
Valerie Pov
Sekarang aku lagi di markas TGW. Aku sekarang tuh sibuk banget. Tapi si Daniel tuh ribet banget dari tadi. Panggil-panggil aku terus.
Nah sekarang aku lagi mau ngecek senjata-senjata yang bakal dipake kami semua. Semua senjata seperti pistol, busur, granat, dll itu aku yang ngerancang sekaligus ngerakit.
Kan aku ngak tau si Daniel tuh suka pake senjata apaan, jadi aku lagi cari dia buat bisa tau dia biasa pake apaan.
Tapi pas aku kesana, malah banyak orang ngerubungin sofa. Si Daniel tiba-tiba senang banget ngeliat aku lagi jalan kesana terus dia teriak manggil nama aku.
Jadi aku pikir sekalian deh ngenalin dia ke anggota disini.
"Kenapa, Sayang?" Tanyaku.
Sebelum ini aku belum punya pacar sama sekali. Bahkan aku cuma pernah sekali jatuh cinta. Itu pun pas aku masih kecil. Sekitar 4 sampai 5 tahun (mungkin).
Aku langsung tarik dia keluar dari kerumunan anggota gengku yang masih bengong dengar kata-kataku tadi.
Aku langsung ajak (baca: seret) dia ke ruangan penyimpanan senjata. Aku langsung suruh dia milih senjata.
Ternyata selera dia bagus juga. Dia ambil double stick di tangan sebelah kiri. Katana yang sudah ku modif di punggung. Terus pistol Glock 20 yang tipis dan ringan tapi, mematikan.
Karena aku yang ngerakit jadi senjata-senjata itu udah ku modif. Kan sekalian gitu. Nah terus tiba-tiba dia nanya ke aku.
"Vale, kamu udah milih senjata?" Tanya dia ke aku.
"Udah. Senjata aku udah siap kapan pun dimana pun. Mau liat?" Jawab sekaligus tanyaku ke Daniel.
Daniel mengangguk dan aku pun membuka ikatan jaket yang ada di pinggangku. Matanya membola pas ngeliat aku mau ngelepas ikatan jaket yang ada dipinggangku.
Dia langung nutup mata. Aku langsung senyum tipis liat dia polos banget. Dia kira aku mau buka baju mungkin.
Daniel yang dengar aku ketawa langsung ngebuka lagi mata dia dan ngeliat ke pinggangku.Dan sekali lagi dia shock.
Yah siapa yang enggak shock coba. Aku bawa Glock 45 GAP di pinggang kanan aku. Pistol semi-automatis Australia yang juga termasuk salah satu senjata api paling mematikan di dunia.
Aku juga bawa Katana panjang kesayanganku di pinggang sebelah kiri. Dia masih bengong sekitar 5-6 menitan sampai akhirnya sadar habis ku panggil berkali-kali.
Habis pilih senjata aku ajak dia ke bawah lagi. Lebih tepatnya ke aula mansion di lantai bawah. Ini sudah pukul 18.30 yang berarti mereka datang 30 menit lagi.
Di aula udah ada anggota TGW yang manusia. Mereka sudah berbaris dengan rapi saat aku mulai masuk ke aula.
Fisikku memang seperti gadis pada umumnya. Tapi staminaku melebihi pria normal. Hebat bukan?
Aku segera duduk di atas panggung di kursi kebesaranku sambil memegang mikrofon/pengeras suara.
"Semuanya, sudah siap bertempur?" Tanyaku.
"Sudah, Ketua." Jawab mereka.
"Baiklah. Sebentar lagi markas kita akan diserang oleh geng Blackrose mafia. Jadi, segera siapkan diri dan senjata kalian. Segera tingkatkan pertahanan markas." Tegasku.
ππππππππππππππ
Anggota TGW itu campuran. Ada werewolf dan manusia biasa. Tapi untuk manusia biasa, aku ngebuat mereka ngelakuin kontrak darah sama aku.
Itu juga yang ngebuat mereka bisa melakukan regenerasi kayak werewolf biasa. Mereka tinggal secara terpisah. Aku ngebangun 2 markas dari kerja keras aku sendiri.
Dari perusahaan yang kubangun dari nol. Yang manusia tinggal di mansion TGW yang satu lagi. Sedangkan yang aku datangi sekarang ini adalah mansion TGW Red Hawk.
Mansion TGW ada 2:
1) Mansion TGW untuk manusia lakiΒ² : Black Hawk.
2) Mansion TGW untuk werewolf lakiΒ² : Red Hawk.
3) Mansion TGW untuk manusia perempuan: Magenta Hawk.
4) Mansion TGW untuk werewolf permpuan: Pink Hawk.
5) Mansion TGW untuk manusia biasa tanpa kontrak darah hanya kontrak tanda tangan : White Hawk.
Mansion TGW merupakan rumah ke-2 bagi para anggota. Semua diperlakukan secara adil. Bahkan mereka makan di meja yang sama.
π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’
Setelah mengatakan itu aku membubarkan mereka dan menyuruh mereka buat ngelanjutin pekerjaan mereka yang tadi tertunda.
Aku juga langsung ke kamar ku di mansion ini terus pake jaket yang ku ikat di pinggangku tadi.