Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Pengakuan Arga



Seperti yang sudah disepakati oleh Samuel dan Ruby, akhirnya hari Minggu mereka jadi ke butik untuk memilih gaun pengantin yang akan digunakan oleh Ruby nanti.


Samuel tak megatakan hal tersebut pada Tiara karena takut jika dia akan merasa terluka dengan kegiatannya itu.


“Hari Minggu aku gak bisa ke sini,” ucap Samuel pada Tiara saat dia ke rumah sakit untuk menemaninya terapi.


“Kamu mau ke mana?” tanya Tiara, ia menoleh ke wajah Samuel tapi dia tidak berani memandang wajah istrinya itu, dia takut jika ketahuan sedag berbohong.


“Aku ... akan pergi ke luar kota ada pertemuan denga klien,” jawabnya dengan terbata.


Tiara hanya diam, dia memilih untuk percaya dengan ucapan suaminya.


“Di pernikahan kamu nanti, sepertinya aku gak bisa datang,” lirih Tiara. Dia mengatakan hal yang sebenarnya membuat Samuel sakit hati.


“Aku akan di rumah saja nanti, menunggumu pulang,” lanjutnya.


“Ehmm—Iya.”


“Bagus yang mana? Ini atau ini?” Ruby menunjuk dua gaun yang ada di kedua tangannya. Gaun berwarna putih gading dan putih cerah.


Bagi Samuel itu sama saja, tidak ada bedanya sekalipun dia memakai gaun berwarna merah sekali pun. Samuel tidak peduli.


“Mana saja, keduanya bagus. Kalau jelek, gaun itu gak akan dijual di butik ini.” Jawaban dari Samuel membuat Ruby malu di depan karyawan yang sedang berdiri di samping Ruby.


Dia tidak menyangka kalau Samuel akan mengatakan hal tersebut di depan umum.


Ruby menyerahkan gaun yang berwarna puitih gading pada karyawan dan mencoba untuk mengenakan gaun yang berwarna putih cerah.


Dia masuk ke dalam kamar ganti, mencobanya dan menunjukan pada Samuel jika dia cantik menggunakan gaun pilihannya.


Sementara Ruby sedang memakai gaunnya di ruang ganti, mata Samuel tertarik dengan pemandangan di mana ada calon pengantin muda yang juga tengah memilih gaun untuk pernikahannya.


Mereka nampak bersemangat dan juga bahagia, mirip seperti saat dulu Samuel mempersiapkan pernikahannya dengan Tiara.


Samuel tersenyum miris, waktu cepat berlalu dan kini dia berada di tempat yang sama lagi dengan wanita yang sama sekali tidak ia cintai.


Ia melirik Bianca yang tengah tertidur di kursi sampingnya, ia tersenyum kemudian membelai rambut anak semata wayangnya itu.


“Apa kamu gak mau bertemu dengan ibumu, Bianca?” ucap Samuel pelan.


“Bagaimana?” Suara Ruby mengejutkan Samuel, dia melihat wanita itu sudah lengkap mengenakan gaun pengantinnya.


Jujur saja mata Samuel tidak bisa berbohong. Ruby, dia cantik, dengan wajah mungil dan kulit putihnya. Bermata bulat dengan pipi sedikit chubby. Namun sayangnya Samuel sama sekali tidak tertarik dengannya.


Samuel mengangguk setelah melihat Ruby.


“Apa sudah selesai?” tanya Samuel. “Aku lapar dan ingin pulang.”


“Terus gimana dengan jas kamu Mas?” tanya Ruby.


“Aku akan menggunakan jas lamaku yang pernah aku pakai di pernikahanku dengan Tiara.”


Mendengar nama Tiara benar-benar membuat Ruby muak. Kenapa lelaki itu belum juga bisa melupakan istrinya itu? Padahal sebentar lagi mereka akan menikah.


Tanpa banyak kata Ruby masuk kembali ke ruang ganti, dengan kasar dia melepaskan gaunnya. Tidak peduli jika gaun tersebut akan rusak atau tidak. Dia sudah sukses dibuat kesal oleh Samuel.


“Awas aja kamu Mbak, aku bakal buat kamu keluar dari rumah Mas Samuel,” geram Ruby.


**


Di hari yang sama, yaitu hari Minggu. Arga sudah berada di mobil dan akan berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Tiara lagi.


Sejak Samuel memutuskan untuk menikah dengan Ruby, pria itu menjadi sering ke rumah sakit untuk menemui Tiara. Mendekatinya dan berharap jika masih ada kesempatan untuk kembali kepadanya lagi.


Meskipun saat ini dia masih sembunyi-sembunyi menemui Tiara, karena takut jika Samuel akan mengetahuinya, termasuk hubungannya di masa lalu.


“Maaf, pasien di kamar ini ada di mana ya?” tanya Arga pada perawat ketika tidak menemukan Tiara di kamarnya.


“Oh, Bu Tiara, sedang ada di taman sedang berjalan-jalan di sana,” jawab perawat itu.


Arga langsung pergi ke taman untuk menemukan Tiara di sana. Dan ketika ia sudah sampai sana, ia melihat wanita itu tengah berdiri menatap kolam ikan yang ada di depannya.


Pandangannya kosong menatap depannya. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan dalam kepalanya.


Arga mendekatinya diam-diam dan berniat ingin memberikan kejutan kecil padanya. Namun sebelum dia ingin mengejutkan Tiara, Arga malah lebih dulu terekjut karena wanita itu tiba-tiba menolehnya.


Ia tersenyum pada Arga.


“Apa aku mengejutkanmu?” tanya Tiara. Ia menunjuk jendela kaca yang memantulkan bayangan mereka berdua.


“Pantes aja kamu gak kaget,” gumam Arga, ia jadi salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Kamu lagi ngapain di sini?” Arga berdiri di samping Tiara, ia menunjuk ikan Koi yang ada di dalam kolam ikan di depannya.


“Cantik-cantik kan?” puji Tiara, ia tersenyum menatap ikan Koi tersebut.


“Iya, cantik, seperti kamu,” ucap Arga sepelan mungkin agar tidak didengar oleh Tiara.


Namun Tiara dapat mendengarnya. “Aku gak secantik dulu lagi, jangan bohong,” protes Tiara.


Ia menatap pantulan bayangannya di air kolam, ia nampak terlihat kurus di sana.


“Tapi bagiku kamu selalu cantk.” Arga tak mau kalah.


Tiara berdecih. “Apa kamu sedang menggoda istri orang?” godanya.


Arga tidak mengatakan apa-apa, hanya memandangi Tiara dari samping, lalu tersenyum.


“Apa kamu masih mencintai Samuel?” Arga tiba-tiba menanyakan masalah perasaan kepada Tiara.


Ia hanya ingin tahu, apakah ia masih menyimpan untuk pria yang telah mengkhianatinya itu.


Tiara tidak langsung menjawab. Ada beberapa detik jeda sebelum ia menjawab pertanyaan Arga.


Bukan ragu, hanya saja dia bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah ia masih mencintai lelaki itu?


“Dia mau menikah dengan Ruby.” Alih-alih jawaban. Tiara malah memberitahu jika Samuel akan menikah dengan Ruby, adik kandungnya sendiri.


“Lalu, apa kamu setuju?”


Tiara mengangguk. “Bianca sangat menyukai Ruby.” Tiara tersenyum, tapi terlihat jika senyumnya itu hanyalah untuk menutupi perasaan sakitnya. Dia tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkan suaminya itu untuk menikah lagi.


Lagipula itu demi kebahagiaan Bianca.


“Lalu kamu bagaimana? Apa kamu sudah memiliki kekasih—"


Arga menggelengkan kepalanya, berharap Tiara tahu jika dia masih sendri karena dirinya.


“Kenapa? Ku pikir kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak.”


“Karena—Aku masih menyukaimu,” jawab Arga masih menatap Tiara dari samping.


“Jangan konyol.” Tiara tersenyum canggung. “Aku sudah memiliki seorang anak dan suami, dan kamu—"


“Memangnya kenapa? Bagiku kamu masih sams seperti dulu.”


“Tapi Ga, sepertinya hubungan kita sudah berakhir saat kamu memutuskan hubungan kita waktu itu,” ucap Tiara lalu pergi meninggalkan Arga.


Lelaki itu mematung di tempatnya, ia menyalahkan dirinya sendiri mengapa bertindak ceroboh dengan mengatakan hal seperti itu kepada Tiara.


Terlihat jelas jika wanita itu tidak nyaman dengan perkataan Arga baru saja. Dia menyadari jika Tiara tidak suka ia mengungkit masa lalu mereka berdua. Terlebih ketika Arga yang mengakhiri hubungan mereka.


Ia memandngi bayangan Tiara di antara para pasien yang sedang ada di taman, kemudian menghilang. Arga mengembuskan napasnya, dia menyesal telah mengatakan hal tersebut pada istri Samuel itu.


Memang sangat aneh jika dia tiba-tiba menyatakan perasaannya padahal hubugannya sudah berakhir delapan tahun yang lalu.