
"Kamu kalau ngomong begitu tanpa bukti namanya fitnah lho," ucap Arga, teman dekat Samuel.
"Yah Pak, lagian kan aneh, bu Tiara aja masih hidup kok mereka malah mengumumkan pernikahan."
"Tuh kan, kamu artinya hanya berspekulasi, nanti kalau kamu aku aduin sama pak Samuel paling besok udah resmi jadi pengangguran Wid," tegur Arga pada salah satu karyawan Samuel yang bernama Widi.
Meskipun Arga juga menyayangkan sikap Samuel, namun dia tetap menghargai keputusan sahabatnya itu.
"Kuharap kamu gak sedih kalau denger kabar ini Ra," gumam Arga kemudian meninggalkan pesta ulang tahun Bianca.
**
Lain halnya dengan Ruby yang saat ini tengah tersenyum bahagia di meja makan. Samuel kini merenung seakan menyesali keputusannya, mengapa ia harus melakukan hal itu? Mengapa ia harus menyetujui pernikahannya dengan adik iparnya sendiri?
Samuel hanya memandang Ruby dalam kebingungannya, hingga suara teleponnya mengejutkan dirinya sendiri.
"Aku mau angkat telepon dulu," ucap Samuel, dia pergi dari hadapan ibu dan Ruby.
Ternyata itu adalah telepon dari rumah sakit. Samuel segera mengangkatnya.
"Halo?" sapa Samuel.
Ada dua hal yang pasti akan disampaikan oleh pihak rumah sakit. Jika bukan kabar buruk, maka kabar bahagia, tapi Samuel sangsi akan hal itu.
"Dengan bapak Samuel?" Suara lembut yang ternyata perawat rumah sakit memulai pembicaraannya.
"Iya, dengan saya sendiri."
"Ibu Tiara sedang menunjukkan kondisi yang semakin membaik Pak, saya harap bapak datang sekarang juga."
Senyum Samuel mengembang, ia tidak menyangka jika selama bertahun-tahun Tiara akan memiliki perkembangan seperti ini.
"Baik, saya akan pergi ke sana sekarang juga." Samuel menutup teleponnya, kemudian dia mengambil sweaternya kemudian pergi tanpa pamit pada Ruby.
Hal itu membuat Ruby sedikit kecewa, karena dirinya saat ini seperti tidak dianggap oleh Samuel.
"Ma, Papa mau ke mana?" tanya Bianca bingung. Padahal makan malam belum selesai tapi lelaki itu langsung pergi meninggalkan mejanya.
Ruby juga tidak tahu harus menjawab apa karena Samuel juga tidak mengatakannya.
"Lebih baik kamu susul dia," suruh ibu Samuel.
Ruby yang seakan mendapatkan petunjuk, lalu berlari mengejar Samuel. Ibu Samuel yakin jika anaknya itu pasti sedang pergi ke rumah sakit.
Samuel tidak pernah menampakkan senyum selama ini sejak Tiara terbaring tak berdaya di atas banker rumah sakit. Dan baru kali ini senyumnya mengembang seakan menemukan hawa yang segar.
"Mas, aku ikut!" Tangan Ruby menahan pintu mobil Samuel, wajahnya memelas meminta Samuel agar mengajaknya.
"Tapi aku akan ke rumah sakit," ucap Samuel yang membuat Ruby setengah kecewa.
"Iya, aku mau ikut, sekalian minta ijin padanya kalau kita akan menikah," ucap Ruby.
Ada semacam perasaan tidak senang dalam diri Samuel ketika dia mendengarkan kalimat tersebut dari Ruby.
Samuel akhirnya mengijinkan Ruby naik ke atas mobil, karena dia tidak mungkin menolaknya dengan alasan jika dia ingin menemui istrinya, karena bagaimanapun Samuel sudah menjadi tunangan dari wanita tersebut.
Dalam perjalanannya, senyum Samuel tak berhenti mengembang dan hal itu sangat disadari oleh Ruby. Ia melihat lelaki yang biasanya dengan tatapan serius dan dingin kini nampak lebih bahagia. Apa karena Tiara?
"Kalau Mbak Tiara sadar, kamu gimana Mas? Apa kamu mau batalin pernikahan kita?" tanya Ruby dengan cemas.
Tidak langsung menjawab, Samuel berpura-pura tidak mendengarkan ucapan dari Ruby.
"Mas?!" panggil Ruby sekali lagi.
Samuel menoleh ke arahnya dengan pandangan bingung.
"Meskipun selama ini dia sudah meninggalkanmu?"
"Dia seperti itu bukan karena keinginannya kan?"
Ruby diam, dia menatap jalan yang semakin ramai. Jarak rumah sakit tidak terlalu jauh, hingga hanya setengah jam mereka sampai di tujuan.
Samuel langsung turun dari mobilnya, dia tidak memedulikan Ruby yang ada di belakangnya, ia seolah lupa jika wanita itu adalah tunangannya.
Ruby melihat Samuel masuk ke dalam ruangan tempat di mana Tiara selama ini dirawat. Banyak dokter yang berkumpul di sana membicarakan keajaiban yang Tiara alami.
Ruby mematung di sudut ruangan, ia mengamati gerak-gerik Samuel yang seakan tidak sabar dengan Tiara yang mungkin sebentar lagi akan sadar.
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Samuel dengan antusias.
"Keadaannya sudah mulai menunjukkan perkembangan yang baik, jika Anda sering mengunjunginya dan berbicara padanya untuk merangsang otaknya maka Ibu Tiara akan segera pulih meskipun ada satu hal yang memerlukan proses yang lama untuk sembuh," terang dokter tersebut.
"Apa itu Dok?"
"Karena Ibu Tiara sudah mengalami koma selama tujuh tahun, dan itu mempengaruhi fuksi kinerja otot dalam tubuhnya terlebih tangan dan kaki, maka setelah sadar dia harus menjalani terapi hingga semuanya pulih.'
"Jadi maksud dokter, istri saya mengalami kelumpuhan?"
Dokter itu mengangguk. "Tapi hanya sementara, maka dari itu saya sarankan untuk Ibu Tiara agar menjalani terapi serutin mungkin."
"Baik Dok, jika itu bisa membuatnya kembali seperti semula."
Jika saat itu Samuel nampak antusias, kini raut wajah Ruby menampakan ketidaksenangannya pada Tiara.
Jika Tiara sadar, itu berarti dia akan gagal menikah dengan Samuel? Tidak! Ruby tidak dapat membiarkan hal tersebut terjadi kepadanya, dia akan melakukan apapun agar Samuel mau menikah dengannya.
Kabar pernikahan mereka sudah diumumkan, mana mungkin pernikahan tersebut akan dibatalkan?
Samuel mengenggam tangan Tiara begitu erat lalu menciumnya dengan perasaan cinta. Ruby yang melihatnya menjadi muak dan keluar dari ruangan tersebut.
Ia berdecak kesal di depan ruangan Tiara. Dia menggigit ujung kukunya karena gelisah. Jika dia kehilangan Samuel itu berarti usahanya selama ini akan sia-sia. Tapi bagaimana caranya agar Samuel mau menikahinya? Ruby harus mencari jalan keluar tersebut.
Ruby menoleh ketika ada seorang lelaki hendak masuk ke ruangan Tiara namun mengurungkan niatnya. Dia adalah Arga, teman Samuel. Ruby tidak mengatakan apa-apa selain memandanginya dari samping.
Sepertinya lelaki itu ingin menjenguk Tiara, tapi tidak masuk karena tahu ada Samuel ada di dalam.
Haruskah Ruby meminta bantuan kepadanya?
"Maaf." Ruby membuka suaranya. Arga langsung menoleh ke arah Ruby.
"Anda memanggil saya?"
Ruby mengangguk. "Apa Anda ke sini untuk mengunjungi kakak saya?"
Arga yang ditanya seperti itu bingung, tapi dia tetap menjawabnya. "Iya, saya ingin menjenguk Tiara, ada apa?"
"Ah, gak, saya cuma bertanya."
"Anda calon istri Samuel kan?"
Arga mengingat wajah itu, karena baru tadi dia melihatnya di pesta ulang tahun Bianca.
"Iya, saya calon istri Samuel, tapi nampaknya gagal karena kakak saya sudah mulai membaik keadaannya."
Ekspresi terkejut muncul dari wajah Arga. Bukan ekspresi tak biasa, dia nampak begitu bahagia ketika mendengar kabar bahagia tersebut.
Apa Arga menyukai Tiara? Entahlah, Ruby tidak peduli, dia hanya peduli pada nasib pernikahannya nanti.