Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Memaksa Menikah



Ruby nampak bahagia ketika melihat katalog gaun pengantin yang ada di hadapannya sejak tadi dia terus membolak-balikan katalog tersebut dan memilih gaun mana yang cocok untuknya.


Senyumnya terus mengembang ketika dia berpikir jika kakaknya Tiara akan mengalah untuknya. Kakaknya itu, selalu menuruti permintaan Ruby entah apa pun itu, termasuk satu ini.


“Bu, bagus ini apa ini,” tunjuk Ruby pada ibunya, ibunya hanya menoleh sedikit lalu memalingkan wajahnya, ia nampak tak tertarik dengan masalah pernikahan Ruby.


Ruby yang menyadari akan hal itu langsung mencebikan bibirnya dan berdecak kesal kepada ibunya.


“Ibu kenapa sih? Bentar lagi Ruby kan mau nikah, kenapa ibu kayak gak setuju gitu sama pernikahan Ruby?”


Ibunya mengembuskan napasnya, lalu menatap Ruby bingung. Entah apa yang membuat anaknya tersebut begitu suka pada Samuel, yang tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


Padahal jika dipikir-pikir lagi, banyak pria yang menyukainya malahan banyak yang lebih muda dari Samuel, tapi anak keduanya itu menolak mereka dengan alasan jika ingin sendiri dulu.


“Terserah kamu lah, ibu mau bilang apa, juga kamu gak bakalan peduli.” Ibunya lalu beringsut dan masuk ke dalam kamarnya.


Tak ada yang bisa menghalangi Ruby, termasuk ibunya. Restu dari ibu Samuel juga telah ia dapatkan, dan kini tinggal selangkah lagi mereka menuju pelaminan.


**


“Gak bisa!” seru Ibu Samuel, ia berdiri dari duduknya dan menatap marah pada Samuel. “Kita sudah mengumumkan pernikahan kalian, masa kamu batalin sih?”


“Tapi kan, Tiara udah sadar Bu,” lirih Samuel, ia tidak diizinkan untuk membatalkan pernikahannya dengan Ruby.


Lagipula alasan dia menikahi Ruby karena dia tahu jika Tiara tidak lekas sadar dari komanya, tapi kini? Tiara sudah sadar, lalu alasan apalagi yang harus membuatnya menikahi Ruby?


Samuel menghela napasnya dengan kasar, keinginan ibunya tidak bisa dibantah.


“Ceraikan Tiara sebelum wanita itu benar-benar pulih,” tandasnya.


Samuel meremat rambutnya hingga berantakan, keluarga kecil yang ia harap akan utuh kembali kini telah sirna.


Keinginannya untuk hidup bahagia dengan Tiara seakan tidak akan mudah baginya.


“Pa, Mama kapan tinggal di sini?” rengek Bianca yang terbangun dari tidurnya.


Dan satu hal lagi yang membuat Samuel tidak bisa membatalkan pernikahannya dengan Ruby, yaitu Bianca.


Anak tersebut sudah sangat ketergantungan dengan Ruby, ia sudah menganggap jika Ruby adalah mamanya sendiri.


“Pa,” rengek Bianca lagi.


Haruskah ia mengatakan yang sejujurnya sekarang ini? Namun ia yakin kalau Bianca tidak akan pernah menerima kenyataan tersebut. Dia masihlah sangat kecil untuk mengerti kerumitan yang terjadi dalam rumah tangganya.


“Sebentar lagi, sabar ya.” Akhirnya jawaban itu yang meluncur dari bibir Samuel.


**


Tiara sedang berada di taman yang ada di rumah sakit. Dengan menggunakan kursi roda dia diantarkan oleh suster untuk mengelilingi rumah sakit.


Kakinya masih sulit untuk berjalan, hingga ia harus menggunakan bantuan kursi roda.


“Saya tinggal ya Bu, nanti saya ke sini setengah jam lagi,” ucap perawat. Setelah melihat Tiara mengangguk, akhirnya dia pergi meninggalkannya.


Tiara menghirup udara pagi yang masih terasa begitu segar. Matanya terpejam menikmati angin yang berhembus membelai rambutnya.


Bibir pucatnya kini telah berangsur berwarna meskipun tidak semerah dulu. Cekungan di pipinya mengurangi kecantikannya saat ini. Namun saat dia telah kembali pulih, dia akan secantik seperti waktu itu. Ketika dia masih berpacaran dengan Arga.


Ya, Arga adalah kekasih Tiara. Tidak ada seorang pun yang tahu termasuk Samuel. Mereka berpacaran sembunyi-sembunyi, lalu akhirnya Samuel menyukai Tiara.


Lalu sekarang? Nampaknya dia menyesal setelah melepaskan Tiara untuk Samuel, dia kini harus menderita karena suaminya yang akan menikahi adik kandungnya sendiri.


“Kamu sudah bisa duduk di sini rupanya.” Suara seseorang mengejutkan Tiara, sebelum ia menoleh bayangan laki-laki tengah berjongkok di depannya dengan senyum khasnya.


Senyum yang menampakan lesung di pipinya.


Tiara tersenyum, sudah berapa lama dia tidak melihat wajah itu. Tangannya ingin menangkup kedua pipinya tapi ia urungkan.


“Arga,” lirih Tiara mengeja nama yang sudah lama tidak ia sebut itu.


Lelaki itu kembali tersenyum, meraih tangannya lalu menangkupkan ke pipinya.


“Kamu masih mengingatku? Kupikir kamu akan melupakanku selama ini.”


Sejak Tiara menikah dengan Samuel, lelaki itu menjaga jarak pada Tiara agar dia bisa hidup tenang dengan Samuel. Ia menghindari bertemu dengan wanita itu agar keduanya bisa saling melupakan.


Namun ternyata sangat sulit bagi Arga untuk melupakan wanita tersebut. Senyumnya yang dulu selalu membuat hari-harinya terasa menyenangkan, lalu suaranya yang lembut selalu menghiburnya ketika dia bersedih.


Ia bahkan belum menjalin hubungan dengan perempuan mana pun karena tidak menemukan seseorang seperti Tiara.


“Aku ke sini, hanya untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja, kalau kamu merasa sedih dan kecewa aku akan langsung datang kepadamu, kamu tahu kan kalau aku tidak berbohong?”


Tiara mengangguk, dia memandang wajah tampan itu dengan seksama. Lelaki yang pernah mengisi kekosongan dalam hatinya sebelum ia melabuhkan hatinya pada Samuel.


“Aku akan pergi bekerja sekarang, nanti aku akan ke sini lagi untuk menjengukmu,” ucap Arga lalu beranjak dari sana.


Jika ia memiliki waktu yang banyak, ingin sekali ia berlama-lama di sana dan menghibur wanita tersebut.


Nampak raut wajah kesedihan dalam wajah Tiara meskipun ia coba sembunyikan dengan senyumannya.


**


Ruby duduk di depan Samuel, sejak tadi dia menganggu lelaki itu dengan ajakannya ke butik untuk melihat gaun pengantin yang akan ia gunakan.


“Kamu bisa pergi sendiri kan? apapun yang kamu pakai akan selalu bagus untukmu,” ucap Samuel, namun matanya masih menatap layar PC yang ada di depannya.


“Kamu berubah dingin setelah Mbak Tiara bangun,” ucap Ruby menahan kesalnya.


“Yang penting kita tetap menikah kan?”


Wajahnya yang cemberut berubah menjadi senyuman. Ia berteriak senang ketika Samuel mengatakan hal itu kepadanya.


“Jadi, kita jadi menikah kan?” tanya Ruby dengan antusias.


Namun tak ada jawaban dari Samuel, ia sibuk dengan PC-nya. Ketika ia melirik jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang dan saatnya untuk istirahat makan siang.


Samuel berdiri lalu mengenakan jasnya, kemudian ia bersiap untuk keluar dari ruangannya tanpa memedulikan Ruby.


Jujur saja, simpatinya pada Ruby masih utuh ketika adik iparnya itu tidak ngotot memintanya untuk segera menikahinya, dan sekarang Samuel sama sekali tidak tertarik pada Ruby.


“Mau ke mana, Mas?” tanya Ruby, mengekor di belakang Samuel.


“Ke rumah sakit,” jawabnya. Ruby menghentikan langkahnya, dia tidak akan ikut ke rumah sakit lagi.


“Kenapa gak makan siang dulu?” tanya Ruby, tapi bayangan Samuel sudah dulu masuk ke dalam lift.


jangan lupa untuk like dan komen.