampai. Edward turun lalu membukakan pintu mobil untuk Jessie, kemudian Ia sendiri masuk lalu melajukan mobil.
"Kamu tadi sudah menunggu lama ya sayang?" tanya Jessie.
"Nggak kok, pas banget aku baru sampai," jawab Edward.
Sekitar 10 menit kemudian mereka pun sampai di restaurant. Edward memarkir mobil, Ia turun duluan lalu membukakan pintu untuk Jessie. Pria ini benar-benar manis, pantas saja Jessie suka.
Mereka berdua berjalan ke dalam restaurant sambil bergandengan tangan. Mereka berdua terlihat sangat serasi, Jessie yang terlihat anggung dan Edward terlihat sangat tampan.
~ Bersambung ~