My Annoying Star

My Annoying Star
Makan malam part 2



Edward dan Jessie sudah sampai di dalam restaurant lalu seorang pelayan perempuan menghampirinya.


"Selamat malam, bisa saya bantu?" tanyanya.


"Apakah masih ada table kosong mba?" tanya Edward.


"Maaf untuk malam ini semua table sudah di pesan" jawabnya.


Seorang wanita berjalan dari arah toilet yang tak lain adalah Brenda tak sengaja mendengar dan menoleh ke arah mereka.


"Miss Jessie?" ucapnya sambil melangkah menghampiri.


"Oh...halo Miss Brenda," jawab Jessie.


"Kalian bisa bergabung dengan table kami jika kalian berkenan, kebetulan kami hanya berdua," sambung Brenda.


Baru saja Jessie ingin menolak namun Edward sudah menyetujuinya.


"Baiklah kalau begitu," saut Edward.


"Mari ikut saya," kata Brenda sambil berbalik menuju mejanya.


Edward yang masih menggandeng tangan Jessie pun mengikutinya, begitu juga dengan Jessie yang hanya bisa mengikuti kekasihnya.


Saat sampai di meja, Bryan yang sedang minum pun terkejut saat melihat Jessie sampai-sampai Ia tak sengaja menyemburkan minumannya .


"Maaf .... aku tidak sengaja" ucapnya sambil mengelap bibirnya yang basah dengan serbet.


"Silahkan duduk" kata Brenda.


Kemudian Edward menarik kursi di sebelah kiri Bryan untuk jessie duduk, lalu dia sendiri duduk di sebelah kiri jessie dan berhadapan dengan Bryan.Sedangkan Brenda duduk di sebelah kanan Bryan.


Bryan menatap Brenda, matanya seakan bertanya kenapa mereka berdua ada di sini, namun Brenda hanya membalas dengan senyuman.


"Maaf mengganggu kencan kalian, semua karena kami kehabisan table," kata Jessie.


"Nggak apa-apa kok," jawab Bryan dengan senyum terpaksa.


Seorang pelayan datang menghampiri.


"Silahkan pilih menu, nanti kalau sudah panggil saya lagi" ucapnya sambil tersenyum lalu pergi.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Edward.


"Aku mau pasta sama minumnya orange jus saja," jawab Jessie.


"Apakah kalian berdua mau memesan lagi? biar sekalian." tanya Edward pada Bryan dan Brenda.


"Tidak...terima kasih," jawab Bryan.


Brenda hanya membalas tersenyum.


"Sayang aku ke toilet dulu ya," kata Jessie.


Edward mengangguk sambil tersenyum.


"Permisi ya," kata Jessie lagi.


"Silahkan," jawab Brenda.


Jessie pun pergi ke toilet. Setelah sampai di toilet Jessie mencuci tangan lalu mengeringkannya dengan tissue,Kemudian Ia melihat cermin.


" Kenapa bisa ketemu sama mereka sih? kenapa juga Brenda harus menawarkan kami bergabung?" gumamnya.


Kemudian Ia berjalan keluar toilet, namun saat sampai di depan toilet tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang. Saat dia menoleh ternyata orang itu Bryan, Ia menarik Jessie ke luar restaurant.


"Kamu kenapa harus datang ke restaurant ini sih?" tanya Bryan.


"Kebetulan kami berdua sering makan di sini, lagi pula ini kan restaurant umum siapa saja boleh datang ke sini," jawab Jessie dengan nada kesal.


"Aku tahu kalau kami berdua ganggu kencan kamu dan Brenda, untuk itu aku minta maaf. Tapi pacar kamu yang ajak kami gabung duluan, padahal aku tadi berniat pergi ke restaurant lain, jadi ya kamu jangan salahin aku dong. Memangnya kenapa sih? Kamu kaya orang ketahuan selingkuh saja," imbuhnya.


"Bukannya begitu, tapi..." belum selesai bicara tiba-tiba saja mata Bryan tertuju ke suatu arah lalu dia menarik Jessie kembali ke dalam restaurant.


"Ada apa sih?" tanya Jessie sambil melepaskan tangan Bryan yang masih menggandeng tangannya.


"Paparazi, semoga bukan dan hanya perasaanku saja," jawabnya.


"Apaaaa???" Jessie terkejut.


"Tenang saja, aku akan mengurusnya."


"Lebih baik kamu kembali ke meja dulu takut mereka curiga, nanti aku menyusul," kata Bryan.


Bryan pergi meninggalkan Jessie lalu pergi menemui paparazi tadi supaya tidak menyebarkan fotonya dengan Jessie.


Jessie pun kembali ke meja lalu duduk.


"Kenapa kamu lama sekali sayang?" tanya Edward.


"I...iya tadi aku terima telepon dari Daren dulu, dia kan lagi di luar kota," jawab Jessie.


"Ehemm..."


"Oh iya...Mr. Bryan saya dengar anda teman sekolah Jessie waktu SMP?" tanya Edward.


"Benarkah?" tanya Brenda terkejut.


Bryan menoleh ke arah Jessie lalu kembali menatap Edward.


"Iya benar kami satu sekolah dulu," jawabnya.


"Kamu kenapa baru bilang?" tanya Brenda lagi.


"Ya kamu kan nggak nanya," jawabnya.


Jessie hanya diam tak berkutik, terlihat sekali kalau dia merasa tidak nyaman. Bryan yang menyadarinya pun langsung berdiri dan berpamitan.


"Sudah malam kami berdua harus pulang, besok aku juga ada syuting pagi-pagi sekali," ucapnya.


"Bukannya besok syutingnya sore ya?" Batin Jessie.


"Maaf ya....kami duluan," sambung Brenda sembari berdiri kemudian menggandeng Bryan.


"Baiklah...sampai jumpa lagi, terimakasih sudah di perbolehkan bergabung," kata Edward.


Jessie hanya terdiam tak menjawab, lalu Bryan dan Brenda pun pergi meninggalkan mereka berdua. Edward menatap kekasihnya yang masih mematung.


"Sayang," panggil Edward, namun Jessie masih terdiam.


"Sayang...kamu melamun?" tanya Edward sambil memegang tangan Jessie.


"Ah....Eng..enggak kok sayang, hanya saja Aku lelah."


"Sepertinya kita juga harus pergi deh sayang, kamu dengar sendiri kan besok pagi ada syuting," ucap Jessie yang terlihat lelah.


Edward mengangguk, mereka pun berdiri lalu berjalan ke kasir untuk membayar.


"Saya mau bayar makanan table enam mba," kata Edward.


"Saya check dulu ya,mohon menunggu sebentar," jawab kasir.


"Untuk table nomor enam sudah di bayar oleh Mr.Bryan," lanjutnya.


"Benarkah?" tanya Edward memastikan.


"Iya benar sudah di bayar."


"Semuanya mba?"


"Iya semua."


"Terima kasih mba," ucap Jessie.


"Dengan senang hati," jawabnya.


Mereka berdua pun keluar restaurant dan menuju mobil. Seperti biasa Edward akan membukakan pintu mobil untuk Jessie.


Saat ini mereka sudah ada di dalam mobil yang melaju.


"Sampaikan rasa terima kasihku pada temanmu ya besok. Katakan padanya lain kali aku akan mentraktirnya," kata Edward.


Jessie lagi-lagi hanya menganggukan kepala.


"Memangnya kalian sangat dekat ya saat sekolah dulu?"


"Ya kami lumayan dekat, apa lagi dia kan cinta pertamaku."


Edward yang mendengarnya pun terkejut langsung menoleh ke Jessie.


"Oopss ....keceplosan, bagaimana ini," batin Jessie.


"Tapi kamu tenang saja, hubungan kami berdua saat ini hanya sebatas pekerjaan saja kok." jelas Jessie.


"Sungguh....Aku sudah nggak punya perasaan apa-apa padanya."


"Iya... aku percaya kok," kata Edward sambil tersenyum. Jessie pun merasa lega lalu membalas tersenyum.


Beberapa menit kemudian mobil berhenti di lobby apartment Jessie.


"Selamat malam ya sayang," kata Edward sambil membukakan pintu untuk Jessie.


"Iya selamat malam sayang, kamu hati-hati ya menyetirnya," jawab Jessie.


Edward mencium kening Jessie lalu masuk kedalam dan melajukan mobilnya. Jessie berbalik lalu berjalan ke dalam apartmentnya.


Saat ini Jessie yang sudah berada di dalam kamarnya berbaring di atas ranjang, masih mengenakan dress dan dengan make up yang masih menempel di wajahnya. Lama-lama dia pun tertidur dan terlelap.


~ Bersambung ~