
Tujuh tahun yang lalu ...
Tiara yang sedang hamil delapan bulan pada waktu itu ingin mengantarkan makan siangnya untuk Samuel di tempat kerja.
Sejak pagi dia sudah memasak dan membuat makanan spesial untuk suaminya tersebut.
"Kamu ngapain repot-repot, kantor Samuel kan udah ada kantin," ucap ibu Samuel yang melihat menantunya itu tengah sibuk di dapur.
"Samuel lagi mau makan masakan Tiara soalnya Bu." Tiara tersenyum kemudian memasukan rantang-rantang tersebut di dalam tas khusus makanan. "Tiara pergi dulu ya Bu," pamitnya kemudian berlalu dari ibu Samuel.
Waktu itu Tiara naik mobil sendirian ke tempat kerja Samuel. Sopir yang biasanya mengantarkannya pergi, pada hari itu kebetulan sedang libur, jadi terpaksa Tiara sendiri yang membawa mobilnya.
"Aku lagi mau berangkat, mungkin empat puluh lima menit lagi sampai," ucap Tiara saat di telepon.
"Sama pak Komar apa sendirian?" tanya Samuel.
"Sendirian, soalnya pak Komar lagi libur," jawabnya. "Kalau begitu aku berangkat dulu ya." Dan itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Tiara kepada Samuel, karena setelah itu Tiara tidak sadarkan diri hingga sampai saat ini.
Tiara mengendarai mobilnya dengan hati-hati, bahkan kecepatannya relatif sangat rendah karena dia tahu saat itu dia sedang membawa seorang bayi dalam perutnya, makanya dia mengatakan waktu yang dibutuhkan untuk ke kantor Samuel memerlukan waktu yang lama.
Semuanya berjalan lancar, karena kondisi jalan yang lengang dan tidak ada kemacetan.
Namun kondisi tersebut hanya sampai sana, sebab saat Tiara berhenti di depan lampu merah, dari arah belakang ada sebuah truk dengan muatan barang yang sepertinya hilang kendali dan terus melaju hingga menabrak mobil Tiara dari belakang.
Tiara tidak menyadari bahaya itu, dia baru tersadar ketika banyak orang di sekitarnya berteriak dan memintanya untuk minggir atau melajukan mobilnya.
Hingga ...
BRUAK!!!
Mobil Tiara terdorong kemudian terpental di samping pembatas jalan. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berhamburan dan menghampiri Tiara.
"Cepat panggil ambulans!" seru salah satu warga yang berkerumun.
Kemudian lima belas menit kemudian ambulans datang dan membawa Tiara ke rumah sakit.
Keadaannya kritis dan dokter harus menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungannya dulu. Karena jika tidak maka bayi yang dikandung Tiara akan meninggal di dalam perutnya.
"Selamatkan keduanya dok kalau bisa," pinta Samuel saat itu. Ia terus meminta pada dokter untuk menyelamatkan Tiara.
"Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya," ucapnya kemudian masuk ke dalam ruang operasi.
Samuel terduduk di depan ruang operasi, ia tidak menyangka jika akan mendapatkan kabar buruk tersebut siang itu.
Dia tidak memiliki firasat apapun sebelumnya hingga membuatnya begitu shock ketika mendapati kabar seperti ini.
"Mas! Gimana keadaan Mbak Tiara?" tanya Ruby yang berlari tergopoh-gopoh ke arah Samuel.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi pada Tiara.
"Pasti semuanya akan baik-baik saja Mas," ucap Ruby dengan lirih, ia menatap wajah kakak iparnya itu dari samping.
**
Ulang tahun Bianca.
"Persiapan semuanya sudah selesai ya?" tanya ibu Samuel saat itu.
"Jadi gimana? Apa sekalian aja kita umumkan pernikahan kamu dengan Ruby setelah Bianca tiup lilin?"
Samuel diam, ia tidak yakin jika keputusannya untuk menikahi Ruby akan benar. Namun dia juga tidak mau jika Bianca akan kehilangan Ruby dan mendapati wanita itu bersama dengan pria lain.
"Terserah ibu saja." Samuel langsung berjalan dan menggandeng Bianca.
Dari kejauhan Ruby nampak sedang sibuk menyalami orang-orang terdekat Samuel bahkan kerabat dan teman-teman kantornya.
Samuel menghela napasnya. "Ini lebih seperti pesta untuk ulang tahun kakek kamu ya Bi?" gumam Samuel, ia melihat anaknya itu senang ketika melihat balon-balon yang menghiasi halaman belakang rumahnya.
Ruby melambaikan tangannya ke arah Samuel dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
Akhirnya ia akan menikahi kakak iparnya sendiri.
"Pa! Terus kapan mama sama papa tinggal satu rumah?" tanya Bianca pada Samuel.
"Sebentar lagi," jawab Samuel dengan sabar.
"Serius Pa! Asik! Akhirnya Bianca ketemu sama mama tiap hari!" pekiknya dengan senang.
Terbersit dalam benak Samuel, jika ia ingin mengatakan pada Bianca siapa ibu kandungnya yang sebenarnya. Namun tidak sekarang, karena Bianca bisa terkejut ketika mendapati kenyataan tersebut.
Bianca menjawil pinggang Samuel ketika melihat tukang poto dan Ruby menghampiri ayahnya. Ruby memintanya untuk foto bersama bertiga sebagai kenang-kenangan.
"Gak usah deh," tolak Samuel, ia sepertinya masih belum terbiasa dengan hubungan barunya dengan Ruby.
"Ayo Pa! Nanti fotonya kita pajang di rumah," rengek Bianca, dan mau tidak mau Samuel menurutinya.
Bianca adalah anak semata wayangnya, jadi akan sulit untuknya menolak permintaan dari anaknya tersebut.
"Satu ... dua ... tiga ... " Tukang poto itu mengambil foto Bianca, Ruby dan Samuel. Dan dalam hitungan ketiga, Ruby tiba-tiba mencium pipi Samuel, hingga membuatnya terkejut.
"Cie ..." Bianca meledek mereka berdua, Ruby nampak senang namun Samuel merasa canggung karena sikap Ruby yang mendadak menciumnya.
Ibu Samuel menatap pemandangan tersebut, dan merasa lega karena anaknya akhirnya mau menikah dengan Ruby.
"Jadi turun ranjang nih tante?" tanya Desi, sepupu dari Samuel.
"Iya, lagipula nungguin Tiara kan gak tahu sampai kapan sadar," jawabnya. "Mana biaya rumah sakitnya mahal banget," keluhnya.
Mungkin jika Samuel bukan dari kalangan berada, dia tidak akan sanggup untuk membiayai biaya rumah sakit Tiara selama tujuh tahun ini.
"Tapi Samuel kayaknya gak begitu suka sama Ruby," ucap Desi saat melihat pemandangan canggung itu dari kejauhan.
"Ya, namanya juga dari bekas kakak ipar sama adik ipar, paling nanti kalau sudah terbiasa mereka gak bakal begitu lagi."
Kemudian acara pesta ulang tahun Bianca itu pun sudah sampai pada sesi tiup lilin, dan pada saat itulah ibu Samuel memberikan sebuah kabar tentang pernikahan mereka berdua.
"Jadi, saya di sini mau sekalian mengumumkan kabar gembira kepada para tamu undangan semua," ucap ibu Samuel dengan senyumnya. "Anak saya Samuel dan Ruby, akan melangsungkan pernikahan bulan depan, jadi saya harap untuk doa dan restunya."
Suasana yang awalnya ramai, mendadak menjadi hening. Ada yang terkejut mendapatkan kabar tersebut, namun ada pula yang berpura-pura bertepuk tangan untuk mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
Suara-suara sumbang pun terdengar dan menyebutkan jika Ruby sudah hamil duluan, dan mengatakan jika dulu saat Tiara masih menjadi istri Samuel mereka berselingkuh di belakangnya.
Arga hanya mendengarkan dan akan berbicara jika mereka telah berbicara melebihi batasnya. Tak ada yang tahu di balik kabar buruk ini.