
Tiara masih dengan perasaan bersalahnya pada Bianca, sejak tadi dia nampak murung dan melihat makanan yang ada di depannya itu dengan gamang.
Dia tidak tahu kalau Bianca memiliki alergi pada telur, padahal dia sudah memastikannya pada pembantunya.
“Makanya kamu gak usah sok-sokan bikinin anak kamu sarapan, daripada begini jadinya,” sindir ibu mertuanya ketika duduk di meja makan.
Ia melahap makanan yang sudah dimasak oleh Tiara, tapi masih saja berkomentar menyakitkan seperti itu kepada Tiara.
“Kamu tahu sendiri kan, kalau kamu itu udah gak sadar selama tujuh tahun dan gak tahu apa-apa soal Bianca dan dengan sembrono membuat sarapan telur dengan pede-nya. ”
Seakan tak henti menyinggung perasaan Tiara, ia malah terus mengungkit dirinya yang selama ini koma.
“Oh ya, daripada kamu buat Samuel bingung, lebih baik kamu cerai dengan Samuel. ”
Seakan tersambar petir di siang hari, Tiara merasakan dadanya terasa sangat sakit ketika mendengar ibu mertuanya sendiri mengatakan hal seperti itu kepadanya.
“Tapi, Bu. ”
“Gak usah tapi-tapian, lagian juga jaman sekarang punya istri dua itu gak wajar. ” Lalu ibu mertua Tiara, yakni Ratna meninggalkannya mematung sendirian di meja makan.
Setelah ia sadar dari komanya, padahal dia berharap akan mendapatkan kebahagiaan dari Samuel di kehidupannya yang dimulai dari no lagi. Namun ternyata semua hanyalah angan bagi Tiara karena tidak akan pernah terjadi padanya.
Tiara lalu merapihkan piring-piring yang ada di meja makan, Samuel bahkan belum sempat memakan makanannya pagi itu tapi harus sudah pergi ke rumah sakit.
Ponsel Tiara bergetar dan itu adalah dari suaminya.
“Kamu gak usah cemas, Bianca udah gak apa-apa kok, setelah minum obat dia akan sembuh kok,” ucap Samuel membuat Tiara sedikit lega.
“Terus kamu makan gak Mas, kalau makan aku buatin sarapan lagi. ”
“Gak Ra, aku langsung ke kantor, kamu istirahat aja ya di rumah tunggu aku sampai pulang nanti. ”
“Iya Mas. ” Tiara menutup teleponnya, suaminya itu akhirnya tidak sarapan karena langsung berangkat menuju kantor.
Tiara menghela napasnya dan memandang Lastri dengan pandangan tak mengerti, mengapa ia melakukan hal ini kepadanya.
“Bik, kenapa Bibik bohong, bilang kalau Bianca gak punya alergi?” tanya Tiara pada pembantunya itu.
“Maaf Nyonya, soalnya saya lupa,” jawabnya dengan gugup.
Tak bertanya lagi, Tiara lebih memilih untuk diam. Dia yakin jika pembantunya itu ada alasan tersendiri mengapa melakukan hal ini kepadanya.
**
“Dokter mengatakan kalau Bianca baik-baik saja, jadi aku mohon kamu gak usah terlalu menyalahkan Tiara seperti tadi,” ucap Samuel ketika hendak pergi meninggalkan rumah sakit.
“Papa berangkat dulu ya, Bianca jangan nakal di rumah hari ini gak usah masuk sekolah dulu. ” Samuel mengelus kepala Bianca dengan lembut lalu mengecup kedua pipinya.
Anak perempuannya itu mengangguk lalu melambaikan tangannya kepadanya.
“Ma,” panggil Bianca pelan.
“Kapan Bibik itu pergi dari rumah?”
“Kenapa emang?”
“Bianca gak suka, dia mau merebut Papa dari Mama. ” Ucapan dari Bianca membuat senyum di bibir Ruby mengembang, dia senang karena akan ada alasan mengapa Tiara harus meninggalkan rumah tersebut.
“Nanti Bianca harus bantu Mama ya, biar bibik itu pergi dari rumah Papa,” ucap Ruby. Dia sudah memikirkan beberapa rencana untuk mengusir Tiara dari rumah.
**
Sorenya Tiara menemui ibunya ke rumahnya, karena selama dia sadar dari komanya ibunya itu tidak pernah menjenguknya sama sekali. Bahkan saat dia sudah keluar dari rumah sakit pun dia sama sekali tidak menghubungi anaknya itu.
Pintu terbuka, ibunya terkejut mendapati bayangan Tiara yang tengah berdiri di depan pintu.
“Ka—Kamu?” Ibunya nampak terkejut melihat Tiara sudah ada di hadapannya.
“Kenapa Bu? Apa ibu gak suka kalau Tiara datang ke rumah ibu?” Wajah Tiara sedih ketika melihat ekspresi ibunya yang menunjukkan ketidaksenangannya.
“Bukan begitu, sini masuk. ” Ibu Tiara menyuruh anaknya itu masuk ke dalam rumahnya.
Tiara memandangi rumah yang sudah lama tidak ia kunjungi itu, masih terlihat sama seperti dahulu.
“Ada apa ke sini?” tanya ibunya pada Tiara.
Tiara terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir ibunya, mengapa terkesan jika dia sama sekali tidak senang jika dirinya sudah sadar?
“Tiara rindu sama ibu,” jawab Tiara, berharap jika kata-kata itu akan meluluhkan hati ibunya. Namun sayangnya tidak, ibunya malah mencibirnya.
“Tolong ceraikan Samuel,” ucap ibunya tiba-tiba setelah ada keheningan begitu lama di antara mereka.
“Menceraikan Samuel?” tanya Tiara mengulangi, berharap jika apa yang ia dengar saat ini adalah sebuah kesalahpahaman.
“Iya ceraikan Samuel, agar Ruby bisa bahagia dengan Samuel. Kamu tahu kan kalau adikmu itu sangat menyukai lelaki itu. ”
“Lalu bagaimana dengan Tiara? Apa Tiara gak boleh bahagia?”
“Tapi anak kamu sudah terbiasa dengan Ruby, Bianca gak bisa hidup tanpa Ruby, tapi dia selama ini bisa hidup tanpa kamu. ”
“Kenapa ibu begini sama Tiara? Apa karena Tiara bukan anak kandung ibu?” Pertanyaan Tiara sontak membuat ibunya terkejut. Ia tak menyangka jika Tiara mengetahui rahasia yang selama ini dia sembunyikan. Namun dari mana dia tahu akan hal itu?
“Tiara sudah tahu Bu, sejak Tiara masih sekolah. Tiara diam saja karena gak mau ibu berubah sama Tiara, tapi ternyata ibu masih saja seperti ini. ”
Tiara beranjak berdiri kemudian pergi meninggalkan ibunya yang mematung di sana.
Lima belas tahun yang lalu ...
Saat ayah Tiara masih hidup, dia tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya yang sedang bertengkar meributkan masalah biaya sekolah Tiara.
“Tiara itu cerdas jadi biarkan dia melanjutkan sekolahnya hingga SMA,” ucap ayah Tiara.
“Lalu Ruby? Dia kan mau sekolah pramugari, jadi biarkan saja Tiara mengalah saja demi Ruby,” bela ibunya untuk Ruby.
“Alah, anak itu gak pernah bener sekolahnya, berbeda sama Tiara, dia sekolah selalu mendapatkan beasiswa, sedangkan Ruby, kita selalu dipanggil ke sekolah karena ulahnya. ”
“Seenggaknya pikirkan kalau Ruby itu akan kita,” bisik ibunya padahal Tiara mendengarkan percakapan itu.
“Ssttt!! Kalau sampai Tiara dengar pasti dia sedih, sudahlah, biarin Tiara sekolah sampai SMA. ” Ayahnya melangkah pergi, Tiara langsung menutup pintu kamarnya perlahan.
“Kalau aja kamu gak nabrak orang tua Tiara, pasti kita gak bakal susah kayak gini!” pekik ibu Ruby yang marah karena suaminya dia harus merawat Tiara sejak bayi.
“Cukup! Ini kesalahanku, jadi biarin aku yang nanggung, lag pula selama ini kan aku yang bekerja untuk keluarga ini, jadi tolong cukup jangan mengatakan hal itu lagi. ”
Mata Tiara mulai basah, ternyata dia benar bukan anak kandung kedua orangtuanya, pertanyaan yang ada dalam hatinya selama ini terjawab sudah, jika benar dia bukanlah anak kandung mereka.