Married With Sister In Law

Married With Sister In Law
Gagal



Di balik pernikahannya yang megah dan mewah. Samuel sama sekali tidak merasakan kebahagiaan dari dalam hatinya.



Ia berjalan menuju pelaminan, menggamit lengan Ruby karena memang seperti itu peraturannya.


Ruby tersenyum bahagia, tapi Samuel tidak. Dia tersenyum tipis dan melihat sekeliling tamu undangan jika tidak ada Tiara di sana.


Karena ia takut akan melukai istrinya itu.


Keheningan menyelimuti seluruh ruangan. Ketika Samuel menyematkan cincin perkawinan mereka. Lalu diikuti dengan janji sucinya kepada Ruby.


Suara tepuk tangan dan ucapan selamat bergema tapi sama sekali tidak merubah perasaan Samuel kala itu.


Dia masih memikirkan Tiara yang saat ini mungkin sedang berada di rumah sendirian.


"Cium! Cium! Cium!" Suara sorakan terdengar di telinga Samuel. Ia hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat yang menyerukannya untuk melakukan hal itu.


Ruby tersenyum semanis mungkin. Memandang lelaki itu dan memberikan kode padanya agar lekas menciumnya agar tidak mengecewakan para tamu undangan.


Samuel kemudian memajukan tubuhnya. Ia menarik pinggang Ruby lalu mendekatkan ke arahnya.


CUP!


Singkat, tapi itu terasa berat bagi Samuel. Sedangkan Ruby, ia merasa kecewa karena ciumannya hanya sebatas itu saja.


Di sudut lain, ada seorang wanita yang melihat pemandangan itu lalu pergi dari sana. Dia adalah Tiara.



Ia berjalan meninggalkan aula sebelum orang lain menyadari kehadirannya.


Arga yang tak sengaja melihatnya langsung mengejar wanita itu.


"Tiara tunggu dulu!" cegah Arga. Ia meraih tangan Tiara dan menahannya sebentar.


"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Arga, ia melihat mata Tiara yang sudah mulai basah karena pemandangan tadi.


"Aku ... cuma mau lihat mereka," jawabnya sambil menyembunyikan wajahnya.


"Ayo! Kita pergi dari sini." Arga menarik lengan Tiara meninggalkan aula pernikahan Samuel.


Sepertinya tidak apa-apa pulang cepat, karena yang penting dia sudah absen wajahnya di depan Samuel, pikir Arga waktu itu.


Arga melajukan mobilnya dengan segera, sebelum orang lain melihat mereka berdua.


Ia tahu jika apa yang dilakukannya adalah salah karena membawa pergi wanita yang masih menjadi istri pria lain.


"Kamu mau membawa aku ke mana?" tanya Tiara pada Arga.


"Ke mana saja, asal kamu senang."


"Ga ...." Tiara nampak ingin protes pada Arga.


"Kenapa?"


"Lebih baik kita pulang," ucapnya pelan.


"Terus kalau pulang kamu mau apa? Mereka saat ini pasti sedang bersenang-senang. Dan di rumah nanti ... Samuel pasti akan ...." Arga tidak melanjutkan ucapannya.


Tiara tersenyum. "Kamu takut aku melihat Samuel tidur dengan Ruby?"


Arga mengangguk ragu.


"Apa kamu rela?"


"Mereka kan udah sah jadi suami istri, jadi ya --"


Arga memutar balik mobilnya. Bukan ke arah rumah Samuel melainkan arah jalan menuju laut.


"Kita ke laut sebentar," ucapnya tanpa menatap Tiara. Dia tidak meminta ijin kepadanya karena tahu pasti dia akan ditolak.


Tiara membuang wajahnya ke luar jendela mobil. Menikmati jalanan yang sudah menampakan laut di sampingnya.


Ia tersenyum sekilas. Entah mengapa melihat laut membuatnya senang. Atau lebih tepatnya karena dia teringat dengan malam pertamanya dengan Samuel di sebuah penginapan di pinggir pantai waktu itu.


Ingatannya sedikit terkikis. Dia hanya teringat ketika mereka berdua menikmati bulan madu di pinggir pantai.


Berjalan-jalan berdua, berpegangan tangan dan menikmati matahari yang terbenam.


"Ayo turun." Arga membuka pintu mobilnya untuk Tiara. Ketika dia keluar dari mobil. Ia menghirup udara segar di pinggir pantai sambil melihat langit yang sudah berwarna oranye.



"Terima kasih," ucap Tiara masih dengan memandang langit.


"Karena sudah mengajakku ke sini."


Arga melipat bibirnya. "Aku tahu kamu menyukai laut. Dan dengan ini aku yakin perasaanmu menjadi lebih baik."


Tiara mengangguk setuju.


"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bersedia dimadu oleh Samuel seperti ini?" Arga penasaran dengan nasib Tiara setelah ini.


Bukankah seharusnya dia meninggalkan saja pria itu?


"Kadang aku berpikir, ini adalah kesalahanku," ucap Tiara dengan sedih.


"Andai saja dulu aku koma tidak selama seperti kemarin. Mungkin orang tuanya gak akan menyuruhnya untuk menikah dengan Ruby."


"Dan Ruby ... seharusnya aku mengucapkan terima kasih kepadanya karena sudah merawat anakku dan Samuel selama aku terbaring di rumah sakit."


"Aku akan berpura-pura bersikap kuat di depan mereka. Sampai aku gak sanggup melakukannya lagi."


Arga tidak mengucapkan apapun lagi. Sebenarnya dia juga merasa bersalah karena semuanya berawal lantaran dia yang meninggalkan Tiara.


***


Pukul tujuh malam. Di meja makan rumah Samuel.


Tiara baru saja sampai di rumah ketika seluruh anggota keluarga sedang makan di meja makannya.


Samuel yang sudah duduk di kursinya langsung menyambut Tiara yang baru saja pulang ke rumah.


"Kamu abis dari mana? Kirain kamu di rumah seharian." Samuel membimbing Tiara menuju makan malam. "Kamu belum makan kan?"


"Aku udah makan dengan teman tadi," jawab Tiara.


Di meja makan, nampak jika Ruby dan Ibu Samuel tidak menyukai bayangan Tiara yang mendekat menuju meja makan.


Apalagi Ruby, yang melihat Samuel langsung berdiri menyambut Tiara dengan begitu semangat. Malahan lebih semangat daripada saat di pernikahan tadi.


"Samuel, jaga sikap kamu. Ada Bianca di sini. Jadi jangan buat dia salah paham," tegur Ibu Samuel. Ia melirik tajam ke arah Tiara.


Sejak wanita itu kembali ke rumahnya. Dia sama sekali tidak merasa senang atau apapun itu.


Mertuanya itu malah dengan sengaja memanas-manasi Tiara dengan terus bersikap baik kepada Ruby.


"Aku kembali ke kamar aja Mas. Aku lagian udah makan tadi." Tiara menatap ibu Samuel sebentar lalu kembali ke kamarnya yang berada di atas.


Samuel yang ingin mengikuti Tiara, tangannya di cegah oleh Ruby.


"Kita lagi makan Mas. Nanti aja kamu ke sana," ucap Ruby.


"Benar kata Ruby, kalian kan pengantin baru," timpal ibu Samuel.


Samuel menghela napasnya lalu duduk dengan selera makannya yang hilang. Dia masih mencuri-curi pandang ke arah kamar Tiara.


Apa dia baik-baik saja? Tidak, tidak mungkin Tiara akan baik-baik saja setelah melalui hari yang begitu buruk untuknya. Melihat suaminya menikah dengan adiknya sendiri.


**


Ruby keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Samuel berada di dalam kamarnya. Pikirannya langsung tertuju ke kamar Tiara. Lelaki itu pasti sedang di kamar Tiara malam itu.


Karena curiga ia pun berjalan mengendap-endap ke kamar kakaknya tersebut.


Dan benar, ia mendengar suara samar dari Tiara dan Samuel yang ada di dalam sana.


Ruby sangat geram, karena seharusnya malam itu dia bisa bersama dengan Samuel.


Karena kesal dia pun mengetuk pintu kamar Tiara.


TOK! TOK! TOK!


Begitu seterusnya hingga pintu itu dibuka oleh Samuel.


"Ada apa?" tanya Samuel dengan sinis.


"Kenapa kamu di sini? Bukan di kamar kita?"


Samuel memutar bola matanya. "Memangnya kenapa kalau aku berada di kamar istriku sendiri."


Ruby merasa jika ada yang salah dengan telinganya. "Istri?! Tapi aku ini istrimu juga Mas, dan ini adalah malam pertama kita!"


"Apa kita menikah untuk melakukan ini? Ingat Ruby, kamu mau menikah denganku karena ingin menjadi ibu dari Bianca." Samuel menutup pintunya setelah selesai mengatakan hal tersebut pada Ruby.


Ruby berdecak kesal karenanya. Bagaimana bisa dia memperlakukannya seperti itu di malam pertama mereka.